ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Kisah Sedih


__ADS_3

Alvan turunkan Citra di rumah sakit seperti hari-hari sebelumnya. Alvan harus fokus pada perusahaan mengingat sebentar lagi dia akan cuti panjang untuk liburan bersama keluarga. Moments ini sudah Alvan impikan sejak jumpa Citra dan anak-anak.


Citra melapor kehadirannya pada petugas sebelum masuk ke ruang praktek. Kegiatan rutin yang harus Citra lakukan setiap masuk rumah sakit. Bukan hanya Citra yang harus melaporkan diri tetapi seluruh pegawai rumah sakit.


Citra menuju ke ruang praktek dengan perasaan gembira. Hari baru tugas baru. Harapan Citra semoga tidak ada pasien datang berobat berarti masyarakat Indonesia makin sehat.


Fitri dan Jasmine sudah menanti kehadiran Citra di depan pintu ruang praktek. Kedua perawat setia itu menyambut kehadiran dokter mereka dengan senyum ceria. Segala sesuatu yang diawali dengan rasa syukur pada nikmat yang diberikan oleh Allah pasti akan mendapat ganjaran baik.


"Selamat pagi Bu dokter!" sapa kedua perawat itu barengan.


"Pagi... sudah siap bertempur?"


"Insya Allah siap dok!" sahut Fitri semangat.


Citra acung jempol puji keduanya. Jasmine membuka pintu untuk Citra agar bisa masuk ke dalam. Dari belakang Jasmine ikut masuk untuk memulai debut pertama menerima pasien.


Dalam ruangan sudah tertata rapi dan harum wewangian dari parfum yang digantung di AC. Pokoknya ruangan sudah dipersiapkan untuk menerima pasien.


"Jasmine...kamu harus semangat dan yakin pada diri sendiri. Kita ini tak boleh lengah karena nyawa manusia kita pertaruhkan. Kau selalu gugup. Ada apa? Kenapa tidak pede?"


Jasmine menunduk tak berani menatap Citra. Gadis ini tak ijinkan Citra melihat duka di dalam matanya. Duka yang tak dapat dia ungkap melalui kata-kata.


Citra menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan perawat ini. Tetapi perawat ini tidak mau mengatakan apa yang menyebabkan dia tidak percaya diri. Citra juga tidak bisa memaksa kalau Jasmine memang tidak ingin mengatakannya. Semua orang memiliki privasi sendiri.


"Kalau kau tak ingin mengatakannya ya tak apa tetapi kamu harus ingat kalau kamu teledor maka membahayakan jiwa pasien. Maka itu aku sebagai seorang kakak menasehati kamu agar lebih fokus pada pekerjaan."


"Iya Bu..." lirih Jasmine dengan suara sangat perlahan.


"Coba kamu lihat keluar apa sudah ada pasien dan kita mulai bekerja!"


"Ya Bu.." Jasmine membuka pintu untuk cek sudah ada pasien belum.


Di luar tampak sepi artinya bagian mereka belum ada yang mendaftar. Jasmine memutar badan untuk melapor pada Citra bahwa mereka belum mendapat pasien.


"Bu...masih kosong!" lapor Jasmine lirih.


Sikap Jasmine ini sangat tidak disukai oleh Citra. Apapun yang dilakukan selalu dilandasi dengan keraguan. Citra merasa ada sesuatu yang membuat Jasmine tertekan. Apa mungkin Jasmine tidak menyukai pekerjaan ini? Gadis ini bekerja di bawah tekanan keluarga.


"Ya sudah...kau tunggu di luar bersama Fitri! Kita maka mulai bila sudah ada pasien."


Jasmine patuh bagai robot dikontrol oleh orang lain. Citra mengarah pada Jasmine ingin sekali membaca apa yang ada di otak gadis ini. Citra harus cari tahu sebelum terjadi hal tak diinginkan di ruang prakteknya.


Citra menggunakan waktu luang ini untuk hubungi Karin sesuai janji pada Alvan. Citra juga harus tahu apa Karin minta cerai dibawa tekanan Alvan atau memang secara sukarela. Citra sangat membutuhkan informasi ini agar bisa mengetahui watak asli suaminya.


