
Tidak sia-sia dia berdandan untuk tampil menarik. Ada juga yang hargai jerih payah Citra cari perhatian. Untunglah Alvan peka tak ingin isteri tercinta dirundung kekecewaan.
"Tunggu aku simpan belanjaan bentar ya! Kau tunggu sini! Kita dinner romantis malam ini!" Alvan membawa paper bag ke dalam kamar. Ntah apa yang dibeli Alvan dan untuk siapa. Citra tak punya kesempatan berpikir ke situ. Citra hanya ingin makan malam elegan dengan keluarga walau minus anak-anak.
Alvan kembali dengan tangan kosong. Mata si cowok tak henti memandang bidadari yang kesasar ke bumi. Sejuta rasa indah Alvan tumpahkan pada Citra. Cinta paling di depan, kagum, sayang, kangen, hargai dan terakhir memuja. Inilah karakter cowok terlanjur bucin.
Citra agak risih dipandangi Alvan seperti orang asing. Seperti orang baru pertama kali jumpa.
Citra goyangkan tangan di depan mata Alvan tepis lamunan cowok itu. Berdiri mematung hanya buang waktu. Jam berjalan terus bikin perut keroncongan. Citra belum makan apapun sejak balik dari rumah sakit. Itu makan siang bersama Profesor.
"Mas..." panggil Citra pelan.
Alvan tersadar telah the bius oleh kecantikan Citra malam ini. Alvan belum pernah melihat Citra berdandan seperti ini. Tak disangka wanita yang sehari-hari sangat sederhana sekali berdandan mampu merontokkan iman setiap cowok.
"Kau sangat cantik sayang! Maukah nona makan malam dengan aku?" Alvan mengulurkan tangan meminta sang bidadari menerima undangannya.
Citra tersenyum, dengan senang hati dia terima undangan laki yang tengah terpanah panah asmara ini. Alvan mengecup punggung tangan Citra layak dalam film-film sang cowok dengan galant mengajak sang cewek berkencan.
Keduanya bergandengan menuju ke lift untuk cari restoran di hotel. Alvan tak peduli berapa duit harus mengalir dari kantongnya untuk menyenangkan Citra. Yang terbaik untuk Citra saja.
Uang beratus-ratus juta untuk bantu suster Ming tidak disebut Alvan untuk jaga perasaan Citra. Alvan tak mau tanya untuk apa uang itu. Tak sekata terucap dari bibir Alvan ungkit dana lumayan besar itu. Citra akan cerita bila dia berkenan. Itu prinsip Alvan.
Keduanya pasangan itu mencari meja di restoran lumayan mewah. Citra memilih meja kecil ukuran untuk dua orang. Biar lebih romantis duduk berdekatan. Masih bisa saling pegangan tangan karena jarak sangat dekat.
Citra memesan dua porsi stik daging dengan French fried dibumbui saos tiram. Menu yang sangat umum namun tetap lezat di mulut. Citra tak ingin ribet pesan makanan sampai satu meja. Kalau Alvan yang pilih menu pasti satu meja penuh menu makanan.
Mending dia yang pesan. Laki memang tak bisa diharapkan.
Alvan asyik menatap isterinya melihat ada bintang di mata Citra. Bintang berkedip memancarkan cahaya kemilau bius Alvan makin tak bisa move on dari pesona Citra. Belum terlambat menyadari dia memiliki bintang kejora. Bukan bintang pembawa sial seperti Karin. Karin juga bintang selebgram namun bawa sekarung bencana bagi Alvan.
"Ada yang salah dengan wajahku mas?" tanya Citra di sela makan.
Alvan menggeleng dengan gaya Flamboyan seorang pria mabuk kasmaran. Tak ada obat lagi bucin akut. Ntah Citra terlalu cantik atau Alvan yang lebay kelewat cinta pada sang isteri.
"Kau sangat cantik! Tak heran anak kita seperti Puteri dan pangeran dari negeri dongeng. Aku mau selusin anak darimu lagi. Kita kumpulkan anak-anak cerdas dan cantik. Orang pasti iri padaku!"
