
"Yaelah...bangun siang salah bangun pagi juga salah! Aku mau tanya saudaramu yang mau pindah ke Swiss. Jadi pindah?"
"Sudah pindah kok! Kenapa? Mau ikut pindah ke sana?"
"Kalau aku pindah lalu siapa sayang padamu? Siapa yang tiap hari kirim salam sayang?" ujar Daniel perlihatkan gaya pacaran lebay.
Alvan melelet lidah mual dengar Daniel merayu Laura pakai rayuan jaman kakek Wira. Tiap hari kirim salam. Muka Laura pasti sudah penuh oleh salam dari Daniel. Segala dalam gombal terstempel di kening licin Laura.
"Iya...iya ..hanya mas Daniel is the best. Lalu apa urusan tanya saudara aku itu?"
"Begini...Alvan sedang cari rumah untuk anak-anaknya yang ramai. Kurasa rumah saudaramu cocok untuk dia. Anaknya kan banyak. Perlu tempat lebih luas."
"Oh pas sekali..saudara aku suruh jual kok! Harganya bersahabat. Katanya asal laku karena mereka tak ada rencana balik sini."
"Syukurlah! Kami harus hubungi siapa? Gimana soal surat menyurat?"
"Tanya saja sama papa aku! Minta Alvan datangi rumah itu dulu dan cek apa cocok. Perabotan gratis tak usah dibayar. Padahal itu semua barang impor dari luar negeri."
"Bagus...nanti sore kita ke sana ya! Aku tak sabaran mau lihat Alvan berdikari!"
"Ok...jemput aku di rumah sakit! Kita pergi barengan."
"Baik sayang. Lanjut kerja! Jangan lupa makan siang ya!"
"Iya mas! Lanjut tidurnya! Titip mimpi ya!"
"Mimpi kamu ya! Mau dong! Mas tutup dulu ya!"
"Yuup.."
Alvan menggeleng tak sangka ada orang bucin akut. Daniel tak seperti orang lebay pada pasangan. Kok berubah total di tangan Laura.
"Parah...bucin tingkat dewa!" kata Alvan mencolek paha Daniel yang masih tongkrong dibatas meja kerja Alvan. Daniel tersenyum genit bikin perut Alvan makin mual. Ingat sewaktu dia wakili Citra ngidam. Perut diaduk sama centong gede.
"Maklumlah dapat pasangan cocok! Itu tak penting bro! Gue ada kabar baik untuk lhu! Rumah saudara Laura dilepas dengan harga miring. Perabotan gratis. Rumahnya mewah seperti istana. Kamarnya dia belas. Gimana? Sore nanti kita pergi lihat! Ok?"
"Ok...tapi aku harus jumpa klien pukul tiga nanti."
"Gampang itu. Kita pergi setelah kamu siap meeting. Meeting klien tidak mesti seharian kecuali lhu meeting dengan klien super istimewa. Pakai acara nginap segala." olok Daniel dibalas timpukan pulpen oleh Alvan.
Tidak rugi punya sahabat macam Daniel. Selalu memikirkan yang terbaik untuk konco sendiri. Daniel tak mau sahabatnya yang keren jadi bodoh karena cinta. Daniel tak melarang Alvan sayang pada Citra namun bukan berarti Alvan harus tunduk segalanya. Alvan harus punya harga sendiri.
Untung datang mengantar kopi dan sarapan untuk Daniel. Kebetulan perut Daniel sudah keroncongan maka tanpa malu dia hajar makanan itu gunakan gigi atas bawah.
Alva tersenyum biarkan temannya menikmati makan pagi tertunda. Datang sepagi gini untuk kembalikan harkat temannya yang tergerus oleh cinta. Mengalah demi menyenangkan wanita yang dia cintai.
Jam lima sore Alvan dan Daniel jemput Laura di rumah sakit untuk pergi sidak rumah saudara Laura. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota walau buksn di jantung kota. Di tengah kota mana ada lahan seluas gitu untuk dibangun rumah.
