ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Diciduk


__ADS_3

Alvan mempunyai perasaan yang sama dengan Heru. Dengar kata Banjar telah menampar wajah Alvan. Betapa tega saudara di sana melukai orang yang dia cintai. Alvan takkan beritahu mamanya dulu agar keluarga di sana tidak kabur. Bu Dewi pasti akan kabari keluarga di sana kasus Citra. Yang bersangkutan pasti akan angkat kaki bersembunyi.


"Aku juga serahkan penjahat di Banjar pada pihak berwajib. Minta tolong pada kepolisian sana bergerak cepat karena orang di Banjar lumayan licin."


"Siap laksanakan! Kami akan hubungi bapak setelah penangkapan. Terima kasih telah datang. Kami aparat tidak pandang bulu soal hukum. Yang pantas dihukum tetap harus jalani hukuman."


"Terima kasih! Kami permisi pak!"


"Silahkan!" Heru dan Alvan pamit barengan. Mereka harus ke rumah sakit untuk lihat kondisi Citra. Gara-gara mereka Citra yang tersakiti. Semua ini tak luput dari masalah asmara.


Citra selalu jadi korban ntah dari sebelah Heru maupun Alvan. Andaikata Citra memiliki pergi meninggalkan semua ini mungkin sah-sah saja. Semua orang mempunyai titik kesabaran.


Untunglah Citra telah diamankan oleh Nadine. Perawat itu menemani Citra di masa wanita itu berada dalam masa paling rawan. Citra benaran syok hendak diculik.


Nadine membawa Citra ke ruang praktek Citra agar wanita itu tak melihat keramaian. Keadaan Citra jauh lebih baik daripada tadi namun tetap saja pucat. Nadine tak habis pikir mengapa hidup Citra makin kacau sejak jumpa Alvan. Punya suami bukannya berubah baik malah makin runyam.


Ketenangan Citra seakan sirna ditelan oleh badai kehidupan. Begitu banyak gelombang menghempas Citra bertubi-tubi. Nadine bukanya busuk hati tidak menginginkan kehadiran Alvan di tengah-tengah keluarga Citra. Tapi Alvan telah mendatangkan bala bagi Citra. Nadine sangat tidak rela Citra disakitin terusan.


"Dek...kau tak apa?" Nadine berlutut di depan Citra sambil menggenggam kedua tangan Citra. Nadine hanya ingin memberi kekuatan pada Citra agar kuat menghadapi semuanya.


Citra berusaha tersenyum. Tetapi yang terhias di bibir hanyalah senyum hampa tiada berisi.


"Aku tak apa kak! Gimana dengan kedua kurcaci kita? Apa orang-orang itu juga akan culik mereka?"


"Alvan sudah bilang dia telah menugaskan Tokcer untuk menjaga kedua anak kamu. Begitu pulang sekolah mereka akan diantar ke rumah! Kamu yang tabah ya!"


Citra mengangguk bagaikan anak kecil sedang dibujuk oleh ibunya agar tenang. Citra tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu kehadiran Alvan. Rasanya ini Citra tak ingin mengetahui siapa yang telah berbuat nekat menculiknya.


"Kak...aku mau pulang saja! Hatiku tidak tenang sebelum melihat kedua anakku!"


"Ya ampun Dek! Koko dan Amei sedang sekolah. Siapa berani masuk ke sekolah culik anak kecil. Apa tak pingin hidup lagi?" Nadine berusaha mengembalikan rasa percaya diri Citra. Ke mana Citra yang biasanya tenang hadapi masalah?


"Kakak benar...Di sana banyak satpam. Coba kakak teleponi Tokcer! Katakan siaga di depan pintu sekolah!"


"Beres itu! Kau pikir Alvan tidak kuatir soal buah hatinya?"


"Iya...iya...dia pasti juga susah hati. Hp aku mana?" Citra baru teringat tasnya ntah nyangkut di mana? Tertinggal di jalan atau masih tergantung di atas motor. Citra sudah tidak ingat di mana tas berisi ponsel dan dompet mungil berisi KTP dan kartu lain.


