ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pengakuan


__ADS_3

"Kau sudah di sini! Kau pergilah ke dokter kandungan! Bawa memo dari aku! Kau tak usah bayar. Dan beli susu khusus ibu hamil agar bayimu sehat."


"Aku akan beli kalau sudah ada rezeki."


"Apa kerjamu sekarang?"


"Jadi pelayan di restoran kecil. Lepas makan saja."


"Bukankah kau bisa kerja kantor mengapa tidak coba lamar di tempat lain?"


Ambar tertawa pahit dengar kata Citra. Mengucapkan kalimat gampang tapi pelaksanaan seperti berjalan di atas bara api. Terbakar sekujur tubuh.


"Siapa berani terima karyawan yang dipecat dari group Lingga. Kita dipecat artinya kita kena blacklist."


"Gitu ya! Aku akan bicara dengan Alvan untuk bantu kamu cari kerja tapi ingat! Kurangi sifat nakal kamu. Tidak semua laki suka wanita nakal. Contoh seperti Heru dan Alvan. Mereka jijik terhadap wanita yang tak bisa hargai diri sendiri. Kau tinggalkan nomor kontak kamu. Aku akan hubungi kamu bila ada pekerjaan."


"Terima kasih Bu dokter! Aku telah berbuat jahat tapi anda balas dengan kebaikan. Seumur hidup aku takkan lupakan jasa baik Bu dokter. Hati-hati terhadap Viona. Aku takut dia putus asa berbuat nekad lukai Bu dokter."


"Terima kasih peringatan kamu. Aku akan bawa kasus ini kepada suami aku. Kau tenang saja. Bawa memo ini ke dokter kandungan. Dan ini ada sedikit uang untuk beli susu." Citra menyodorkan selembar kertas berisi coretan tulisannya serta beberapa lembar uang warna merah.


Ambar tak percaya pada penglihatan sendiri. Citra yang jadi korban kebodohannya malah angkat dia dari lumpur dosa. Ada berapa orang sebaik Citra di dunia ini. Ini asli manusia berhati emas. Air tuba dibalas dengan air susu.


"Bu dokter ikhlas?"


"Insyaallah ikhlas... terima kasih atas pengakuan kamu! Dan kamu juga harus hati-hati terhadap Viona. Aku takut dia marah kamu sehingga nekad lukai kamu."


"Kalau terjadi sesuatu padaku cari Viona! Dia yang bertanggung jawab untuk semua ini."


"Tak terjadi apapun asal kamu hati-hati. Pergilah! Pasien masih menunggu di luar."


"Oh iya Bu...terima kasih! Aku permisi. Mohon maafkan aku ya!" Ambar bangkit setelah mengambil kertas dan sedikit uang dari Citra. Wanita itu terseok-seok meninggalkan ruang praktek Citra.


Hati Citra terasa kosong seolah dia yang berada di posisi Ambar. Dulu dia pernah rasakan hari yang sama. Terbuang dalam keadaan hamil cuma Citra beruntung ada kakek Wira di belakang Citra. Citra bisa besarkan anak dengan penuh semangat. Waktu itu Citra tidak terpikir bisa kembali pada Alvan. Citra hanya bercita-cita besarkan anak-anak biar jadi manusia berguna. Tapi Allah berkehendak lain pertemukan mereka dan jadilah kisah sampai sekarang.


Citra bersabar hingga sore dijemput oleh Alvan seperti biasa. Kali ini ada penambahan pengawal kecil bermulut judes. Gadis kecil itu tampak senang telah habiskan waktu seharian bersama Alvan. Apa yang dilakukan Alvan dengan Afisa biarlah jadi rahasia mereka berdua. Asal anak-anak bahagia Citra juga bahagia.


Jadilah mereka pulang untuk berkumpul dengan anak-anak yang lain. Semua lengkap di rumah kecuali Gibran. Anak itu berkumpul dengan teman satu kelasnya untuk diskusi pelajaran tahun ajaran baru.


