ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Azzam Mulai Luluh


__ADS_3

"Koko tidur di sana? Apa Ance boleh ikut jaga Amei?"


Azzam ragu untuk jawab. Mau Azzam ya Ance tidur di rumah sakit ya lebih bagus. Azzam lebih suka ada kawan bercanda . Azzam terbiasa main sama Afifa dan Ance bila malam menjelang. Terutama apabila Citra dapat jatah piket malam. Azzam dan Afifa otomatis mengungsi ke rumah Ance. Tinggal berdua satu rumah tanpa kawalan orang dewasa merupakan hal riskan. Belum terpikir yang baik, muncul pikiran negatif.


"Kak...Koko tanya mami dulu ya! Koko sih mau banget! Tapi janji Kak Ance tak boleh pakai minyak wangi cap kencing kuda. Bau banget!"


"Eh bocah...itu minyak wangi kak Ance pesan di toko online. Mahal tau...enak aja bilang bau kencing kuda! Emang Koko pernah cium bau kencing kuda?"


"Ngak pernah sih! Tapi Koko pernah dekati pantat kuda waktu main ke taman di Beijing. Baunya kira-kira kayak minyak wangi kak Ance." sahut Azzam tanpa rasa dosa. Apa yang dirasa itu yang terucap. Minyak wangi Ance menyengat hidung. Hidung Azzam terasa perih hirup bau aneh Ance.


"Azzam...kau kira kak Ance kuda lumping keluarkan bau aneh! Awas kamu bocah!" ancam Ance pancing tawa Azzam. Kalau tak ingat Afifa Agi tidur ingin rasanya Azzam tertawa terpingkal.


"Duh kak Ance yang ganteng. Marah ni ye!" goda Azzam sambil tertawa cekikan. Di mata Azzam terbayang raut wajah Ance kusut kena siraman gurauan Azzam.


"Awas kau bocah! Jangan minta kak Ance kawani bobok bila mami piket. Tidur tuh sama hantu pocong! Biar dijadiin bantal guling. Bau kemenyan."


Azzam bukannya takut malah tertawa makin geli. Ance suka main gertak pakai cerita hantu. Padahal Azzam sedikitpun tak takut pada hal-hal mistik. Azzam lebih takut delikan mata Citra. Sekali mata Citra mendelik besar nyali Azzam menciut kecil.


"Tenang kak! Kita ajak main game mobil legend." ujar Azzam imbangi kekonyolan Ance.


"Nih bocah! Hantu pocong tak punya tangan main game. Punya tendangan maut tendang pantat anak nakal. Pokoknya kak Ance ke sana. Kakak pinjam motor mami."


"Punya SIM ngak? Ntar kena razia. Kakak mau jadi kutu kupret di penjara?"


"Hei anak kecil! Punya mulut dijaga dikit! Masa sumpah kakak masuk penjara. Kualat lhu nak!"


"Sensi bingit! Kan cuma nasehati. Bagusnya kakak datang naik angkot. Aman terpercaya. Kalaupun diculik jadi pajangan taman hiburan." olok Azzam makin berani.


"Kak Ance mau giling cabe rawit nih!"


"Buat?"


"Sambel mulut beracun anak Citra. Tunggu saja ya bocah!"


"Dengan senang hati. Udahan ya! Koko mau nonton YouTube."


"Sombong..."


Azzam tersenyum bahagia berhasil goda Ance. Ance sangat baik walau punya sedikit kelainan. Laki muda itu suka bergaya layak anak gadis. Kadang berdandan pakai lipstik walau Nadine marah tak karuan. Dasar Ance manusia elastis. Amarah Nadine dianggap angin lalu. Terasa tak perlu digubris.


Azzam pusatkan perhatian pada ponsel mahal hadiah Alvan. Lajang kecil ini tak habis kagum pada benda pipih canggih itu. Mimpi seribu kali tak sangka ponsel pertamanya produk terbaru dari merek tersohor. Azzam tersenyum bangga pada benda di tangannya. Tanpa sadar Azzam mengelus benda itu perlahan seakan ingin rasakan betapa indah barang itu.


