ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Balik Rumah Sakit


__ADS_3

Heru dan ibunya meninggalkan rumah sakit untuk memberi Citra waktu laksanakan tugas sebagai dokter. Pekerjaan dokter tidak memandang siapa yang harus ditolong. Setiap orang datang berobat adalah tamu Citra. Dia wajib ulurkan tangan membantu orang sakit tanpa perlu tahu statusnya.


Citra pergi ke bagian informasi cari tahu di kamar mana Pak Jono dirawat. Citra persiapkan mental berjumpa dengan mantan mertuanya. Tidak gampang bagi Citra berjumpa dengan mantan mertua seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu. Ditambah Alvan telah bercerita tentang perselingkuhan Pak Jono dengan Karin. Ada sesuatu mengganjal di hati Citra. Sangat tidak pantas seorang bapak berkhianat dari anak sendiri apapun alasannya. Tampaknya Pak Jono sedang menuai karma yang telah dia tanam. Citra tidak dapat membayangkan kalau hasil tes HIV Pak Jono positif. Dunia keluarga Lingga akan segera runtuh.


Dengan langkah tidak pasti Citra menuju ke ruang rawat Pak Jono di di kawasan super VIP alias VVIP. Alvan walaupun membenci papanya tetapi dia tetap melaksanakan kewajiban sebagai seorang anak. Urusan dendam di hati di belakang kan Pak Jono adalah ayah kandung Alvan.


Citra kembali ke lorong di mana Afifa pernah dirawat. koridor ruang VVIP tetap sunyi senyap karena pasiennya tidak banyak. Mungkin hari itu cuma Pak Jono yang dirawat di situ.


Citra tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruang rawat Pak Jono karena Alvan telah duluan membawa kedua anaknya menemui opa mereka. Bagaimana reaksi Pak Jono mengetahui dia telah mempunyai cucu yang cantik-cantik tidak terbayang dalam pikiran Citra. Mungkin kaget mungkin juga marah. Cepat atau lambat semua ini tetap akan terjadi. Azzam dan Afifa tetap harus menemui keluarga kandungnya.


Citra berdiri di depan pintu ruang rawat Pak Jono sejenak. Ada keraguan terbesit di hati wanita ini. Sanggupkah Citra bertatap muka dengan seorang lagi dari keluarga Lingga.


Akhirnya Citra bulatkan tekad menemui Pak Jono. Tidak datang sebagai menantu Citra juga mempunyai kewajiban sebagai seorang dokter.


Citra mengetuk pintu perlahan dipenuhi sejuta keraguan. Tubuh Citra sedikit bergetar membayangkan kejadian yang bakal muncul setelah dia berhadapan dengan Pak Jono.


Pintu kamar digeser ke sebelah kanan menampilkan sosok tinggi besar yang tak lain adalah Alvan. Alvan menggeserkan tubuh ke belakang agar citra bisa masuk ke dalam dengan leluasa. Sosok mungil Citra akhirnya berpindah ke dalam ruangan.


Netra Citra menangkap satu sosok tak berdaya terbaring di brankas rumah sakit. Sosok itu nampak kurus dan pucat. Sangat berbeda dengan Pak Jono yang 10 tahun lalu.


Pak tua itu masih tertidur akibat obat yang diberikan oleh dokter sebelum penerbangan. Para dokter memberi obat penenang agar pasien tidak stres melakukan perjalanan jauh dalam kondisi tidak sehat.


"Tidur dari tadi Pak?" tanya Citra dengan suara kecil.


"Iya belum bangun dari tadi!"


"Koko dan Amei duduk tenang saja ya! Opa masih tidur..." Citra berkata kepada kedua anaknya yang duduk manis di bangku sofa. Keduanya tidak rewel menambah keruwetan kedua orangtuanya. Mereka berdua betul-betul anak manis.


"Iya mi!" sahut Azzam yang lebih dewasa. Afifa memilih berdiam diri tak suka berada di tempat dia pernah dikurung berhari-hari.