Apa tidak terlalu dini bahas soal pelajaran. Daftar pelajaran saja belum keluar dari mana muncul buku pelajaran. Alasan jitu untuk bermain.


Citra mengajak Heru dan Alvan bicara di ruang keluarga untuk bahas masalah Ambar yang didalangi Viona. Kejahatan Viona harus segera diakhiri sebelum makan korban. Hanna dan Ambar merupakan korban dari ambisi Viona. Viona tega korbankan orang lain demi tercapainya mimpi muluk dia. Sebelas dua belas dengan almarhumah Selvia. Halalkan segala cara demi kepuasan diri. Tak peduli jatuh korban di pihak lain.


Heru dan Alvan belum paham apa tujuan Citra ajak mereka bicara. Mereka tak sangka kalau Citra telah mengetahui perihal Viona bikin ulah. Dalam benak dua laki ini mengira diskusi mengenai liburan Afisa yang makin pendek. Anak itu harus segera balik ke Beijing lanjut sekolah dan latihan rutin.


Citra meminta Iyem hidangkan teh sebagai penenang bila terjadi ledakan emosi dua pria ini.


Citra dan Alvan duduk berdampingan sedangkan Heru duduk di sofa tunggal sebagai orang dituakan. Suasana sedikit tegang karena wajah Citra tidak terukir senyum seperti biasa. Tak urung hati Alvan kebat-kebit takut dia ada salah.

__ADS_1


"Ada masalah apa?" tanya Heru buka diskusi.


"Apa yang kalian sembunyikan dari aku?" tanya Citra tajam. Setajam mata pisau silet. Sekali iris kontan terluka.


"Nggak ada...semua aman kok!" tukas Heru santai. Om Citra berlagak dunia sedang aman tenteram tanpa adanya kejahatan.


"Viona..." Citra mengeluarkan satu nama dari mulutnya. Alvan dan Heru kontan terdiam tak bisa menjawab. Mereka tutupi perihal Viona supaya Citra tidak banyak pikiran. Siapa sangka cepat sekali terbongkar.


"Siapa yang lapor padamu?" tanya Alvan berjanji akan Gilas orang itu sampai gepeng. Kalau Afisa tak mungkin cerita karena dia juga tak mau Citra bersedih.


Citra tidak menjawab pertanyaan Alvan melainkan memutar rekaman percakapan dengan Ambar tentang semua rencana Viona.


Kedua laki kaya itu menyimak dengan rona wajah berubah-ubah warna. Putih, memerah dan terakhir hitam menahan emosi. Sungguh Viona yang hebat. Merancang kehancuran Perkasa dan Lingga dengan apik cuma sayang semuanya gagal. Ke depan ntah apa lagi rencana wanita itu.


"Gila...sungguh gila! Tak kusangka dia makin nekad. Beri aku rekaman ini. Biar kutangani wanita itu cuma kalian harus singkirkan si Ambar. Dia pasti akan jadi korban Viona karena telah bongkar kebusukan Viona." Heru mengambil hp Citra dan kirim hasil rekaman ke ponselnya.


"Kalau gitu jangan lakukan apapun dulu! Kita ungsikan si Ambar. Dia tak punya keluarga jadi harus ke mana kita bawa dia? Aku tak mau dia berada di lingkungan kita. Dia itu terlalu pemberani serta punya masa lalu dengan mas Alvan." kata Citra melirik Alvan.


Yang dilirik hanya bisa menghela nafas. Tiada badai tiada angin dia pula kena sapuan topan. Alvan sama sekali tidak ingat Ambar. Dari mana ada skandal. Itulah kuasa wanita! Main tuduh tak perlu takut kena pinalti. Tuduh sesuka hati.


"Aku tak ingat pernah punya karyawan si Ambar. Dari mana masa lalu Citra sayang?" Alvan menahan diri untuk tidak terpancing kesal.


"Tauk...Sekarang apa yang harus kita lakukan pada mantan om itu? Tujuannya jelas dan terencana matang."