Azzam tak sadar ada sepasang mata memandangi tingkah Azzam dengan hati sedih. Anak yang punya hak atas segala kekayaan Alvan hanya bisa menatap orang lain main ponsel sementara orang yang nempel sebagai parasit hidup mewah habiskan seluruh daya Alvan.


Alvan berjanji akan penuhi semua keinginan ketiga anaknya asal dalam koridor positif. Segala kebutuhan hidup Citra dan anak-anak akan jadi tanggung jawab Alvan. Dari biaya sekolah sampai biaya hidup sehari-hari. Ini janji seorang papi.


"Azzam...belum bobok nak?" tegur Alvan seraya duduk di samping Azzam.


Azzam meletakkan ponselnya menatap Alvan dengan tatapan lebih lembut. Biasa tatapan Azzam liar seolah ingin terkam bapaknya.

__ADS_1


"Belum om! Oya...terima kasih ponselnya. Koko akan merawatnya dengan baik." ujar Azzam tulus.


"Itu hakmu nak! Papi hanya ingin beri yang terbaik untuk kalian. Azzam, Afisa dan Afifa adalah buah hati papi. Papi banyak bersalah pada mami kalian. Dulu papi bodoh tak tahu mami kalian hamil. Andai papi tahu tak mungkin papi ijinkan mami pergi. Papi janji akan bayar kesalahan papi." kata Alvan harap Azzam maklumi posisinya di masa lalu. Tak ada kenangan manis di antara mereka. Hanya ada duka mendalam.


"Kenapa om tinggalkan mami?"


"Om punya kekasih namun dipaksa menikahi mami kalian. Papi tak punya daya selain turuti keinginan keluarga. Papi dan mami seperti orang asing. Sampai suatu waktu terjadi sesuatu membuat papi harus rela melepaskan mami. Papi tak ingin pisah karena ada rasa sayang di hati papi. Cuma kakek memaksa papi harus berpisah."


"Kalau om tak suka mami maunya sejak awal katakan tidak. Om memaksa diri akhirnya berantakan. Kami tak menyesal terlahir dari perut mami. Dia wanita paling mulia."


"Zam...papi tak punya pilihan. Banyak hal terjadi tak sesuai keinginan kita. Suka tak suka tetap harus terjadi. Sekarang papi ada untuk kalian. Papi tak paksa Azzam dan Afifa harus akui papi tapi ijinkan papi laksanakan tugas sebagai seorang bapak."


Alvan menyentuh ujung jari kecil Azzam. Alvan berharap Azzam tak menolak pengakuannya. Alvan tak memaksa Azzam harus panggil dia papi seperti Afifa. Biarlah waktu akan obati luka di hati lajang itu. Azzam lebih dewasa di banding Afifa. Cara pikir Azzam melesat jauh tinggalkan pola pikir Afifa yang lugu.


"Koko serahkan pada mami. Koko hanya minta om tak memaksa mami. Koko tahu om masih ada isteri lain selain mami. Om boleh pilih antara kami dan isteri om. Bebas.. cuma Koko minta kalau om tak mampu tentukan pilihan. Jauhi kami! Terutama pada Afifa. Afifa lemah suka sakit. Koko tak mau lihat Afifa jatuh sakit."


Alvan kaget mendengar putranya beri dia pilihan. Kalimat panjang gitu keluar dari mulut anak berumur delapan tahun. Diceritain dari mulut ke mulut orang takkan percaya. Azzam berkata dalam banget maknanya.


"Azzam...papi akan perbaiki kesalahan papi. Papi pilih kalian. Tapi beri papi waktu urus semua agar tak ada yang tersakiti. Azzam mau kan?"


"Bagaimana kata hati om." di sini nada suara Azzam ketus. Anak lajang ini tentu bela nyokap yang melahirkan dia. Alvan punya isteri lain tentu saja melukai hati Citra. Wanita mana rela berbagi suami dengan wanita lain.


