
Heru seperti orang bodoh tak tahu harus bagaimana. Afung juga memotong menanti reaksi dari Heru. Suasana romantis yang diharapkan berubah menjadi suasana canggung. Itulah akibatnya menyatukan dua kutub yang sangat berlawanan.
"Opa...masa cuma bingung! Ayo berlutut di depan Afung ie lalu katakan ni yen yi cia kei wo ma?( kau bersedia menikah denganku?)"
Afifa tertawa terpingkal-pingkal mendengar kata Azzam. Afifa kan ngerti apa dikatakan Azzam. Sepertinya bukan Heru yang melamar Afung melainkan Azzam. Afung paham tujuan Heru namun laki itu tak pandai utarakan dalam bahasa Mandarin.
Yang lain menanti dengan tegang apa Heru sanggup ucapkan kata yang diajar Azzam. Heru merasa kerongkongan kecil seret tak bisa bicara lagi.
"Aduh opa...! Nggak usah ribet! Katakan saja wo ai ni( aku cinta padamu)! Itu selesai!" usul Afifa cerdik untuk persingkat waktu. Bertele-tele bikin susah makin buat kedua belah pihak seperti badut.
Tiga kata singkat bermakna mendalam. Heru merasa tertolong oleh usul Afifa. Playboy kondang kini berguru pada anak kecil.
Heru berlutut di hadapan Afung sambil mengangsurkan buket bunga yang diberikan Azzam. Afung mencoba menahan diri untuk tidak berseru girang. Jaga image depan Heru paling penting saat ini. Berada di depan calon haruslah jadi wanita paling sempurna. Jauhkan diri dari sikap norak.
"Terima dong Afung ie!" seru Afifa dalam bahasa Mandarin.
Afung melempar senyum pada Afifa sekejap lalu menerima buket bunga Heru. Tak sampai di situ Heru mengeluarkan cincin dari saku celana. Cincin itu tersimpan di kotak berudu warna merah maron. Model apa belumlah diketahui karena masih berada dalam kotak.
Perlahan Heru membuka kotak perlihatkan sebentuk cincin bertahta batu berlian. Batu itu berkilauan kena terpaan cahaya lilin yang tersebar di sekeliling mereka.
Heru memajukan cincin itu kepada Afung berharap tahap kedua acara tembak menembak berlanjut mulus.
Afung menelan air ludah lihat mewahnya acara yang dibuat Heru. Afung tak sangka Heru akan berbuat sejauh ini untuk mencuri cintanya. Afung hargai perhatian Heru. Kalau sebut cinta masih terlalu jauh karena mereka masih saling menjajaki.
Afung ulurkan juga tangannya agar disematkan cincin oleh Heru. Ntah itu tanda cinta atau pertunangan secara tak resmi. Afung tidak tahu rencana Heru. Yang penting dia telah menemukan tambatan hati.
Semua tepuk tangan menyambut menyatunya dua pasangan. Daniel paling kencang tepuk tangan karena dia panitia dari acara ini. Hanya orang berhati bersih senang melihat orang bahagia.
Banyak juga orang yang senang bila melihat orang berada di dalam posisi kesusahan. Orang model gitu bertebaran di lapisan kulit bumi ini. Tidak hanya ada di Indonesia tapi mencakup seluruh dunia.
"Ayo pelukan!" seru Gibran kasih semangat pada papanya yang kayak orang hilang akal. Heru yang biasa gagah berani kini tampak seperti kucing kena siram air. Bukan singa garang seperti dulu.
"Peluk..."
"Peluk ..." semua kasih semangat pada Heru peluk wanita yang baru dia tembak. Satu pelukan hangat takkan merusak pemandangan mata anak-anak. Malah beri motivasi pada semua untuk melihat indahnya kebersamaan tanpa sifat dengki.
Heru berdiri di depan Afung melihat gelagat Afung apa menerima saran dari para penonton. Rasa canggung tetap ada walau telah resmi menjadi pasangan Heru. Bukan langsung main embat. Kan masih ada moral sebagai manusia punya rasa malu.
