ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Terbang


__ADS_3

Citra menatap Gibran yang asal ngasih ide. Persyaratan terbang bukan seperti naik kereta. Di masa pandemi covid 19 begini banyak prosedur harus dilengkapi salah vaksin harus sampai tiga tahap.


"Gi...kak Tokcer belum tentu ada paspor. Dan lagi apa dia sudah vaksin sampai tiga kali? Kalau anak-anak vaksin tidak ketat namun untuk orang dewasa ketat banget! Waktu kita sangat sempit urus berkas perjalanan." Citra menerangkan dengan sabar agar Gibran tidak kecewa usulnya mengajak Tokcer tidak dapat dipenuhi seketika.


Gibran tidak ngotot setelah mendengar penjelasan Citra. Apa yang dikatakan Citra sangat masuk akal. Tokcer belum tentu mempunyai dokumen untuk terbang ke luar negeri.


"Ngerti kak! Kita-kita saja yang pergi. Jagoan neon kita pasti kecewa tak bisa liburan ke luar negeri."


"Kelak ada waktunya libur bareng. Tapi sekarang kita bukan liburan melainkan mengantar Afisa pulang ke Beijing. Satu dua hari kita harus segera kembali ke tanah air."


"Iya kak!" sahut Gibran mengalah. Apa yang dikatakan Citra bukanlah sesuatu untuk menakuti Gibran melainkan fakta yang harus dihadapi di lapangan.


"Ok...sekian diskusi kita. Serahkan semua dokumen padaku biar kuurus agar cepat kelar. Waktu kita sangat sempit." Heru paling bersemangat karena tak lama lagi bakal jumpa Afung isteri tercantik di mata Heru. Kini semua orang tampak seperti Afung. Bayangan Afung di mana-mana. Kulitnya yang bak pualam sudah membius Heru. Bucin jilid dua telah tiba. Jilid satu milik Alvan. Dua singa bisnis kepentok dewa cinta.


Berhubung mereka pulang dengan pesawat pribadi Citra ajak Afisa belanja lebih banyak untuk persiapan musim dingin. Citra borong banyak pakaian bagus untuk Afisa. Berharap dari keluarga Chen sangat kecil kemungkinan dapat yang terbaik. Citra beli juga Mama dan papa angkat Afisa. Tentu saja pakaian berkelas agar tidak memalukan Afisa ngasih oleh-oleh murahan.


Akhirnya ditetapkan gunakan pesawat pribadi milik keluarga Lingga karena lebih besar dari punyaan Perkasa. Alvan mengurus semua ijin masuk ke negeri orang serta tetapkan negara transit. Orang tajir macam Alvan tentu sudah biasa bepergian dengan pesawat pribadi. Segala persyaratan sudah hafal di luar kepala.


Alvan sengaja atur jadwal berangkat lebih awal biar tiba di sana masih terang. Perbedaan waktu selisih satu jam dengan tanah air bagian Barat. Kita lebih cepat satu jam. Perbedaan tipis tidak terlalu pengaruhi kebiasaan dua negara. Mereka tiba di sana matahari masih bersinar terang kisaran jam dua atau jam tiga. Mereka butuh waktu kisaran tujuh jam bila gunakan pesawat pribadi karena tidak transit. Kalau transit butuh waktu sekitar sembilan jam.


Alvan tak ingin repot maka minta pilot tempuh jalur direct alias langsung tanpa singgah. Mereka akan mendarat di Bandara Beijing Capital Internasional Airport yang berada di distrik Chaoyang. Sekitar 30 km dari pusat kota Beijing.


Alvan tentu saja sudah mengatur semuanya termasuk penginapan hotel. Tak mungkinlah mereka ikutan nginap di tempat Afisa. Rumah Afisa yang diberi pemerintah bukanlah rumah mewah namun cukup untuk keluarga kecil.


Alvan booking tiga kamar untuk keluarganya. Untuk sementara Afisa tidur dengan Afifa untuk nikmati sisa liburan sebelum masuk sekolah. Alvan sengaja pesan hotel berbintang lima yang bakal kuras kantongnya. Semua tak berarti di banding pengorbanan Citra selama ini.


