ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Menyesal


__ADS_3

Semua manusia bisa silap bikin satu keputusan. Alvan harus berpikir positif tak boleh langsung down. Masih banyak cara membalikkan takdir jadi karma baik.


"Kau sudah makan?" tanya Daniel kuatir pada kesehatan temannya itu.


"Tadi sudah makan kue. Besok gue akan cari Hans sekalian jumpa Citra. Antara kami ada yang belum selesai."


Mata Daniel menyipit dengar Alvan mau bikin kasus sama Citra lagi. Apa belum cukup Alvan melukai perasaan Citra. Sudah pisah pun masih ingin menyulitkan gadis itu.


"Apa maksudmu? Mau peras Citra lagi?"


"Aku belum tahu. Besok setelah jumpa baru ada obrolan. Cerai secara hukum atau ya begini sampai tua."


"Ceraikan dia! Please bro! Kau kaya dan ganteng. Masih banyak stok wanita siap dampingi kamu."


"Kau bicara seolah gue akan ceraikan Karin. Tak segampang itu! Kalau benar dia main hati Kujamin hidupnya bakal tamat." Alvan meremas minuman kaleng beralkohol dengan hati panas. Bayangkan Karin di bawah Kungkungan laki lain saja hati Alvan sudah ingin meledak. Bagaimanakah kalau Alvan lihat pakai mata kepala sendiri isteri siri bermain hati.


"Tenang bro! Perlahan kau akan dapatkan jawaban tentang Karin. Kujamin kau akan tendang dia! Kau tunggu saja hasil yang gue dapatkan."


"Ok...kutunggu! Dia belum pulang jam segini. Apa kau punya radar lacak dia?" Alvan asal ngoceh di tengah rasa apatis.


"Ada...kau tunggu! Akan kuutus temanku yang tahu tempat mangkal Karin. Satu jam kau akan dapat kabar." sahut Daniel yakin sambil merogoh kantong celana cari sesuatu untuk hubungi seseorang. Benda tipis warna hitam tergenggam di tangan seniman gagal itu. " Woi...masih hidup? Tolong kau cari Karin si selebgram yang kerap mangkal di pub depan rumahmu. Plus video dan foto! Pantau gerak-gerik nya."


"Ada bayaran ngak?"


"Ada...sebulan tiga puluh hari. Urgen bro!"


"Ok..ok...Segera! Nanti makan gratis di cafemu selama sebulan ya!"


"Gampang itu! Buktikan lhu detektif cap dua jari! Jangan cap dengkul!"


"Sial lhu! Sudah ngerepotin masih banyak bacot. Sudah ah!"


Daniel tertawa ngakak ciri khas seniman gagal itu. Daniel kuliah di seni rupa namun gagal banting setir jadi bos kuliner aneka kudapan dan makanan resep ringan sebagai menu cafenya. Bermodal tanah warisan orang tua Daniel bangun cafe hingga sekarang. Tidak kaya namun hidup adem tanpa perlu pikir deadline kerja. Banyak pelanggan artinya lagi diberi Rahmat oleh Allah. Sepi artinya orang lagi bokek. Itu saja prinsip Daniel siasati masa depan.


Alvan putar-putar kaleng di meja tak berniat minum minuman beralkohol walau rendah kadar alkohol. Alvan tak boleh mabuk untuk dengar lebih jelas ke mana Karin ngelayap malam gini.


Malam makin merangkak jauh. Pengunjung cafe tinggal satu dua orang. Yang lain sudah pada pergi lihat langit tak bersahabat. Angin lembab bertiup makin kencang mencubit orang yang dilalui. Alvan memeluk tangan ke dada usir angin nakal yang tak tahu malu menggerayangi tubuhnya.


Daniel mendongak kepala ke lembaran langit kelam. Kalau di siang hari akan tampak jelas awan mendung. Gelap gini ya cuma tampak lembaran gelap tanpa warna lain. Daniel kuatir mereka akan disiram air hujan beri kode pada Alvan untuk masuk ke dalam cafe.


"Yok! Ngobrol di dalam!"


