
Andi merasa dada sakit dioper ke tempat Daniel. Padahal dia sedang giat-giatnya cari kesalahan Selvia untuk balas dendam atas diri Citra. Mau menolak takut dipecat permanen. Dari pegawai kantoran jadi pengawas cafe. Turun pangkat bak air hujan curah dari langit. Sekali jatuh langsung ke bumi.
"Gimana kerjaku di kantor pak?" Andi mencoba mengelak gunakan tugas di kantor.
"Kau bawa laptop dan kerjakan di sana. Wenda akan rutin kirim file kepadamu. Di sana kamu hanya duduk awasi orang kerja dan bikin hitungan bila cafe tutup. Di sana kamu lanjutkan periksa kecurangan di perusahaan." Alvan jelaskan lebih detail karena tahu pola pikir sederhana Andi.
Senyum manis kembali bersemi di bibir yang dulunya pernah kena lipstik.
"Artinya Andi tidak turun pangkat ya!"
"Turun pangkat? Apanya turun? Kau hanya bantu Daniel awasi cafe karena aku percaya kamu jujur! Setelah itu kamu balik kantor. Oya...Daniel minta kamu ajak dua tiga orang untuk kerja di sana. Ingat! Jangan yang panjang tangan dan pemalas! Utamakan kejujuran!"
"Siap dilaksanakan pak!" Andi berdiri beri hormat ala militer.
Andi makin naik daun dipercaya Alvan sepenuhnya. Ini berkat kejujuran lelaki gemulai itu. Andi sudah bisa pamer jadi agen pekerja top. Pemuda-pemuda kampung bisa dia ajak bekerja untuk kurangi pengangguran.
Kampung pasti makin aman bila para pengangguran dapat pekerjaan layak.
"Sudah...sekarang kau cari kawanmu yang diajak kerja!"
"Siap pak! Tapi sebelumnya ijinkan Andi melapor. Dalang Kerusuhan memang Selvia. Bu Maryam pastikan itu memang Selvia."
Kepala Alvan makin berat memikirkan kejahatan Selvia. Belum tuntas masalah penggelapan uang perusahaan dia tambah pula menyakiti Citra. Alvan tak sangka wanita yang dia anggap wanita berkelas ternyata tak jauh beda dengan Karin.
"Aku akan tangani! Aku takkan memaafkan orang yang sakiti anak isteri aku!"
"Satu lagi pak! File yang dikirim Wenda ada pemasukkan dari tambang Kalimantan namun di data komputer nihil. Nominalnya ratusan milyar. Kalau tak salah Tiga ratus milyar. Tidak ada sama sekali dalam pembukuan tahunan."
Perut Alvan menegang mendengar dana demikian besar lolos dari perusahaan. Mengapa dia sampai lengah sampai perusahaan hilang dana segar sedemikian banyak.
"Kau yakin?"
"Yakin pak! Kita harus minta bantuan Azzam untuk masuk ke akun email Selvia agar tahu apa yang terjadi."
"Azzam? Anak sekecil itu bisa apa?"
"Pak...Azzam itu anak ajaib! Dia bisa masuk ke akun orang asal tahu user email. Kami saja sering dia kerjain. Sepuluh kali ganti akun Facebook dengan gampang dia jebol. Dia posting sesuka hatinya."
Alvan harus bergembira atau sedih punya anak luar biasa. Azzam kategori anak jenius karunia Tuhan. Seumur Azzam seharusnya menikmati masa kanak-kanak sesuai usianya. Bukan melampaui batas kemampuan orang dewasa.
"Apa Azzam sepintar itu?"
"Terlalu pintar pak! Kudengar Afisa lebih dari pada Azzam. Kecerdasan Afisa melampaui Azzam maka dia selalu ranking. Sekolah Afisa tak ijinkan Afisa pindah sekolah saking jeniusnya anak itu." cerita Andi dengan mata berbinar. Andi bercerita seolah Afisa itu adalah adik kandungnya. Dia bangga jadi Abang dari anak pintar.
Alvan merasa bodoh tak memahami anak sendiri. Orang luar lebih ngerti anak-anaknya. Boleh dibilang Alvan orang tua gagal.
