
Dibentak dengan sangat keras oleh Alvan Hakim mundur beberapa langkah ke belakang. Wajah Hakim berubah pucat pasi kena sidak mendadak oleh Alvan.
"Aku tak mengerti maksud Pak Alvan. Rasanya tidak ada uang perusahaan yang keluar tanpa sepengetahuan bapak. Semua tercatat secara jelas di data komputer." Hakim masih mencoba membela diri. Suaranya agak mengecil dan terbata-bata.
"Mungkin kamu sudah terlalu nyaman mengambil uang perusahaan tanpa tertangkap basah. Aku punya bukti bahwa file penerimaan ada tetapi di dalam data komputer uang sebesar itu tidak ada. Memangnya uangnya ada kaki sehingga lari ke luar negeri? Aku akan mengundang auditor untuk audit semua pembukuan kita dari tahun kemarin sampai tahun sekarang. Kita lihat seberapa banyak uang yang telah kau keluarkan tanpa sepengetahuan aku!"
"Pak itu sangat tidak mungkin. Setiap pengeluaran harus ada tanda tangan bapak. Aku mana mungkin mengeluarkan dana perusahaan tanpa persetujuan dari pimpinan."
"Baik kalau kau ngomong gitu! Jadi uang yang 200 miliar dari Kalimantan itu dicairkan ke rekening siapa? Aku belum pernah mengeluarkan dana sebesar itu."
Hakim menunduk tidak bisa menjawab. Tampaknya lelaki ini mengetahui ke mana aliran dana sebesar itu. Cuma lelaki ini takut untuk mengatakan sesuatu. Dari sikap Hakim ada yang sangat mencurigakan.
"Kau tak menjawab juga tidak apa. Persoalan ini akan kuserahkan pada yang pihak yang berwajib. Kita lihat siapa saja yang akan menjadi penghuni hotel gratis!" ujar Untung dengan nada sinis. Untung sudah tidak sabar menghadapi sikap Hakim yang sok suci.
Wenda yang telah mengaku terlibat tidak berani mengeluarkan kata apapun. Dia hanya pion kecil yang digerakkan oleh penguasa. Wenda telah siap menerima segala konsekuen dari kebodohannya mengikuti permainan para maling perusahaan.
"Kau tak mau mengaku ya sudah. Kita telepon pihak kepolisian untuk menyelidiki kasus ini." Alvan sengaja menyerah tidak ingin memperpanjang masalah. Biarlah pihak hukum yang akan menyelidiki kasus ke mana larinya uang perusahaan selama ini.
"Kurasa memang lebih bagus begitu Pak! Hukuman 20 tahun penjara tidak akan lari daripada koruptor."
Mata Hakim terbelalak mendengar beratnya hukuman bagi tikus perusahaan. Tinggal di perusahaan tapi menggerogoti isi dari tempat dia mencari. 20 tahun bukan waktu yang singkat untuk dilewati. Masuk dalam kondisi sehat pulangnya tinggal tulang belulang.
"Pak Alvan...aku ngaku..." kata Hakim dengan gemetaran. Mungkin dengan menyerah Pak Alfan akan mempertimbangkan semua kesalahannya. Hakim tak menyangka tangannya yang terlanjur panjang dapat ditangkap oleh Alvan.
"Ngaku apa? Bukankah kamu mengatakan tidak tahu apa-apa?" bentak Untung ingin rasanya merobek wajah rekan kerjanya itu. Kebaikan Alfan disalahgunakan oleh pegawai berhati licik macam Hakim.
"Aku mengaku kalau semua ini rancangan Bu Selvia. Wenda juga terlibat dalam hal masalah ini. Hanya kami bertiga yang terlibat. Uang 200 miliar itu aku mendapat jatah 30 miliar. Sisanya ditransfer ke rekening Selvia. Kudengar Bu Selvia gunakan uang itu untuk membeli saham perusahaan ini. Maka itu dia memiliki saham di sini. Kalau yang kecil-kecil itu memang hasil karya Bu Selvia. Uang itu ditransfer ke rekening seorang yang bernama Jodi."