Kesan pertama lihat rumah itu seperti rumah permen. Rumah dicat warna-warni dengan warna sangat menyolok mata. Sungguh paduan buruk. Pagar rumah cukup kokoh dibangun hampir dua meter dengan gerbang besi tertutup rapat.
Alvan jadi ngeri bayangkan isi dalam yang pasti mirip pelangi aneka corak. Itu bukan style Alvan dan Citra. Mereka suka yang sederhana dan adem.
__ADS_1
Laura mengajak kedua laki itu masuk ke dalam untuk lihat isi rumah. Pintu rumah cukup lega model belah dua di cat warna putih gading. Penyambutan yang ramah tidak merusak mood.
Begitu pintu terbuka Alvan tercengang saksikan ruang tamu yang sangat luas. Ada dua set tempat duduk beda warna. Satu set terbuat dari kulit warna putih gading sedang satunya lagi memang terbuat dari kayu. Warnanya tentu ikut warna kayu. Setiap sudut ada hiasan dari keramik berupa guci segede Azzam dan Afifa. Bufet senada dengan kursi tamu juga tertata rapi walau tak ada hiasan apapun.
Selanjutnya ruang keluarga yang luasnya hampir sama dengan ruang tamu. Ruang keluarga hanya ada satu set sofa model bulat sedang di depan televisi terhampar karpet berbahan lembut untuk mereka yang ingin nonton televisi sambil tiduran.
Ruang makan maupun dapur juga lega. Ke belakang lagi ruang cuci dan kamar pembantu. Ada gudang kosong untuk isi barang tidak terpakai. Selanjutnya lihat kamar. Di lantai bawah terdapat tiga kamar dengan fasilitas lengkap. Kamar bawah lebih lengkap fasilitas karena jadi kamar utama. Setiap kamar ada kamar mandi sendiri.
Di lantai atas ada ruangan keluarga lagi lengkap home theater. Perabotan di sini lebih mewah dan super luks. Di atas ada sembilan kamar dengan fasilitas sama. Setiap kamar cukup besar dan lapang. Sangat cocok untuk anak-anak Alvan yang jumlahnya cukup banyak.
Alvan puas dengan isi dalam tidak norak seperti cat di luar. Alvan cuma perlu cat ulang rumah dan ganti kasur baru untuk mereka. Tidak mungkin Alvan mau tidur di ranjang bekas orang.
Laura menunggu komentar keluar dari mulut Alvan mengenai rumah saudaranya ini. Laura berharap Alvan tertarik biar cepat terjual. Tidak semua orang suka rumah kelewat gede karena perawatan butuh biaya besar.
"Gimana pak Alvan?" tanya Laura setelah mereka kembali ke ruang tamu.
"Sangat cocok. Perabotan juga sangat bagus cuma aku harus renovasi cat dan ganti tempat tidur."
"Pak Alvan cuma perlu ganti dua kasur karena yang lain semua baru. Belum ada yang pernah tidur di kasur lantai atas. Dulu saudara papa aku itu berharap punya banyak anak tapi sayang anak mereka cuma satu. Sekarang anak mereka susah sukses di Swiss maka mereka ke sana susul anak mereka. Jadi itulah kenapa cuma dua kamar yang terpakai."
"Oh gitu...baiklah! Herannya mengapa setiap kamar diisi kasur padahal tak ada penghuninya." gumam Daniel tak habis pikir apa yang ada di otak saudara Laura. Bangun rumah segede ini hanya untuk satu anak. Kalau Alvan bolehlah punya rumah gede karena anaknya banyak.
"Itulah orang terobsesi punya keluarga besar! Pak Alvan setuju dengan rumah ini?"
"Aku setuju. Mari kita bahas harga."
"Itu langsung sama papa aku! Pokoknya aku akan minta harga paling rendah untuk pak Alvan. Biar cepat laku. Sayang tak ada yang rawat rumah ini. Ini baru pindah sebulan. Coba kalau setahun. Berapa tebal debu dalam rumah?" Laura mengitari seluruh ruangan dengan mata. Sayang kalau rumah dibiarkan kosong terlalu lama. Lama-lama jadi lembab, perabotan bisa rusak tak terurus.