Citra anggap Alvan sedang ngawur tak open. Orang sedang dilanda badai asmara memang aneh.
"Makan tuh! Hari ini mas kan capek layani anak-anak! Besok masih satu hari lagi sebelum pulang!"
"Mereka sangat mandiri tidak menyusahkan. Yang kasihan si Gibran karena Afifa menyusahkan dia. Malas jalan minta digendong Gibran dari belakang. Untunglah anak itu tidak protes. Aku tak ragu adikmu itu sayang pada keponakan dia. Betapa damai hidup ini!" ujar Alvan seraya mengusap wajah bersyukur dapat berkah terbaik setelah lalui hari melelahkan.
"Maka itu kita harus bersyukur pada Allah SWT. Yang di atas telah menggariskan pada kita bahwa kita harus berjalan lurus tidak menentang semua ajarannya niscaya kita akan mendapat hikmah atas semuanya."
"Aku percaya.."
Citra melihat daging di piring Alvan masih utuh belum tersentuh sedangkan punyaan dia telah berkurang setengah. Laki itu benaran bersyukur atau masih kenyang. Tak ingin mengecewakan Citra maka dia terpaksa ikut makan lagi.
"Tidak makan mas?" tegur Citra karena makanan Alvan masih utuh.
"Lihat kamu saja aku sudah kenyang!"
"Gombal...cepat makan biar cepat balik kamar!"
__ADS_1
"Kamar ya? Ok..." semangat Alfan kontan naik ke level tertinggi begitu mendengar kata kamar. Kamar tempat peraduan yang paling menyenangkan untuk pasangan yang sedang dimabuk asmara. Laki itu segera menyantap hidangan di atas meja. Rasanya sudah tak waktu tersisa kejar isi perut. Padahal tujuan Alvan bukanlah isi perut tapi kata kamar.
Alvan makan dengan lahapnya seakan steak daging itu sangat lezat. Citra tersenyum senang melihat suaminya begitu bersemangat makan malam bersamanya. Itu merupakan satu penghargaan buat Citra. Alvan senang makan malam bersamanya.
Sambil makan saling berpandangan penuh cinta, makanan terasa lebih lezat. Yang pahit pun terasa manis di lidah. Kalau Alvan disuguhkan empedu yang super pahit pasti akan rasa manis efek bucin akut.
Kencan pertama di negeri orang berakhir masuk ke kamar. Alvan gandengan dengan Citra lalui koridor hotel menuju ke kamar mereka bersebelahan dengan kamar anak-anak. Citra cek keadaan anak-anak sebelum tidur. Citra ingin pastikan anak-anak dalam keadaan baik.
Azzam dan Afisa yang buka pintu beri kode bahwa mereka aman dan siap memeluk mimpi. Citra dan Alvan tentu saja bahagia lihat semua berjalan sesuai dengan keinginan.
Kini tinggal urusan mereka. Citra segera bersihkan wajah dari sisa riasan yang bikin Alvan klepek-klepek. Wajib bersihkan wajah dari sisa kosmetika agar tidak jadi racun bagi wajah.
Alvan menanti dengan sabar di tempat tidur. Malam ini dia harus dapatkan jatah dari Citra. Sudah berapa hari puasa akibat sibuk memikirkan perjalanan ke negeri tirai bambu. Sudah di sini harus test kekuatan ranjang negeri orang. Apa sanggup menampung dua tubuh manusia yang sedang dilanda cinta membara.
Citra telah berganti baju dengan piyama warna biru tua. Rambut Citra digerai melewati bahu bak air hujan warna hitam bergantung di pundak wanita mungil ini.
Alvan menepuk samping tempat tidur meminta Citra segera bergabung dengan dirinya. Alvan tak sabar ingin jadikan Citra sebagai pengantar tidur.
"Belum ngantuk?" tegur Citra merangkak masuk dalam selimut.
"Belum dapat obat tidur gimana bisa nyenyak? Sayang waktu kita di sini sangat singkat. Maunya berlibur sebulan penuh." Alvan merentangkan tangan agar Citra masuk ke pelukan.
