
Citra meminta Nadine membungkus kembali luka bekas operasi Heru pakai kain kasa. Nadine melakukan perintah Citra tanpa banyak mulut. Apa mau dikomentari Nadine lihat reaksi luar biasa Heru pada Citra. Orang bodoh pun tahu Heru suka pada Citra.
Mata Heru tak lepas dari wajah Citra. Ntah di wajah Citra bergantung berlian puluhan karat memaksa orang menatapnya. Heru tak ubah seperti orang bodoh terpesona oleh peri tercantik seantero dunia. Tidak mampu move on dari pantulan sinar wajah Citra.
Citra tak open apa yang mau dilakukan Heru. Citra ingin Heru segera berlalu dari ruang praktek karena masih ada pasien lain mengantri minta pengobatan. Citra buka resep agar Heru bisa beli obat yang tertera di resep. Semoga Heru cepat sembuh tidak perlu mengganggunya lagi. Citra tak mau dipusingkan oleh tingkah laku tua sok remaja.
Citra menyodorkan resep pada Heru. Kertas putih seukuran postcard ditunjukkan Citra pada Heru. Di atasnya tertulis beberapa huruf yang diduga obat untuk mencegah alergi Heru.
"Ini pak! Sementara aku kasih obat alergi. Kalau makin gatal bapak datang ke sini. Hindari makanan laut dulu ya!" Citra menerangkan dengan kesabaran seorang dokter.
"Gimana kalau tengah malam gatal?" pancing Heru lihat reaksi Citra. Heru mau lihat apa Citra akan ambil kesempatan mendekati dia.
"Datang saja ke rumah sakit. Dokter sini siaga dua puluh empat jam." sahut Citra apa adanya. Tidak ada Citra toh masih banyak dokter lain. Semua dokter di sini berpengalaman tangani sakit pasien.
"Apa dokter lain tahu penyakit aku?"
"Kalau bapak cerita mereka akan tahu. Itulah gunanya mulut! Bukan sekedar buat makan. Ok...bapak sudah aman! Tebus obat di apotik ya!"
"Kalau kutelepon kau mau datang ke rumahku?"
"Maaf pak! Aku hanya melayani pasien di rumah sakit. Silahkan! Kuharap bapak punya rasa empati pada pasien lain." Kata Citra menahan rasa geram. Jangan mentang-mentang orang kaya bisa seenak perut langkahi pasien lain. Citra bukan dokter pribadi milik Heru seorang.
Heru baru sadar kalau Citra dokter milik semua pasien. Bukan miliknya pribadi. Sebagai manusia punya hati nurani Heru siap mundur beri kesempatan pada pasien lain konsultasi dengan Citra.
"Maaf sudah ganggu waktunya! Aku pasti hubungi dokter cantik. Mana nomor hpnya? Tak ikhlas kasih ya!" Heru beri vonis berdasar feeling saja.
Citra mendelik tak senang tapi tangan meraih secarik kertas menulis beberapa angka. Citra pasti menyesal telah beri nomor kontak pada Heru. Hari-hari Citra bakal dipenuhi dengung suara Heru. Laki gila mana mungkin lewatkan kesempatan hubungi Citra sesuka hati.
"Silahkan pak!" Citra ulangi kalimat harap Heru tinggalkan ruang prakteknya.
Sarapan pagi lezat tadi bersama anak-anak tak jadi daging karena terlanjur kesal pada Heru. Seumur Citra baru kali ini jumpa pasien songong tak tahu malu. Setua gitu tapi gaya tak ubah abg baru kenal cewek.
Akhirnya pasien perusuh tinggalkan tempat kerja Citra. Pundak Citra plong terangkat beban menyiksa. Andai semua pasien model gitu dijamin Citra bakal kehilangan bobot tubuh. Kurus kering makan rasa kesal.
Nadine tak bisa sembunyikan tawa sepergi Heru. Baru kali ini Nadine lihat tampang kusut di wajah cantik. Lebih kusut dari pakaian belum kena setrikaan.
Citra mendelik mengancam Nadine bila lanjutkan tawa ngejek. Nadine menutup mulut pakai kedua tangan.
