
Citra mendapat pekerjaan baru yang sudah pasti akan menyita sebagian perhatian Citra. feeling Citra mengatakan bahwa 2 di antara ketiga orang itu akan membawa sedikit masalah buat Citra. Laura dan Bryan yang akan menebar paku di jalan Citra.
Citra lepas kerja langsung dijemput oleh Alvan. Citra tak tahu kalau gerak-gerik Citra sedang dipantau sekelompok anak muda. Mereka berlima menanti di pelataran parkir menunggu siapa yang menjemput Citra. Apa benar dokter muda ini sudah punya keluarga. Dilihat dari tampang Citra belum pantas berkeluarga apalagi dibilang sudah punya anak.
Laura bersiul setelah melihat siapa yang menjemput dokter pembimbing mereka. Profil Alvan cukup beken di kalangan pebisnis. Siapa tak kenal CEO Lingga yang terkenal cool. Laura mengenal sosok Alvan dari cerita orang tuanya.
"Wuih.. pantas licin! Suami dari surga!" gumam Laura iri pada nasib Citra berhasil jadi orang nomor satu di hati Alvan.
"Surga kata lhu? Sudah tua gitu kok! Perabotan usang kali dimakan rayap. Aku kok tak rela dokter secantik Citra jadi bini laki jamuran gitu!"
"Mata lhu kena tarik burung! Orang seganteng gitu lhu bilang jamuran! Tampang lhu cuma dapat nilai empat sedang Alvan itu sembilan. Jika perlu kuberi nilai 10." sergah Laura adu mulut dengan Bryan.
Keduanya saling berhadapan siap laga kambing. Masing-masing pertahankan argumentasi tak mau kalah.
"Kalian sakit jiwa ya? Isteri orang, suami orang kok kalian yang repot! Kalian mau cari ilmu atau cari pasangan?" lerai Gilang kesal pada dua makhluk sinting ini. Datang mencari dokter pembimbing, buntutnya adu mulut. Konyolnya bukan masalah pribadi melainkan mengurus masalah rumah tangga orang lain.
"Aku senang melihat dokter Citra yang lembut dan baik. Punya suami sudah tua kan merusak pemandangan." tukas Bryan masih menerawang sosok Citra yang begitu lembut dan peramah.
"Dasar sinting...kita pulang yok! Apa nginap di sini jadi satpam?" ajak Dahlia tak mau ikutan gila. Tujuannya cepat menyelesaikan tugas agar bisa dilantik jadi dokter seutuhnya. Sekarang status mereka masih calon dokter karena belum diwisuda.
"Yok! Aku tak sabar menanti esok hari." ujar Bryan lebay mendekap tangan ke dada. Apa lagi kalau bukan ingin jumpa lagi dengan dokter pencuri hati. Tak apa dibilang sakit jiwa. Yang penting bisa menimba ilmu dari dokter jempolan.
Alvan mengajak Citra jalan-jalan sebelum pulang. Cepat pulang juga tak ada siapa menanti di rumah. Hampir seluruh penghuni rumah pindah ke Beijing. Kalau dari Perkasa memang sudah di sana semua. Tinggal Citra satunya keturunan Perkasa masih di tanah air.
Alvan menyetir mobil perlahan menyelusuri sepanjang jalan raya bersama kenderaan lain. Suasana macet tak mengurangi kebahagiaan Alvan. Terjebak macet dengan orang tercinta bukan kesialan namun kebahagiaan bisa menikmati detik demi detik kebersamaan diiringi jeritan puluhan klakson mobil. Alvan menikmati semua itu.
Kalau sendirian Alvan akan merasa seperti di neraka tapi ini bersama Citra serasa duduk berduaan di taman Eden.
"Kok senyum sendiri mas?"
"Bahagia saja bersamamu! Gimana hari ini?"
"Biasa...sibuk dengan pasien! Hari ini ada masuk calon dokter magang di rumah sakit. Lima anak pilih aku sebagai pembimbing. Aku berusaha menolak tapi mereka ngotot."