Daniel masuk ke dalam arena mendorong Heru memeluk pasangan barunya. Kalau ditunggu terus sampai fajar menyingsing juga takkan kelar.
Berkat dorongan Daniel, Heru kini telah merengkuh tubuh putih di depannya. Tepuk tangan kembali bergema di ujung cafe. Malam ini secara resmi Heru dan Afung jadi pasangan baru.
"Di malam berbahagia ini aku ucapkan selamat kepada pasangan kita. Mengapa malam ini aku gunakan tema berbau lautan. Aku ingin pasangan kita berlayar bersama menantang badai dengan biduk kecil. Selama bersama mendayung biduk rumah tangga niscaya akan mampu menantang badai. Kita doa bersama semoga pasangan kita lanjut ke jenjang lebih serius. Dan kita mulai berpesta. Kita barbeque sebagai tanda syukur." Daniel berpidato selaku panitia penyelenggara.
"Terima kasih bro Daniel!" Heru mengucapkan terima kasih atas kebaikan semua membantunya mewujudkan acara menembak Afung berjalan sukses.
"Sama-sama...ayok kita ke sana! Aku sudah sediakan semua kebutuhan pesta kita!" ajak Daniel meminta tamunya pindah ke lokasi telah tersedia makanan untuk pesta Heru.
Di situ sudah ada beberapa pegawai sibuk melayani para tamu majikan. Salah di antara mereka ada Kasim anak kampung Andi. Andi dan Tokcer senang melihat Kasim tampak rapi dan bersih. Tidak seperti seperti dulu Kumal dan jorok.
__ADS_1
Kasim tak kalah senang melihat kedua temannya bersama para majikan. Nasib Andi dan Tokcer memang lebih baik dari mereka namun mereka juga telah tertolong tidak jadi pengangguran lagi.
Andi dan Tokcer meringankan tangan membantu Kasim menyediakan makanan untuk mereka. Ketiga lelaki satu kampung itu saling melepaskan kangen. Rasa kangen pasti ada walau mereka tidak terlalu akrab. Bahkan tak jarang berantem soal hal kecil.
"Gimana bro? Betah?" Andi mencolek bokong Kasim dengan gaya genit. Kasim menepis tangan Andi secepat kilat. Kasim laki tulen risih dicolek bagian sensitif.
"Lhu belum sembuh ya? Kirain jadi orang kantoran bisa tinggalkan gaya kecewekan. Kalau bos lhu lihat bisa ditendang lima pas."
"Emang bola main tendang. Lhu nggak usah kuatir! Penyakitku tidak menular kok! Tokcer saja belum tertular. Eh...selama di sini ada dapat gebetan ngak?" Andi menyenggol Kasim gunakan pantat membuat Kasim melengos jauh. Andi bukannya marah malah tertawa lepas. Andi sengaja bikin ulah goda Kasim biar ada kisah manis.
"Ada sih...tapi orangnya sombong selangit! Anak pulau Sumatera."
"Wah...satu kampung sama Bonar dong!"
"Bukan...dia dari Sumatera Selatan. Bonar kan dari Utara. Gue akan semangat demi cinta."
"Wuih...pejuang cinta! Tokcer juga sudah ketemu pujaan hati tapi jauh di seberang lautan. Tiap malam hanya menatap foto, Videocall pelipur rindu."
Kasim tertawa mengejek Tokcer yang muram durja ingat Natasha yang jauh ribuan mil darinya. Ntah kapan mereka baru bisa jumpa lagi.
"Cewek mana?"
"Tuh Natasha yang dulu tinggal sini!" Andi menunjuk ke Tokcer yang pura-pura sibuk.
"Si bule manja? Bukankah dia pacar pak Daniel?"
"Huusss...bukan! Dia itu milih Tokcer. Kita lihat kelanjutan kisah cinta dua benua. Akankah kisah Romeo dan Juliet abad kekinian berakhir bahagia?"
Andi acung jempol setuju dengan kata Kasim. Mereka juga berharap setiap orang yang bercinta dapat happy ending.