Karin lebih banyak hambur uang Alvan tanpa perhitungan. Sejauh itu Alvan tidak pernah menegur Karin. Apalagi ini untuk liburan bersama. Alvan tidak merasa keberatan mengeluarkan bergembok-gembok uang demi kebahagiaan anak-anaknya.


Hotel yang dipilih berada dekat pusat kota agar gampang pergi ke mana-mana. Heru menolak tinggal di hotel karena dia ingin pulang ke rumah isterinya. Tujuan lelaki bertampang dewa Yunani itu tentu saja Afung. Alvan maklumi kerinduan Heru pada isteri. Mereka masih pengantin baru.


Alvan beri waktu pada keluarga untuk istirahat sejenak sebelum bergerak menuju ke rumah Afisa untuk menjenguk kedua orang tua Alvan dan orang tua Heru yang juga Oma opa Citra.


Alvan sudah kabari Pak Jono kalau mereka akan datang. Semoga saja Bu Dewi berubah setelah alami banyak cobaan. Petik pelajaran bagus dari beberapa kejadian tak menyenangkan. Citra sengaja tidak bongkar koper karena mereka tidak lama di situ. Hati Minggu mereka sudah harus balik tanah air. Waktu mereka cuma dua hari di sana.


Gibran satu kamar dengan Azzam sedang Afifa dengan Afisa. Masih ada waktu dua hari buat Afisa berkumpul dengan saudara. Selanjutnya dia akan kembali pada rutinitas belajar serta tekuni senam.


Heru dan Afung menjemput Alvan sekeluarga dengan mobil yang di beli Heru untuk isterinya. Alvan sendiri telah mengatur satu mobil lengkap dengan supir untuk antar jemput mereka selama di Beijing. Begitulah kehidupan para sultan. Sekali jentik jari semua beres. Cuma ada satu tak dapat Alvan beli yakni Citra dan anak-anak.


Mereka dibawa ke satu distrik sedikit jauh dari pusat kota. Hanya orang kaya bisa tinggal di daerah mahal. Rumah di tengah kota bisa menguras kantong hingga robek. Keluarga Chen mana sanggup beli rumah daerah elite berdasarkan isi kantong yang pas-pasan.


Rumah hadiah untuk Afisa berada di lantai tiga di salah satu apartemen. Bangunan itu cukup baru serta berada di daerah tenang. Jauh dari kebisingan kenderaan. Bangunan di kelilingi taman bunga serta pohon-pohon rindang. Tinggal di daerah itu cukup menyenangkan. Cocok untuk Bu Dewi yang sedang dalam perawatan dokter.


Afung mengetok pintu rumah dari plat besi dicat mirip motif kayu. Kalau tidak disentuh dengan tangan orang akan mengira itu pintu kayu.


Alvan menanti pintu terbuka dengan hati was-was. Bagaimana keadaan mamanya? Selama ini hanya dengar berita via ponsel. Kini ada kesempatan melihat langsung kondisi ibunya. Tak pungkiri Alvan rindu juga pada ibunya walau suka cari masalah.

__ADS_1


Pintu terbuka. Sosok yang sangat dikenal semuanya berdiri tercengang lihat siapa yang datang. Wajah perempuan paro baya itu kontan berhias senyum cerah.


"Buah hati Uyut..." seru Bu Sobirin nyaring.


Afifa maju duluan memeluk Uyut tersayang. Bu Sobirin menciumi pipi Afifa berkali-kali lepas rasa kangen. Afifa makin subur bikin Uyutnya gemas.


Satu persatu memeluk Bu Sobirin melepaskan rindu lama tak jumpa. Betapa senangnya Bu Sobirin melihat seluruh keluarganya berada dekat. Perempuan paro baya ini segera mempersilahkan mereka masuk ke rumah yang tidak terlalu besar. Dalam sekejap ruangan sesak oleh tamu.


