
Alvan kecewa karena tak ada nada cemburu dalam nada suara Citra. Alvan ingin Citra cemburu pada Karin. Angan muluk Alvan jauh dari harapan. Citra tidak peduli Alvan ingin ke mana. Bagusnya Alvan tak muncul lagi di hadapan dia dan anak-anak. Kehadiran Alvan justru mengacaukan rencana masa depan Citra dan kedua kurcacinya.
"Aku pergi sebentar saja. Nanti balik sini." janji Alvan berusaha cari simpatik.
"Sudah malam pak! Pulang istirahat di rumah. Ada yang lebih membutuhkan bapak. Berpulang dari benar salah kita hendaknya kompromi. Jangan gegabah pak! Ini merusak semua."
Mata Alvan menyipit membentuk garis tipis. Alvan ingin tahu apa yang akan disampaikan Citra. Memintanya memaafkan Karin? Kesalahan Karin terlalu fatal tak bisa ditoleransi. Karin tak ubah perempuan murahan. Berselingkuh tanpa pilih mangsa. Mertua sendiri dijadikan lawan ranjang. Iblis bertopeng manusia.
"Kau tak paham tak usah ngasih saran. Kelak aku akan cerita semuanya. Aku pergi dulu." Alvan malas berdebat di malam buta. Takut terpancing keluar suara auman kasar mengganggu pasien lain. Alvan menganut sistim diam adalah emas.
"Iya pak!"
Alvan keluar tinggalkan Citra merenungi kata-kata Alvan. Apa yang sedang melanda bahtera rumah tangga Karin dan Alvan. Ikatan cinta kokoh milik mereka berdua mulai goyah. Karin memang salah telah berkhianat tapi Citra yakin di balik semua ini ada motif lain.
Apapun adanya Citra tak berhak ikut campur. Dia hanya mantan isteri Alvan. Masalah internal antara Karin dan Alvan biarlah mereka yang selesaikan.
Citra bangkit cuci muka menyegarkan wajah. Rasa ngantuk Citra hilang seketika berganti rasa penasaran isu rumah tangga Alvan. Citra tak berharap Karin dan Alvan berpisah. Malah Citra berdoa semoga keduanya temukan titik terang. Saling mengalah demi keutuhan keluarga.
Selesai cuci muka Citra memantau kondisi Afifa. Tubuh Afifa agak hangat sedikit walau tidak terlalu panas. Untuk jawab keraguan di hati Citra ambil alat test suhu digital cek berapa Celcius suhu Afifa.
Citra tempelkan alat itu ke dahi Afifa. Bunyi bib tanda dapat hasil. Alat digital itu memunculkan angka tiga puluh delapan derajat celcius. Lumayan tinggi walau belum fatal.
Citra segera mencari perawat untuk drip obat penurun demam. Afifa sedang tidur tak mungkin dicekoki obat melalui mulut. Obatnya akan disuntikkan ke selang infus tanpa ganggu waktu istirahat Afifa. Citra seorang dokter pasti tahu apa yang terbaik untuk anaknya.
Di rumah Alvan sepasang suami isteri duduk membisu di ruang tamu. Sementara pengawal bertubuh gempal nelangsa di teras jadi umpan nyamuk. Para nyamuk berpesta pora dapat mangsa subur. Vitamin di tubuh Untung berlimpah menambah tonic para nyamuk. Untung asisten setia berpangkat apes. Jadi asisten Alvan harus siaga dua puluh empat jam. Setiap saat bisa dipanggil laksanakan tugas. Herannya Untung bukannya tambah kurus dapat tugas segunung malah tambah subur. Tugas sekali poding lima kali. Alhasil Untung berkibar pamer tubuh tambun.
Dalam ruang tamu Karin duduk berseberangan dengan Alvan. Tak ada interaksi mesra antara mereka sebagaimana biasanya. Hanya ada rasa canggung dan kaku. Kalau Alvan jangan ditanya. Laki ini jijik lihat kondisi Karin.
Make up di wajah tak karuan. Mata cekung kosong mirip panda ditinggal mati pejantan. Rambut kayak sarang tawon baru siap panen. Amburadul tak karuan.