Kedua teman Afung iri lihat betapa romantisnya Heru melamar Afung jadi pacar. Andai saja mereka dapat kesempatan ini tentu merupakan berkah. Namun siapa yang mau susah payah nikahi gadis beda negara. Prosesnya pasti berbelit bila tak ada pengurus yang pas. Bagi Heru yang punya gudang duit tentu tidak susah. Asal ada bunyi dolar semua beres.
Heru dan Afung duduk berdampingan ditemani Afifa sebagai translator. Pacaran pakai translator baru ada hati ini. Apa yang mau diomongkan bila penterjemah seorang anak kecil. Paling kata sopan tanpa unsur negatif. Heru harus jaga Afifa tidak terpapar obrolan orang dewasa. Ungkapan rasa sayang hanya bisa dikirim via tatapan netra. Cara pacaran menyedihkan.
Alvan dan Citra duduk agak jauh dari yang lain untuk beri ruang pada diri sendiri merasakan indahnya kebersamaan. Hembusan angin nakal mengurai rambut Citra melambai ke udara. Di tambah cahaya lampu Watt rendah bentuk siluet Citra bagai seorang bidadari nyasar ke bumi. Alvan terpesona pada isteri sendiri.
Lama Alvan tak pindahkan netra dari sosok Citra. Dilihat puluhan kali rasanya tetap sama. Meleleh dalam hati.
"Mas..." Citra menggoyang tangan di depan mata Alvan halau saya tarik Citra.
"Eh maaf! Tadi nampak bidadari turun ke bumi. Nggak bisa move on.."
"Idihhh...anak isteri di sini masih sempat cuci mata! Mau dihajar?"
"Mau banget! Nanti di rumah ya! Hajar pakai bibir ya!" olok Alvan bikin Citra malu. Anak sudah gede masih saja suka gombalin isteri. Apa tidak malu pada rumput yang bergoyang di malam hari?
"Nanti ajak kucing Koko biar diberi bibirnya! Eh...ingat Koko! Gimana? Ada hasil ngobrol dengannya?" Citra membelok cerita ke soal Karin.
"Nggak...Azzam tak mau jumpa Karin. Dia merasa kita sedang bujuk dia lakukan hal dia tak suka. Jangan paksa dia! Aku maklumi perasaannya pada Karin. Azzam merasa Karin tetap penjahat yang telah memisahkan kita."
__ADS_1
"Iya mas! Azzam memang sensitif... dia merasa bertanggung jawab pada aku dan adiknya."
"Afifa ada utarakan niat bergabung dengan Afisa. Apa itu dari kamu atau Azzam?"
Citra menggeleng menatap lurus ke arah Azzam dan Afifa yang sedang bakar daging. Mereka tampak sangat ceria menikmati pesta sederhana di tempat Daniel. Keduanya jarang dapat kesempatan berkumpul bikin acara. Waktu Citra di habiskan di tempat kerja, nyaris tak ada waktu luang untuk ajak anak-anak liburan.
"Kami sudah lama tak bahas soal itu. Jangan-jangan Afisa yang kasih semangat pada Amei untuk ikut dengannya di sana."
"Bisa jadi...Afifa ada bilang kasihan Afisa kesepian di sana. Kita harus cari jalan keluar. Tak mungkin kita biarkan Afisa hidup tanpa kita dan saudaranya."
"Afisa tak bisa pulang sampai selesai kuliah. Namanya sudah terdaftar di perguruan tinggi di Beijing. Afisa sedang membangun masa depan. Kita sebagai orang tua harus mendukungnya."
"Aku ngerti maksudmu tapi Afisa itu anak kita. Kalau kita tak bawa dia pulang dewasa nanti dia bilang kita buang dia. Aku mau anak-anak kita berkumpul."
"Aku berharap begitu tapi sayang rencana masa depan Afisa telah ditentukan. Kita hanya bisa beri dukungan. Afisa pasti paham mengapa dia sendiri di luar negeri. Masa depan dia di sana." kata Citra tegas telah tetapkan Afisa harus selesaikan pendidikan di tempat dia tinggal sekarang ini.