Bu Sobirin segera memanggil pak Sobirin dan pak Jono untuk bertemu anak cucu. Dua lelaki tua tak kalah senang lihat kehadiran anak cucu lengkap datang menjenguk mereka. Pak Jono tak henti ucap syukur masih punya kesempatan jumpa anak cucu. Terpisah jauh membuat Bapak tua ini mulai hargai keturunan.


Masa lalu suram harus tutup ganti lembaran baru diisi kisah indah.


Citra mencari Nadine yang tidak kelihatan. Ke mana perawat kesayangan Untung itu. Sejauh mata memandang tidaklah tampak orang yang dimaksud.


"Lama di sini?" tanya pak Sobirin semangat.


Afifa lengket pada Oma Uyut saking kangen pada perempuan yang penyayang itu. Gadis kecil ini tidak segan-segan duduk di atas pangkuan sang Oma Uyut tanpa peduli sang Oma keberatan ditimpa tubuh gempalnya.


"Tidak...hari Minggu harus balik karena anak-anak sekolah." sahut Alvan senang lihat papanya telah sehat."Mama mana pa?"


"Ada dalam kamar bersama Nadine. Biar papa panggil!" pak Jono bangkit menuju ke salah satu kamar.


"Rencana mau ke mana? Ke Great Wall atau main di Istana Terlarang? Papa sudah pergi ke Istana Terlarang. Nyatanya sangat luas. Lihat peninggalan jaman dinasti raja." Pak Sobirin bercerita dengan semangat.


"Kau tahu banyak nak! Kapan kita bisa jelajahi seluruh negeri tirai bambu ini? Opa ingin sekali keliling seluruh daratan ini." angan pak Sobirin kagumi keindahan bumi negeri panda ini.


"Pasti ada...kalau sekitar sini anak-anak sudah kunjungi. Tempat favorit Koko adalah Yuanmingyuan Park kan?" Citra ingatkan Azzam tempat yang paling sering dia kunjungi sewaktu tinggal di Beijing.


Azzam tersipu malu ingat tempat yang banyak bebek. Banyak taman bunga serta kolam air. Pemandangan asri sejuk di mata.


"Wah cicit Opa ternyata banyak pengalaman di sini. Pintar dong bahasa Mandarin."


"Bukan pintar lagi opa Uyut. Itu bahasa kami sehari-hari di sini. Aneh kalau kami tak bisa bahasa sini." ujar Afifa tertawa renyah.


Pak Jono muncul dorong Bu Dewi keluar dari kamar di atas kursi. Wajah Bu Dewi jauh lebih dari dulu. Kini wajahnya tidak seperti mayat hidup lagi. Sudah ada rona merah sedikit.


Azzam dan Afisa langsung tegang lihat Oma mereka yang judes muncul. Kalimat sinis apa lagi akan meluncur dari mulut keriput itu.


Alvan segera hampiri Bu Dewi cium tangan. Citra juga lakukan hal sama tak mau ingat perlakuan Bu Dewi yang buruk.


"Apa kabar ma? Sudah sehat?" sapa Alvan lembut.


Bu Dewi angguk kecil seraya melirik Azzam dan Afisa. Untunglah tatapan mata Bu Dewi tidak sekejam dulu. Tidak ada delikan tajam bak mata pedang.


"Koko, Cece, Amei ayok salami Oma!" perintah Citra paham arti tatapan Bu Dewi.

__ADS_1


Azzam dan Afisa diam tak bergeming sementara si kecil dengan lincah turun dari pangkuan bu Sobirin menyalami mama Alvan. Dengan gerakan agak kaku Bu Dewi membelai kepala Afifa. Tampaknya Bu Dewi sudah sadar bahwa tak ada guna berseteru dengan cucu sendiri demi orang lain.


Azzam mencolek Afisa agar maju lakukan hal sama dengan Afifa. Alvan perhatikan tingkah kedua anaknya dengan hati sedih. Keduanya belum ikhlas menerima Oma mereka. Dalam hati masih tersimpan kenangan buruk atas sikap arogan Bu Dewi.