"Kau urus si Ambar. Bawa dia ke tempat aman baru aku akan ambil tindakan. Kita harus lindungi si Ambar dan bayinya." kata Heru tegas takkan biarkan Viona lolos kali ini. Semua bukti sudah mengarah pada wanita itu.


Citra mencibiri Alvan yang konek langsung ke Karin. Ini membuktikan pikiran Alvan masih penuh bayangan mantan isteri tercinta. Cinta model apa hanya Alvan yang tahu. Pokoknya Alvan salah langsung ingat Karin. Hukuman pancung sedang dipersiapkan untuk pancung barang paling istimewa dalam diri Alvan. Ntah burung cucak Rowo tak pandai berkicau atau leher beton Alvan jadi sasaran pisau pancung Citra.


Heru tertawa lihat Alvan sadar telah salah kasih saran. Padahal itu hanya spontanitas tanpa maksud tertentu.


"Bagus... tempat paling aman tentu di tempat ternyaman." sindir Citra bikin Alvan makin bingung.


"Aku tak bermaksud apa-apa hanya ingat di pesantren ramai orang. Kan bisa jaga si Ambar."


"Bermaksud juga tak apa. Ya sudah ikuti saran tuan besar Alvan. Kirim Ambar ke sana. Kalian yang omong sama Karin. Aku akan hubungi Ambar."


"Baik...suruh dia bersiap dalam waktu setengah jam. Nanti ada orang urus dia ke sana. Kita bagi tugas sebelum Viona bergerak."


"Seperti film action saja! Baik aku akan hubungi Ambar dan tuan besar hubungi sang mantan terindah."


Di tengah kekalutan terselip tawa renyah Heru. Heru senang lihat Citra marah pada Alvan. Alvan sudah lama hidup nyaman bersama Citra. Kini diberi sedikit bumbu pedas supaya panas mungkin akan jadi satu selingan agar tercipta satu ikatan lebih intim. Marah artinya sayang, cemburu artinya cinta.Itu kata pujangga tamatan universitas Cinta Gagal.


"Yaelah...mana ada mantan terindah! Yang ada mantan kisut. Aku akan hubungi ustad Syahdan minta ijin Ambar di sana sampai aman." Alvan terpaksa mengalah demi ketenangan.


"Kenapa tidak hubungi Karin? Kali aja rindu."


"Rindu dari mana? Dari comberan? Sudah ach.. cepatan hubungi Ambar. Kok hari ini aku apes ya?" gerutu Alvan meratapi nasibnya.

__ADS_1


Citra mendengus angkat ponsel pindah ke ruang lain. Alvan ikutan angkat ponsel hubungi Ustad Syahdan calon suami Karin. Heru kebagian tugas cari orang urus Ambar menghilang dari sini untuk sementara sampai aman.


Jadi orang kaya memang enak. Tinggal perintah semua langsung beres. Malam ini juga Ambar meninggalkan kota J menuju ke tempat pesantren di mana Karin berada. Ambar diantar oleh orang kerja Heru dengan mobil pribadi dengan pengawalan dua anggota Heru. Pokoknya Ambar terjamin keselamatan.


Satu persoalan kelar. Tinggal bagaimana menangani Viona agar obsesi kurang waras ya pupus dari ingatan. Heru berniat kasih toleransi agar kisah Selvia tak terulang. Andai Viona ngotot maka hukum yang akan bicara. Heru akan beri pilihan pada Viona hentikan obsesi gila menjadi ratu di salah satu kerajaan.


Kesampingkan persoalan Viona. Alvan kena getah gara-gara salah ngasih saran. Saran Alvan dipakai namun tetap ada sanksi moral dari Citra. Dari tadi Citra pasang wajah singa betina ingin terkam mangsa. Mangsa segar siap dilumatkan. Apes lah nasib Alvan. Alamat dapat punggung sang isteri malam ini.


Citra pasti akan tidur balik badan berlawanan arah dengan Alvan. Pelukan hangat akan absen malam ini. Jadi jomblo mandiri malam ini.