Alvan diam tak mampu berdebat dengan Citra yang lunak dari luar tapi keras di dalam. Wanita demikian lah sangat mengerikan. Diam-diam makan dalam. Alvan tak boleh salah langkah dalam hal ini. Masa depan anaknya sedang dipertaruhkan. Bukan gampang menentukan hari depan seorang anak apalagi yang berprestasi macam Afisa. Alvan bukan tak mampu biayai pendidikan Afisa namun Citra telah duluan tentukan hari depan Afisa. Menjadi bintang di negara orang. Sejujurnya Alvan tak rela tapi dia sendiri yang bentuk kekacauan ini. Sejuta kata andai diselipkan tak bisa kembalikan waktu terbuang.
"Kita tak usah ngobrol itu. Selanjutnya gimana hubungan Heru dan Afung? Kamu harus hubungi keluarga kalian di Beijing. Kita harus membawa Afung masuk Islam. Berjaga sebelum terjadi hal tak diinginkan."
"Iya mas...rencana besok aku akan telepon ke sana. Kalau di sana nggak pakai wa tapi WeChat. Hampir sama dengan wa."
"Apapun namanya tetap bertindak cepat. Mas ambilkan kamu makanan ya! Pingin makan apa?"
"Apa saja penting halal!"
"Ok..tunggu di situ saja! Mas akan layani bidadari supaya kenyang punya tenaga hukum aku nanti." Alvan mengerling nakal. Citra buang muka sambil menahan senyum. Kalimat sederhana Alvan membuat Citra bahagia. Mengharap kehangatan dari isteri bukanlah dosa. Isteri yang akan jauh dari surga bila menolak suami.
Malam ini semua bahagia. Daniel melihat kebahagiaan sahabat-sahabatnya dengan hati puas. Dia tidak tertarik pada gadis bermata sipit berkulit bening. Masih menarik gadis lokal berkulit sawo matang. Warna kulit eksotis kata orang luar. Cantik tidak mesti putih, masih banyak gadis menarik dengan kulit khas orang Indonesia. Kecantikan alamiah.
Banyak orang salah kaprah mengira berkulit putih baru menarik. Ramai-ramai ambil resiko ke klinik kecantikan suntik biar tampak bening. Cantik sekarang penyakit di masa mendatang.
Heru datangi Daniel yang telah lepaskan atribut kapten bajak laut. Kini wajah seniman gagal tampak lebih keren. Kedua teman Afung semula tidak open pada Daniel kini berubah. Di mata mereka Daniel jauh lebih menarik dari Heru karena nyentrik. Cuma sayang mata Daniel tidak ngelaba menatap mereka. Daniel tetap ramah dalam kapasitas sebagai tuan rumah baik.
"Terima kasih bro! Tanpa bantuanmu malam ini akan hambar."
Daniel menepuk tempat kosong di sampingnya minta Heru duduk. Angin malam bertiup makin kencang di tempat agak terbuka. Rasa sejuk bikin otak lapang. Segala keruwetan teratasi.
"Semoga kau bahagia bro!"
"Terima kasih...itu masih ada dua stok! Tidak kau coba?"
Daniel tertawa sumbang tak ada niat membangun harapan di atas hamparan pasir. Fondasinya rapuh gampang runtuh. Lahan kokoh incaran Daniel sudah dibangun bangunan kokoh oleh Alvan. Sertifikat sudah sah milik Alvan. Tak ada sela bagi Daniel untuk rebut lahan itu lagi.
"Sori bro! Aku tak suka mencoba. Aku hampir karam gara-gara Natasha, untung ada Citra ketok kepala aku. Citra tetap yang terbaik."
Heru menangkap nada getir dalam suara Daniel. Kalau boleh bikin tebakan Heru menebak Daniel memuja isteri sahabatnya.
"Citra?"
__ADS_1
"Citra... wanita terbaik yang pernah kujumpai. Aku mengenalnya sepuluh tahun lalu. Jatuh bangun dia bersama Alvan aku berada di sisinya sampai dia menghilang."