ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Kisah Tokcer


__ADS_3

Tokcer sudah tak dapat tahan tawa lihat bualan sudah setinggi bintang di langit. Melenceng dari fakta sesungguhnya titik. Mereka memang sudah bekerja dengan baik tetapi gaji mereka tidak fantastis yang didengungkan Andi.Tokcer tahu kalau Andi hanya ingin menaikkan pamor mereka di mata Nila dan temannya.


"Ok deh! Hari sudah malam. Kami ingin istirahat. Kalian pulang saja! Anak cewek tidak baik keliaran di jalanan malam hari. Tok... kamu pulang saja! besok kita masih banyak tugas yang harus kita kerjakan. Bukankah besok kamu akan membawa Natasha jalan-jalan?"


"Yap...permisi!" Tokcer hidupkan mobil tanpa menoleh ke arah Nila dan temannya. Sebenarnya Nila sakit hati namun apa mau dikata. Nila yang duluan menyakiti hati Tokcer.


Andi tidak segan meninggalkan Nila dan temannya di depan pintu pagar rumahnya. Andi merasa tak ada guna melayani orang yang tak punya hati macam Nila. Sewaktu Tokcer dalam kesusahan Nila meninggalkannya setelah mendengar Tokcer telah hidup makmur Nila berusaha mencari perhatian lelaki itu lagi. Sampai mati pun Andi tidak akan mengijinkan Nila mendekati Tokcer lagi.


Nila dan temannya saling berpandangan seolah telah kehilangan sesuatu yang paling berharga. Tetapi semua telah terlanjur terjadi penyesalan segudang pun tidak ada guna dikumandangkan ke seluruh kampung. Tinggal lah Nila harus menelan pil pahit untuk keangkuhannya di masa lalu.


"Kita pulang yok! Kelihatannya kamu tetap harus bersama si Damar. Tokcer mana mungkin mau kembali kepada kamu yang telah mempunyai seorang anak." teman Nila menepuk punggung Nila agar meninggalkan rumah Andi.


Nila mengangguk kecil sambil menatap jauh di mana mobil Tokcer menghilang di balik tikungan. Rumah tangganya yang berantakan membuat Nila terpikir untuk mencoba mencari Tokcer lagi apalagi didengar Tokcer telah hidup makmur. Siapa tahu masih ada tersisa cinta di hati Tokcer sehingga nilah bisa bercerai dengan suaminya sekarang dan kembali bersama Tokcer. Satu lagi orang sedang bermimpi kosong berhalusinasi sesuatu yang tak mungkin terjadi.


"Kau dengar Tin! Bang Tokcer sudah menjadi seorang manajer. Nasibnya sungguh sungguh bagus. Siapa Natasha yang disebut oleh si Andi? Anak kampung mana?"


"Ala untuk apa kamu pikir itu lagi! Kesempatan kamu sudah tertutup. Kalau aku masih ada kesempatan antara Bonar dan Tokcer. Aku akan berusaha merebut salah satu hati dari kedua lelaki itu."


"Kau tega padaku Tin?" tanya Nila sayu merasa dilangkahi teman sendiri.


"Ini masalah tega tidak tega La! Ini menyangkut masa depan. Aku masih gadis dan kau isteri orang. Coba kau pikir Tokcer atau Bonar akan pilih siapa?"


"Tauk..yok pulang!" Nila hentakkan kaki ke lantai lalu berjalan secara kasar lewati rumah Andi menuju ke ujung jalan untuk pulang ke kampung mereka.


Atin ikut dari belakang dengan sejuta harapan indah. Atin tentu saja berharap dapat meraih cinta di antara ketiga pemuda kampung ini. Hidup makmur tanpa perlu pikir asap dapur tidak mengepul.


Seperti biasa Tokcer pagi-pagi sudah menunggu di teras rumah ingin antar Azzam dan Afifa ke sekolah. Tokcer sengaja datang lebih awal untuk jumpa si bule pencuri perhatian. Tokcer makin semangat datang untuk melihat lebih jelas sosok Natasha. Malam hari Natasha tampak cantik. Takutnya begitu kena sinar matahari berubah kusam penuh kerutan di wajah.


