
Tokcer angguk setuju pada ucapan Bonar. Kumpul duit senangkan orang tua dulu baru pacaran. Kalau sudah punya penghasilan tetap baru bisa nafkahi keluarga. Tokcer bisa pilih wanita sesuai keinginan tanpa perlu takut ditolak lagi.
"Bonar benar An! Kita cari duit sebanyaknya biar tidak dihina lagi. Kalau punya duit gue mau umrohkan emak gue! Biar didoain disayang bos!" Ujar Tokcer tulus
"Lhu sih enak bisa umrohkan emak aku ini ngapain?" Bonar menunjuk hidung sendiri. Kalau punya duit mau menyenangkan siapa? Orang tua sudah duluan berangkat menuju keabadian. Tinggal dia masih tertinggal di dunia fana mengais rezeki untuk bertahan hidup.
"Lhu nyenengin gue aja! Pahala lhu lipat ganda..." gurau Andi disambut delikan mata Bonar. Mata si Batak itu berputar-putar meledek Andi yang nyengir kuda pikir sudah menang dari Bonar.
"Mendingan gue nabung buat beli isteri! Sudah dapat duit pesan bini di online..."
Andi dan Tokcer tertawa geli dengar rencana konyol Bonar. Beli bini pakai aplikasi online, ide konyol bin bodoh. Toko online mana sediakan cewek jadi bini. Mungkin Bonar bisa jadi penggagas pertama buka situs online khusus cari bini.
"Gue order satu juga ya! Gue minta yang ongkir gratis." gurau Andi biar semarak.
"Gue yang COD...." lanjut Tokcer makin besarkan tawa mereka. Lucu namun menyegarkan.
Sedang mereka asyiknya bercanda tiba-tiba di luar pagar sudah datang emak-emak ramai-ramai geruduk rumah Citra. Ada puluhan emak bawa peralatan dapur berteriak-teriak di depan pagar rumah Citra.
Emak-emak tersebut tampak emosi pada pemilik rumah keluarkan kata-kata tak sedap memaki Citra. Ketiga jagoan neon Alvan terpana sampai tak bisa menjawab.
"Mana perebut suami orang? Usir... memalukan!!" seru salah emak berdaster ungu.
Andi tersadar setelah kena serian lantang dari luar. Laki ini segera menutup pintu pagar agar emak-emak tidak masuk ke dalam rumah Citra. Keadaan jadi sangat kacau. Pusing kepala ketiga orang ini dengar teriakan saling bersahutan dengan umpatan berbeda-beda tapi tujuan tetap satu. Citra pelakor perusak rumah tangga orang lain.
"Telepon pak Alvan dan kak Citra!" pinta Tokcer berbisik pada Andi. Jalan terbaik adalah kasih tahu yang bersangkutan tentang demo mendadak di rumah Citra. Setan gentayangan mana pengaruhi emak-emak kurang kerjaan cari masalah.
"Bo..lhu cari pak RT!" bisik Tokcer pada Bonar.
"Gimana gue mau keluar? Tuh emak-emak pada emosi! Ntar wajah ganteng gue jadi sasaran empuk kuku bekas bumbu dapur. Infeksi tau..."
"Sialan lhu! Emang lhu tak punya nomor hp pak RT? RT pemalas itu paling sedang molor mikirin janda."
"Oh iya..." Bonar bagai dipecut cemeti tersadar masih ada jalan pintas hubungi pemimpin kampung mereka.
Andi sibuk hubungi Alvan sedang Bonar hubungi RT. Mereka harus bertindak cepat agar tidak membuat syok kedua anak kecil dalam rumah. Andi menutup pintu rumah agar Azzam dan Afifa tidak melihat pemandangan tidak kondusif ini.
Andi boleh konyol tapi otak cukup cerdas melindungi kedua anak majikan mereka. Kalaupun Andi tidak kerja pada Alvan dia tetap akan menjaga Azzam dan Afifa. Mereka berdua sudah seperti adik kandung Andi.