Alvan tertegun tak percaya wanita sekelas Selvia sanggup merancang satu kejahatan demikian sempurna. Kalau bukan Andi sampai detik ini Alvan masih buta korupsi di perusahaan berskala besar.
"Kau bisa bertanggung jawab dengan semua perkataanmu?" tanya Alvan sambil melontarkan tatapan tajam pada Hakim.
"Bisa pak! Aku menyimpan semua kecurangan Bu Selvia untuk jadikan senjata. Aku sadar bahwa manusia sedikit Selvia itu bisa saja berbalik arah menyerang aku maka itu aku menyimpan semua percakapan dan chatting kami serta bukti transferan. Cuma aku memohon bapak meringankan hukuman aku. Aku siap mengembalikan dana yang telah ku ambil dari perusahaan. Aku mempunyai aset rumah beberapa pintu mobil dan logam mulia. Semua akan ku kembalikan pada perusahaan bapak asa bapak meringankan hukumanku. Bapak kan tahu aku baru menikah dan istri aku sedang hamil."
Alvan tertawa sinis. Telah berbuat curang sejauh ini masih berani nego soal hukuman. Tanpa perlu menyerahkan semua aset pada Alvan tetap saja akan disita untuk dikembalikan ke kantor.
"Baik...aku akan pertimbangkan asal kau koperatif. Sekarang telepon pihak yang berwajib untuk tindak lanjuti kasus ini. Wenda kau ajak Selvia ke sini. Jangan katakan apapun!"
__ADS_1
"Tunggu....Wenda juga ikut nikmati hasil korupsi Bu Selvia! Dia harus ikut dihukum." seru Hakim tidak rela dipenjara sendirian. Dia ingin semua yang terlibat merasakan dinginnya lantai penjara.
"Semua akan dapat giliran! Yang bersalah tetap akan berhadapan dengan hukum. Tak perlu berebut kamar hotel prodeo." sahut Untung santai. Untung lega akhirnya kasus ini mulai menemukan titik terang. Untung bersyukur tidak tertarik untuk main di belakang Pak Alvan. Kalau sempat dia ikutan maka dia akan melajang sampai jadi kakek. Kalau sudah keriput Nadine mana mau sama dia lagi.
Untung segera menelepon pihak berwajib melaporkan bahwa telah terjadi kecurangan di dalam perusahaan. Pendek kata Untung meminta pihak aparat datang ke perusahaan untuk mengamankan orang-orang yang bersangkutan.
Selvia dengan pedenya datang ke kantor Alvan sama Wenda. Wanita ini belum mengetahui kalau kebusukannya telah terbongkar. Selvia masih berpikir Alvan membutuhkannya untuk melobi proyek di Jepang.
Kalau Alvan masih percaya pada Selvia artinya otak Alvan bermasalah. Wanita ini telah bertubi-tubi membuat masalah dengan keluarganya dan sekarang dengan perusahaan. Masih adakah kata toleransi untuk Selvia?
Selvia agak tertegun tak kalah melihat adanya Hakim di ruang kerja Alvan. Rona mukanya berubah agak memutih namun wanita ini tetap berusaha tersenyum seperti biasanya. Sikap anggun yang tidak pernah lepas dari sosok Selvia tetap melekat di tubuh wanita itu.
"Silakan duduk Selvia!" Alvan mempersilakan Selvia duduk di kursi di depan mejanya. Alvan belum ingin mengatakan apapun sebelum pihak yang berwajib datang. Berdebat dengan seorang wanita bukanlah sikap jantan seorang lelaki. Masalah Selvia tetap harus ditempuh dengan jalur hukum.
"Kok rame-rame? Ada rapat mendadak?" tanya Selvia berusaha tenang walau telah menangkap ada sesuatu yang mencurigakan. Wenda dan Hakim tak berkutik berdiri agak jauh dekat sofa.
"Acara menangkap tikus Bu Selvia..." ujar untung dengan nada sangat-sangat sinis. Kalau Selvia bukan wanita rasanya ingin hadiahkan bogem mentah di wajah cantik itu. Rugi punya wajah cantik tapi hatinya busuk.