"Halo assalamualaikum kak.." sapa Citra begitu terhubung dengan Karin.


"Waalaikumsalam... apa kabar dek? Apakah semua sehat-sehat?"


"Alhamdulillah semua sehat. Anak-anak sudah berangkat liburan ke Beijing untuk jumpa sama Afisa."


"Oya? Anak-anak pasti senang bisa berkumpul lagi."


"Seharusnya begitu... bagaimana kesehatan Kakak selama ini? Apa masih rajin minum obat?"


"ya masih dong! kesehatan Kakak semakin membaik sejak tinggal di sini. Apakah Alvan ada mengatakan padamu bahwa kami telah berpisah dengan baik-baik. Kakak akan segera menikah dengan pak ustad setelah usai masa iddah"


"Apakah kakak sudah pikir baik-baik semuanya ini?"

__ADS_1


"Sudah sudah Kakak pikirkan dan ini yang terbaik untuk kakak dan kita semua. Dan lagi Kakak di sini seperti menemukan hidup yang kakak cari. Kami di sini saling menghargai karena memang di sinilah tempat kami!"


"Kak... kalau memang itu menurut kakak yang terbaik aku hanya ikut mendoakan kebahagiaan kakak. Aku takut Mas Alvan yang menekan kakak untuk bercerai."


"Oh tidak.. Kakak sendiri yang ingin bercerai dan menikah dengan pak ustad. Ini adalah yang terbaik untuk kakak. Setelah melalui banyak kali gelombang kehidupan makanya Kakak menyadari bahwa yang bersinar itulah yang akan menjadi pemenang. Kau sudah menjadi pemenangnya Citra. Hatimu baik dan tulus maka Allah menjawab semua duka yang kau alami dengan memberi sukacita."


"Percayalah! Kakak juga akan mendapat hari Yang Kakak dambakan itu. Kini aku lega mendengar dari mulut Kakak sendiri bahwa Mas Alvan tidak melakukan hal licik memaksa kakak untuk bercerai."


"Alvan bukan orang kayak gitu! Dia adalah seorang lelaki yang baik. Akunya tak tahu diri melangkah terlalu jauh."


"Stop kak! Tak ada guna ungkit kisah lama. Itu hanya menambah luka di hati. Yang penting Kakak optimis menjalani hidup sekarang dan tetap fokus pada kesehatan. Insya Allah Kakak akan sehat seperti orang umum biasanya."


"Terima kasih dek! Kalau ada waktu luang datanglah ke sini menjenguk kakak! Jangan lupa membawa anak-anak untuk melihat bundanya hijrah menjadi lebih baik."


"Insyaallah kak! Kalau kakak perlu sesuatu jangan segan katakan padaku kalau malu pada mas Alvan."


"Iya...salam untuk Alvan!"


"Mas Alvan akan jalani operasi lusa. Doakan operasi sukses."


"Amin...aku tak sabar ingin lihat anak kalian! Apa kembar juga?"


"Jangan lagi deh kak! Aku kapok rawat anak kembar. Kalau ada rezeki cukup tambah satu lagi biar dua pasang."


"Kamu bukan Tuhan...kalau sudah garis mu harus melahirkan anak kembar lagi ya harus terima. Kalau aku dekat bisa kubantu rawat. Sayang jauh."


"Kakak kan pulang sini bantu ngawasin anak-anak."


"Sayang pak ustad ditinggal sendiri."


"Idih...bucin ya!"


"Pak ustad itu orangnya lembut dan selalu tersenyum. Aku harus banyak belajar dari beliau. Dia tidak terpuruk walau terkena virus mematikan."


"Pantas kakak jatuh cinta. Orangnya pasti ganteng."


"Tidak seganteng Alvan tapi punya pesona sendiri. Di mata kakak dia adalah terbaik."


