
Citra tertawa pahit. Hati Citra belum dibutakan nafsu dunia. Masih ada sisa rasa iba pada Bu Dewi yang sekarat. Mana mungkin Citra rebutan Alvan dengan orang yang hidupnya tak tentu arah. Terbang ke langit luas bak layangan siap putus terbawa badai angin.
Karin merasa lehernya tercekik dengar niat Citra menyerah pertahankan rumah tangga demi menjaga perasaan seorang ibu. Kalau dirinya adalah Citra tak mungkin dia akan lakukan hal itu. Hanya merugikan diri sendiri.
"Mas...sepuluh istri bisa kau cari tapi seorang mama tidak ada duanya! Ikuti saja permintaan mama agar mama cepat sehat. Percayalah aku tidak akan menuntut sepeserpun dari kalian. Aku cukup bahagia punya anak-anak." ujar Citra setegar mungkin walau dalam hati menjerit ingin menangis.
Alvan melepaskan tangan Bu Dewi lalu hampiri istri mungilnya. Hati Alvan terasa pedih Citra tak ingin berjuang untuk cinta mereka. Seberapa besarkah cinta citra pada Alvan?
Alvan menarik Citra kepelukannya melingkarkan kedua tangan ke punggung Citra. Alvan tidak rela harus kehilangan wanita yang sangat dia cintai. Alvan menangis tak sanggup membayangkan harus kehilangan Citra dan anak-anak.
"Citra...bagimu mungkin hanya satu pengorbanan untuk orang tua. Namun kau tahu bagiku itu adalah siksaan. Aku ikut ke manapun kau pergi. Tanpa kamu aku bukan apa-apa." Alvan ungkap isi hati pada Citra tanpa peduli perasaan Karin yang ikut dengar. Masa untuk Karin telah berakhir. Dia telah tentukan jalan hidup sendiri.
"Uuhhhh... Uuhhhh..." Bu Dewi menggapai tangan Citra dengan gerakan lemah. Tangan kanan Bu Dewi sulit digerakkan seperti kena stroke bagian kanan.
Citra cepat-cepat menyambut tangan mertuanya agar wanita itu tidak lelah. Baru sadar sudah harus lihat adegan hari biru. Takut terkena serangan kedua kali.
"Ada apa ma?" tanya Citra tetap dengan nada membujuk.
Bu Dewi menunjuk Alvan gunakan tangan kiri. Citra perhatikan tangan kiri Bu Dewi lebih kuat di banding tangan kanan. Bu Dewi terserang stroke sebelah kanan. Wanita kalau terkena stroke kebanyakan bagian kanan.
"Ya ma... Mama mau omong apa? Alvan mohon jangan pisahkan Alvan dari Citra! Alvan sangat mencintai Citra. Mama paham kan?" Alvan mendekatkan wajahnya ke Bu Dewi agar wanita itu tahu betapa besar cintanya pada Bu Dewi dan Citra. Bu Dewi hanya perlu menerima Citra secara tulus. Semuanya akan membaik.
Bu Dewi angguk kecil lalu mengelus kepala anaknya. Tangan kiri Bu Dewi mengambil tangan Alvan lalu letakkan ke atas tangan Citra. Bibir itu ingin katakan sesuatu namun tak terucapkan. Alvan segera paham mamanya ingin mereka tetap bersama.
"Mama merestui kami?" tanya Alvan gembira.
Bu Dewi angguk kecil lagi. Air mata wanita ini mengalir tak terbendung mirip pancuran air keluar dari sumbernya. Alvan segera mengecup kening mamanya sebagai tanda terima kasih. Citra terpaku tak percaya akhirnya Bu Dewi menyerah tak memaksa Alvan terima Kayla lagi.
