ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Misi Selamatkan Mama


__ADS_3

Alvan tenang bisa percayakan mamanya pada Amang di Kalimantan. Sekarang langkah Alvan lebih mulus habisin pengkhianatan Karin dan papanya. Pak Jono papa Alvan tetap saja berdosa telah berhubungan intim dengan menantu apa pun alasan. Masih pantaskah pak tua itu menyebut diri orang tua dari anak semata wayang. Alasan klasik soal penerus keturunan berbuat zinah. Itu bukan alasan tepat. Alvan masih punya kesempatan walau harus berobat. Toh tak perlu ekstrem melakukan hubungan terlarang dengan menantu.


"Terima kasih amang! Usahakan secepatnya jemput mama. Alvan kuatir kalau mama lama di sini. Kita tak tahu apa rencana dua manusia busuk itu."


"Yang sabar ya nak! Badai akan berlalu asal kamu kuat. Jangan patah arang! Ingat...kamu masih punya anak-anak yang harus kamu ayomi. Mereka butuh papa tegar. Usahakan nikahi Citra lagi! Amang yakin dia wanita baik bisa bertahan sekian lama untuk rawat anakmu."


"Insyaallah mang! Citra terlanjur sakit hati padaku! Apa pun keputusannya harus kita terima. Alvan memang salah telah berbuat tak adil padanya. Bertumpuk hutang Alvan pada Citra."


"Kalau gitu bayarlah! Bayar plus bunganya. Amang dukung kamu!" Om Khoirul kasih spirit pada Alvan maju rebut cinta Citra. Tak ada wanita lebih baik selain ibu dari anak kandung sendiri. Merengkuh anak-anak sekaligus induknya. Om Khoirul yakin itulah landasan kebahagiaan Alvan.


"Iya mang! Alvan akan usaha. Alvan matiin ponsel dulu. Masih ada tugas kantor. Secepatnya amang hubungi mama."


"Iya nak! Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." hubungan terputus. Hati Alvan terasa kosong. Begitu banyak surprise datang mendadak. Yang membahagiakan hanya jumpa anak dan mantan isteri selebihnya berita duka.


Alvan masih tak habis pikir betapa hebatnya rencana Karin ingin menguasai harta keluarga Lingga. Segala upaya jahat muncul di benak kotor wanita itu. Termasuk jerat papanya. Kenapa mata hati Alvan buta tak bisa bedakan sampah dan berlian. Penyesalan menyakitkan.


Semangat untuk bekerja pupus dari hati Alvan. Pikirannya kacau tak sanggup berpikir waras. Sedih dendam campur aduk dalam hati. Alvan butuh terapi memulihkan seluruh organ tubuh yang koyak oleh kelakuan dua orang yang dia sayangi.


Benak Alvan teringat pada Afifa. Gadis kecilnya yang imut. Senyum Afifa mampu dinginkan kobaran api di dada. Alvan harus ke rumah sakit jumpa anak-anak yang pasti sudah berkumpul. Alvan lakukan semua ini untuk cari rasa tenang di batin.


Alvan beri pesan pada sekretarisnya untuk tangani pekerjaan hari ini. Alvan akan minta Untung balik kantor bantu Wenda. Wenda sendirian takkan mampu handel berbagai tantangan pekerjaan berat. Tetap Untung lebih piawai karena lama ikut Alvan.


Alvan gunakan mobil kantor menuju ke rumah sakit. Mobil pribadi Alvan dipakai Untung jemput Azzam dari sekolah. Biarlah anaknya mulai nikmati hasil keringat papinya! Azzam dan Afifa sudah cukup lama hidup sederhana di bawah asuhan mami jempolan. Kedua anak itu tahu diri tak menuntut ini itu dari Citra. Kedua anak itu ngerti Citra tak mudah kais rezeki untuk penuhi kebutuhan hidup. Makanya mereka tak berani minta kemewahan.