"Walah..cowok idola..semoga kakak bahagia deh!" baru saja Citra selesai omong terdengar keributan di luar ruang praktek Citra. Ada orang teriak-teriak di luar seperti orang kesurupan. Citra menaikkan alis heran ada orang bikin onar di rumah sakit.


"Kak...maaf! Ada keributan di luar! Nanti kita sambung lagi. Assalamualaikum.."


Citra menutup ponsel segera berlari keluar lihat apa yang terjadi. Pikiran Citra langsung mengarah pada pasien yang tidak puas hasil pengobatan. Sebagai dokternya Citra yang harus bertanggung jawab.


Citra membuka pintu melihat pemandangan miris. Jasmine menangis sesenggukan di balik tubuh Fitri yang berusaha melindungi Jasmine.


Dua orang wanita menunjuk Jasmine dengan emosi meledak-ledak siap hancurkan rumah sakit. Satu setengah abad dan satunya seumuran Citra. Mereka tampak marah pada Jasmine.


Citra tak merasa orang-orang itu pasien mereka maka bergerak melindungi Jasmine.


"Ada apa ini?" ujar Citra dengan suara agak keras.


Kedua wanita itu berbalik badan menghadap Citra dengan tatapan setajam sinar laser. Sinar itu akan melumerkan Citra seketika bila mengeluarkan cahaya aslinya.


"Siapa kau? Majikan anak setan ini?" yang tua menantang Citra.


"Ibu ini siapa? Kenapa tidak sopan di rumah sakit? Ini tempat orang cari kesembuhan. Bukan pasar malam."

__ADS_1


"Aku ini ibu anak ini...kalian pihak rumah sakit mau menipu ya? Gaji anak kami tak dibayar. Mau pekerjakan orang secara gratis?"


"Apa maksud ibu tak bayar gaji? Jasmine baru kerja sebulan lebih. Gaji bulan pertama pasti sudah dibayar. Gaji bulan ini tentu belum karena belum waktunya. Ibu bicara hati-hati ya! Jangan asal tuduh!"


"Gaji apa? Satu bulan cuma tiga juta setengah. Itu hanya cukup buat beli bedak kami. Kami minta sisa gajinya. Sekarang!" bentak ibu itu garang.


Orang mulai berkerumun lihat keributan secara live di rumah sakit. Cara ibu itu tidak mengundang simpatik orang. Minta gaji bukan dengan cara baik-baik malah berkesan menantang.


"Bu...Jasmine ini masih masa percobaan! Digaji segitu sudah termasuk tinggi. Memang ibu pikir Jasmine digaji seratus juta untuk penuhi kebutuhan bedak kalian? Dasar orang gila!" seru Fitri geram pada kelakuan tak pantas dua orang itu.


"Mana satpam? Usir dua orang ini! Orang tak punya etika tak pantas berada di lingkungan orang waras." kata Citra tersulut amarah. Kini Citra tahu mengapa Jasmine tertekan. Pasti gara-gara ulah dua manusia kurang akal sehat ini.


"Kau...apa hebat rumah sakit ini? Jasmine itu anakku.. suka-suka aku mau bagaimana. Pokoknya aku mau ambil gaji Jasmine." seru ibu itu tak mau mundur.


Dua satpam segera datang meminta dua orang itu untuk segera tinggalkan rumah sakit. Persoalan keluarga tak bisa dibawa ke tempat tugas. Mereka hanya bawa masalah bagi Jasmine. Besar kemungkinan Jasmine akan dikeluarkan dari rumah sakit bila keluarganya asyik bikin ulah.


"Kau anak setan ..jangan pikir sudah dapat dukungan kau besar kepala! Kau jangan pulang ke rumah! Susul saja ibumu di neraka." teriak yang muda imbangi emosi ibunya.


Satpam kali ini bertindak tegas terhadap dua orang kurang akal itu. Orang-orang berseru mengejek orang gila materi itu. Sepanjang jalan keduanya berteriak mengumpat Jasmine.


Citra beri kode pada Fitri untuk bawa Jasmine ke dalam ruang praktek. Kejiwaan Jasmine pasti terguncang dipermalukan di depan umum. Bagaimana orang akan menilai anak ini.