Ramalan Alvan tepat melebihi peramal kondang. Citra tidak open padanya waktu tidur di peraduan. Perasaan kehilangan ini yang tak disukai Alvan. Dia memiliki isteri tapi tak bisa disentuh. Boleh dilihat tapi tak bisa dipegang. Ibarat makan bubur putih tanpa ditambah garam dan penyedap rasa. Sudah lembek hambar pula.


"Sayang .." rayu Alvan berusaha menyentuh bahu Citra.


Citra bukannya jawab malah menutup tubuh dengan selimut tebal.


"Kok ngambek? Mas hanya ngasih saran terbaik. Mas sumpah nama Karin tak ada lagi dalam hati mas."


"Bodo..emang ku pikirin!" ketus Citra masih bertahan pada posisi angkat senjata nyatanya perang.


"Mau kamu mas harus gimana? Nyesal deh ngasih saran!"


"Ooo...nyesal ketahuan nyimpan perasaan pada mantan!" Citra menendang lutut Alvan dari balik selimut.


"Ampun deh nih nyonyaku! Kok semua salah. Mas benar tidak sengaja nyebut tempat aman. Mas hanya pikir pesantren ustad Syahdan tempat aman. Sumpah disambar petir mas tak ada niat apapun selain ingin selamatkan si Ambar dari Viona. Orang yang bermasalah kok mas yang kena imbas."


"Yakin?"


"Sejuta yakin.. mas mana sempat ingat orang lain karena sibuk mikir kamu dan anak-anak." kali ini Alvan belajar pintar tak bawa nama Karin lagi. Alvan ganti nama Karin dengan sebutan orang lain supaya Citra puas.


Wanita makhluk Tuhan paling indah juga paling sensitif. Salah dikit hukuman kontan di ketok palu. Vonis bersalah tanpa sidang. Alvan harus belajar lebih cerdik hadapi wanita berhati lembut macam Citra. Lembut tapi kenyal. Susah dihancurkan.


"Sudah tidur! Jangan cerewet!"


"Mas boleh peluk?" tanya Alvan memanjangkan tangan hendak meraih tubuh mungil Citra ke pelukan. Alvan si bucin kondang bertekuk lutut pada wanita mungil perampok hati.


"Tidur!" Citra beri jawaban ambigu. Tidak menolak juga tidak beri kesempatan.


Alvan tidak buang waktu menarik Citra ke pelukan. Tak mungil itu tak mungkin melawan bila tubuh besar Alvan bergerak cepat. Tak butuh proses Citra terkurung dalam pelukan Alvan. Murni pelukan mesra tanpa bumbu ritual pasangan suami isteri.


Pagi sekali Heru sudah menghilang. Heru segera pergi ke rumah Viona untuk bikin perhitungan apa yang telah dia perbuat. Heru harus bertindak sebelum wanita itu rancang rencana baru. Keluarga besar Viona harus tahu kelakuan Viona yang bisa mengantarnya ke penjara.


Heru takut kelak Viona juga usik Afung. Afung bukan Citra yang kuat mental. Isterinya itu hanya kuat fisik karena rajin olahraga. Mentalnya rapuh gampang stress. Afung kini isteri Heru yang mualaf. Heru harus lebih hati-hati jaga Afung yang telah berkorban untuknya.


Suasana rumah Viona di komplek perumahan tingkat pertengahan masih sepi. Satu dua mulai lakukan aktifitas lari pagi dan para emak-emak jemur pakaian di depan rumah.


Heru menatap rumah Viona dengan hati dingin. Apa pantas cari ribut di pagi hari gini. Kalau Heru datang telat satu persatu penghuni rumah akan pergi jalani rutinitas masing-masing. Kapan cegah Viona berbuat konyol lebih jauh lagi?

__ADS_1


Heru tak punya pilihan lain selain tetap jalankan rencana semula jumpai orang tua Viona. Baik buruk Viona harus dibongkar hari ini juga. Agar kelak tak ada korban wanita ambisius itu.


__ADS_2