ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Amarah Afisa


__ADS_3

Afisa masih selidiki Alvan dengan tatapan berkilat-kilat seolah siap beset Alvan dengan pancaran matanya.


Alvan kok merasa canggung berhadapan dengan darah daging sendiri. Afisa tidak seperti Afifa menawarkan kehangatan. Afisa justru menawarkan bara panas. Jauh lebih hangat siap gosongkan Alvan.


"Are you stayed with my mom right now?(Apakah kamu tinggal bersama mamiku sekarang ini?)"


Alvan mengangguk. Perasaan Alvan makin tak karuan. Kok dia seperti penjahat sedang di sidang oleh Hakim? Benar kata Azzam kalau Afisa bukan orang yang gampang ditaklukkan. Menaklukkan Azzam saja Alvan sudah pusing tujuh keliling. Kini jumpa yang lebih parah daripada Azzam. Alvan harus putar otak mencari jurus untuk menaklukkan hati Afisa.


"Well..I Will not allow anyone to hurt my mommy.(Baik...aku takkan ijinkan siapapun sakiti mami aku)"


Alvan terkesima mendengarkan kata-kata Afisa. Apa Afisa mengetahui sesuatu yang terjadi pada Citra sehingga pulang tuntut keadilan? Afisa di luar negeri bagaimana bisa tahu kejadian di sini? Siapa secara diam-diam kabari Afisa.


Sebelum Alvan sempat menjawab dari jauh terdengar teriakan Afifa memanggil Afisa. Suara Afifa begitu bening menembus gendang telinga Afisa walaupun berada di tengah keramaian.


"Cece..."


Alvan dan Afisa menoleh ke arah suara Afifa. Azzam dan Afifa berlarian hampiri Afisa. Ketiga anak itu berpelukan sambil meloncat-loncat gembira. Kerinduan yang telah menumpuk di dalam hati akhirnya dapat terurai.


Andi dan Tokcer tak henti mengagumi sosok Afisa yang nampak lebih kuat daripada Afifa dan Azzam. Bawaan Afisa seperti orang yang telah cukup dewasa. Jumpa pertama telah memberi kesan baik pada Andi dan Tokcer. Kedua jagoan neon itu ikut gembira akhirnya ketiga anak kembar telah bersatu lagi.


"Ce...tidak mau peluk mami?" tanya Afifa menunjuk Citra yang tersenyum manis.


Afisa bergerak merebahkan kepala ke dada Citra. Citra memeluk erat-erat melepaskan kerinduan di hati. Afisa tambah cantik menuju ke jenjang remaja. Kulitnya makin pucat mirip kulit orang China asli. Pengaruh cuaca di Tiongkok atau anak ini memang dasarnya putih.


"Kenapa mendadak datang?" tanya Citra sambil mengecup ubun kepala anaknya.


"Cece telah tahu semuanya! Cece lihat di berita di Tv isteri pengusaha Lingga di demo lalu kabar penculikan."


"Apa iya masuk tv sampai ke luar negeri? Cece jangan bohong lho!"


"Kenapa mesti bohong? Cece dapat kabar sewaktu di Singapura maka Cece ijin datang ke Indonesia. Hati Senin Cece mulai tanding. Masih ada waktu empat hari. Cuma Cece dapat ijin dua hari."


"Siapa antar kamu? Mama kamu?"


"Cece datang sendiri karena mama sibuk urus pesenam lain. Mama tak bisa pergi. Mama hanya antar sampai bandara Changi."


"Ya ampun nak! Kok kamu berani sekali. Mami yang akan kamu balik Singapura. Sudah kenalan sama papi kamu?" Citra menarik Afisa dekati Alvan yang tercengang. Bicara dengan Afifa dan Citra bisa pakai bahasa Indonesia walau agak kaku. Bicara dengan papi sendiri malah gunakan bahasa Inggris. Sungguh anak luar biasa.


"Sudah kenal..." ketus Afisa tidak ramah lagi. Jantung Alvan kontan terhempas ke lantai. Hancur berkeping tidak diterima Afisa dengan baik.