Alvan tertarik pada cerita Citra. Citra yang kecil mungil jadi pembimbing calon dokter yang badannya tentu jauh lebih gede. Apa mereka mau patuh pada didikan Citra?
"Mereka berlima sangat berpotensi. Aku lihat mereka cukup bagus. Aku sudah bilang mau ambil cuti rekom mereka ke dokter lain. Namun mereka ngotot."
"Kau sanggup bawa lima murid? Cowok atau cewek?"
"Dua cewek tiga cowok." sahut Citra melempar pandangan keluar jendela mobil. Citra tertawa kecil lihat di samping mobil sudah ada pengendara motor gede gunakan helm warna putih bersih.
Pengendara itu angkat jari jempol yang tak Citra ketahui maksudnya. Alvan ikut melihat ke arah di mana motor gede berdiri. Gaya anak motor itu bikin leher Alvan menegang. Dari balik helm tersimpan wajah ganteng menggoda Citra. Jelas Alvan tak suka.
"Kau kenal?" tanya Alvan menahan nafas. Berharap Citra tidak kenal orang itu. Hanya pengendara iseng goda cewek cantik di jalan raya. Sekarang kan banyak cowok bertingkah setelah lihat pemandangan indah.
"Dia itu calon murid aku! Namanya Bryan. Pintar tapi keras. Belum ada gaya seorang dokter. Tak punya kesabaran."
Alvan merasa oksigen dalam mobil menghilang secara mendadak membuat dia sulit bernafas. Dada nyeri menjurus ke serangan jantung. Alvan ingin marah tapi dasar apa dia marah pada Citra. Citra hanya jalankan tugas sebagai seorang dokter senior.
__ADS_1
Alvan majukan mobil begitu ada sela tinggalkan cowok itu. Kalau Alvan punya ilmu sihir pasti akan ayun tongkat ajaib kirim cowok itu ke planet mars.
Dasar kancil pengerat. Cowok itu tetap setia iringi mobil Alvan tak peduli tatapan permusuhan Alvan. Semangat yang patut dipuji. Tak ambil pusing aparat berada di samping target, Bryan tetap lancarkan aksi nakal curi perhatian Citra.
"Dasar anak gila. Kamu lihat tingkahnya! Aku tak ijinkan kamu bimbing dia. Itu bibit penyakit." sungut Alvan. Citra hanya mengulum senyum tak anggap omongan Alvan sebagai peringatan.
"Kenal juga baru hari ini! Kok mas sewot? Memang kenapa kalau aku bimbing dia? Apa dia sebar virus Covid?"
"Aku tak suka lihat tampangnya."
Kata Alvan memicu tawa Citra. Dari mana Alvan bisa nilai tampang Bryan. Wajahnya saja tertutup helm. Macam saja ulah Alvan pancing tawa Citra.
"Mas ini kayak anak kecil ya! Orang itu cuma sekedar ramah kok! Jangan banyak pikir yang aneh-aneh!" Citra mengelus dagu Alvan menenangkan laki itu.
Mata Alvan memerah akibat terpancing rasa cemburu tingkat dewa. Ternyata milik kita di curi orang lain bukanlah hal menyenangkan. Kini Alvan merasakan apa yang pernah dirasakan Citra sepuluh tahun lalu. Citra belum diambil orang cuma dikerling. Itu saja merampas separuh nyawa Alvan.
"Tapi dia kurang ajar gitu!" ujar Alvan menggeram.
"Ya ampun tuan besar! Dari mana kurang ajarnya? Dia hanya kasih salam pada senior. Mungkin satu arah jalan pulang. Nggak usah suudzon deh! Nggak baik pikir yang buruk untuk orang. Kita belum tentu baik."
"Pokoknya aku tak suka dia dekat kamu!"
"Alasan? Memang di rumah sakit cuma kami berdua? Ada ratusan orang om!" Citra mulai panas Alvan tidak berpikir waras. Sesuatu yang over itu tidak bagus. Over cook makanan jadi gosong, over protektif orang jadi membara karena emosi.
"Dia mesum...mana ada anak murid dadahan sama guru."