Karin merasa hatinya seperti dicubit tangan setan. Sakit sampai ke ulu hati. Alvan benar telah melupakan semua kisah indah mereka. Kini hanya ada Citra di dalam hati Alvan. namanya telah tersingkir dari kisi-kisi hati Alvan. Tak dapat dipungkiri ini berawal dari semua kesalahan Karin yang terlalu pede menganggap dirinya adalah segala-galanya buat Alvan. Kini Alfan telah memiliki sandaran yang jauh lebih kokoh daripada dirinya.
"Terimakasih ma..." Citra menundukkan kepala ikut mencium pipi yang masih berderai air mata. Tak ada rasa jijik di mata Citra menciumi wanita tua yang telah berhari-hari tidak tersentuh air.
"Terimakasih ya Allah... akhirnya kau buka hati Mama menerima istriku yang sangat mulia ini." Alvan memuji kebesaran Allah telah berjasa membuka hati yang telah dibutakan oleh nafsu setan.
"Sekarang mama makan dulu setelah itu kita akan scan lagi kepala mama." Citra tak boleh larut dalam kegembiraan sendiri melupakan tugas sebagai seorang dokter. Semoga saja dengan scan kedua ini Citra akan dapat menemukan di mana sumber penyakit Bu Dewi.
Bu Dewi manggut kecil. Alvan balik badan menghapus air mata seorang lelaki. Ada juga saat seorang lelaki rapuh. Laki segede Alvan kalah juga melawan rasa kehilangan yang nyaris menghampirinya.
Karin merasa tak berguna sama sekali berada di antara keluarga yang sedang bahagia itu. Karin tersingkir secara perlahan di belakang punggung Citra.
Perawat yang membeli bubur datang bawa bubur hangat untuk dikonsumsi Bu Dewi. Citra beri kode pada perawat itu suap Bu Dewi.
"Kita coba duduk ya ma! Biarkan punggung kena angin dikit biar tidak panas. Mas.. bantu mama duduk!" Citra memberi aba-aba pada Alvan dan perawat itu agar Bu Dewi duduk di atas tempat tidur. Ini juga sekalian cek sampai di mana kerusakan saraf Bu Dewi.
Bu Dewi tidak sanggup duduk artinya kerusakan syaraf nya lumayan parah. Citra beri kode agar jangan memaksa karena Bu Dewi juga baru sadar. Masih butuh waktu untuk adaptasi lingkungan.
"Mas jaga mana dulu! Aku buat surat keterangan agar mama di CT scan dan MRI lagi. Ini untuk pantau sampai di mana kerusakan jaringan otak."
"Iya ..kami di sini!" Alvan iyakan biarkan Citra laksanakan tugas dokter.
Citra melihat Karin duduk lesu di atas kursi roda. Citra terenyuh Karin tersisihkan melihat adegan Alvan perjuangkan dia di depan Bu Dewi. Jelas Karin akan sakit hati tidak digubris Alvan.
__ADS_1
"Kak ..yok kit duduk di luar!" ajak Citra mendorong kursi roda Karin keluar tanpa minta persetujuan wanita itu.
Karin ikut saja memang tidak dibutuhkan di situ. Nanti bukannya membantu malah celakai Bu Dewi yang tentu tidak terima masa lalunya diungkap Karin. Sedang panas begini lebih baik Karin mengalah. Yang waras pilih mundur.
Karin berterima kasih pada Citra pahami suasana hatinya. Citra bukannya tak tahu Karin bersedih Alvan melupakan cinta mereka. Alvan bicara seakan tak pernah kenal Karin. Di mata Alvan sekarang ini Karin tak ubah setitik debu bikin polusi.
Citra membawa Karin ke tempat prakteknya agar wanita itu bisa ambil nafas lega. Di ruang Bu Dewi wanita ini pasti sesak dada. Sedih diabaikan. Alvan juga kelewatan tak ingat perasaan Karin bisa terluka tak dianggap.
"Kak...maafkan mas Alvan ya! Dia itu panik..jujur aku pikir mama tak suka padaku maka aku pilih akan berpisah dengan mas Alvan. Kita yang muda harus ngalah." kata Citra setelah berada di ruang praktek.