"Aku akan ambil riwayat penyakit papa dari suster agar ada perbandingan. Tunggu sini saja!"'


"Iya..." Alvan mengangguk kecil


Citra keluar lagi mencari perawat untuk minta semua catatan medis pak Jono. Sebelum melakukan pengobatan Citra ingin tahu hasil diagnosa dokter Jogja. Apa saja yang telah diberikan oleh dokter sana pada Pak Jono. Citra harus pelajari dengan jelas agar tak ada kesalahan.


Citra kembali bersama seorang perawat. Di tangan Citra telah ada rekap catatan dari dokter yang pertama merawat pak Jono. Citra pelajari semua catatan agar bisa lebih detail mengobati sakit mantan mertuanya.


Alvan menanti laporan Citra mengenai kondisi terkini pak Jono. Pak Jono memang tak pantas menjadi bapak maupun mertua karena sifat bejadnya. Seharusnya Alvan membenci lelaki itu namun di balik semua ini ada hikmahnya. Kedok busuk Karin terbuka dan Alvan menemukan kebahagiaan yang seharusnya dia miliki sejak dulu.

__ADS_1


"Sus...kita scan kepala pasien sekali lagi karena hasilnya di sini kurang akurat. Cek lab lengkap." Citra memberi perintah pada perawat untuk cek ulang kondisi Pak Jono. Citra lebih yakin pada hasil cek lab Rumah Sakit sini karena peralatan rumah sakit ini lebih lengkap dari rumah sakit yang pertama kali mengobati Pak Jono.


"Iya bu dokter segera dilaksanakan!" perawat itu pun pergi keluar untuk memanggil rekannya untuk cek ulang seluruh kesehatan Pak Jono.


Berdasarkan catatan medis tidak ada pembuluh darah yang pecah melainkan hanya tersumbat. Namun Citra tidak mau lengah ingin memastikan segalanya lebih akurat makanya dilakukan cek ulang.


Alvan yang tidak mengerti apa-apa soal pengobatan hanya bisa berdiam diri menanti semua tindakan Citra. Alvan menaruh harapan pada istrinya itu. Semoga saja tangan dingin Citra mampu mengobati Pak Jono hingga pulih kembali.


Sambil menunggu kehadiran perawat Citra duduk diantara anak-anaknya. Bersama anak-anak segalanya terasa lebih mudah. Anak-anak adalah sumber kekuatan daripada Citra. Citra bertahan sampai hari ini semua berkat kehadiran Azzam dan Afifa dalam kehidupan Citra.


"Ssssttt...Cit...lakukan test HIV juga ya!" bisik Alvan takut terdengar Azzam. Kalau didengar Afifa tidak jadi masalah karena Afifa tidak berpikir jauh tentang percakapan kedua orang tuanya. Justru Azzam menjadi sumber dari segala masalah. Anak itu terlalu kritis, otaknya takkan lelah memikirkan setiap gerak-gerik kedua orang tuanya.


"Iya pak! Aku akan menambahkan test itu!" balas Citra tak kalah kecil. Sekilas keduanya mirip pasangan sedang berbisik-bisik mesra. Afifa sangat senang melihat keakuran kedua orang tuanya. Itu adalah harapan terbesar dalam hidup Afifa. Memiliki kedua orang tuanya secara utuh.


Sesuai perintah dari Citra, Pak Jono di Sorong keluar menuju ke ruang scan untuk melihat penyumbatan pembuluh darah di kepala Pak Jono. Citra juga menambahkan beberapa catatan yang harus dicek ulang dari catatan medis Pak Jono. Tak lupa Citra menambahkan tes HIV sesuai permintaan Alvan.


Sebagai dokter dan juga sebagai mantan menantu Citra sangat berharap Pak Jono terhindar dari penyakit turunan Karin. Citra harus memisahkan masalah pribadi dengan tugas.