"Pakai masker! Ambil masker aku juga kak! Panggil pasien selanjutnya."
Nadine nyaris lupa protokol kesehatan di rumah sakit. Setiap para medis wajib kenakan masker untuk hindari penyakit menular. Virus Covid 19 masih terdengar walau agak mereda. Terdeteksi varian baru dengan berbagai istilah. Ingat itu pusing kepala Nadine.
Gara-gara Heru bikin ulah kerja mereka terganggu. Nadine serahkan masker pada Citra lantas tak lupa pasangkan ke mulut sendiri. Lengkap sudah peralatan perang para medis.
Pasien kedua ketiga silih berganti menyita waktu Citra. Untuk sejenak Citra melupakan Heru. Perhatian Citra fokus pada pasien lain.
Waktu bergulir cepat tak terasa matahari berdiri tengah di atas ubun kepala. Azan zhuhur berkumandang memanggil umatnya segera menghadap.
__ADS_1
Citra beri tanda pada Nadine untuk istirahat laksanakan kewajiban umat muslim. Nadine berberes sebelum tinggalkan ruang praktek untuk sholat. Citra juga berbenah menyimpan alat-alatnya.
"Masih ada berapa pasien menunggu?" tanya Citra sebelum ke musholla rumah sakit.
"Nihil dok!" Nadine memeriksa daftar pasien.
"Syukurlah! Artinya makin sedikit orang sakit. Aku pergi duluan kak! Kalau ada pasien telepon saja!"
"Kau mau ke mana?"
"Sholat..." sahut Citra singkat menenteng tas berisi peralatan sholat. Citra merasa lebih aman gunakan mukena sendiri ketimbang gunakan mukena umum yang tersedia di musholla. Pihak rumah sakit sengaja sediakan peralatan sholat karena terkadang tamu pasien tidak bawa kain sembahyang.
Nadine menatap punggung Citra menghilang di balik pintu. Fitri dan Nadine akan gantian pergi sholat. Ruang praktek tak boleh kosong sebelum lepas jam kerja. Takutnya ada pasien mendadak yang kronis. Di situlah perawat bertindak duluan.
Citra sholat dengan khusyuk doakan semua pasiennya cepat sembuh. Terselip doa keselamatan untuk anak-anaknya dan Karin. Citra memang tak suka pada Karin bukan berarti Citra berharap Karin sakit lebih parah. Naluri dokter tetap berharap si sakit dapat hidayah.
Seusai sholat Citra cari tahu di mana Karin dirawat. Citra mengira Karin akan tempati ruang VVIP seperti Afifa. Ternyata Karin hanya tempati ruang VIP biasa. Kamarnya lumayan bagus walau tidak semewah kamar VVIP.
Citra hanya ingin tahu kondisi Karin dari perawat koridor VIP. Sebagai dokter Citra tetap menaruh harapan Karin bisa pulih seutuhnya. Semoga ada keajaiban angkat semua penyakit Karin. Mungkin di dunia ini hanya ada satu Citra. Disakiti sedemikian rupa namun tetap doakan orang itu sehat.
Citra membawa langkah sampai di depan kamar Karin. Citra tidak berani masuk ke dalam. Gimana reaksi Karin bila melihatnya. Bisa semaput wanita itu. Batu sandung terbesar dalam hidup Karin kembali lagi.
Samar-samar Citra mendengar ada pertengkaran dalam kamar itu. Suara dua wanita sedang beradu mulut pakai nada tinggi. Citra terpaksa buka sedikit pintu cari tahu apa yang sedang berlangsung dalam ruang itu. Siapa demikian berani ganggu pasien sakit.
"Dengar ya kau wanita sesat! Hidupmu sudah tamat! Kau pikir Alvan akan pertahankan wanita brengsek macam kamu? Kau selingkuh, kena Aids! Apa yang bisa kau beri pada Alvan? Mending kau mati saja!" Citra dengar suara wanita berkata lantang hujat Karin.