"Kau ini ada mandi ngak? Masa teman datang hujan. Ngak asyik." omel Avan terpaksa ikut beranjak dari tenda di luar cafe menuju ke dalam cafe. Tubuh tinggi besar Alvan terseok-seok lewati jalan berbatuan sebelum capai cafe utama.


"Hehehe...yang ngak mandi siapa? Teringat aku kau asyik tiduran dari tadi. Kapan mandi? Lhu yang bawa sial di cafeku! Mau bersih-bersih ngak? Gue pinjami kaos. Kalau celana mungkin tak muat. Kamu ketelan tiang listrik sih! Tinggi amat!"


"Cerewet...lagi ngak mood mandi! Kambing ngak pernah mandi juga mahal dijual."


"Hahaha...ngaku kambing bandot! Eh gue sediakan nasi goreng sepesial untuk lhu! Gratis...tak minta bayaran!"

__ADS_1


"Lhu gratiskan gue??? Gue jadi curiga niat terselubung lhu! Jangan-jangan lhu masuki racun!"


Daniel berkacak pinggang tak terima dituduh sabotase nasi goreng untuk sahabat yang lagi galau. Baik hati bukan dipuji malah dicurigai.


"Iya gue masuki racun biar lhu game over! Citra jadi milik gue selamanya."


"Citra lagi...emang tak ada cewek lain bisa kau jadikan topik bicara?"


"Tidak...gue cinta mati."


"Ya sudah mati saja!" Alvan melengos masuk kamar kerja Daniel berharap bisa rebahan santai di sofa rotan berbusa lembut.


"Raja tega .." omel Daniel tidak ikut ke ruang kerjanya. Laki ini berjalan ke dapur minta kokinya siapkan makanan untuk Alvan. Daniel tak tega sahabatnya kelaparan hanya karena kejadian belum pasti. Semoga Hans memang salah diagnosa.


Daniel memarkirkan pantat di salah satu kursi cafe. Matanya bermain di layar ponsel melihat kabar yang dikirim temannya yang sedang berperan sebagai detektif dadakan. Berapa kali ponselnya berbunyi Ting.


Daniel menghela nafas dengan hati gundah. Daniel melirik Alvan yang sudah ditelan ruang kerjanya. Apa cowok itu sudah siap terima berita terburuk dari wanita yang dia cintai tulus. Daniel ragu Alvan sanggup melihat fakta tingkah Karin.


Daniel juga tak boleh tutup mata biarkan Alvan dibohongi wanita senakal Karin. Mata Avan asli sudah dibutakan cinta hingga tak sadar piara belut liar di rumah.


Lama Daniel menimbang apa yang harus dia lakukan untuk Alvan. Berterus terang atau masa bodoh seperti selama ini. Daniel bukan tak tahu kenakalan Karin tapi melihat pijaran cinta di mata Alvan menyurutkan niat Daniel bongkar kedok asli Karin.


Langkah Daniel bergerak masuk ke ruang kerjanya. Alvan sudah rebahan di sofa rotan seloyoran kaki panjangnya ke depan. Alvan tak ubah seperti mayat siap dikafani. Diam tak bergeming.


"Bro...mau makan?"


"Masih kenyang..."


"Seburuk apa? Karin lagi digoyang buaya darat?" tanya Alvan tajam.


"Gitulah! Lihat ini!" Daniel menyodorkan ponselnya dekat ke wajah Alvan agar bisa jelas lihat tingkah bininya yang sedang hamil.


Wajah Alvan berubah warna melihat di layar ponsel Daniel sesosok wanita yang paling dia kenal duduk di paha seorang cowok sambil ciuman. Cahayanya memang remang-remang tapi masih jelas itu Karin berbalut busana sexy warna hijau daun.


Tangan laki itu berada di bukit kembar Karin. Itu foto bukan video maka tak tampak gerakan selanjutnya. Beberapa lembar foto berisi adegan hot Karin bersama laki yang masih muda. Bahkan terjepret tangan Karin berada di antara paha laki itu menyentuh benda di antara paha itu. Sungguh memalukan isteri seorang CEO kaya kelakuan kayak perempuan seharga lima ribu.


Wajah Alvan berubah pucat. Foto ini di luar dugaan Alvan. Selama ini Alvan mengira Karin berkumpul dengan sesama teman selebgram untuk bersenang-senang. Tak disangka Karin tak ubah wanita penjaja tubuh. Murahan.