Citra melototi Azzam dan Afisa biar keduanya cepat bergerak. Azzam menunduk lantas maju beberapa langkah cium tangan Bu Dewi, Afisa tak punya alasan menolak. Gadis ini juga ikutan lakukan gerakan sama. Bu Dewi mengelus kepala kedua cucunya itu.


Untuk sementara telah tersepakati gencatan senjata sampai jangka tak ditentukan. Azzam dan Afisa kembali ke tempat semula dekat Gibran. Lajang ini tak sabar ingin nikmati keindahan kota Beijing. Datang ke Beijing hanya untuk silahturahmi doang sangat disayangkan.


"Mama belum bisa bersuara?" tanya Alvan pada pak Jono.


"Suara ada tapi agak serak. Menurut dokter syaraf suara mama kamu ada gangguan. Masih butuh waktu untuk pulihkan. Kita harus sabar. Mama sudah bisa jalan walau harus pakai tongkat." Pak Jono memaparkan perkembangan kesehatan isterinya.


"Itu butuh waktu cukup lama. Kita harus yakin bisa pulih. Mama harus semangat. Kita lawan bersama penyakitnya."


Nadine keluar dari dapur bawa minuman. Sesuai tradisi sini yang sangat hargai teh, setiap tamu pasti disuguhi hidangan teh. Nadine ikuti tradisi sini hidangkan teh untuk anak cucu dua keluarga.


Citra senang lihat Nadine tampak lebih sehat dan putih. Ternyata tinggal di Beijing bisa membuat kulit lebih putih bersih. Untung pasti senang lihat pacarnya sehat dan pasti tambah cantik.


"Wah Tante Nadine...cocok jadi orang Tiongkok!" olok Azzam sambil tertawa lihat Nadine jadi kinclong.


"Awas kau anak kecil..." rengut Nadine tak urung tersipu walau yang puji anak kecil. Justru perkataan anak kecil lebih bisa dipercaya karena anak kecil biasanya jujur.


"Lha Koko omong apa adanya! Kalau cantik ya cantik! Masak harus bilang jelek. Dosa lho!"


"Dasar anak kecil..." Nadine segera menghindar agar tidak makin jengah. Nadine masuk ke dapur menyimpan nampan.


Citra ikut ke dapur untuk ngobrol sejenak dengan teman sekaligus anak buahnya di rumah sakit. Citra mau tahu perkembangan kesehatan Bu Dewi selama dalam perawatan.


"Kak Nadine..." panggil Citra.


Nadine sudah duga Citra akan ajak dia ngobrol. Ada rasa kangen pada Citra berpisah sekian lama. Di mata Nadine Citra makin berminyak dan tambah cantik. Orang bahagia pasti akan tunjukkan wajah cerah. Cerah auto menarik.


"Betah di sini?"


"Kehidupan sini menyenangkan. Tetangganya ramah dan baik, lingkungan juga baik. Sebaik apapun di sini tanah air tetap lebih baik. Ada jumpa ibu?"


"Tidak...banyak sekali masalah. Tak henti terpa aku! Ntah kapan semua akan reda! Kadang aku lelah tapi ingat anak-anak aku harus kuat. Kelak aku akan ceritakan semuanya. Gimana kesehatan mertua aku?"


"Banyak kemajuan namun ada satu kabar buruk." Nadine melirik kiri kanan takut di dengar orang. Citra ikutan lirik padahal belum tahu isi kabar buruk.


"Apa?" tanya Citra berbisik.


"Pita suara Bu Dewi rusak. Ada kerusakan pada sentral di otak. Coba besok kau bicara dengan dokternya!"


Citra mengangguk paham. Citra buat tanda di mulut agar Nadine tidak usah bahas masalah suara Bu Dewi yang kena imbas stroke. Citra menduga syaraf yang mengirim signal ke laring (kotak suara) terjadi kerusakan sehingga suara Bu Dewi jadi macet.

__ADS_1


__ADS_2