"Kamu duduk sini biar kutanya satpam." Nadine menepuk paha Citra untuk tetap kondisinya kesadaran.


"Iya kak!" Citra mengusap wajah berkali-kali gunakan telapak tangan. Andai wajah Citra penuh dempul make up kini pasti sudah memudar.


Untunglah Citra tidak make up tebal sehingga tidak banyak perubahan di wajah selain makin putih karena aliran darah tidak lancar.


Lama Citra termenung sendirian dalam ruang prakteknya. Kalaupun ada pasien Citra takkan sanggup obati pasien karena dia sendiri butuh terapi mental.


Tidak lama berselang Nadine balik bersama dua lelaki ganteng incaran para wanita berlensa dolar. Heru dan Alvan sama-sama kuatir pada kondisi Citra. Kedua cowok itu berlomba cari perhatian Citra. Heru sadar dia adalah om Citra namun tak mengurangi rasa cinta pada Citra. Cintanya tetap menyala walau harus ditempatkan dalam wadah berbeda. Dalam silsilah Citra termasuk anak Heru.


"Gimana keadaanmu sayang?" Alvan langsung memeluk Citra tak peduli tatapan cemburu Heru.


"Anak-anak gimana?" anak-anak yang duluan terlintas di benak Citra.


"Anak-anak aman! Mas sudah minta Tokcer dan pihak kepolisian kawal anak-anak sampai keadaan aman." Alvan mengelus punggung Citra untuk beri rasa aman.


"Oh.. siapa mereka mas? Emang salah aku apa?" Citra menuntut cerita dari Alvan dan Heru. Kedua laki ini pasti tahu sesuatu tapi tidak mau cerita.

__ADS_1


"Masih diselidiki...mereka sudah ditangkap kok! Tanya om kamu? Mereka bakal di penjara. Sekarang kita pulang!"


"Mas ada nampak tas aku?"


"Ada di dalam mobil! Ditemukan oleh pak polisi. Ayok kita pulang! Atau kita main di kantorku saja! Nanti kita jemput anak-anak barengan!"


"Van...bagaimana kalau Citra dan anak-anak tinggal bersama kami! Aku jamin keamanannya." tawar Heru.


Alvan mana ijinkan Citra pergi ke tempat Heru karena salah satu dalang adalah keluarga dekat Heru. Bukannya aman malah makin celaka.


"Terima kasih pak Heru. Biarlah Citra pulang ke rumah biar lebih nyaman! Kami akan kunjungi keluarga kalian akhir pekan ini!" janji Alvan tahu diri kalau Citra juga milik Perkasa. Dia tak boleh egois kuasai Citra untuk diri sendiri.


"Baiklah! Kalau ada apa-apa jangan segan teleponi aku! Azzam dan Afifa juga cucu aku!"


"Pasti..pasti...terima kasih pak Heru!" Alvan melepaskan Citra menyalami Heru sebagai ucapan terimakasih.


"Untuk apa kata terima kasih. Memangnya Citra itu siapa? Salah satu pewaris Perkasa."


"Aku ngerti..kita redakan emosi kita masing-masing agar tidak terpancing. Pak Heru kan punya tugas dan aku juga. Coba pak Heru tangani dengan baik tanpa pandang bulu. Aku juga takkan pandang bulu. Yang bersalah harus hadapi hukum." ujar Alvan ingatkan Heru akan kesalahan ibu Selvia. Alvan juga takkan ringankan hati beri kata maaf. Harus ada efek jera agar kelak di kemudian hari tidak terulang lagi.


"Baik...kita serahkan pada yang berwajib! Aku janji takkan lindungi siapapun yang bersalah." Heru memahami maksud Alvan tentang ibu Selvia. Perbuatan ibu Selvia memang sudah di luar batas.


Nyawa orang tidak dianggap berharga. Seenaknya perintah orang lenyapkan Citra. Mungkin perempuan tua itu sudah lupa hukum.


"Terima kasih!"


"Aku pulang dulu ya Citra! Jangan takut! Kami selalu ada untukmu. Mulai sekarang aku akan sediakan supir untukmu."