Alvan melarikan mobil tembus kemacetan jalan raya. Tujuan Alvan hanya satu jumpa Afifa dan Azzam. Obat penawar luka. Detik ini hanya kedua anak itu yang berharga bagi Alvan. Citra seperti belut licin susah ditangkap. Butuh tenaga ekstra untuk pancing belut itu masuk perangkap. Alvan tak boleh patah semangat. Pantang mundur demi masa depan lebih cerah.


Butuh waktu hampir satu jam baru Alvan capai rumah sakit. Berada di situ badan Alvan terasa segar tak tertimpa beban berat lagi. Alvan harus lupakan kepedihan demi anak-anak.


Alvan seret langkah langsung ke ruang VVIP di mana Afifa di rawat. Seperti biasa koridor sepanjang ruang sepi tanpa ada orang lalu lalang. Pasien di ruang mahal itu cuma Pak Heru dan Afifa. Afifa bisa dirawat di situ berkat kekuasaan Alvan. Harap Citra bayar biaya jutaan semalam mana sanggup bayar. Bisa dirawat di sal kelas dua sudah puji syukur.


Alvan geser pintu sembulkan tubuh besarnya. Kehadiran Alvan menarik perhatian penghuni ruang itu. Mata Afifa kontan bersinar melihat idola barunya muncul. Dari tadi Afifa harap Alvan datang kawani dia makan siang walau masih bubur ayam. Makan bersama pujaan rasanya berbeda. Pahit bisa berubah manis.


Untung dan Nadine agak canggung lihat bos besar hadir antara mereka. Acara makan bersama berubah kaku, tawa riang hilang seketika. Semua tutup mulut enggan bicara. Hanya Afifa gembira jumpa Alvan. Mata bening Afifa berkilauan nyatanya bahagia.


"Papi..." seru Afifa nyaring.


Alvan segera dekati Afifa beri kecupan mesra di pipi. Tangan mungil Afifa meraup muka Alvan mendekati pipinya tak ingin berpisah.

__ADS_1


"Sudah makan sayang?" tanya Alvan lembut.


"Sudah disuap Koko. Bilangnya papi sibuk."


"Tadi sibuk...ini sudah datang! Sudah enakan?"


Afifa mengangguk cepat."Sudah..kita pulang ya! Amei pingin cepat naik kereta api."


"Belum boleh pulang tanpa ijin dokter. Sayang papi sabar dulu ya!"


"Mami kan dokter. Ijin sama mami saja! Boleh kan mi?" Afifa bertanya polos tanpa ngerti pembagian tugas para dokter. Afifa tak ngerti kalau Citra bukan dokter khusus anak. Semua sama di mata Afifa.


"Mami kan dokter bagian syaraf! Amei ada dokter lain. Sekarang Amei sabar tunggu hasil lab." sahut Citra tanpa menatap anaknya. Citra sibuk habiskan makanan di bawa Untung. Mubazir kalau dibuang. Setiap butir beras mesti dapat penghargaan. Itu hasil jerih payah pak tani. Menantang hujan badai, dijemur sinar matahari. Pak Tani lalui dengan ikhlas demi perjuangkan butiran padi.


"Nah...Afifa dengar nasehat mami! Kita pasti pulang." bujuk Alvan tetap lembut pada Afifa. Kelembutan Alvan makin mendapat tempat di hati Afifa.


"Iya Pi..." sahut Afifa loyo namun tak berani bantah. Didikan bagus dari Citra. Anak patuh tak menyusahkan.


Mata Alvan melirik Azzam yang sibuk dengan ayam goreng bagian paha. Azzam makan tak ubah orang baru keluar dari penjara. Kelaparan di kurung di sel tahanan. Dapat ransum makan sedikit tak enak.


"Azzam suka ayam goreng? Papi pesan lagi?" tawar Alvan mau curi kasih Azzam.


"Jangan terlalu kekang anak-anak Citra! Sekali-kali kita harus dengar apa keinginan anak." Alvan membela anak-anak supaya bisa bebas suarakan isi hati. Terlalu mengekang juga tak baik. Membatasi anak lakukan hal tak pantas memang bagus cuma harus dilihat apa keinginan anak. Bagi Alvan selama permintaan mereka positif tak jadi soal.