"Baiklah! Ini akan aku diskusikan dengan Azzam. Sekarang kalian boleh pergi! Untuk sementara Bonar dan Tokcer lindungi Azzam dan Afifa. Bonar bulan depan baru ke gudang."
"Iya pak! Kami permisi! Assalamualaikum..." Andi dan Bonar pamitan. Keduanya bertujuan cari Tokcer berdiskusi siapa yang pantas diajak kerja di cafe Daniel.
Tokcer lebih kenal sifat-sifat pemuda kampung. Yang mana bisa diajak dan yang mana harus di offkir.
Kedua lajang itu jalan kaki menyelusuri jalan kampung yang remang-remang. Semua warga telah masuk rumah kumpul keluarga walau hanya sekedar nonton sinetron.
"An...Kasim dan Sadikin bisa diajak?" tanya Bonar di sela perjalanan.
"Kasim sih bisa tapi Sadikin gue ragu. Dia itu pecandu alkohol."
"Tapi dia kan sudah tobat. Sudah jarang kumpul di simpang tiga. Di terminal juga tidak datang."
"Aku jarang kumpul sama berandalan mana tahu siapa yang tobat. Lhu sudah tobat belum?"
__ADS_1
"Ya ampun nih cacing! Gue emang nakal tapi nggak mabukan! Minum bandrek bisa mabuk?" Bonar meninju bahu Andi pelan tahu cowok di sampingnya serapuh kerupuk.
"Mana gue tempe..."
Tak terasa mereka tiba di depan rumah Tokcer. Pintu rumah Tokcer terbuka seolah tahu akan datang tamu tak diundang. Harum minyak wangi semerbak terpancar dari dalam rumah membuat Andi dan Bonar bersin. Bau yang sangat menyengat hidung.
"Tok...Tok..Tokcer..." seru Bonar meniru suara orang ketok pintu.
Yang dipanggil keluar pamer gaya Elvis Presley merentangkan tangan di kusen pintu. Bau aroma minyak wangi Tokcer membuat perut Andi mual. Dulu Tokcer mengejek minyak wanginya sekarang terbalik selera Tokcer berubah histeris.
"Woi Tok...lhu tenggelam dalam drom minyak jelantah ya! Sangit amat!" seru Bonar menutup hidung.
"Sialan lhu pade..! Ini minyak mistik peninggalan engkong gue! Siapa yang cium baunya pasti..."
"Tewas..." tukas Andi cepat sebelum Tokcer selesaikan kalimat.
Bonar tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut. Jawaban Andi sungguh ektrim. Gara minyak mistik sampai tewas.
"Dasar gila...kualat lhu ma engkong! Kalian tahu nggak? Berkat minyak ini engkong punya bini empat. Salah satunya Noni Belanda."
"Itu Noni Belanda lagi pilek. Hidungnya mampet." ujar Andi malas maju cium bau aneh dari baju Tokcer.
"Pulang saja sono! Rusak acara gue..."
"Duh yang sewot! Kami datang bawa misi nih! Bener nggak mau tahu?"
"Bilang aja kalian iri pada warisan engkong gue!"
"Nggak tuh! Kami datang karena perintah pak Alvan! Ya kan An?"
Sebelum Andi menyahut terdengar seruan emak Tokcer dari dalam. Perempuan paro baya itu seperti orang bingung kehilangan sesuatu barang berharga.
"Tok...lihat minyak kutu emak nggak? Mak tarok di dekat bufet TV kok hilang?" Emak Tokcer hampiri Tokcer yang ikut bingung.
"Iya...itu minyak untuk obati kutu di kepala anak Rohani tetangga kita! Kutunya sudah sangat banyak maka emak bikin ramuan tradisional. Kau ada nampak?"
Tokcer meringis mau menangis. Minyak pelet warisan engkong ternyata tak lebih dari obat kutu rambut. Pantesan baunya aneh. Ada bau karbit dan bawang putih. Tokcer anggap itu minyak rahasia andalan engkong.
Di depan rumah Andi dan Bonar tak dapat tahan tawa. Kedua tertawa sampai terduduk di lantai saking gelinya. Bonar malah berguling di lantai tak mampu bendung rasa lucu lihat kekonyolan Tokcer.