Alvan sengaja diamkan Karin menanti apa yang akan dikatakan wanita itu. Pembelaan kosong berapa jilid akan dibukukan wanita nakal tersebut. Karin menunduk memainkan kuku jari dicat aneka warna menarik. Kalau dulu Alvan akan senang puji seni keterampilan Karin. Diakui Karin pandai padu warna kuku dengan gambar indah. Semua itu berubah tak berarti.
Kedua pasangan itu bertapa dalam kebisuan. Masing-masing pertahankan ego harap salah satu duluan buka mulut. Yang duluan dianggap kalah. Perang batin jilid pertama sedang berlangsung di rumah mewah Lingga. Perang selanjutnya tergantung kondisi penyelesaian konflik Alvan dan Karin. Mentok sampai di mana.
Lama-lama Alvan bosan duduk di rumah sepi dingin. Di tempat lain masih ada kehangatan menanti kehadiran Alvan. Gadis kecil penuh cinta pasti kecewa bila tak melihat Alvan di pagi hari. Alvan sudah janji akan temani putri cantiknya hingga pagi. Baru jumpa sudah ingkar janji, kelak di mana tempat Alvan di hati Afifa. Avan tak mau lewatkan kesempatan mencuri hati putrinya. Terlewatkan tak ada kesempatan kedua.
Alvan bangkit meraih baju jaket berniat pergi. Tak ada guna mematung di sofa. Hasil tak ada, malahan tumbuh jamur basi.
Karin menangkap bayangan Alvan akan angkat kaki dari rumah. Tak usah ditebak Karin tahu lakinya sedang marah besar. Seumur mereka bersama baru kali ini Alvan bersikap pasif tak open padanya. Sebenarnya Karin sedih namun apa daya. Dia salah telah lewat batas kenyamanan yang diberi Alvan.
"Van...kau mau pergi lagi?" tanya Karin bergetar irama suara.
__ADS_1
Alvan hentikan langkah kaki tanpa menoleh pada Karin. Tatapan Alvan jatuh ke pintu depan yang siap menelannya bila kaki melangkah keluar.
"Memang aku penting di rumah ini? Bukankah kau bahagia bisa pamer tubuh pada puluhan laki? Apa arti seorang Alvan bagimu?" sinis nada Alvan.
Karin menelan air saliva membasahi tenggorokan yang kering. Mengapa susah sekali rangkai kata bicara dengan Alvan. Sikap kaku Alvan buyarkan setiap kalimat tersusun di benak.
"Maafkan aku! Aku janji takkan ulangi kesalahan sama."
"Kalau kau hilangkan uang sepuluh milyar aku takkan marah. Tapi kau hilangkan hargaku sebagai suami tak ada kata maaf! Pikirkan semua kesalahan apa yang telah buat. Selingkuh dengan mertua, mabukan, berbohong hamil anakku, bercinta dengan puluhan laki. Berapa puluh kali kau ingin minta maaf? Kau tahu ngak? Di Zaki gigolo bayaran itu mengidap penyakit Aids. Positif HIV..."
Wajah Karin berubah pucat diberitahu soal Zaki. Karin tak sangka Alvan banyak tahu soal kebinalannya. Selama Karin mengira Alvan cinta mati padanya tutup mata semua kelakuannya. Rasa percaya diri berlebihan menjerumuskan Karin ke jurang nista. Karin terpuruk dalam ke dasar jurang. Jatuh ke lembah gelap tak ada cahaya.
"Kau takuti aku?"
Alvan mendengus sinis. Dikasih tahu bukannya sadar. Masih mengira Alvan cemburu menakuti dia tentang penyakit Zaki. Karin tak paham bahaya besar mengancam nyawanya.
"Kenapa tak tanya laki macho itu? Lelaki pemuas nafsumu. Dia ditangkap bukan karena narkoba tapi menyebarkan virus mematikan. Sudah ada beberapa orang kena virus HIV dari dia. Ditambah dia konsumsi narkoba. Lengkap sudah kejahatan lelaki pujaan itu. Kau harus test HIV seminggu lagi. Kalau kau terkena tamatlah hidupmu!"