Selama manusia masih punya nafsu tak ada yang namanya adil. Tetap saja akan timpang walau dari bibir terucap kata adil. Azzam bukan bodoh tak tahu maminya dikhianati oleh Alvan sampai patah arang. Tak ada wanita tolol tinggalkan suami sambil bawa tiga bayi kembar. Hidup serba minim di luar sana.


Itu sudah Citra lalui hari-hari kelabu. Merawat anak sambil kuliah. Di Beijing dulu Citra sempatkan diri bekerja sebagai pegawai di restoran Jepang. Hidup banting tulang demi cita-cita dan anak-anak. Untunglah ada keluarga baik hati menampung Citra dan anaknya.


"Oya om! Kak Ance boleh tidur sini?"


"Bukannya tak boleh nak! Adikmu lagi sakit. Kita saja sudah rame, tambah Ance kan makin rame. Ance boleh main tapi tak boleh nginap."


"Oh...kalau kemalaman pulang dengan siapa? Angkot dan bus sudah tak ada."


"Nanti diantar Om Untung. Ayo tidur! Simpan hpmu dalam tas!"


"Iya om!" Azzam ngerti tujuan Alvan suruh dia simpan hp dalam tas. Takut kena razia ibu hansip yang galak. Andai kena razia sulit ditebus soalnya Bu hansip ini tak mempan disogok.


Azzam bergerak cepat simpan ponselnya dalam tas. Kotak ponsel tak ketinggalan ikut masuk dalam tas sekolah warna hitam itu. Azzam cekatan bereskan tas lantas tas itu dia simpan di belakang sofa agar tak menarik perhatian Citra.


Azzam lega benda kesayangan telah aman. Kini patuh ikut aturan sang mami. Aturan dibuat untuk dipatuhi, bukan dilanggar.


Azzam baringkan badan di atas sofa. Azzam menyusul Afifa menggalang mimpi dalam tidur. Alvan duduk di bangku dekat Afifa beri tempat pada Azzam tidur nyaman. Anak itu jangkung panjang. Tubuhnya hampir penuhi sofa. Tak ada ruang bagi Alvan duduk di situ.


Alvan perhatikan kedua anaknya silih berganti. Keduanya tidur dengan damai. Dengkuran kecil dari mulut Azzam tanda lajang itu masuk ke alam mimpi. Keduanya merupakan keajaiban Alvan. Aset paling berharga. Inilah penerus marga Lingga sejati. Peduli amat dengan anak Karin. Anak hamil di luar nikah.


Alvan menumpukkan kepala di pinggir ranjang Afifa berbantal tangan. Laki ini mencoba istirahat menyusul kedua anaknya. Keheningan dalam ruang cepat mengantar Alvan masuki gerbang mimpi. Harapan Alvan tentu mimpi indah bersama ketiga anak.


Kesunyian menyeruak dalam ruang itu. Ketiga makhluk ciptaan Tuhan berlayar dalam mimpi masing-masing. Tiga kepala tiga macam mimpi.


Dua jam lebih Citra lakukan operasi pasien bersama dokter Rahma. Syukur semua berjalan lancar berkat tangan dingin Citra. Citra berhasil perbaiki urat syaraf yang bermasalah. Pendek kata operasi kali ini berjalan sukses.

__ADS_1


Citra balik ke ruang rawat Afifa mendapatkan kedua anak beserta papi mereka tertidur lelap. Citra menarik lengkung di bibir bentuk senyum tipis. Ketiga orang itu tidur dengan damai. Citra tak tega bangunkan mereka. Padahal Citra ingin minta ijin pulang ke rumah ambil baju ganti untuknya dan Azzam.


Citra memilih pergi tanpa beritahu pada Alvan selaku orang paling bertanggung jawab keselamatan kedua anaknya. Alvan mampu menjaga kedua buah hatinya. Mereka toh anak Alvan juga, tak mungkin laki itu abaikan Azzam dan Afifa.


Citra tinggalkan pesan pada Nadine beritahu pada Alvan bila Alvan mencarinya. Citra bukan orang cuek sesuka dengkul melakukan sesuatu. Harus ada hitam putih.