"Mak..." seru Tokcer malu segera kabur ke belakang. Muka Tokcer memerah menahan malu pada kedua konconya. Banggain warisan engkong nggak tahunya obat kutu rambut.
Emak yang tak ngerti pangkal cerita hanya melongo saksikan anak-anak muda ini bertingkah aneh. Satu kabur dan duanya tertawa terbahak-bahak.
Andi hampir kencing di celana saking geli bayangkan kebodohan Tokcer. Preman kondang dikalahkan sebotol minyak kutu. Harusnya jadi trending topik di medsos.
"Mati gue An..." kata Bonar masih memegang perut menahan tawa.
"Minyak pelet engkong.. haha konyol banget?"
"Baru hari gue tahu si Tokcer ini ada oon nya! Gue punya kartu as siksa dia!" ujar Bonar gembira dapat kelemahan Tokcer.
"Maunya kita rekam tadi..."
Tokcer kembali hadir tanpa wewangian aneh lagi. Pakaiannya juga sudah diganti kaos biasa. Dengan sedikit malu Tokcer hampiri kedua konconya mengingat dapat perintah dari bos.
"Ketawa terus biar perut kembung! Ada apa kalian usik aku?" Tokcer beratkan suara biar keren untuk tutupi kekonyolan tadi.
"Pak Alvan perintah kita pelet cewek..." gurau Bonar belum bisa move on dari kebodohan Tokcer.
"Yang serius...candanya entar lagi. Ini udah malam...besok kita masih harus dinas?"
__ADS_1
"Caile.. dinas...kayak aparat saja! Ini serius Tok! Teman pak Alvan namanya pak Daniel ingin gue rekrut beberapa karyawan. Siapa yang bisa kita bawa? Si Kasim pasti kubawa. Dua lagi siapa?" kata Andi serius.
"Kerja apa?"
"Dia buka cafe...untuk sementara gue jadi bos. Dia mau ke Amerika."
"Junet pintar masak tapi pemabuk, Dio juga bisa tapi siapa jaga bokapnya yang sakit?"
"Gue sarankan Sadikin tapi Andi nggak mau! Katanya pemabuk juga."
"Sadikin pemabuk kambuhan! Dia mabuk kalau ada duit."
"Nggak bisa Tok...orang gitu tak bisa dipercaya!"
"Gimana kalau laki Mpok Leha? Dia baik cuma selaku apes kalau kerja."
"Tapi ngak bisa tiap hari pulang coy! Ntar rumah Mpok Leha kemalingan." timpal Andi menyimak percakapan antara Tokcer dan Bonar.
"Siapa mau maling di rumah Mpok Leha? Emang ada yang bisa dicuri?" Tokcer tertawa geli dengar ocehan Andi. Mpok Leha sangat miskin apa yang mau dicuri.
"Mpok Leha nya!"
Tokcer mencolek kepala Andi dengan gemas saking kesel Andi berpikiran buruk pada Mpok Leha. Orangnya miskin belum tentu moralnya ikut miskin. Mpok lumayan manis walau tidak secantik Citra. Kalau dia mau nakal masih ada nilai jualnya. Terbukti dia masih setia dampingi suaminya yang kerja serabutan.
"Punya otak dipakai! Jangan di simpan di kulkas! Bang Iming dan Kasim, sudah ada dua calon. Tinggal satu lagi...siapa kira-kira kita pakai?" Tokcer memutar otak cari kandidat seorang lagi untuk lengkapi pesanan pak Alvan.
"Gini saja! Kita coba Sadikin dulu! Kalau dia berulah kita pecat! Gue pusing diteror Bu Siti tiap hari. Kayak gue makelar pekerja." usul Andi bayangkan dikejar para emak minta anak mereka diajak kerja.
"Emang bukan? Bagi kami lhu pahlawan yang muncul dari comberan!" gurau Tokcer bikin Andi mewek. Apa hebatnya pahlawan comberan.
"Kok comberan? Maunya super Hero dari planet Jupiter. Ini sedih amat!" Andi manyun buang muka tak ubah anak gadis marahan sama doi.