"Ayok peluk papimu! Dia rindu padamu!" Citra mendorong Afisa dekat dengan Alvan.


Alvan grogi sedang Afisa tampak kaku untuk memeluk lelaki yang baru pertama dia jumpai. Konon katanya lelaki inilah yang menjadi Papi mereka. Afisa datang bukan untuk Alvan melainkan untuk lihat kondisi maminya.


Afisa cukup lega lihat Citra dan kedua saudaranya dalam kondisi sehat tak kurang apapun. Alvan dan Afisa hanya berpelukan sekilas tidak ada kesan baik. Hanya menempel angin lalu. Ntah Afisa jijik pada Alvan atau belum akrab.


"Ce...ini kak Andi dan kak Tokcer!" kata Azzam perkenalkan kedua jagoan neon pada Afisa.

__ADS_1


Senyum Afisa mengembang jumpa orang yang sering muncul di layar ponsel. Hari ini baru jumpa secara nyata. Mereka tidak ada beda dengan orang dalam layar ponsel.


"Hai...aku Afisa!" Afisa melambai sambil tertawa perlihatkan dekik di pipi yang bakal bikin cowok mabuk kepayang kelak. Afisa cantik sedangkan Afifa cantik imut. Dua sosok beda karakter.


"Ini kak Andi..." Andi menunjuk dadanya bangga.


"Kak Ance bukan?" goda Afisa di sambut derai tawa semua.


Afisa dekati Andi lalu memeluknya tanpa malu. Pelukan hangat dari orang yang jauh di mata dekat di hati.


Tokcer juga dapat pelukan mesra dari Afisa.


Alvan iri bukan main pada kedua jagoan neon itu. Afisa memeluk mereka dengan tulus dan akrab. Sedangkan pada bapak kandung sendiri hanya salam tempel. Ini ganjaran atas dosa di masa lalu.


"Eh.. masih ada satu lagi? Yang ketawanya kayak burung gagak. Mana orangnya?"


Tak usah ditebak semua tahu yang dimaksud tentu Bonar. Hanya Bonar yang punya tawa jelek. Tawa ciri khas si Batak.


"Kak Bonar sudah kerja Ce.. yok kita pulang! Ngapain lama di sini?" ajak Azzam risih lama-lama berada di bandara.


"Yok...kalau boleh papi ingin bawa kalian jumpa Opa dan Oma dulu! Opa kalian sedang sakit berat. Beliau rindu pada kalian." usul Alvan mengharap Citra berbaik hati ijinkan papanya jumpa Afisa beserta kedua saudaranya.


"Gimana ko?" tanya Afisa serahkan pada Azzam sebagai ketua anak kembar.


"Terserah mami saja! Koko ikut saja! Tapi Cece berjanjilah tidak keluarkan lahar dari mulut. Orang terbakar nanti." ujar Azzam kalem menggoda Afisa yang darahnya lebih panas dari mereka. Tinggal di daerah bermusim dingin tidak mampu mendinginkan hati gadis muda itu. Api abadi tetap berkobar bila ada luang terbuka.


Keputusan final berangkat ke rumah Pak Jono. Citra kasihan juga pada mertua lakinya. Janji Citra akan kunjungi mertuanya belum terealisasi karena Citra segan harus adu mulut dengan Bu Dewi. Citra merasa berdosa bila harus melawan orang tua.


Perjalanan tidak terlalu lama tiba di rumah pak Jono karena tidak begitu jauh dari bandara. Dua buah mobil mewah akhirnya tiba di rumah Pak Jono yang juga sangat mewah.


Alvan mengiringi keluarganya masuk ke rumah diikuti oleh dua pengawal pribadi Azzam. Mereka ikut masuk rumah Pak Jono. Cukup mewah walau tak semewah rumah Alvan dengan Karin. Rumah yang ditempati Karin sudah termasuk rumah yang luar biasa mewah. Entah berapa puluh miliar dihabiskan oleh Alvan untuk membangun rumah itu. Rumah sebagus itu sayangnya tidak diisi dengan akhlak yang bagus. Sehingga hasilnya membuat miris hati.