"Van...aku tahu aku salah! Tak usah karang cerita tak masuk akal. Katakan kau cemburu pada Zaki! Aku tahu betapa kau cinta padaku. Aku benar minta maaf Van! Tak bisakah kau maafkan aku mengingat seberapa besar cinta kita."
"Cinta? Kau punya cinta? Kau hanya punya nafsu. Aku buta tinggalkan seorang wanita mulia untuk seorang wanita sampah macam kamu." ujar Alvan dengan nafas berburu ingat bagaimana dia perlakukan Citra demi bersatu dengan Karin. Pengorbanan hampa.
"Bukan Citra merusak hubungan kita tapi kamu sendiri. Coba hitung sudah berapa uang kau hambur untuk puaskan egomu! Apa aku pernah marah? Justru kau jual kesetiaan maka aku marah. Sekarang kau tunggu hasil test HIV! Bila kau terjangkit silahkan angkat kaki dari rumah ini!"
"Alvan...aku ini Karin isterimu! Jangan seenak perut kau usir aku! Aku mengandung darah daging Lingga."
"Kita menikah siri. Tak ada hitam putih. Aku bisa ceraikan kamu tanpa harta sedikitpun. Kau pikir anak di perutmu bisa tumbuh sehat kalau ibunya pemabuk? Pikir sendiri! Jumpai Zaki tanya soal HIV dia!" Alvan menutup pembicaraan lantas ambil langkah panjang tinggalkan ruang tamu keluarga.
Karin tak percaya semua ocehan Alvan. Wanita ini yakin Alvan cemburu pada Zaki menjelekkan laki itu. Zaki demikian keren dan macho. Pesona Zaki mampu menyihir setiap wanita terlena dalam pelukan hangat laki itu. Karin tidak munafik terpesona oleh daya tarik Zaki.
Zaki pembawa bibit HIV pada wanita. Berita tak jelas merusak reputasi Zaki yang top di kalangan wanita pendamba cinta satu malam. Karin yakin seratus persen Alvan mengeluarkan kata-kata merendahkan Zaki karena cemburu buta.
"Aahhh..." keluh Karin kesal tak bisa menahan langkah Alvan. Suara mobil Alvan perlahan menghilang menjauhi rumah. Tengah malam gini mau ke mana Alvan. Alvan jarang ngelayap malam selain keluar kota ataupun lembur.
Bisa jadi Alvan pulang ke rumah mamanya ataupun balik ke kantor. Di kantor Alvan ada ruang pribadi khusus buat Alvan istirahat. Karin tak kuatir bila Alvan bersama Untung. Tak mungkin Alvan main gila bersama asisten pribadinya. Alvan orangnya jaga image junjung kesetiaan.
Semoga esok laki itu pulang ke rumah beri kesempatan Karin perbaiki diri. Sudah saatnya Karin memikirkan bayi dalam kandungan. Itu aset untuk menjerat Alvan selamanya.
Alvan takkan berani umumkan siapa anak dalam kandungan Karin. Nama baik keluarga Lingga jadi taruhan bila tersiar Karin selingkuhan dengan mertua. Semua bakal tenggelam. Satu kapal merek Lingga karam gara-gara skandal mertua menantu.
Alvan tak mungkin berjudi dengan nama baik Lingga. Laki itu pasti akan jinak bila Karin jaga sikap kembali manja seperti dulu. Alvan tak bakalan berkutik bila Karin keluarkan jurus ampuh merayu Alvan.
__ADS_1
Karin tersenyum senang ingat betapa cintanya Alvan padanya. Wanita ini tak sadar bencana besar sedang mengintip hidupnya. Masih adakah senyum lebar bila ketahuan Zaki memang pembawa bibit virus HIV.
Sepanjang raya sepi senyap. Hanya ada satu dua mobil menggulirkan ban di atas jalan raya sepi termasuk mobil Alvan. Mobil dikendarai Untung laju membelah jalan sunyi.