"Ada masanya nanti. Oya mas.. besok kita pergi ke rumah sakit ya! Profesor ingin jumpa mas. Dia yang obati mama mas."
"Oh...apa katanya tentang penyakit mama? Apa ada harapan sembuh?"
Citra belum berani ungkap kalau bu Dewi kemungkinan akan hilang suara selamanya. Tak semua bisa menerima kenyataan pahit. Citra masih berharap ada keajaiban membuka suara Bu Dewi walau ada cacatnya. Paling tidak bisa katakan kemauan hati.
"Mereka lagi usaha mas. Doakan saja semoga mama di beri jalan sembuh."
"Aku mau asal mas tidak melenceng ke kiri."
"Aku sudah kapok. Malam ini kok dingin banget ya? Kayaknya kita harus tidur saling merapat biar hangat." Alvan mulai keluarkan jurus rayuan gombal untuk membawa Citra ke penyatuan dua insan.
"Itu mau mas! Tidur...jangan cerewet!"
"Cuma segitu?" Alvan melongo Citra kurang paham kode alam darinya.
"Mau mas apa? Ini tempat tidur ya buat tidur! Emang buat tempat berenang?" sahut Citra cuek
"Kamu salah...ada fungsi lain dari tempat tidur!"
"Apa?"
"Buat cetak generasi baru. Nggak percaya? Sini kubuktikan!"
Alvan langsung balik badan menerkam Citra. Alvan seperti singa lapar nggak pernah temukan mangsa lezat. Tak sabar ingin cicipi makanan lezat di depan mata.
Isteri shalihah takkan menolak suami selama dia dalam kondisi bersih. Bersih dalam arti tidak sedang datang bulan atau sakit. Seterusnya hanya terdengar ******* nafas kedua insan berpacu dalam kemesraan mereka. Lenguhan Citra makin menambah semangat Alvan melayang di Awang kenikmatan. Semalaman mereka bercinta tanpa bosan. Alvan sampai lupa berapa trip dia berlayar ke lautan cinta.
Jelang subuh baru mereka terkapar tak mampu bergerak lagi. Keduanya tertidur pulas sampai lupa sholat. Kata orang nafsu besar itu membahayakan itu kalimat tepat. Keduanya terkurung dalam nafsu sampai lupa kewajiban sebagai umat beragama.
Citra terbangun tatkala pintu kamar mereka diketok dari luar. Alvan masih pulas dalam tidur saking lelah cetak gol berkali-kali.
__ADS_1
Citra segera rapikan pakaian untuk lihat siapa ketok pintu. Begitu pintu dibuka empat wajah tanpa dosa berdiri berjajar di depan pintu.
"Good morning mami..." sapa Afifa sok bule.
"Pagi..maaf mami terlambat bangun! Kalian lapar ya?"
"Belum lapar sekali. Kami ingin makan kembang tahu dan cahkwe. Amei sudah rindu cahkwe dengan kembang tahu. Om Gi nggak pernah sarapan itu. Kami mau ajak om Gi sarapan itu." Afifa menjelaskan rencana sarapan mereka pagi ini. Besok mereka sudah harus balik tanah air. Kapan lagi makan makanan tradisional sini sebelum bertolak pulang.
"Baiklah! Kalian tunggu di kamar kalian. Mami akan segera mandi!"
"Jangan lama ya mi!" pesan Afifa agak tak sabaran. Afifa tak sabar ingin perlihatkan sarapan yang mereka makan beberapa tahun ini. Air tahu dan gorengan serta bakpau menjadi makanan buat sarapan yang wajib bagi keluarga sederhana.
Keempat anak patuh masuk ke kamar menunggu Citra berberes. Citra segera bangunkan Alvan karena matahari mulai bersinar. Hari ini hari terakhir di sini maka mereka harus tuntaskan apa yang perlu diselesaikan.
"Mas bangun..." Citra mengguncang tubuh Alvan.