Bu Menik ikut keluar karena suara bising dari luar rumah. Bu Menik kaget menyaksikan puluhan emak-emak bawa peralatan dapur berteriak-teriak di depan rumah. Mereka memukul panci dan centong bikin suara gaduh.
Persis orkestra amburadul. Teriakan mereka bagai suara seriosa dan alat dapur mereka musik pengiring seruan tanpa nada selaras.
"Wei...Wei...apaan kalian ini? Apa tidak malu teriak-teriak di rumah orang?" seru Bu Menik berusaha mengalahkan suara jelek para emak.
"Bu Menik tidak tahu? Bu dokter yang kita hormati ternyata perebut laki orang! Anak-anaknya anak di luar nikah.." sahut salah satu di antara mereka.
"Hati-hati kalau bicara! Bu Citra itu punya suami sah dan anaknya punya akte kelahiran resmi. Kalau kalian tak mau dipenjara teruskan demo kalian. Emang suami siapa sudah diambil Bu Citra?" Bu Menik serang balik menduga ada yang jadi provokator di balik semua ini.
"Tapi..." emak itu mulai ragu setelah disekak Bu Menik.
"Tapi apa? Kalian dapat uang dari siapa? Ayo ngaku kalau tak mau dilaporkan Bu Citra!"
"Itu..." semua menunjuk ke Bu Maryam yang menyerang Andi dan Tokcer sewaktu lari pagi.
__ADS_1
Bu Maryam mundur ke belakang dengan wajah pucat pias. Tubuh gempalnya lunglai tak berdaya kena tudingan puluhan jari telunjuk.
"Bagus...berapa kalian dikasih duit?" Andi mulai berani maju sampai ke depan pintu pagar ingin tahu lebih detail siapa otak dari keributan ini.
"Aku dikasih dua ratus..."
"Ane seratus.."
"Aku lima ratus..."
Masing-masing menjawab dengan besaran berbeda. Bu Maryam makin pucat hendak lari namun cepat ditangkap para emak-emak. Bu Maryam tak bisa bergerak lagi.
"Kamu korupsi ya! Kok uangnya berbeda-beda? Ayo tambahkan punya aku sampai lima ratus!"
"Aku juga."
Andi menghela nafas. Dasar emak songong. Hukuman sedang menanti mereka masih perhitungkan kekurangan uang yang mereka terima. Andi yakin ada tangan emas bermain di belakang kejadian ini. Bu Maryam bukan orang kaya dari mana uang sebanyak gitu bayarin para emak demo di rumah Citra.
Andi biarkan para emak permak Bu Maryam sampai Alvan maupun pak RT yang datang. Bu Maryam tak berdaya digasak para emak-emak mau tak mau keluarkan segepok uang warna merah dari balik daster.
Tangan lincah para emak berebutan mengambil sisa hak mereka sebanyak mereka mau. Dalam sekejap uang Bu Maryam pindah tangan. Bu Maryam mati kutu dikerjain para emak yang hanya jadi orang suruhan. Mereka mana mau tahu fakta sesungguhnya. Yang penting dapat duit gratis di masa sulit gini. Lumayan menambah isi dapur.
Pak RT akhirnya muncul bersama beberapa pemuda kampung. Pak RT menggeleng tak percaya warganya berbakat menjadi pendemo amatir. Ide siapa menggalang para ibu-ibu demo di tempat Citra. Tak mungkin ide ini muncul gitu saja kalau tak ada penggagas.
"Stop ibu-ibu...." seru Pak RT kali ini tidak pakai kain sarung lagi. Tampaknya pak RT sudah mandi berganti pakaian.
"Pak RT... kami disuruh serbu rumah Bu dokter karena Bu dokter perebut laki orang." ujar salah satu emak dengan lugu.
"Baiklah....kita semua ke kantor desa ya! Cuma sebelum kita ke sana aku ingin katakan Bu dokter itu punya suami sah. Catatan buku nikah mereka ada di kantor. Jadi Bu dokter bukan wanita nakal."