"Pelakor? Kau lihat saja Alvan akan jatuh ke tanganku! Aku sudah menunggu moments ini bertahun. Selama ini aku yang di samping Alvan. Kau apa? Main gila, berfoya-foya. Apa tidak memalukan?" serang suara nyaring itu lagi.
"Itu urusanku dengan Alvan! Jangan mimpi kau mau rebut Alvan dari tanganku! Alvan itu cinta mati padaku. Kasihan kau hidup dalam ilusi!"
"Kau positif HIV...apa Alvan masih mau menyentuhmu? Kau menjijikkan..."
"Selvia....jangan kau pikir aku tak tahu siapa kamu? Kau simpanan anggota Dewan sebelum kerja di kantor Alvan. Mau kusebutkan nama orang itu? Bilang gadis tapi rem bolong! Kau pikir Alvan suka wanita munafik?"
"Aku munafik? Kau yang muna...apa kau lupa siapa kamu sebelum jadi isteri Alvan? Simpanan bos perusahaan otomotif!"
Citra yang dengar geram sendiri. Sesama manusia munafik saling menghujat. Sungguh hal tak pantas berdebat di rumah sakit. Apa keduanya sudah gila perebutkan Alvan yang tak tahu apa-apa.
Citra mengetok pintu lalu masuk tanpa menanti ijin yang punya kamar. Untung Citra masih mengenakan seragam dokter warna putih. Tidak perlu ditebak kedua perempuan itu tahu yang datang dokter.
Lawan bicara Karin tak kenal siapa Citra namun Karin tahu persis siapa yang muncul. Seluruh tubuh Karin bergetar lihat sosok yang bagai malaikat pencabut nyawa tiba-tiba hadir siap angkat nyawanya ke neraka. Karin terdiam tak mampu berkata-kata lihat kehadiran Citra berpakaian dokter. Karin tahu dulu Citra memang mahasiswa kedokteran. Citra hadir sebagai dokter artinya Citra berhasil menggapai cita-cita menjadi seorang dokter. Darah Karin serasa berhenti mengalir. Citra tetap imut bak anak SMP sedang dirinya digerogoti penyakit berbahaya. Kekalahan telak bercokol di wajah.
"Anda siapa?" tanya wanita lawan debat Karin yang ternyata Selvia wakil Alvan.
"Aku dokter yang rawat ibu ini. Sejak kapan anda jadi dokter bikin analisa sendiri penyakit ibu ini?" tanya Citra keluarkan tatapan tajam. Mata bening Citra berubah beringas karena Selvia sok tahu.
"Oh dokter toh! Katakan kapan wanita ini akan mati?" Selvia menunjuk ke arah Karin yang masih membeku saking kaget lihat kehadiran Citra.
__ADS_1
"Dokter bukan Tuhan! Tugas kami menyembuhkan orang sakit. Harapan anda buruk sekali nyonya! Ibu ini akan segera sehat setelah keguguran. Mudahan beberapa bulan kemudian bisa hamil lagi." sahut Citra ringan tidak terpancing provokasi Selvia.
Selvia mendengus perdengarkan suara hidung. Selvia anggap remeh Citra sebagai dokter. Selvia merasa dia lebih berkuasa dari dokter karena wakil Alvan pemilik rumah sakit.
"Hamil? Dia menderita virus HIV! Alvan mana mau sama orang menjijikkan gini."
"Maaf nyonya! Anda tak pantas mengatakan hal di luar batas. Ibu ini penyakitnya tidak ada selain keguguran. Kamu atau aku yang jadi dokter? Kalau masih ngawur aku akan panggil satpam usir anda! Anda telah menyakiti hati pasien dengan analisa ngawur. Kami pihak rumah sakit bisa menuntut Anda." ujar Citra tegas melindungi pasien dari serangan perempuan histeris. Datang ke rumah sakit hanya untuk melukai perasaan orang sakit.
"Kau berani? Kamu belum kenal aku! Aku ini calon isteri Alvan!"
"Mau calon atau isteri itu bukan urusan aku! Tugasku melindungi pasien dari serangan orang kurang waras. Pergi atau kupermalukan." Citra tidak kalah gertak. Emang Citra pikirin siapa wanita itu. Harapan Citra memang dipecat dari rumah sakit agar bebas dari Alvan. Mungkin dengan bantuan wanita itu Citra bisa bebas pindah tugas ke rumah sakit lain.