"Terima kasih om!"


Heru keluar dari ruang praktek Citra. Nadine ikut keluar tahu diri jadi nyamuk pengintai di antara suami istri itu. Tinggallah Citra dan Alvan saling berpandangan. Citra bukannya tak tahu Alvan menyimpan rahasia padanya. Cuma Citra belum tahu apa yang di simpan Alvan darinya.


"Kita ke kantor aku ya! Biar seluruh dunia tahu kamu adalah isteri Alvan Lingga yang sesungguhnya. Siapa ganggu kamu artinya cari mati." Alvan meraih kepala Citra disandarkan ke dadanya.


Dada Alvan sesak oleh rasa sesal. Bagaimana Citra lalui tahun-tahun ini bersama anak-anak. Apa penuh ancaman kayak ini? Kalau Citra begini dari dulu maka Alvan harus bayar puluhan kali lipat penderitaan Citra.


"Maafkan mas gagal lindungi kamu sayang!" desah Alvan penuh penyesalan. Kalau waktu bisa diulang Alvan bersumpah takkan biarkan Citra keliaran di luar sana. Menantang kejamnya dunia seorang diri.


"Aku tak pernah sangka ada orang demikian tega sakiti orang. Kami di sini matian selamatkan nyawa orang sementara ada tangan kotor siap jadi algojo pancung nyawa orang."


"Tidak semua orang hatinya kayak kamu sayang! Ayok kita pulang!"


"Aku tenang di sini mas! Di sini ramai."


"Di kantor juga ramai. Aku tak tenang tinggalkan kamu sendirian di sini? Di kantor juga banyak kerja. Kita ke sana ya!" bujuk Alvan tak ingin Citra memendam rasa takut seorang diri. Lebih aman Alvan ada di sampingnya.


"Baiklah! Nanti anak-anak gimana?"


"Aku akan suruh Tokcer antar mereka ke kantor! Ok?"


Citra mengangguk biarkan Alvan ambil keputusan. Lelaki ini tak mungkin celakai anak-anak sendiri. Citra tahu Alvan sangat mencintai anak-anaknya terutama Afifa. Afifa dan Azzam adalah nyawa rangkap Alvan. Merekalah penerus Lingga tulen.


Alvan memeluk bahu Citra tinggalkan rumah sakit diiringi tatapan para pegawai rumah sakit. Nyonya bos mereka ternyata dokter favorit di rumah sakit. Nyonya bos yang rendah hati. Nama Citra makin jadi buah bibir di rumah sakit.


Alvan membawa Citra langsung ke kantornya. Wanita muda nan cantik ini ditempatkan di ruang kerjanya agar tak luput dari pantauan sang bos.

__ADS_1


Tak banyak yang tahu Alvan bawa wanita muda karena Alvan bawa Citra melalui lift pribadi untuk bos. Hanya Untung dan satpam lihat Alvan gandeng wanita muda nan cantik. Mereka langsung naik ke ruang Alvan.


Alvan bawa Citra istirahat di kamar khusus. Alvan sering istirahat di situ bila lembur ataupun penat setelah kerja. Tempatnya hanya ada tempat tidur dan lemari pakaian. Lalu kamar mandi tidak terlalu besar tapi mewah. Ada water heater dan shower gantung.


Citra menatap nanar kamar tersembunyi di ruang Alvan. Kalau Citra berpikiran liar maka di tempat ini Alvan bisa saja lakukan olahraga ringan di ranjang bersama wanita pilihan Alvan.


Alvan dapat membaca pikiran Citra menjurus ke hal negatif. Isteri mana saja sama akan berpikiran buruk bila ada sesuatu di luar kebiasaan kantor.


"Hmmm...pikir apa?" bisik Alvan tepat di belakang kuping Citra.


"Emang apa yang bisa kupikir saat ini?" kilah Citra malu ketahuan berfantasi liar Alvan gunakan kamar ini untuk cari hiburan.


"Mana kutahu...tapi matamu menuduh lho!"