"Tapi kata Bu Maryam dokter kita ambil pacar orang." rengut salah emak sinis.
"Bu...Bu dokter punya suami dan anak. Jadi kalau ada yang datang ngaku diambil pacarnya artinya yang perebut laki orang bukan Bu dokter tapi orang yang ngaku pacarnya diambil. Justru dia datang ganggu rumah tangga Bu dokter. Nah Bu Maryam.. siap beri penjelasan?"
"Tapi dia beri bukti pak Alvan pacar dia!" ujar Bu Maryam bela diri tak mau disalahkan.
"Bukti apa?" tanya Andi mulai tak sabar lihat ketololan tetangganya.
"Foto mereka sedang makan berdua di restoran. Sangat mesra."
"Memang siapa nama orang itu?"
Bu Maryam menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kalaupun gatal pasti kutu di kepala sedang berontak tertawai kebodohan majikan mereka. Hanya karena uang dan foto berani fitnah orang tak bersalah.
"Aku tak tanya namanya! Dia pakai mobil sangat bagus warna putih. Dia cantik dan rapi. Mirip orang sangat kaya!"
Otak Andi berputar keras mencoba analisa siapa yang demikian nakal menghasut Bu Maryam fitnah Citra. Dalam bayangan Andi kalau bukan Viona tentu Selvia. Andi berani ambil kesimpulan itu Selvia karena mobil tunggangan Selvia memang putih.
"Baiklah! Bu Maryam dikasih uang berapa sampai tega fitnah orang tak bersalah?" tegur pak RT mulai gerah ada warganya cari masalah demi uang. Kejadian ini harus dituntaskan agar tak ada kejadian kedua kali. Yang bersalah harus dihukum sesuai hukum berlaku.
"Dikasih lima puluh juta pak!" ujar Bu Maryam takut-takut.
Suara bising emak-emak berdengung bak tawon pulang sarang. Sana sini terdengar suara tak puas. Uang lima puluh juta tapi dibagi ke para emak hanya secuil.
__ADS_1
"Dasar koruptor...kamu makan sendiri uang segitu banyak! Kami cuma dapat seupil. Ayo bagi sisanya!" seru para emak mulai menyerang Bu Maryam lagi.
Bu Maryam kewalahan diserbu para anggota demo hasil sogokan. Emak-emak menarik baju Bu Mary hingga robek sana sini. Tak ada rasa iba di hati para emak yang tersulut rasa tak puas.
"Stop....stop...." teriak pak RT menenangkan warganya.
Penghuni lain mulai berdatangan saksikan apa yang telah terjadi di kampung mereka. Bagi yang baru datang pasti terheran mengapa ada demo mendadak di kampung. Suara kasak kusuk berdengung sana sini saling bertanya ada apa?
"Kami tuntut uang capek kami! Lihat panci aku sampai bonyok gara-gara dipukuli!" salah seorang emak angkat panci karatannya tinggi-tinggi minta perhatian.
"Centong aku patah..." sambung yang lain.
Pak RT dibuat kewalahan oleh tingkah emak-emak yang tidak mau tahu. Emak-emak ini tidak menyadari kalau mereka menerima suap itu sama aja mendengar melanggar hukum.
"Tenang... tenang ibu-ibu! Kita minta penjelasan dulu dari Bu Maryam! Lebih baik kita selesaikan di kantor desa. Dan ibu-ibu yang merasa menerima uang harus ikut ke kantor desa." ujar Pak RT kepada emak-emak yang masih sibuk pertanyakan sisa uang mereka.
Bu Maryam hanya bisa menunduk sambil menutupi bajunya yang robek sana-sini. Gara-gara uang Bu Maryam tidak memikirkan akibat dari perbuatannya. Dipikir telah terima uang lalu ajak emak-emak demo selesai sudah.