Sekarang ruangan telah kosong dari pasien. Tinggallah keluarga kecil Alvan menanti hasil dari diagnosa penyakit Pak Jono. Kedua anak Citra duduk manis tidak merepotkan kedua orang tuanya dengan merengek. Andai anak kecil lain dibawa ke tempat begini pasti akan berulah. Minta ini itu memusingkan orang tuanya.


"Pak..." panggil Citra pada Alvan.


Alvan yang lagi galau menoleh ke arah Citra mencari tahu apa yang akan dikatakan oleh istrinya itu. Citra boleh selalu mengatakan bahwa dia adalah mantan istri Alvan. tapi secara hukum Citra sah istri Alvan. Itu yang tidak akan berubah sampai kapanpun.


Alvan malas berdebat di depan anak-anak memilih mengalah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Alvan keluar dari ruang rawat Pak Jono menunjuk ke satu tempat yang hanya diketahui oleh Citra dan Alvan.


Citra tersenyum kecil melihat kepatuhan Alvan. Mengapa Citra tidak menyadari sebenarnya Alvan itu orangnya baik cuma lelaki ini telah dibutakan oleh Cinta pertamanya. Citra sedikitpun tidak menyalahkan Alvan soal perasaannya pada Karin. cinta tulus itu adalah sesuatu yang universal yang tak bisa dibeli dengan dengan segunung uang walaupun ataupun sekarung emas permata. Cinta itu merdeka. Dia datang tanpa diundang bertamu di hati manusia yang memiliki perasaan.


Di tempat lain Alvan berjalan dengan perasaan tidak menentu karena akan menjumpai Karin. Apa reaksi Karin melihatnya? sudah berhari-hari Alvan tidak menjenguk Karin karena marah besar pada perempuan itu. Kebohongan dan penghianatan Karin telah melukai hati Alvan. Namun lelaki ini tak berdaya, bagaimana jeleknya Karin dia telah mendampingi Alfan hampir 10 tahun ini.


Tetapi ego seorang lelaki tidak akan memaafkan perselingkuhan dan pembohongan besar-besaran yang dilakukan oleh Karin. Harga diri Alvan sangat terluka atas perbuatan Karin. Alvan telah menetapkan hati tidak akan menceraikan Karin tetapi tidak akan bersama dengan perempuan itu lagi. Dia akan membiayai seluruh hidup Karin tetapi tidak akan masuk dalam hidup Karin.


Alvan tidak mengetuk pintu kamar ruang rawat Karin. Lelaki ini langsung masuk ke dalam untuk melihat bagaimana kondisi perempuan yang pernah dia cintai itu. Seburuk apapun kondisi Karin tidak ada rasa iba di hati Alvan. Semua ini adalah permintaan tubuh Karin sendiri. Dikasih hati masih mau minta jantung. Karin terlalu serakah.


Begitu pintu ruang rawat Karin terbuka tampaklah Iyem duduk termenung di sofa sedangkan Karin sedang memainkan ponsel di atas brankas. Tampak jelas kebosanan di wajah Iyem menjadi tawanan tak langsung rumah sakit.


Karin meletakkan ponselnya di samping tempat tidur begitu melihat Alvan masuk. Harapan Karin untuk melihat Alvan terwujud sudah. Karin memang berbuat salah, Karin tidak akan mengingkari semua kesalahannya. Namun cintanya pada Alvan adalah cinta tulus. Kehidupan sosialita yang penuh kegelaran telah menutup hati Karin kenyataan bahwa dia seorang istri dari seorang pengusaha kaya raya. Karin terlalu pede pada cinta Alvan. Yakin Alvan tidak akan pernah berpindah hati. Berbekal keyakinan ini makanya Karin berani berbuat semena-mena sampai lupa bahwa dia mempunyai seorang suami yang baik. Kini Karin menyesali semua yang telah terjadi sayang segalanya telah terlambat.


Penyesalan memang selalu datang di kemudian. Hanya saja tidak ada kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Yang telah berlalu tetap menjadi kenangan buruk.

__ADS_1


"Alvan... kamu sudah datang?" sapa Karin dengan nada rendah.