Citra pulang pakai taksi online. Pulang dengan angkutan umum akan makan waktu pulang pergi. Buang sedikit fulus takkan buat Citra tambah miskin. Tujuan Citra cepat pergi cepat balik.


Dalam ruangan rawat Afifa, Alvan terbangun dengar suara panggilan masuk. Hp Alvan berbunyi. Laki ini cepat keluarkan ponsel sebelum ganggu tidur Afifa karena posisi Alvan sangat dekat dengan tuan putri itu. Alvan bawa ponselnya keluar ruangan agar bebas bicara.


"Halo...ada apa?" Alvan menyambut telepon dari Daniel setelah berada di luar.


"Gimana kondisi anakku?"


"Anak lhu? Mimpi siang bolong. Mabuk air putih ya?"


"Sewot amat! Gue mau kasih kabar kalau si Zaki sudah diciduk pihak berwajib. Dari tubuhnya kedapatan paket narkoba. Gue cuma mau ingetin coba test narkoba pada Karin. Gue curiga bini lhu itu pecandu narkoba."


Lagi-lagi kabar buruk datang untuk Karin. Seberapa banyak rahasia Karin tak diketahui Alvan. Satu persatu mulai terkuak. Semua menjurus ke hal negatif.


"Karin ada datang pagi tadi. Wanita yang mengerikan. Kau tak perlu selidiki siapa bapak anak dalam kandungan Karin. Dia sudah mengaku. Persoalan makin ribet Dan! Semua melukai hati aku."


"Lhu punya hati? Apa bukan hati lhu telah kau persembahan pada Karin? Menyesal?"


Alvan menghela nafas membuang beban yang berkalang di kerongkongan. Sesak nafas Alvan ingat semua tingkah Karin berarah ke jalan negatif.


"Gue hancur Dan! Hanya kedua anak gue jadi motivasi hidup gue sekarang. Gue harus tegar untuk anak-anak. Terus pantau si Zaki. Karin biar kuurus."


"Zaki positif HIV. Lhu hati-hati terhadap Karin! Jangan lhu buta kedua kali ikutan masuk jurang. Sekali lhu terpapar virus itu tamat riwayat lhu. Ingat lhu punya anak-anak cantik. Lhu lengah sudah ada papi baru siap gantiin posisi lhu! Papi keren berambut gondrong."


"Muka badak! By the way thank's bro sudah jadi Intel lihay."


"Gue lakukan semua ini bukan untuk lhu! Tapi untuk kedua bocil cantik. Gue kasihan kalau mereka akan kehilangan profil seorang papi. Saatnya bangun bro! Jangan ke makan cinta buta! Riwayat lhu bakal cepat the end!"


"Gue tahu. Cinta konyol telah bawa gue ke jurang kehancuran. Andai lhu tak bantu gue mungkin gue ikutan jadi ODHA (Orang dengan HIV/Aids)."


"Tuhan masih sayang lhu bro! Kirim salam untuk Azzam dan Afifa. Berbahagialah lhu Van! Punya keturunan dengan nilai plus! Gue tak keberatan bila Citra ingin gue jadi bapak sambung anak-anaknya. Gue ikhlas."


"Ikhlas pea lhu! Itu anak gue! Sembarangan." semprot Alvan disambut tawa ngakak Daniel. Tawa ciri khas Daniel.


"Ok deh bro! Gue masih ada kerjaan. Ntar gue datang kalau sempat."


"Tidak terima tamu. Ini waktu gue dan keluarga. Malam ini kami sekeluarga tidur bersama. Keluarga bahagia."


"Tidur bersama tapi beda kasur. Apa sih hebatnya? Lihat ntar gue bawa Citra imut ke pelukan! Dia pasti ketagihan."


"Jangan harap!" Alvan matikan ponsel tanpa beri kesempatan pada Daniel nyerocos tak bermutu. Ujungnya mengarah pada Citra.


Citra cantik lebih padat sejak punya buntut tiga ekor. Tubuhnya berkembang bak adonan roti kena gist. Berkembang pesat. Tubuh boleh mungil namun sintal. Lekuk tubuh tak ubah gitar Spanyol siap dipetik.

__ADS_1


__ADS_2