"Kakak ngerti kok! Kakak yang salah telah melangkah terlalu jauh. Kau harus tetap di sisi Alvan agar dia tidak terpuruk lagi."
"Bersama kakak ya!" Citra memeluk leher Karin dari belakang. Citra tidak cemburu sedikitpun pada Karin lagi. Alvan akan tetap menjadi suami Karin walau hanya dalam nama. Alvan sudah pasti takkan berhubungan dengan Karin di atas ranjang. Apa yang harus Citra cemburukan?
"Kau tak takut aku jahatin kamu?"
"Terserah kakak saja! Semuanya berpulang pada nurani kakak. Kakak duduk anteng ya! Aku urus CT scan mama dulu. Biar cepat kelar."
"Kau wanita hebat Citra. Pintar dan berhati emas tulen. Aku tidak sanggup seperti kamu."
"Kakak tidak perlu jadi aku. Tetap jadi kakak dengan akhlak yang lebih baik." ujar Citra seraya bikin catatan agar Bu Dewi segera ditangani. Citra menduga masih ada yang tak beres di syaraf otak Bu Dewi karena tak bisa duduk dan suara tidak keluar.
Andai ada kelainan Citra akan rekom Bu Dewi di bawa ke Tiongkok untuk dapatkan pengobatan lebih baik. Sekalian sama pak Jono yang kena stroke ringan.
"Kayaknya mama harus di bawa keluar negeri. Di tempatku praktek dulu ada seorang profesor jempolan khusus bagian otak. Aku harus bicara dengan Alvan agar bawa kedua orang tuanya ke sana." kata Citra kepada Karin.
"Adakah obat untukku?" tanya Karin berharap penyembuhan juga.
"Kau hanya menyenangkan kakak?"
"Kak...aku seorang dokter mana boleh sembarangan kasih analisa. Obat yang kakak minum sekarang adalah obat untuk menghambat virus itu berkembang. Selama kakak rajin minum obat virusnya akan tertidur. Mereka tetap ada tidak menyerang daya tahan tubuh kakak. Kakak sendiri harus semangat melawannya. Kakak harus jaga kebersihan agar tidak menular ke orang lain. Hubungan sek tanpa pengaman sangat berbahaya dan darah kakak juga berbahaya. Kalau darah kakak kena orang sedang terluka gampang tertular. Kakak pasti bisa."
"Kau tidak takut tertular dariku?"
"Kalau takut tak mungkin aku peluk kakak. Semua berbalik ke kakak. Kakak mau di sini atau pulang? Aku harus ke ruang CT scan dulu."
"Kakak pulang ya! Nanti kasih kakak kontak orang pesantren biar kakak menimba ilmu agama."
"Baik kak! Biar kuantar kakak ke mobil!"
"Tak usah...ada Iyem kok! Kau pergilah sibuk!"
"Yakin bisa sendiri?"
"Insyaallah..."
Citra tertawa dengar Karin mulai tahu adat. Paling tidak sudah punya hati nurani untuk lihat orang dari sisi kebaikan.
"Ya sudah! kalau gitu aku naik ke atas untuk melihat keadaan Mama. Kalau ada apa-apa nanti aku akan kabarin kakak. Kakak tetap harus semangat pantang menyerah!" Citra tak henti beri semangat hidup pada Karin. Orang bersemangat akan menang melawan segala penyakit. Kunci sehat adalah lapang dada dan bahagia.
"Terima kasih dek! Baru kali ini kulihat ada istri tua baik pada pelakor."
__ADS_1
"Itulah istimewanya Citra! Jangan jatuh cinta padaku lho!"
Karin tertawa terbahak-bahak terbawa keakuran yang di beri Citra. Seharusnya dari dulu mereka akur. Tak ada dendam dan air mata. Penyesalan selalu datang terakhir.