"Assalamualaikum..." seru Afifa paling duluan.


Pembantu setia Bu Dewi muncul menyambut kehadiran Alvan dan keluarganya. Pembantu tua itu merasa takjub melihat Alvan pulang membawa tiga anak kecil yang cantik-cantik. Bayangan Alvan tercetak di wajah anak-anak itu memunculkan spekulasi kalau anak-anak itu memang anak-anak Alvan. Tetapi sejak kapan Alfa memiliki anak-anak yang sudah sebesar ini. Hal ini menjadi pertanyaan di dalam benak pembantu yang sudah tua itu.


"Waalaikumsalam...ini siapa ya?" si bibik menyentuh pipi Afifa yang chubby dengan gemas.


"Kami anak papi nek! Nenek yang punya rumah ini?" tanya Afifa dengan lugunya.


Si bibik tersenyum,"Bukan nak! ini rumah papi kalian artinya rumah kalian juga."


"Oh gitu ya! Papi kaya ya banyak rumah!"


"Tentu dong! Ayok silahkan duduk! Nenek bikin jus ya! Pesan jus apa?"


"Jus wortel tapi jangan dingin karena Cece sedang tanding tak boleh minum dingin." oceh Afifa bikin si bibik makin gemas. Ingin rasanya ******* pipi berona merah itu hingga *****.

__ADS_1


"Ok...silahkan duduk! Biar nenek panggil Oma kalian!"


Perut Alvan mengeras tak tahu apa yang bakal terjadi kalau mulut mamanya keseleo salah omong. Dua belati tajam telah siap asah akan meluncur habisin rintangan di depan mereka. Semoga saja Bu Dewi sadar tengah berhadapan dengan cucu sendiri.


Tak lama berselang setelah orang ini duduk di ruang tamu muncullah Bu Dewi mendorong Pak Jono di atas kursi roda. Melihat kehadiran kedua mertuanya Citra segera bangkit dengan sopan membungkuk memberi hormat. Ketiga anaknya ikutan bangun berdiri tanpa melakukan gerakan apapun. Nata Afisa menatap liar kepada kedua orang tua yang barusan datang.


Entah pikiran apa yang terbersit di kepala Afisa tampak jelas tidak menyukai kedua orang tua itu. Mata Afisa melontarkan tatapan tak bersahabat pada kedua orang tua Alvan.


"Selamat datang ke rumah Opa! Ayok duduk!" semangat pak Jono kembali berkobar melihat ketiga cucunya yang luar biasa. Ketiga cantik dan ganteng jelas warisi gen Alvan.


"Makan malam di sini ya!" ajak Bu Dewi ikut senang lihat cucunya telah datang. Dalam keadaan begini Bu Dewi tampak waras sebagai orang tua berhati nurani.


Afisa melirik Citra minta pendapat. Citra sudah janji pada Bu Sobirin untuk rayakan hari pertama mereka tinggal di rumah baru. Bu Sobirin pasti sudah menyiapkan segalanya untuk menyambut Citra dan anak-anak. Citra mana tega mengecewakan Bu Sobirin yang baik itu.


"Maaf ma...kami sudah janji mau makan malam bersama di tempat Oma Uyut Azzam. Besok kita makan bersama di sini! Atau kita bareng makan di sana." kata Citra sopan agar Bu Dewi tidak merasa diasingkan.


"Siapa lagi mau makan di rumah orang? Memangnya rumah kita tak ada nasi?" rengut Bu Dewi membuat kening Afisa berkerut. Afisa terbiasa hidup teratur sopan dan taat pada orang tua merasa kata Bu Dewi tidak mencerminkan seorang tua bijak.


"Bukan gitu ma! Tadi Oma Uyutnya Azzam telah memasak lebih. Kan sayang Mubazir! Hari ini kita ke sana, besok kita pula undang mereka ke sini."


"Kau bicara seolah kami di sini tak sanggup nafkahi anak-anak kamu. Di sini nasi berlebihan."