"Siapa namamu? Biar kulapor pada Alvan agar pecat kamu!"
"Silahkan! Panggil Alvan ke sini biar sekalian dipermalukan punya calon bini kayak preman pasar! Kamu itu calon bini, dan itu bini asli Alvan. Kau pikir aku berdiri di pihak mana?" Citra berjalan maju menantang Selvia walau badannya lebih mungil. Ntah muncul dari mana keberanian Citra menantang Selvia. Yang penting jangan kalah gertak.
Selvia mundur ke belakang dipepet Citra dari depan. Mata Belo Citra memancarkan sinar siap melumatkan musuh. Citra berubah menjadi sosok garang bila menyangkut nyawa pasien. Karin memang bukan orang pantas dibela tapi etika dokter tetap menjaga keselamatan pasien.
"Ok...kau tunggu sini! Aku akan balik dengan Alvan."
"Dengan senang hati...jangan lupa sekalian satpam kantor kalian biar kita bikin acara reunian para satpam! Sini ada juga satpam." olok Citra menambah amarah Selvia. Selvia membanting kaki ke lantai. Bunyi detak sepatu mahalnya menghantam lantai. Citra bersyukur kalau sol sepatunya rusak. Pulang dengan kaki pincang sebelah kan merupakan pemandangan baru buat seluruh pengunjung rumah sakit.
Selvia cemberut nyelonong pergi tanpa menoleh lagi. Kini tinggal Citra dan Karin. Keduanya membisu belum berniat buka mulut. Suasana kaku jelas melingkupi mereka berdua. Citra tak kalah gugup jumpa Karin dalam kondisi berbeda. Wanita itu tidak secantik dulu, kerutan halus mulai tampak di sudut mata di tambah lingkaran hitam sekitar mata. Ini menambah kejelekan Karin.
"Kau datang untuk menertawakan aku?" lirih Karin kalah pamor dari Citra. Citra fresh bak ikan baru dipancing dari sungai.
"Haruskah?" balas Citra sedikit sinis.
Karin tertawa kecil merasa tak ada guna berdebat dengan dokter yang pasti jauh lebih pintar darinya.
"Untuk apa bantu aku? Silahkan kalau mau ejek aku!"
"Mungkin kau lupa aku ini dokter. Tugasku menyembuhkan."
"Iya kau dokter! Sudah jumpa Alvan?"
Citra merasa tak ada guna berbohong. Lucu kalau Citra bilang belum jumpa. Karin tak mungkin percaya kalau Citra bilang mereka baru jumpa setelah sembilan tahun berpisah.
"Sudah jumpa. Kami jumpa di sini! Aku tak tahu dia pemilik rumah sakit ini. Kalau tahu aku takkan kerja di sini. Tak ada guna menoleh ke belakang. Kita tak boleh mundur, harus maju."
"Kau tak bohong?" Karin meneliti raut wajah Citra mencari kebenaran.
"Kalau aku jawab tidak kau pasti pikir aku mengarang cerita. Jawabanku takkan pengaruh! Kakak harus semangat. Semua penyakit ada obatnya asal kita tidak down. Kalau Kak Karin masih cinta pak Alvan berjuanglah! Jangan biarkan aku merebut pak Alvan! Pantang mundur."
Kata-kata Citra bagai cambuk bagi Karin. Citra sedang menawarkan perang atau memberinya semangat melawan penyakit. Apapun niat Citra tetap beri motivasi pada Karin berjuang lawan virus di tubuh.
"Apa benar aku kena HIV?" tanya Karin pelan takut terdengar orang lain padahal dalam ruang tidak ada siapapun.
__ADS_1
"Belum tentu kak! Sekarang kakak pulihkan badan dulu. Setelah sehat kita cek lagi. Tak usah pikir aneh-aneh. Aku dan pak Alvan tidak ada apa-apa. Murni bos dan bawahan. Kita berpisah sudah sembilan tahun. Semua telah berakhir."