"Acara apa itu pak Untung?" Selvia pura-pura merasa lucu walau mulai was-was.
Wajah Alvan yang biasa ganteng kini berkerut-kerut. Jelaskan tertulis kalau lelaki itu sedang diamuk oleh badai amarah. Wanita secerdik Selvia sedikit banyak dapat membaca apa yang telah terjadi.
"Kita tunda dulu masalah proyek karena ini ada yang lebih penting daripada itu." kata Alvan mulai hilang kesabaran.
Mata Selvia yang indah membesar seolah tertarik dengan kata-kata Alvan. Sungguh seorang pemain sandiwara yang baik. Walaupun telah berkali-kali melakukan kejahatan namun tidak terselip rasa takut di wajah itu.
"Wow...aku ketinggalan cerita dong! Emangnya ada apa?"
"Baiklah kalau kamu sangat ingin tahu! Aku telah menemukan kecurangan di dalam perusahaan. Dana segar perusahaan telah keluar tanpa sepengetahuan aku. Nominalnya sangat besar dan telah terjadi berkali-kali. Berkat kesadaran Hakim dia telah mengakui semuanya. Apa tanggapan Selvia?"
Selvia memutar kepala ke arah Hakim sambil melototi lelaki itu. Ternyata Hakim telah berkhianat dari Selvia. Selvia tidak terima kalau Hakim berani menjual dirinya kepada Alvan.
"Hakim apa maksudmu?" bentak Selvia keras. Suaranya bergema di seluruh ruangan. Selvia panik langsung menyerang Hakim padahal Alvan tidak menuduh Selvia ikut terlibat. Dia sendiri buka kartu kalau dia terlibat.
"Untuk apa Bu Selvia panik? Kebenaran akan segera terungkap ke mana larinya dana sebesar itu." todong Untung pojokan Selvia.
Selvia segera tersadar kebodohan dia sendiri. Membentak Hakim sama saja mengungkap dia ketakutan Hakim membuka cerita. Wanita ini segera merapikan duduk elegannya dan tersenyum manis pada Alvan..
__ADS_1
"Oh maaf Pak Alvan! Aku sangat kaget dengan pengakuan Hakim. Tak kusangka rekan yang sangat kuhormati ternyata seorang pencuri."
"Sepertinya Bu Selvia sangat mengerti apa yang telah dilakukan Hakim. Toh kami belum mengatakan apa kesalahan Hakim! Mengapa Bu Selvia langsung menuduh Hakim telah mencuri?" ulas Untung makin memojokkan posisi Selvia.
Wajah Selvia kembali memutih diserang lebih detail oleh Untung. Untung dan Alvan hanya mengupas kulit cerita tetapi Selvia langsung mengulas isi. Kelihatannya pengakuan Hakim mempunyai dasar yang sangat kuat. Selvia adalah dalang dari semua ini.
"Maaf aku tidak mau terlibat dalam kebodohan Hakim! Kalian lanjutkan dengan hakim! Aku harus pergi menemui klien sekarang juga." Selvia bangkit dari kursi berniat meninggalkan ruang kerja Alvan yang dinilai tidak kondusif.
Untung segera menghalangi niat Selvia meninggalkan ruang kerja Alvan. Wanita ini sangat licik seperti belut licin hendak meloloskan diri ke dalam lubang lumpur. Takutnya wanita ini akan melarikan diri setelah kejahatannya terungkap.
"Bu Selvia... aku sudah mengakui semua kepada Pak Alvan! Bu Selvia tidak bisa mengelak daripada semua kejahatan yang telah Ibu rancang di perusahaan ini. Aku telah berjanji akan mengembalikan semua aset perusahaan. Aku tak mau dipenjara sendirian. Bu Selvia adalah bos dari semua ini maka Bu Selvia yang harus bertanggung jawab." kata Hakim juga tidak mengizinkan Selvia pergi begitu saja. Enak saja melimpahkan semua kesalahan kepada dirinya sementara yang menikmati dana sebesar itu adalah Selvia.
"Kau gila ya! Kau yang mencuri kenapa tuduh aku? Apa bukti aku yang tilep dana perusahaan." Selvia menunjuk hidung Hakim dengan garang. Gaya elegannya hilang ganti sifat aslinya bak singa kejepit ekor.