Alvan perlihatkan sikap dingin tidak terlalu menanggapi Karin. Alvan ingin Karin tahu bahwa dia juga mempunyai amarah dan emosi.


Iyem yang menyadari kehadiran Alvan segera bangkit dari sofa membungkuk memberi hormat pada Alvan. bertubuh sehat ini senang melihat kehadiran bosnya. iam selalu mengagumi sosok Alvan sebagai idola.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Alvan dengan nada datar. Alvan berdiri agak jauh dari Karin tidak berniat menyentuh istrinya itu. Mengapa Alvan merasa jijik pada Karin. Alvan jijik bukan karena penyakit Karim melainkan membayangkan bagaimana Karin bergumul dengan lelaki lain di tempat tidur.


"Sudah lumayan...aku ingin pulang! Aku merindukan rumah." Karin sengaja tak mengungkit pertengkaran mereka terakhir. Kini Karin sudah terjatuh, tak ada keangkuhan melawan Alvan. Semua kesalahan memang berawal dari kesombongannya sendiri.


"Maaf Karin...kau boleh pulang tapi aku takkan pulang ke sana lagi! Kau nikmati statusmu tapi jangan harap aku akan seperti dulu biarkan kamu berbuat sesuka hati!"


Wajah Karin berubah pucat ditekan Alvan secara kontan. Iyem tak kalah kaget dengar kata-kata Alvan kepada nyonya Karin. Iyem mana tahu apa yang terjadi pada Karin. Termasuk semua kesalahan fatal Karin. Alvan bukan orang berhati busuk membuka borok pasangan sendiri.


"Apa karena dia?" lirih Karin menyadari dia telah terhapus dari relung hati Alvan.


"Bukan tapi karena kamu! Kamu yang merubah aku!"


"Kau sudah jumpa dia?"


Alvan bukan orang bodoh tak tahu siapa dia yang dimaksud Karin. Tujuan Karin tentu saja Citra. Citra telah bercerita dia telah jumpa Karin maka otomatis Karin tahu Citra berada di dekat Alvan.


"Sudah...aku akan rujuk dengannya!"


"Dia pasti setuju kan? Siapa tidak tergiur posisi maha ratu tahta kerajaan Lingga?"


Alvan menggeleng. Karin besarkan mata tak percaya Citra menolak kembali bersatu dengan Alvan. Apa Citra telah punya keluarga baru hingga tidak menerima Alvan.


"Dia menolak aku. Tapi aku yakin suatu saat dia akan luluh. Dia tak banyak berubah selain makin dewasa."


Karin tertawa sinis Alvan memuji Citra. Karin tidak menampik kata Alvan tentang Citra. Si mungil itu makin cantik dengan kedewasaan tulen. Karin malah minder melihat Citra demikian wibawa dengan seragam dokternya.


"Dia sudah kawin lagi?"


"Tidak...dia setia sampai detik ini! Dia merasa masih terikat perkawinan karena kami belum cerai secara sah. Itulah perbedaan kamu dan dia!"


"Kau yakin dia setia? Di belakangmu lempar ****** ***** pada laki lain kau juga tak tahu. Berapa lama kalian berpisah? Aku tak percaya dia bertahan hidup tanpa laki."


"Aku percaya padanya! Dia tahu di mana dia harus berdiri dan tempatkan posisi. Bukan melempar diri pada lelaki hidung belang! Jadi jangan karang cerita berdasarkan versi kamu! Apa kamu pikir semua wanita mirip kamu tidak beriman? Citra itu ngerti agama, tahu yang namanya dosa." Alvan membela Citra berdasarkan fakta yang dia lihat.

__ADS_1


"Maafkan aku Alvan! Kita bisa mulai dari hidup baru! Kau boleh bersama Citra lagi tapi yang adil pada kami!" Karin memilih mengalah karena semua yang terjadi memang murni kesalahan darinya.


Alvan marah itu wajar. Namun Karin yakin Alvan punya sejuta maaf untuknya.


__ADS_2