Karin pulang diantar supir kantor sementara Citra disibukkan diagnosa penyakit Bu Dewi. Citra sudah berusaha beri pertolongan semaksimal mungkin tapi Citra hanya seorang manusia biasa. Berusaha tapi yang jadi penentu yang di atas.
Citra dan Alvan pulang sudah lewat sholat Isya. Citra cukup lelah memikirkan penyakit Bu Dewi. Bu Dewi mengalami beberapa cacat. Kalau tidak segera ditangani serius mungkin seumur hidup tak bisa bangun dari ranjang. Jadi manusia invalid selamanya.
Suasana rumah besar Citra sepi karena kedua anak mereka memilih berdiam diri di kamar masing-masing untuk ulang pelajaran. Tak lama lagi akan ujian naik kelas. Azzam berambisi berada di paling depan saingi motor Yamaha. Jargon Yamaha semakin di depan.
Citra jenguk anaknya satu persatu untuk melepas rindu seharian tidak jumpa. Citra makin disibukkan oleh kesehatan Bu Dewi sampai tak sempat temani kedua anaknya. Citra merasa bersalah pada kedua buah hatinya tak dapat beri perhatian sepenuhnya.
Citra mengetok pintu kamar Azzam lihat apa yang sedang dikerjakan anak lajang itu? Azzam makin hari makin dewasa. Susah jarang keluarkan kalimat beracun menusuk hati pendengar.
"Koko...mami boleh masuk?"
Azzam tertawa kecil, "Masuk gimana? Bukankah setengah badan mami sudah di kamar Koko?"
Citra bergeser biarkan tubuhnya masuk seluruh ke dalam kamar Azzam. Citra mengalungkan tangan ke leher Azzam sekalian hadiahkan kecupan di ubun kepala. Bau harum sampo tercium oleh Citra. Tampaknya Azzam telat mandi.
"Baru mandi?"
"Ya nggaklah! Sebelum magrib sudah mandi. Amei dimandiin Uyut. Uyut terlalu manjakan Amei. Koko takut nanti Amei tidak bisa mandiri kayak Cece."
"Semua orang tua begitu nak! Amei itu cewek. Manja dikit tak apa. Cece ada telepon?"
"Ada...barusan dengan Amei. Dia bilang opa Heru belum mau pulang. Tiap hari lengket sama Afung ie. Opa suka ya sama Afung ie?"
"Mana mami tahu? Itu urusan orang dewasa. Koko belajar yang rajin biar nanti kita jumpai Cece. Kita libur di sana ya?"
"Boleh mi?" seru Azzam girang bisa balik ke tempat damai tanpa konflik. Di sana semua bicara lemah lembut dan sopan. Tak ada trik jahat apalagi celakai orang lain. Keluarga angkat mereka adalah orang baik. Tak pernah bertengkar.
"Iya...mami janji! Mami lihat Amei dulu! Apa dia sudah belajar?"
"Sudah koko ajar tadi. Banyak kemajuan Amei! Dia mulai bisa memunculkan persaingan di kepala. Dia ingin melebihi Cece."
"Bagus dong! Harus kita dukung."
"Apa Amei bisa?" Azzam meragukan kemampuan Afifa saingi si jenius Afisa.
"Bisa atau tidak setidaknya dia telah berusaha. Kita harus dukung yang baik. Niatnya kan bagus."
"Iya mi!" Azzam setuju perkataan Citra. Afifa berhasil saingi Afisa atau tidak bukan masalah. Bukan hasil yang diinginkan Citra melainkan kemauan Afifa untuk maju.
"Mami pergi ya! Selesai belajar langsung tidur ya!"
"Siap nona Citra!"
Citra menyentik kepala Azzam gemas, Azzam sering menggodanya belum cocok punya anak. Lebih cocok jadi anak kuliahan mencari jati diri.
"Awas kamu...kualat olok mami sendiri!"
__ADS_1
Azzam tertawa derai lihat wajah Citra cemberut. Makin mirip anak sekolahan belum punya keluarga. Tetap awet muda.