Citra ingin sekali jitak kepala Alvan biar gepeng. Hilang ke mana akal sehat seorang CEO besar. Masa sama anak murid cemburu babi buta. Citra juga baru kenal anak-anak itu. Dari mana ada perasaan. Yang ada rasa kuatir tak mampu handel segitu banyak siswa.
"Ke tempat Daniel ya! Aku mau cari ketenangan di sana."
"Apa yang buat mas tak tenang? Buang jauh pikiran buruk pada orang lain. Kalau aku Citra suka lelaki lain tak mungkin aku duduk di sini bersamamu. Mungkin Azzam dan kedua adiknya sudah punya bapak sambung."
Kalimat Citra ada benarnya. Kalau dia mau main gila tak perlu tunggu hari ini. Jauh hari sebelum jumpa Alvan dia sudah bisa lakukan hal itu. Citra setia hingga Alvan muncul warnai cerita yang kusam. Adalah sedikit cahaya terangi sinari hidup Citra. Itupun harus sering dipoles karena acap kali kena siraman masalah buat warnanya luntur.
"Kau benar...aku kok mesti takut pada anak kemarin sore. Yok kita ke tempat Daniel!"
"Jangan pulang malam ya!"
"Siip..." Alvan memutar mobil menuju ke tempat Daniel cari suasana baru. Asyik di rumah saja membosankan. Citra biarkan Alvan berbuat semaunya agar tidak menambah bad mood laki itu.
Baru saja muncul bucin mode on kekinian. Bucin nggak jelas. Cemburu tidak pada tempatnya. Namun Citra senang dicemburui Alvan. Kata orang tua cemburu itu tanda cinta. Citra anggap saja percaya mitos itu.
Tempat Daniel belum banyak pengunjung. Cuma ada beberapa remaja berpasangan nikmati senja ditemani minuman segar dan cemilan. Gaya pacaran romantis tidak kuras kantong. Cuma jus dan cemilan takkan kuras kantong anak remaja.
Alvan sengaja tidak kabari kehadiran mereka untuk kasih surprise pada Daniel. Laki bak hilang ditelan bumi sejak pertemuan terakhir di acara lamaran Heru. Laki itu tidak kasih kabar pada Alvan. Biasa sering telepon Alvan sekedar menyapa.
Mobil Alvan memasuki halaman parkir cafe Daniel. Dengan sigap Alvan membantu Citra turun dari mobil seakan takut Citra hilang terbawa angin. Udara di cafe Daniel sejuk karena banyak pepohonan. Ditambah berada di tempat terbuka tak heran orang rasakan udara adem.
Alvan dan Citra cari tempat duduk nyaman untuk ikutan pasangan lain memadu kasih. Anggap saja acara pacaran yang tertunda. Dahulu kan belum sempat memadu kasih, hanya memadukan rasa benci dan dendam. Suasana telah berganti. Alvan yang takut kehilangan Citra.
__ADS_1
Sadikin datang melayani pasangan ini. Sadikin tersipu malu melihat siapa yang datang. Tetangga dia yang pernah jadi korban kenakalan emak-emak satu kampung.
Citra senang melihat Sadikin tampak lebih bersih dan makin menarik dibanding dulu. Wajahnya bersih terbebas dari bau minuman keras serta obat terlarang. Orang mabukan wajahnya mana cerah bak bintang timur.
"Betah di sini?" tanya Citra ramah pada cowok masih lajang itu.
"Betah kak..." sahut Sadikin masih malu jumpa orang sekampung.
Alvan mendelik tak suka Citra terlalu ramah pada cowok. Di mata Alvan semua cowok yang tersenyum pada Citra adalah musuh.
"Panggil bos kamu ke sini! Bilang Alvan di sini." Alvan mematahkan acara ramah tamah antara sesama tetangga itu.
"Iya pak!" Sadikin mengundurkan diri menyampaikan pesan Alvan.
Citra tidak berpikir apapun mengapa Alvan mengusir Sadikin. Dalam benaknya masih berpikir positif kalau Alvan hanya ingin jumpa Daniel. Wanita ini tak tahu dada Alvan berkobar api cemburu.