Mata Tokcer bersinar terang tatkala orang diharapkan muncul bersama Azzam dan pasangan suami isteri penolong hidup Tokcer. Natasha jauh lebih menarik di pagi hari dari pada malam. Gadis itu cantik alami tanpa banyak polesan bedak.


Azzam tampak cemberut Natasha ikut antar dia ke sekolah. Ntah kenapa dia kurang suka gadis pecicilan. Kalau kedua adiknya genit kayak Natasha, Azzam takkan segan hukum mereka. Harga seorang cewek adalah dari sikap dan etika.


"Tok... setelah antar Koko dan Amei kau bawa Natasha keliling kota ya! Jangan lupa jemput adik-adik kamu bila waktu pulang sekolah!" Kata Citra pada Tokcer mendapat amanah jadi guide Natasha untuk sementara.


Jangankan antar keliling kota, bawa pulang ke rumahnya juga tak masalah. Gadis muda nan jelita pembetot sukma mana mungkin dilewatkan Tokcer. Sadar itu hanya serpihan mimpi namun Tokcer tetap akan memilih bermimpi walau hanya semalam.


"Iya kak! Aku akan menjaga semuanya! Ayok adik-adik kita come on! Oya ..Nek Menik titip singkong goreng untuk Amei dan Koko!" Tokcer berjalan ke arah mobil mengeluarkan kotak berisi makanan favorit kedua anak Citra. Waktu tinggal di kampung Bu Menik sering beri mereka makanan sederhana itu.


"Wah nek Menik masih ingat cucunya! Bawa jadi bekal di sekolah. Jam istirahat Koko bawa untuk Amei ya!" Citra menerima kotak dari Tokcer lalu serahkan pada Azzam.

__ADS_1


Azzam si lajang menerima tanpa protes. Hati Azzam terlanjur kusam gara-gara Tokcer kesambet si bule dari Amerika. Azzam akan segera kehilangan satu konco baik bila Natasha berhasil rebut perhatian Tokcer.


"Kami pergi mi...Pi.." Afifa memimpin menyalami Citra dan Alvan. Disusul Azzam.


Natasha tampak bingung ntah harus bagaimana. Ikuti gerakan Azzam dan Afifa atau nyelonong ke dalam mobil. Tak pelak Natasha minta pendapat Tokcer main kode mata.


Tokcer tersenyum memajukan bibir beri tanda Natasha ikuti cara kedua bocah itu pamitan. Natasha meringsut dekati Citra dan Alvan lakukan hal sama seperti Azzam dan Afifa. Citra terpaku sejenak lantas tertawa. Sudah ada jalan terang bagi Natasha menjadi lebih sopan asal ada contoh baik.


"Assalamualaikum..." seru Azzam dan Afifa berlari kecil masuk ke mobil. Tokcer dan Natasha jalan di belakang ikuti dua bocah yang tak sabar ingin tiba duluan di sekolah.


"Waalaikumsalam..." sahut Citra melambai mengiringi kedua bocah menimba ilmu di sekolah.


"Natasha...Untung Daniel tidak silap nikahi dia. Umur sudah cukup tapi akal masih bocah. Dia lebih cocok berteman sama Azzam dan Afifa." ujar Alvan sambil merangkul pinggang mungil Citra. Alvan tertegun merasa pinggang itu makin mengecil. Ini tanda Citra semakin kurus.


"Yok siap berangkat!" ajak Citra masuk balik ke rumah untuk mengambil tas kerja.


Alvan masih tak bergeming mematung memikirkan kondisi tubuh Citra yang semakin menyusut. Tekanan apa membuat isterinya berpikiran. Kejadian bertubi-tubi membuat mental Citra jatuh ke titik terendah. Hebatnya tak ada sepatah kata keluhan keluar dari bibir mungil Citra. Semua ditelan sendiri ke dalam perut.


"Maafkan aku sayang!" desis Alvan tahu kalau Citra begini karena dia. Tekanan datang dari keluarga Alvan dan masalah Alvan.