"Pak RT aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya disuruh oleh nona cantik untuk mengatakan bahwa Bu citra adalah perebut pacarnya." ujar Bu Maryam dengan suara lirih.
"Bu Maryam.. ini bukan masalah kecil. Ini menyangkut nama baik seseorang. Kalau Bu Citra menuntut Bu Maryam ke hukum Ibu Maryam harus menerimanya termasuk ibu-ibu yang menerima hasil uang suapan." kata pak RT dengan Arif. Persoalan ini tak bisa selesai hanya dengan kata maaf.
"Masuk penjara? Aku sih ogah!" kata salah seorang emak mengeluarkan uang dari balik baju daster lalu menyerahkan uang itu kepada bu Maryam.
"Aku juga...uang tak seberapa masuk penjara! Kasihan suami aku tak ada yang urus. Nanti diembat pula sama janda genit. Nih uangmu!" emak lain melempar beberapa lembar duit warna merah ke arah Bu Maryam.
"Sudah...sudah...kita semua ke kantor desa! Uangnya kumpulkan di sana!" seru pak RT tak ingin keadaan makin kacau.
"Tapi aku masih ada kerjaan lain. Banyak cucian..." jurus tikus mencoba kabur mulai dikeluarkan para emak yang alergi dengar hukum. Dapat uang sekutil harus masuk penjara. Nggak level.
"Tak bisa...kalian harus ikut sebagai saksi! Kita tunggu kehadiran Bu Citra dan pak Alvan. Kalau mereka menuntut kalian ke meja hijau kalian harus siap. Kalian bisa kumpul bareng ngerumpi di penjara. Kali aja sipir penjara baik hati ngasih singkong goreng sebagai cemilan ngerumpi." tukas Andi kesenangan lihat para emak songong mulai dilanda ketakutan.
"Ogah...lalu siapa ngeloni laki gue?" seru salah satu emak tak malu ungkap hubungan mesra dengan suami.
"Ada tuh janda bahenol desa sebelah!" lanjut Bonar buat suara riuh. Tawa renyah pecah di antara ketegangan.
"Kuulek tuh janda! Beraninya ganggu suami gue!"
"Makanya jangan terpengaruh hasutan! Sono...ikut pak RT kita yang ganteng! Ntar gantengnya hilang kena uap matahari." Andi mengusir para emak takut Azzam dan Afifa syok lihat rumah mereka di demo orang. Citra adalah panutan mereka. Apalah jadinya bila maminya mereka dihujat sebagai wanita tidak benar.
"Hei An...aku ganteng ya!" Pak RT bangga bukan main dipuji Andi di depan orang ramai.
"Makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna pak RT kami. Ya kan emak-emak?" Andi angkat tangan beri tanda agar semua menyahut.
"Yaaa..." koor emak-emak berkumandang. Saat ini memuji pak RT adalah jalan terbaik. Siapa tahu pak RT berbaik hati melepaskan mereka dari hukuman.
Cuping hidung pak RT naik lima mili dapat dapat sanjungan dari warganya. Bujang lapuk ini haus akan pujian. Dapat pujian dari emak-emak satu kampung membuat Pak RT merasa dunia ini miliknya. Kalau ada pemilihan RT terganteng maka dia akan segera mendaftar.
"Baiklah ibu-ibu yang baik yang manis! Kita rame-rame ke kantor desa agar persoalan bisa lebih jelas. Ok? Ayo berbaris yang rapi!" pak RT memberi aba-aba pada emak-emak itu menuju ke kantor desa.
Emak emak itu tidak bisa mengelak selain mengikuti arahan Pak RT. Beberapa pemuda di kampung mengawal langkah emak-emak yang riuh. Bagi mereka yang masih penasaran mengikuti kelompok emak-emak menuju ke kantor desa.
Andi cs menarik nafas lega setelah semuanya pergi. Keadaan kembali tenang. Andi segera membuka pintu masuk ke dalam untuk melihat kondisi kedua anak Citra.
__ADS_1