Alvan membuka mata sebentar lalu tutup lagi. Rasa penat lebih dominan membuat Alvan tidak open permintaan Citra.
"Mas... anak-anak sudah lapar!" seru Citra agak keras supaya Alvan berinsiatif buka mata.
"Aduh nyonya..! Aku capek sekali. Tidur sebentar lagi kenapa?"
"Baik...kami tinggal ya! Kami mau sarapan lalu ke rumah sakit!"
Alvan ogah ditinggal sendirian tanpa ngerti bahasa daerah. Pada siapa Alvan harus bertanya bila tak ngerti arah jalan. Heru masih mending ada Afung di sisi. Lha dia siapa temani bila Citra cs pergi.
Alvan meloncat bangun masuk kamar mandi untuk mandi. Citra menyusul agar cepat bergabung dengan anak-anak. Mandi berdua merupakan kemesraan dari sisi lain. Alvan iseng banget gerayangi tubuh mungil Citra yang jadi miliknya secara total.
Citra tak biarkan Alvan berbuat nakal karena di luar ada para kurcaci menanti mereka. Citra cepat sudahi mandi lalu keringkan rambut biar anak-anak tidak heran mengapa pagi sekali mami mereka sudah cuci rambut.
Butuh waktu satu jam baru Citra dan Alvan siap lahir batin kawal para kurcaci cari sarapan. Mereka pergi dengan taksi menuju ke tempat beli sarapan keinginan Afifa. Citra sengaja cari tempat dekat rumah sakit agar bisa berjalan ke rumah sakit untuk jumpa profesor.
Citra sudah kenal warung tempat biasa dia sarapan pagi sewaktu kerja di rumah sakit. Rumah makan sederhana jual sarapan tradisional. Hanya ada air tahu, kembang tahu, mantou(sejenis bakpau tanpa isi), cahkwe serta bubur kacang hijau. Makanan sehat ala orang Tiongkok.
Citra merindukan suasana penuh kehangatan orang Tiongkok. Orang lanjut usia makan sarapan sambil kongkow. Mereka menikmati hari tua cengkraman dengan sesama orang tua. Citra menikmati pemandangan ini dari dulu. Pemandangan yang hilang telah kembali melintas di mata.
Alvan dan Gibran asing dengan suasana lebih orang tua. Setiap meja dihuni beberapa orang tua baik pria maupun wanita. Mereka ngoceh dalam bahasa Mandarin tak dipahami Alvan dan Gibran. Ketiga anak Alvan santai saja seolah terbiasa lihat pemandangan ini.
Begitu Citra masuk seorang berseru nyaring mengenali Citra. Citra menghilang nyaris setahun tanpa kabar. Kini muncul lagi bawa orang baru.
"Xiao Ci..kamu datang!" seru seorang emak paro baya dengan suara menggelegar. Tubuh gempal emak itu bergoyang hampiri Citra dan keluarga.
"Ayi (makcik) apa kabar? Lama tak jumpa. Apa kakimu sudah sehat?"
Ayi menggerakkan kaki pamer kalau kakinya sudah pulih sepenuhnya. Tawanya begitu lepas tanpa beban. Jumpa Citra tak ubah jumpa anak hilang.
"Berkat tanganmu kaki Ayi sudah aman! Ah..Yin Sia, Chai Sia, Chen Yang sudah besar ya! Ya ampun kamu Yin Sia kok jadi bulat gitu?" Ayi mencolek pipi tembem Afifa.
Afifa tertawa renyah digoda Ayi pemilik warung. Tampaknya mereka sudah saling kenal satu sama lain.
"Nainai juga gendut. Ada sarapan untuk Amei?"
"Ada...kembang tahu dan cahkwe! Ayo kalian duduk! Eh ini siapa? Kok Ayi tidak kenal?" perempuan periang itu menunjuk Alvan yang sumpah mati bingung berada di lingkungan tak tepat.
__ADS_1
"Ini suami aku. Papinya ketiga anakku! Namanya Alvan dan ini adikku dari Indonesia namanya Gibran. Mereka tak bisa bahasa Mandarin."