Citra tidak tahu Alvan memikirkan keadaan tubuhnya yang kian mengecil. Citra tak ubah seperti orang bisu memakan buah pare. Tidak bisa mengatakan bahwa itu pahit rasanya. Beberapa waktu ini Citra hampir tidak pernah merasakan bagaimana rasanya manis. Yang terasa di lidah hanya kepahitan.


Citra pamitan pada Omanya sebelum berangkat kerja. Berapa hari lagi Bu Sobirin akan kawal kedua orang tua Alvan berangkat. Semua hampir rampung diurus Citra. Dokter dan tempat tinggal sudah tersedia. Tinggal tunggu berangkat. Afisa akan segera pulang setelah selesai pertandingan. Sudah capai final. Heru masih setia dampingi cucunya di negeri Singa itu.


Cerita kita alihkan pada pasangan baru yang sedang kasmaran. Selesai antar Azzam ke sekolah, Tokcer mengajak Natasha main ke lingkungan rumahnya agar Natasha tahu dia bukan anak orang kaya. Di sini Tokcer sedang menguji sampai di mana ketulusan Natasha berteman dengannya. Murni dari hati kecil atau hanya kekaguman pada sosok sangar Tokcer.


Rumah petak Tokcer sepi karena emak tak tampak di rumah. Mungkin emak sudah pergi belanja di warung Wak Sugeng. Tempat belanja dekat dan murah meriah. Tokcer sengaja ajak Natasha lihat kondisi dia sesungguhnya. Tanpa perlu rekayasa sok kaya, Tokcer juga tak berharap banyak dari Natasha. Sekedar teman selama anak itu di sini.


Natasha turun dari mobil tanpa perlihatkan wajah tertekan atau jijik pada lingkungan Tokcer. Wajahnya tetap ceria seakan menikmati perjalanan yang disuguhkan Tokcer.


"Ini rumahku...aku tinggal berdua dengan emak di sini!" kata Tokcer sambil mengetok pintu cari tahu di mana emaknya berada.


"Rumahmu sejuk ya! Aku suka.." ujar Natasha rilex tak terpengaruh kondisi rumah Tokcer tidak seujung rumah Citra.


Tokcer tersanjung tak ada kata-kata sinis terbit dari wanita muda yang baru satu hari dia kenal. Sikap Natasha supel tak peduli siapa adanya Tokcer. Baginya Tokcer seperti pangeran tertampan di dunia ini.


"Emak kayaknya keluar. Kita tunggu sini ya!" Tokcer menarik kursi rotan yang warnanya sudah pudar di makan waktu. Tokcer meminta Natasha duduk di situ untuk test gimana reaksi gadis itu harus tempatkan bokong di tempat lusuh. Biasanya bersandar di sofa jutaan kini duduk di tempat kumuh.


Natasha biasa saja. Malah dengan santai dia edarkan mata ke sekeliling lingkungan cari tahu kondisi tetangga Tokcer yang rata-rata hidup sederhana. Sederhana namun lingkungan bersih.

__ADS_1


"Kamu besar di sini?"


"Iya...ayahku meninggal cepat! Emak membesarkan aku seorang diri dengan jadi pembantu rumah tangga, nyuci baju orang kaya. Pokoknya semua yang halal. Aku sangat mencintai emakku. Dia adalah satu-satunya harta aku." cerita Tokcer nampakkan betapa dia sangat mencintai emaknya.


Natasha termenung memikirkan kedua orang tuanya di Amerika. Mereka pasti sedang kuatir pada Natasha yang kabur ke Indonesia. Mengapa Natasha tak terpikir bagaimana perasaan kedua orang tuanya dia kabur gitu saja.


"Apa kita salah kalau melawan orang tua?"


"Salah banget! Coba kau bayangkan! Ibu kita hamil kita selama sembilan bulan. Selama sembilan bulan bawa kita dalam dirinya. Tak pernah mengeluh berat lalu pertaruhkan nyawa melahirkan kita. Pakai apa kita balas jasa mereka kalau bukan turuti semua nasehat mereka." ujar Tokcer bijak mencubit hati Natasha.