"Sembarangan...ini kamar pribadimu dengan..." Citra sengaja gantung kalimatnya biar Alvan mati penasaran.


"Ini kantor nyonya Alvan! Seret rezeki kalau berbuat mesum di sini! Jangan sembarangan karang cerita di otak! Coba tidur biar bangun nanti segar! Mas akan tuntaskan penculikmu biar tidak ada kedua kali."


"Yakin tak ada bau ayam betina lain?" Citra menyipitkan mata cari kejujuran Alvan.


"Ya ampun nih bini! Karin saja belum pernah tidur sini selain aku sendiri! Aku belum sebejat itu bawa wanita ke kantor berbuat hal dilarang agama! Bisa sial kantor kita."


"Oh kalau gitu bawa ke tempat lain ya!"


"Kau ini...mau jebak aku? No.. tak ada ayam manapun! Sekarang istirahat biar suamimu selesaikan masalah kantor! Mas ada meeting dengan karyawan sebentar lagi. Kamu bisa kan ditinggal sendirian?"


"Pergilah! Aku akan nyaman di sini."


Alvan menepuk pipi isterinya bangga Citra tidak sok manja caper.


"Aku akan segera kembali seusai rapat. Di kulkas ada air minum. Jangan minum bir lho! Nanti kamu mabuk perkosa aku!" gurau Alvan dibalas cubitan di pinggang Alvan. Alvan tidak mengelak biarkan Citra salurkan luapan hati.


Jangan dicubit, dicium Alvan takkan nolak. Itu memang mau laki ini. Bibir Citra selalu manis untuk dirasakan.


"Mas tinggal ya!" Alvan hidupkan pendingin udara supaya Citra bisa istirahat dengan rilex.


Alvan rampungkan rapat dengan tidak sabar. Badan di ruang rapat tapi hati tertinggal di ruang kerjanya. Ada sesosok wanita mungil telah merampas seluruh jiwa Alvan. Alvan jadi bucin akut. Perasaan yang berbeda sewaktu bersama Karin. Di sini bawaan Alvan ingin di samping Citra terusan.


Kalau Karin menghilang berminggu Alvan tidak panik. Tidak lihat Citra satu hari saja jiwa Alvan terasa kosong melompong. Betapa dahsyatnya pesona Citra. Alvan baru terbangun dari mimpi buruk melihat betapa masih ada kenyataan yang indah.


Alvan segera balik ke ruangnya seusai rapat. Alvan ingin cepat memeluk Citra untuk katakan dia butuh Citra selamanya.


Di dalam lift Alvan mendapat panggilan masuk dari nomor Amangnya dari Kalimantan. Alvan tidak perlu tebak saudara mamanya pasti telah diciduk polisi. Alvan wanti-wanti pada pihak yang berwajib cepat ciduk orang bersalah sebelum dia kabur. Sekarang kan jaman orang bersalah mengungsi ke lubang tikus cari aman.


Alvan tetap besarkan hati angkat panggilan masuk dari Amangnya. Apapun terjadi Alvan tak boleh mundur bahkan bila mamanya ikut terlibat. Alvan harus tegas beri pelajaran pada mereka yang tak punya hati. Nyawa orang di anggap mainan.


"Halo Assalamualaikum..." sapa Alvan sengaja berlama dalam lift agar tak ada yang ikut nguping.


"Waalaikumsalam...kau di mana nak?"


"Baru selesai rapat...ada apa ya Mang?"


"Van...kau yang minta aparat tangkap Acil Umai dan anaknya? Dia itu saudara kita. Memang salah apa dia?"


"Amang...sebelumnya Alvan minta maaf atas kejadian ini. Orang yang Amang sebut saudara telah membayar orang menculik Citra. Mereka ditugaskan lenyapkan Citra."

__ADS_1


"Astaghfirullah...Yang benar? Tak mungkin mereka begitu. Memang Amang ada dengar Acil Umai minta anaknya dijodohkan dengan kamu. Jadi isteri muda gitulah! Tapi semua harus ada persetujuan kamu. Kalau kau tak mau ya tak apa! Tapi kok jadi ribet!"


__ADS_2