Azzam mendehem setuju pada omongan Alvan. Citra terlalu protek mereka dengan sejuta aturan. Afifa dan Azzam anak baik tak pernah melawan walau dalam hati ingin rasakan kebebasan layak anak lain.


Azzam tak berani terangan dukung kata-kata Alvan takut melukai mami terbaik mereka. Azzam bukan anak bodoh tak tahu pengorbanan Citra pada mereka. Kehadiran Alvan membuka pintu menuju freedom terbatas. Kali ini Azzam suka pada kebijakan Alvan. Rasa sebal pada Alvan berkurang secuil. Boleh dibilang segede debu terbawa angin. Masih kecil.


"Jangan racuni anakku dengan ocehan tak bermutu!" rengut Citra tak senang Alvan masuk wilayahnya. Alvan belum berhak buat keputusan terhadap hidup anak-anaknya. Alvan baru muncul mau sok pahlawan bagi anaknya. Citra takkan ijinkan Alvan menguasai Azzam maupun Afifa. Mereka boleh kenal Alvan sebagai papi tak bukan sebagai pedoman masa depan. Alvan tak punya hak apapun.


"Mereka juga anakku! Mana mungkin aku jerumuskan anak sendiri. Cuma anak-anak sudah gede pasti punya keinginan hati. Itu harus kita hormati." Alvan berusaha lunakkan hati Citra agar jangan keras pada kedua buah hatinya.


Untung dan Nadine saling berpandangan saksikan perdebatan kecil antara suami isteri. Mereka yang berdebat kedua asisten itu yang malu. Mereka seperti penonton sedang nonton drama keluarga. Keluarga kecil berdebat cara asuh anak yang benar.


Nadine beri kode pada Untung keluar dari kamar Afifa beri ruang pada keluarga itu untuk menyatukan visi. Berkompromi bukanlah hal gampang dalam dua otak berbeda. Satu otak saja kadang bisa muncul perbedaan pandangan. Ini apalagi dua sosok manusia bersifat saling tolak belakang.


Kini ruangan itu hanya dihuni keluarga inti Alvan. Alvan, Citra dan kedua bocil Citra. Afifa dan Azzam tak berbunyi kasih kesempatan pada kedua orang tuanya saling adu mulut. Satu mengekang dan satunya lagi pencinta kebebasan. Kedua bocil Citra mau tahu siapa lebih kuat pertahankan ego masing-masing. Sejujurnya kedua anak itu harap Alvan tampil jadi juara. Mereka akan dapat sedikit kelonggaran menyuarakan isi hati.


"Aku lebih kenal anakku. Mereka anak manis patuh sama mami. Ya kan anak-anak?" Citra bertanya sambil lontarkan tatapan intimidasi pada kedua bocil itu. Keduanya angguk kecil tak berani membantah.

__ADS_1


"Sayang...patuh pada mami itu bagus. Artinya kalian anak baik tapi papi harap kalian berani bersuara katakan keinginan hati. Semua boleh asal tidak melanggar ajaran mami. Kita semua berhak katakan baik buruk. Setuju?"


"Setuju..." koor dua bocah kayak paduan suara. Alvan tersenyum penuh kemenangan dapat tanggapan baik. Artinya kedua anak itu dukung Alvan beri kebebasan bersuara.


"Kalian boleh minta apa saja asal yang berguna. Papi akan sebisa meluluskan permintaan anak-anak papi. Tapi ingat! Yang positif!"


"Amei ingin naik kereta api dan es krem." seru Afifa tak malu-malu.


"Naik kereta api ok tapi es krem belum boleh. Sayang papi Kan belum sembuh benar. Papi janji kalau Afifa sudah sehat papi yang akan antar Afifa beli es krem."