Natasha kembali termenung. Mengapa selama ini tak ada yang omong gitu padanya. Yang ada hanya minta dipatuhi lalu tanya uangnya cukup tidak? Natasha dibesarkan dengan lembaran dolar tanpa ada suguhan siraman rohani.


"Nat...kau ada masalah dengan keluarga kamu?" tanya Tokcer hati-hati takut Natasha tersinggung.


"Aku kabur dari rumah karena bosan. Daddy dan mommy aku sibuk kerja, kakak aku juga sibuk. Aku hanya sendirian di rumah tanpa kawan. Yang ada hanya disuruh kuliah agar jadi orang besar. Mereka tak pernah tanya aku mau apa?" Natasha mengeluarkan unek-unek di hati mengapa kabur dari Amerika.


"Seharusnya kau bersyukur punya kesempatan kuliah. Nah lihat aku! Mau kuliah tak punya biaya. Cukup luas tamat SMA. Sekarang lumayan jadi supir keluarga Azzam. Aku bahagia selama pekerjaanku halal dan dekat dengan orang-orang tersayang. Kusarankan kau pulang lanjutkan kuliah dan minta maaf pada orang tuamu."


"Kau juga berpendapat aku harus selesaikan kuliah?"


"Tentu saja ..sudah cukup jauh kau berjalan masa tinggal sedikit kau menyerah."


"Kalau aku pulang tak bisa jumpa kamu lagi dong!" Natasha memilin bibir bikin Tokcer gemas. Andai Natasha itu pacarnya ingin rasanya Tokcer ******* bibir ranum itu.


"Selesai kuliah kau bisa ke sini lagi. Cari kerja sini. Aku akan menunggumu balik sini. Aku tidak ke mana-mana!" Tokcer naikkan tangan angkat sumpah setia menanti Natasha kembali ke Indonesia. Tokcer tidak mau pikir panjang tentang persahabatan mereka. Jalani saja sampai waktu yang tentukan siapa Natasha. Jadi pacar atau teman dekat.


"Yakin? Nanti aku dapat undangan kak Tokcer sudah nikahi kembang desa. Aku patah hati lho!"


"Tenang...tak ada kembangan. Aku akan menunggu kamu balik sini. Kita bisa kirim chat dan video call tiap hari. Aku tiap hari bersama Azzam. Azzam itu kejam kalau aku salah. Kamu tenang saja kalau selama aku bersama Azzam."


Natasha teringat si lajang bermulut cabe rawit itu. Setiap katanya pedas menusuk kuping.


"Azzam itu psikopat. Dia musuhi aku!"


"Kau salah Nat! Azzam itu orang bijak bila kau tidak berulah. Maaf kakak harus bilang jujur! Kamu pasti tidak ikuti tata krama keluarga maka Azzam tak suka. Azzam terdidik dengan baik oleh maminya. Kami bisa berubah baik juga karena kak Citra dan Azzam. Azzam tak bosan ingatkan kami untuk berubah. Kalau kau mengenalnya kau akan suka padanya. Dia itu suka melucu walau kadang menyakitkan."


"Aku harus tunduk pada anak kecil?" Natasha menunjuk hidung tidak senang bila tunduk pada anak bawang.


"Bukan anak kecilnya Nat tapi kata bijaknya. Azzam itu anak taat beragama." ujar Tokcer bangga punya adik model Azzam. Kecil-kecil bisa diandalkan untuk jadi seorang pemimpin.

__ADS_1


Beberapa orang lewat depan rumah Tokcer melayangkan mata pada pasangan ini. Mereka yang lalu lalang pasti bertanya-tanya siapa gerangan gadis setengah bule di rumah Tokcer. Apa salah satu kerabat Citra atau Alvan. Ngapain di rumah Tokcer. Bu gosip pasti sedang bergerilya cari tahu siapa adanya gadis di rumah Tokcer. Jangan-jangan pacar Tokcer.


Nasib Tokcer sedang di atas angin. Dapat kerja bagus dan pacar cantik. Begitulah bunyi gosip bakal tersebar satu kampung.


__ADS_2