Anak ini hidup di bawa tekanan keluarga maka dia selalu gugup dalam menjalankan tugas. Semangat hidup anak ini tinggal separuh bagaimana bisa senang lalui detik demi detik.


Citra sebagai orang lebih tua wajib beri masukkan pada Jasmine biar persoalan selesai. Jika memang keluarga tak ijinkan Jasmine kerja di situ paling banter minta berhenti. Citra takkan persulit posisi Jasmine.


Jasmine hanya menunduk tak henti menetes air mata. Citra dan Fitri prihatin pada hidup anak ini namun mereka tak punya hak ikut campur urusan keluarga.


"Kau mau cerita sekarang?" tanya Citra lembut.


"Aku minta maaf Bu! Mereka ibu tiri dan kakak tiri aku! Ibuku sudah meninggal empat tahun lalu. Lalu ayah menikahi ibu. Ibu adalah kakak dari ibu kandung aku. Mereka berdua kejam dan selalu menekan aku. Gaji aku bulan lalu bulat kuserahkan pada mereka tapi mereka bilang aku tilep uang gaji. Mereka bilang gajiku sepuluh juta."


Fitri tertawa sinis. Dia yang sudah bertahun kerja di situ belum dapat gaji sepuluh juta. Apalagi Jasmine yang baru masuk. Mau rampok rumah sakit apa?


"Lalu ayahmu mana? Masa dia tidak bela kamu?"


"Ayah sudah meninggal setahun lalu. Dari situ hidup aku makin sengsara. Seluruh peninggalan ayah dijual untuk mereka hidup mewah. Aku disuruh kerja pagi siang malam. Pulang dari sini aku harus kerja di warung cuci piring agar dapat uang tambahan. Aku malu cerita Bu!" Jasmine berkata sambil menyusut air mata yang berlinang.


"Lalu apa rencanamu? Keluar dari sini atau tetap lanjut kerja?"


"Aku mohon jangan keluarkan aku Bu! Di mana aku cari kerja lagi? Aku akan numpang hidup di rumah teman. Aku akan rajin Bu!" Jasmine berlutut memohon agar jangan dipecat.


Citra menghela nafas. Dia merasa nasibnya malang ternyata ada yang lebih malang. Jasmine murni anak yatim piatu hidup di bawah tekanan ibu tiri. Kisah ibu tiri yang kejam ternyata ada di dunia ini. Bukan sekedar isapan jempol.


"Siapa temanmu?"


"Teman kuliah dulu Bu! Dia kost tak jauh dari rumah kami. Mungkin aku bisa tinggal di situ sambil cari kost. Aku tak mungkin pulang bila tak bawa uang. Bisa dibunuh aku."


Fitri dan Citra sedih mendengar cerita Jasmine. Pantesan Jasmine tak percaya diri. Setiap langkahnya sudah dijengkal oleh ibu tirinya, di mana kebebasan sebagai manusia.


"Kalau kau masih tinggal dekat situ sama saja antar nyawa. Gini saja! Aku punya rumah kosong. Kau boleh tinggal di sana untuk sementara. Di sana semua peralatan lengkap. Kamu tinggal bersihkan rumah saja!"


"Benarkah Bu?" seru Jasmine girang.


"Kamu bangun dulu. Jangan berlutut kayak gitu! Sebelumnya kamu harus lapor pada ketua RT masalahmu mengapa tiba-tiba pindah. Agar tidak jadi bumerang bagi kami!"


"Iya Bu! Pakaian aku masih di rumah. Aku akan pulang ditemani RT ambil pakaian."

__ADS_1


"Baiklah! Nanti aku akan minta pegawai kantor suami aku temani kamu agar tidak mendapat tekanan."


Jasmine bangkit berdiri dengan wajah lebih cerah. Hari-hari penuh air mata akan segera berakhir. Drama panjang kisah sedih akan tamat. Tak perlu buang air mata untuk orang berotak bebal.


__ADS_2