"Baik! Aku akan bicara dengan papa aku."
Alvan dan Daniel serta Laura segera meninggalkan rumah penuh harapan bagi Alvan. Alvan ingin mulai hidup mandiri dengan anak isteri tanpa campur tangan orang lain. Citra memang akan kewalahan urus empat bayi namun itu lebih baik ketimbang bergantung pada orang lain.
Alvan pulang ke rumah tanpa beritahu Citra soal rumah saudara Laura. Alvan tak ingin merusak mood Citra pasca melahirkan. Merawat enam sekaligus bukan hal gampang. Azzam dan Afifa memang sudah mandiri namun tetap butuh perhatian Citra. Citra mana mau tinggalkan anak-anaknya sedetikpun.
Sebenarnya Alvan terharu lihat Afung sangat rajin urus keempat bocahnya. Mengingat niat Heru ingin adopsi anaknya bikin Alvan ketakutan. Kalau sekedar mengawasi anak-anak Alvan tidak keberatan tapi janganlah dijadikan anak pribadi. Alvan mana rela.
Citra makin sehat walau tubuh belum kembali langsing seperti dulu. Masih ada sisa ibu-ibu baru melahirkan. Pipi masih tembem akibat kuat makan. Citra kuat makan untuk menambah gizi agar ASI cukup untuk empat bocah.
Tetap saja tak cukup karena harus dibagi empat bayi. Semampu Citra sajalah ngasih ASI secara bergiliran di bantu susu formula.
Citra menyambut suaminya dengan senyum mesra seperti biasa. Senyum manis adalah pelepas rasa penat suami sepulang dari mengais rezeki. Sudah capek di kantor dapat suguhan kembang setaman hati suami mana tidak meleleh?
Alvan mengecup kening Citra lalu memeluk sang istri masuk ke kamar kawani dia bersih-bersih sebelum jumpa buah hati. Kotoran dari luar tak mungkin dibawa jumpa bayi yang masih merah. Apa lagi di masa pandemi virus Covid 19 yang masih betah jadi hantu bagi penduduk sedunia.
Citra menyiapkan pakaian Alvan tanpa banyak komentar. Semua lelah lalui hari demi hari. Alvan capek kerja sedang Citra capek urus anak. Tak terpikir pekerjaan di rumah sakit lagi karena waktunya tersita untuk bayi-bayinya. Beginilah resiko melahirkan anak dalam kuantiti banyak.
Citra kapok menambah anak lagi. Kalau Alvan mau tambah anak Citra ijinkan dia kawin lagi dengan catatan putus hubungan antara mereka. Citra tak Sudi dimadu. Lebih menyerah dari pada harus makan hati berbagi suami.
"Sayang ..gimana anak-anak?" tiba-tiba Alvan sudah muncul memeluk Citra hanya berbalut handuk putih.
"Mereka anak baik seperti kakak-kakak mereka. Makan tidur sekali-kali nangis lapor sudah basah. Mas mau lihat mereka? Di dalam masih ada Oma dan Afung. Tunggu mereka pulang dulu ya! Nanti dipikir kita ngusir."
__ADS_1
Alvan hanya manggut kecil. Apa yang dikatakan Citra betul. Di dalam kamar penuh wanita tiba-tiba Alvan masuk bikin suasana jadi canggung. Mereka pasti akan pergi beri kesempatan pada Alvan menemui buah hati. Ini tanda Alvan mengusir mereka secara halus.
"Ya sayang..." Alvan mengambil pakaian yang disediakan Citra lalu lekatkan ke tubuh. Alvan tak boleh berpikir ke arah mesum karena Citra baru melahirkan. Tak ada ruang bagi Alvan salurkan nafsu. Demi buah hati dan isteri tercinta itu bukan siksaan melainkan cobaan sebagai suami dan papi sempurna.
"Gimana kantor?"