"Gitu aja marah! Maksud gue.. kita ini kayak comberan! Tak ada harga...lhu datang angkat kami dari comberan! Makanya lhu pahlawan. Cup...cup...anak manis! Yok kita kumpulkan yang bersangkutan lalu kita kuliahi biar otaknya waras!"
"Lhu dan Bonar yang omong ya! Mereka mana takut sama gue? Yang ada dileceh!" Andi mengelak jadi jubir malam ini. Siapa takut pada Andi yang terkenal lemah gemulai. Bukannya ditakuti tapi diejek.
Tokcer merangkul pundak Andi tidak setuju Andi rendah diri. Kini Andi justru harus tunjukkan wibawa sebagai lelaki jantan. Kalau tidak dimulai dari sekarang selamanya tidak akan pernah terjadi.
"Yok! Kami dampingi lhu! Gue akan ancam kuliti mereka kalau berulah." Bonar menambah nyali Andi supaya makin bengkak. Ini malam uji nyali Andi jadi seorang pemimpin.
Siapa sangka orang yang dihina cacat mental ternyata menyimpan potensi sangat besar. Andi mempunyai otak cerdas namun telah salah digunakan. Untunglah Alvan punya mata jeli siap membantu Andi temukan jati diri.
Ketiganya segera bergerak menuntaskan misi dari Alvan. Setiap amanah Alvan adalah perintah Baginda raja. Kini masa depan mereka berada di telapak tangan Alvan. Hanya Alvan bersedia percaya pada mereka yang terkenal Badung.
Kalau bukan berubah dari sekarang tak ada kesempatan baik lagi di kemudian hari. Kesempatan emas itu hanya sekali seumur hidup. Tak mungkin hujan emas melulu. Tuhan pun bakal bangkrut bila terusan kasih emas pada umatnya.
Di rumah Citra, Alvan masih di penuhi rasa bahagia tak terlukis kata. Keluarga utuh dengan anak isteri makin dekat. Cuma yang jadi beban Alvan adalah soal tempat tinggal. Tak mungkin Alvan tidur di kamar Azzam selamanya. Dia harus punya cara naik ke ranjang Citra.
Alvan merindukan bau Citra yang lembut mendayu. Rasanya cinta pada Citra makin menyala berkobar membakar seluruh hati. Lalu ke mana cintanya pada Karin? Dulu dia terobsesi pada kecantikan Karin yang terlalu dewasa atau tak ingin kalah dari pengusaha lain membawa isteri penampilan wah.
Usianya tidak muda lagi. Bukan masanya pacaran seperti anak remaja mabuk kasmaran. Waktu Alvan sudah berlalu karena anaknya sudah besar. Melihat Azzam Alvan merasa makin tua. Sebentar lagi Azzam akan beranjak remaja, punya pacar lalu berkeluarga dan dia menjadi kakek.
Siklus hidup manusia tak terelakkan. Alvan beruntung punya keturunan di tengah kekacauan rumah tangganya. Andai dia tak jumpa Citra maka sampai mati dia tak tahu punya anak-anak super cantik. Kalau jodoh takkan ke mana lari.
"Pak..." suara Citra lembut membuyarkan angan Alvan.
"Duduklah! Anak-anak sudah tidur?"
"Afifa sudah...Azzam masih mengulang pelajaran! Apa bapak tidak meragukan status anak-anak? Bapak percaya mereka anak bapak?" tanya Citra sambil duduk di samping Alvan. Ntah dapat keberanian dari mana Citra duduk dekat Alvan. Agak kaku tapi ini cukup berarti bagi Alvan.
"Tidak sedikitpun...kau mau bilang mereka anak orang aku yang tak percaya! Citra...maukah kau memanggilku mas atau Abang? Aku seperti laki tua uzur banget dipanggil bapak olehmu! Ada jarak antara kita!"
__ADS_1
"Memang sudah tua kan?"
Pada kesempatan ini Alvan besarkan nyali meraih tangan Citra menggenggamnya erat. Semoga Citra tidak menepis tangannya seperti yang sudah-sudah. Alvan butuh keikhlasan Citra menerimanya. Alvan tak ingin memaksa Citra harus bertekuk lutut pada kekuasaan seorang suami.