Untung dan Alvan biarkan dua orang pendosa itu saling menyerang biar makin terbuka borok keduanya. Alvan jadi penonton sampai pihak berwajib datang bawa mereka.
"Kau pikir aku bodoh tak ingat betapa licik kamu! Manusia sejahat kamu suatu saat pasti akan menggigit aku maka aku simpan semua bukti percakapan kita dan chatting kita. Dan bukti transfer serta pemalsuan tanda tangan pak Alvan. Itu semua hasil karyamu." Hakim tertawa sumbang membuka semua kebusukkan Selvia di depan Alvan.
Tak guna membantah lagi karena semua telah jelas di mata Alvan. Hakim hanya berharap Alvan bermurah hati meringankan hukuman.
"Jangan fitnah aku! Aku ini pendamping pak Alvan sampai kapanpun! Bertahun aku susah payah agar bisa berdiri di samping pak Alvan kini kau hancurkan! Apa maumu?" teriak Selvia maju hendak memukul Hakim.
"Aku mau apa? Mau kita di penjara bersama termasuk kau Wenda. Kau bodoh dapat tidak seberapa ikut masuk penjara." Hakim mencolek Wenda yang diam seribu bahasa.
"Kalian berdua hanya ingin merusak citraku di depan pak Alvan. Kalian pikir dengan kata-kata ini kalian berdua mau pisahkan aku dari Alvan? Salah...pak Alvan katakan kau betah bersamaku! Aku janji akan cari uang lebih dari dua ratus milyar." Selvia berbalik badan hampiri Alvan. Selvia mau tunjukkan pada Alvan dia tak bersalah. Cuma sayang Alvan terlanjur kesal pada wanita ini. Berani mencuri uang dalam partai besar.
"Selvia...kau telah bersalah ambil yang bukan hak kamu! Hakim bisa beri bukti dan kau boleh membantah. Kebenaran ada di tangan hukum. Mengapa wanita sepintar kamu bisa lakukan tindakan melanggar hukum?" tanya Alvan tanpa emosi.
"Aku???? Aku melanggar hukum? Aku melakukan apapun untuk bersamamu! Karin tidak lantas untukmu! Dia wanita ******, murahan, syukur dia terjangkit HIV. Aku ini adalah wanita tepat untukmu! Aku pintar lobi proyek...Ayoklah Alvan! Buka matamu siapa yang pantas duduk di sisimu?" rengek Selvia tak tahu malu.
"Apa maksudmu Karin kena HIV?"
"Aku sudah kenal Zaki dari dulu. Dia pengidap HIV, Karin berhubungan dengannya tentu saja kena HIV..."
"Zaki suruhanmu?" bentak Alvan tidak bersikap lemah lagi. Ternyata banyak sekali misteri dalam hidup ini tidak diketahui Alvan. Karin terjerumus ke lembah hitam lalu Selvia menambah lembaran hitam Karin dengan kabut hitam. Tamatlah Karin.
"Kau tau apa tentang Karin? Dia itu piara om senang dari kuliah. Liburan ke luar negeri bawa berondong bohongi kamu pergi dengan teman sosialita. Apa kau buta tak lihat dia gonta ganti teman tidur? Zaki hanya salah satu piaraannya. Dia terjebak oleh nafsu sendiri. Aku senang lihat dia hancur." Selvia tertawa lepas merasa puas telah bongkar aib Karin.
__ADS_1
Untung dan yang lain terpana tak sangka isteri bos mereka yang terkenal sebagai sosialita kondang hanya sampah. Alvan mendesah malu keburukan Karin terkuak di depan orang banyak. Selvia tertawa bahagia telah berhasil menjatuhkan Karin.
"Ada satu lagi! Dia pernah hamil dengan orang Negro waktu liburan di Afrika. Dia ketakutan karena takut anak yang lahir kayak arang maka dia aborsi di Jepang. Aku tahu semuanya. Itukah wanita yang kau anggap bidadari? Aku ini bidadariku!" teriak Selvia mencekal lengan Alvan kuat.