Untung tak berani bersuara lihat wajah Alvan menahan amarah. Untung tak salahkan Alvan bila marah pada Karin. Semua yang dilakukan wanita itu adalah jalan memisahkan diri dari Alvan. Alvan lelaki punya nama besar mana mau punya isteri tukang selingkuh. Untung belum tahu kesalahan fatal dilakukan Karin berhubungan intim dengan papa Alvan sampai hamil.
Habislah harga diri Karin di mata Untung bila asisten itu tercium hubungan tak sehat menantu mertua. Masih adakah nilai Karin sebagai isteri Alvan si pengusaha kaya raya.
"Ke mana kita pak?" tanya Untung setelah jauh dari rumah.
"Ke rumah sakit. Ingat jangan bocor soal anak-anak pada Karin! Perempuan itu sudah gila."
"Ngerti pak! Nona Karin tak boleh tahu tentang Bu dokter dan kedua anak bapak." Untung mengulang harapan Alvan.
"Bagus...kita tak tahu apa rencana Karin bila tahu soal anak Citra. Mungkin dia bisa anarkis lukai Citra maupun Azzam."
"Bapak benar. Bapak harus hati-hati bila ingin bertemu anak-anak. Jangan tercium Karin!"
"Iya...kau pulang setelah drop aku! Besok jemput aku di sini. Kita ke kantor sebentar. Besok kan Sabtu."
"Siap pak!"
Selanjutnya tak ada pembahasan. Supir dan majikan berdiam diri. Hanya deru suara mesin berdesir ciptakan suara seruan halus. Mobil mahal mana bising kayak mobil keluaran tahun rendah. Pokoknya mobil mesin bergerak sesuai harga.
Alvan ijinkan Untung pulang begitu tiba di pelataran parkir. Alvan tidak memaksa Untung mengantar sampai ke ruang rawat Afifa. Hari ini asisten itu cukup capek. Urus masalah kantor juga bolak balik rumah sakit ikuti perintah Alvan.
Syukurlah malam ini akan berlalu menanti fajar menyingsing. Harapan Untung esok lebih baik dari hari ini. Afifa sembuh bisa pulang dan Alvan selesaikan kemelut rumah tangganya.
Pengusaha kaya si Alvan melangkah dengan percaya diri naik lift menuju ke lantai atas di mana Afifa dirawat. Alvan tak sabar ingin cepat pandang wajah imut Afifa. Afifa obat manjur bagi Alvan. Seraut wajah lain bermain di mata Alvan. Seraut wajah cantik nan imut bagai klise melintas di pelupuk mata Alvan.
Pertanyaan teranyar di kilasan benak Alvan. Alvan datang karena Citra atau karena anak-anak. Alvan harus jujur pada diri sendiri. Kerinduan di dada sangkut pada Afifa atau pada dokter sombong pembeku sukma.
Alvan sendiri tak berani jawab suara hati. Kalau Alvan jawab ingin jumpa Afifa ini tandanya Alvan orangnya munafik. Alvan tak bisa mengelak ingin jumpa Citra. Makin dipandang Citra makin menarik. Magnet di wajah Citra menarik Alvan untuk menyatu.
Kenapa tidak dari dulu Alvan lihat harta Karun tersembunyi dalam kegelapan. Yang tampak di mata Alvan hanya seonggok berlian palsu bersinar saat itu. Kini berlian kw tiga memudar perlihatkan warna kusamnya. Barang kw tetap barang offkiran. Cepat atau lambat akan muncul wujud aslinya.
Sementara berlian asli tersembunyi lambat laun pancarkan warna asli menyilau mata. Kini cahaya itu bersinar ke mana-mana terangi hati yang kelam. Itulah perumpamaan Karin dan Citra.
Karin terpuruk sedang Citra makin berkilau menutupi pancaran berlian palsu.
Selangkah demi selangkah Alvan berjalan tiba juga di ruang rawat Afifa. Suasana sepi di sekitar koridor ruang rawat VVIP. Hanya ada dua petugas medis menjaga di lorong ruang mewah. Mereka petugas siaga siap melayani setiap keluhan pasien.
__ADS_1