"Hoorree...Amei naik kereta api. Koko ikut ya!" sorak Afifa tak bisa sembunyikan rasa bahagia. Citra buang muka lihat kegembiraan Afifa. Banyak hal tak bisa dilakukan Citra mengingat kondisi keuangan. Mereka hidup pas-pasan karena biaya pendidikan kedua anak itu sangat berat. Alvan datang bawa kemakmuran buat kedua anak. Keduanya mana bisa tolak.


"Jagoan papi mau apa?" tanya Alvan pada Azzam. Lajang itu menggeleng tak menuntut apa pun. Sungguh anak pengertian. Kecil-kecil sudah tahu arti perjuangan seorang ibu besarkan mereka. Azzam mana berani tuntut sesuatu.


"Ok...katakan pada papi kalau jagoan papi butuh sesuatu! Kalian punya papi yang sayang pada kalian."


"Sayang model apa?" si lidah tajam keluarkan jurus semut gigit gajah. Cabe rawit bikin orang kepedasan.


"Dulu papi tak tahu ada kalian. Sekarang papi jumpa kalian, papi ingin bayar waktu yang terbuang. Kita akan bersama selamanya. Papi janji takkan tinggalkan kalian lagi." ikrar Alvan sungguh hati. Alvan mau Azzam lihat betapa dia menyesal telah buta oleh cinta konyol.


"Jangan berjanji bila ragu Om!" sinis nada bicara Azzam.


"Kok om? Aku ini papi kalian. Suami mami kalian. Tanya mami kalau Azzam ragu! Papi tak ragu berjanji karena kalian sangat berarti bagi papi." Alvan mengelus pipi Afifa terbawa perasaan. Suasana hati Alvan agak membaik setelah jumpa Afifa. Obat penawar racun paling manjur.


Azzam tak kunjung jawab maupun bertanya pada Citra. Azzam bukan tak tahu Alvan papi kandungnya. Azzam tak mau gampang akui Alvan untuk bela harga diri Citra yang pernah terluka. Azzam bukan anak bodoh tak paham kondisi.


Citra bereskan meja bekas makan mereka. Azzam masih cubit sisa daging ayam di tulang. Kelihatannya Azzam sangat suka ayam goreng crispy tersebut. Cuma sayang Citra batasi anaknya konsumsi makanan yang katanya tak sehat. Hati Alvan terenyuh lihat betapa lahap putranya kunyah sisa daging. Andai tak ada Citra mungkin Alvan akan order beberapa potong lagi untuk Azzam.


Alvan takut kena tendangan pinalti Citra. Sekali tendang masuk gawang. Hancur Alvan diserang bola setan Citra.


"Ko...cuci tangan gih! Mami mau lihat pasien baru sebentar. Koko jaga Amei ya!" Citra cuci tangan di wastafel lantas bersiap laksanakan tugas sebagai dokter. Memang bukan tugas Citra. Dokter Rahma minta tolong Citra lihat kondisi pasien biar ada teman diskusi. Sesama dokter saling beri masukkan untuk kesembuhan pasien.


"Pergilah! Aku akan jaga anak-anak. Percayalah padaku!" Alvan yang nyahut bukan Azzam.


"Terima kasih." Citra keluar tanpa bawa tas. Rencana Citra hanya bantu dokter Rahma observasi pasien baru itu. Citra belum tahu kondisi pasien sebab belum turun ke bawah di ruang IGD.


Alvan tersenyum ramah setelah Citra pergi. Tujuan menyenangkan kedua anaknya bisa terealisasi. Alvan sudah minta Untung beli tablet dan ponsel untuk Afifa dan Azzam. Kini saatnya beri ponsel pintar pada kedua anaknya.


Alvan minta Untung masuk setelah Citra pergi. Laki gempal itu masuk sambil tenteng dua paper bag warna hitam. Satu agak lebar dan satunya lebih kecil. Dari tadi Untung jaga barang itu cari kesempatan kasih kepada Afifa dan Azzam. Pas pula yang beri hadiah ada di sekitar. Lebih afdol serah langsung pada penerima.

__ADS_1


Untung serahkan kedua paper bag pada Alvan untuk diteruskan pada Azzam dan Afifa.


__ADS_2