"Aman ..tadi Andi tanya kamu dan anak-anak. Kuminta dia ajak Bu Menik ke sini untuk lihat cucu mereka. Katanya hari Minggu sekalian emak Tokcer. Kau pasti rindu pada mereka kan?"
Citra mengangguk bersyukur Alvan memahami dirinya. Hati siapa tidak bahagia diperhatikan suami sedetailnya.
"Terimakasih mas!"
"Dan lagi aku minta Andi kuliah lagi. Untuk menambah wawasan biar makin maju. Andi akan kuliah malam hari saja."
"Swasta dong!"
"Iya... swasta kan sama saja asal yang bersangkutan rajin. Dia makin pintar maka aku sangat berharap dia maju bisa jawab tantangan global."
"Aku suka rencana mas! Ayok duduk! Jangan berdiri terus! Nanti tambah tinggi lho!"
Alvan tertawa kecil menyempatkan diri duduk sejajar dengan Citra di atas ranjang.
"Aku berharap anak-anak cepat besar. Aku senang bisa melihat mereka tumbuh dari hari ke hari. Dulu aku melewatkan pertumbuhan Azzam dan kedua adiknya. Aku dapat bayaran saksikan empat bocah sekaligus. Terima kasih ya sayang! Aku telah menyusahkan kamu!"
"Isshhh omong apa itu? Apa mereka bukan anakku? Mereka itu milik kita berdua. Tak ada orang boleh pisahkan mereka dari kita."
Alvan lega banget dengar janji Citra. Tutup semua akses Heru menculik anak-anak menjadi warga Perkasa. Orang pertama menentang pasti Citra. Rasa takut di hati Alvan kontan terkikis sampai habis.
"Apa kau sudah pikir gimana kamar anak-anak di hari depan?" pancing Alvan mau tahu reaksi Citra tentang pemisahan tempat tidur. Setiap anak harus punya kamar sendiri agar mereka punya privasi sendiri. Mereka dididik dari dini hidup mandiri dan hormati privasi sesama saudara.
"Aku belum tahu mas! Rumah ini kamarnya mentok kecuali bangun lagi di belakang kamar baru."
"Gimana kalau kita cari rumah yang lebih besar? Ingat dulu aku pernah bahas rumah Bu Hajjah? Waktu itu kita belum memikirkan keberadaan empat anak kita. Sekarang harus kita pikirkan."
Citra tidak membantah perkataan Alvan. Soalnya apa yang dikatakan Alvan adalah kenyataan. Setahun ke depan anak-anak sudah butuh kamar sendiri. Apa yang harus mereka lakukan agar Oma Uyut anak-anak tidak merasa ditinggalkan oleh cicit beliau. Rasa sayang dan cinta Bu Sobirin pada anaknya adalah kasih sayang tulus. Citra tak boleh abaikan perasaan orang tua.
Aku bingung mas!" desah Citra tak bisa ambil keputusan.
"Dengar sayang! Mas akan usahakan tempat nyaman bagi anak-anak dan jaga perasaan Uyut mereka."
"Caranya?"
"Uyut boleh tinggal sama kita ataupun setiap Sabtu Minggu kita pulang nginap sini. Dengan demikian komunikasi tetap terjaga. Mas akan cari rumah yang luas untuk kamu dan anak-anak. Nanti kita cari beberapa art untuk bantu kamu jaga anak-anak."
"Apa itu jalan mas? Atau kita bahas sama Oma Uyut dulu. Tak enak kita tinggalkan beliau setelah mendapat anak-anak. Beliau yang bantu aku di kala terpuruk."
"Baik...mas hormati kemauan kamu! Bicaralah dengan Oma!"
"Iya mas!"
"Oya...mas sudah daftar akte kelahiran anak-anak sesuai nama pilihan kita."
__ADS_1
"Papi siaga." puji Citra salut Alvan bertindak cepat urus keperluan anak mereka. Citra tak tahu Alvan cepat daftarkan anak mereka untuk menutup keinginan Heru adop anaknya.