Semua lelaki yang dekat dengan Citra dianggap rival. Ntah dari mana datangnya sikap bucin akut Alvan. Biasanya laki itu tidak gitu, kok tiba-tiba berubah aneh.
"Well...ada pasangan baru nih!" seru Daniel keras tak open orang mengarahkan mata ke arahnya. Laki ini terlalu gembira bersua dengan konco akrab.
"Pasangan baru apa? Pasangan basi yang betulnya!" kata Citra dibarengi tawa halus.
"Pasangan basi yang diperbaharui! Mau makan apa? Aku yang traktir." Daniel menarik bangku duduk di samping Alvan tak open delikan cemburu laki ini.
Daniel semakin senang kalau sahabatnya kesal. Daniel mau Alvan bayar kesedihan Citra di masa lalu. Daniel memang teman Alvan tapi perlakuan Alvan pada Citra semasa bersama Karin. Waktu itu Alvan terlalu arogan anggap dirinya cowok paling ganteng sedunia dapat wanita glamor penuh sensasi. Semua itu hanya sandiwara kosong yang dikarang Karin. Begitu layar pentas diturunkan semua berakhir. Tak ada suara elu penonton serta sorotan lampu terang benderang.
"Makanan termahal di sini biar lhu bangkrut pindah ke pinggir kota. Jauh dari aku!" doa Alvan kejam gara Daniel sok intim dengan Citra.
"Isshhh doa apa itu? Nggak baik doa yang bukan-bukan. Kita harusnya doa kak Daniel makin maju. Cafenya ramai pengunjung." Citra memarahi Alvan telah sampaikan doa buruk untuk teman sendiri.
"Citra betul...lhu emang sirik dan jahat! Kayaknya ketelan tinta hitam ya sampai hati lhu ikut hitam." Daniel dapat angin didukung Citra.
"Sirik karena ada musuh dalam selimut!" rengut Alvan. Daniel tertawa ngakak makin senang bisa kerjain temannya.
"Kalian duduk di sini! Aku akan sediakan masakan istimewa untuk wanita istimewa." Daniel angkat pantat dari kursi menuju ke arah dapur cafe. Daniel tidak kuatir Alvan akan berpaling dari Citra lagi. Laki itu bak lem setan nempel pada Citra. Sulit dipisahkan.
Mencintai bukan mesti memiliki. Asal melihat orang yang kita peduli hidup bahagia itu adalah jawaban terbaik untuk cinta tulus. Daniel memutar kepala melihat ke arah Alvan dan Citra dengan hati lapang. Hanya doa dan restu bisa Daniel berikan pada Citra. Cinta telah di beri namun tak ada balasan.
Alvan mendesah kuatir Daniel akan isengi dirinya dengan merayu Citra. Rasa percaya Alvan hilang tanpa Azzam. Alvan selalu merasa Azzam adalah pengawal Citra paling kompeten. Tak seorangpun bisa dekati Citra bila ada Azzam. Kini Azzam jauh di mata. Alvan harus jaga Citra sendirian dari incaran para cowok nakal.
"Mas...dari tadi kok gelisah? Kurang enak badan atau ada masalah di kantor?" Citra bertanya merasakan kegelisahan Alvan sejak jumpa calon dokter baru di rumah sakit.
"Tidak...tidak ada. Mungkin agak lelah saja!" tepis Alvan tak mau Citra tahu isi hati. Gengsi dong kalau ngaku lagi cembokur.
"Hai...." seru seseorang bikin kaget Citra dan Alvan.
Serentak keduanya menoleh ke arah suara nyaring penuh energik.
"Laura...Bryan...ngapain kalian di sini?" Citra berseru kaget tak sangka dua anak itu nyusul sampai ke cafe Daniel. Apa yang mereka cari di sini.
__ADS_1
Laura cengar-cengir tarik bangku di samping Alvan. Tanpa malu gadis ini menghirup bau minyak wangi Alvan yang macho.