Alvan menghela nafas sedih melihat tingkah mamanya yang kelewat batas. Citra sudah berusaha jelaskan kronologi undangan Bu Sobirin tapi perempuan itu masih berpikir ke arah lain. Siapa berani hina keluarga Lingga yang terkenal. Beli beras sepuluh kapal uang masih berlebihan.


"Maaf seribu maaf...Oma sudah salah paham pada mami. Mami hanya ingin mengatakan bahwa kita harus hormati orang yang duluan menawarkan sepiring nasi. Sepiring nasi itu tidak seberapa bila dinilai pakai uang. Tapi cobalah nilai dengan hati! Nasi yang dimakan secara paksa takkan membuat kita kenyang tapi akan membuat kita mati tersedak. Jadi makanlah dengan hati tulus agar menjadi berkah!" Afisa bangkit dari tempat duduk mulai keluarkan percikan api kecil.


Azzam tertawa kecil melihat Afisa terpancing oleh tingkah Oma mereka. Azzam yakin Bu Dewi akan dihabisin Afisa pakai dalil di atas dalil. Afisa tidak akan berteriak dalam tutur kata namun setiap katanya akan menguliti orang.


Bu Dewi terbelalak mendengar wejangan dari mulut anak kecil merupakan cucunya. Anak sekecil Afisa bisa menasehati orang tua pakai kalimat menohok. Sungguh anak kurang ajar batin Bu Dewi. Padahal Afisa hanya ungkap bagaimana manusia berakhlak harus bersikap.


"Kau.. kecil-kecil mulut penuh bisa. Siapa ajarin kamu tidak sopan pada orang tua?"


"Oma...yang tidak sopan siapa? Apa Cece ada salah omong? Bukankah mami sudah jelaskan tapi Oma bawa ke arah lain. Hidup ini bukan milik satu orang. Semua orang juga hidup. Tidak semua orang harus ikuti kemauan orang lain seakan kita tak bisa berdiri tanpa dukungan orang lain. Hidup ini merdeka dengan catatan jangan berdiri di atas bara. Kita cepat emosi dan akan terbakar."


Tak ada yang membantah. Apa yang dikatakan Afisa betul semua. Hanya Bu Dewi yang gusar dikuliahi anak kecil seumur jagung. Baru tumbuh sudah angkuh mendongak ke atas.


Andi dan Tokcer terkagum pada kelihatan Afisa berfalsafah. Azzam sudah cukup mengesankan kini muncul yang lebih dahsyat. Perut Citra sungguh hebat bisa melahirkan anak-anak ajaib.


"Siapa ajar kamu ngoceh tak jelas. Anak kecil tahu apa?" bentak Bu Dewi gusar.


"Anak kecil yang bisa memisahkan kebaikan dan keburukan. Oma...kita baru pertama kali jumpa! Harusnya kita saling mengenal agar kelak bisa komunikasi dengan baik. Tapi Oma beri kesan tak suka pada kami. Kami ini tak pernah minta dianggap di keluarga kaya ini. Aku juga kaya. Bukan kaya harta tapi kaya cinta dan kasih sayang." Afisa mulai tak nyaman berada di lingkungan yang tak sejalan dengan kesehariannya. Di Beijing tak pernah ada konflik dari keluarga angkatnya walau jelas Afisa bukan anak kandung. Tak ada batasan Afisa dengan saudara orang tua angkatnya. Afisa dianggap bagian dari mereka.


Azzam segera mencekal Afisa agar tenang. Azzam mengenal adiknya dengan baik. Makin ditekan Afisa akan keluarkan kalimat makin menohok bahkan bisa menembus jantung Bu Dewi.


"Bukan gitu nak! Oma kalian hanya ingin kalian makan malam di sini. Tak ada niat lain. Kalau hari ini tak bisa mungkin besok." lerai pak Jono merasakan hawa panas menyergap ruang tamu rumahnya.


Pertemuan pertama yang seharusnya diwarnai ramah tamah berubah jadi ajang adu mulut antara cucu dan Oma. Kalau terdengar di luar betapa memalukan

__ADS_1


__ADS_2