"Kirim ke ponselku bro!" ujar Alvan dengan nafas tertahan. Dada Alvan terasa sesak bagai dipukul palu puluhan kilo.


"Tidak...kau tak perlu menyimpan bukti yang akan bikin hatimu sakit. Cukup kusimpan. Bila suatu waktu kau perlu silahkan minta. Kita tunggu kabar selanjutnya. Kita makan dulu. Otak boleh panas tapi hati harus dingin. Ok bro?"


Alvan tak jawab. Laki ini meremas kepala pakai dua tangan. Sedih, jengkel kesal campur aduk bak rujak tanpa bumbu. Sudah pasti rasanya kecut. Tak ada buah bagus. Semuanya buah offkiran.


"Aku mau tidur."


"Sori bro! Lhu harus terima fakta. Kubuat susu ya! Gue tak mau besok tersiar berita CEO group Lingga tewas kelaparan di cafe Dan."


"Makin cerewet bacot lhu! Jangan ganggu aku?" bentak Alvan tak bersahabat. Sahabat terbaik berubah jadi musuh gara wanita sialan itu. Daniel tidak marah dibentak Alvan. Daniel maklumi suasana hati buruk sahabatnya. Siapapun akan kesal bila lihat isteri bertingkah macam perempuan kaki lima seharga goceng.

__ADS_1


"Ok...ok...tak ganggu lagi. Gue di kamar kalau lhu pingin cari!"


"Ehm.." sahut Alvan tanpa melirik Daniel. Alvan pusing memikirkan Karin. Wanita yang dicintainya setulus hati. Demi Karin Alvan mengorbankan segalanya termasuk musuhan dengan kakek dan mamanya walau terakhir mereka terima Karin.


Alvan merasa dibodohi selama bertahun-tahun. Pertahankan cinta kosong dari Karin. Wanita itu liar tak tahu malu. Punya keluarga utuh namun cari kesenangan di luar. Apa Alvan tak cukup perkasa untuk penuhi panggilan birahi badak liar itu.


Alvan terbayang penderitaan Citra selama menjadi isterinya. Menjadi kacung untuk dia dan Karin. Tak jarang Karin memaksa kehendak menekan Citra sampai tak berkutik. Citra tak pernah melawan tapi hindari kontak dengan mereka. Alvan juga dengan brutal rebut mahkota gadis muda itu. Siapa yang bertanggung jawab untuk insiden ini. Semua bagai misteri bagi Alvan. Hidup Alvan sudah rusak sejak kenal Karin. Pelet apa dibuat Karin sampai Alvan lupa daratan. Agungkan Karin bagai ratu sedunia. Nyatanya hanya seorang wanita sampah.


Citra yang tersiakan justru bangkit ukir prestasi. Andai Citra dendam padanya itu hal wajar. Citra punya hak untuk untuk benci Alvan seumur hidup.


Pagi-pagi Alvan minta ijin pada Daniel untuk pulang. Alvan ingin pulang bersihkan diri sebelum pergi jumpa Hans cari kebenaran atas kesuburannya. Anak di perut Karin sebenarnya anak siapa. Alvan mesti kejar jawaban sesungguhnya.


Daniel saksikan temannya berantakan. Mata panda tercetak di sekitar mata laki itu tanda semalaman tidak tidur dengan baik. Tak usah buka mulut Daniel paham suasana hati temannya.


"Sarapan dulu bro! Gue antar lhu balik! Kita kan janjian jumpa Hans barengan." Daniel menahan Alvan yang jalan terhuyung-huyung.


"Kopi saja."


"Tak baik minum kopi perut kosong. Dari semalam lhu belom makan. Sepotong sandwich juga ok. Cuci muka sono! Ganteng-ganteng bau jigong." Daniel mendorong tubuh Alvan ke kamar mandi pribadinya.


Alvan tak menolak karena dia memang butuh air dingin untuk dinginkan kepala. Apa Karin sudah pulang atau liar habis di luar lupa diri. Alvan masih peduli pada Karin sampai dapat keputusan soal anak di rahim wanita itu.


Alvan jauh lebih baik setelah bersihkan diri di kamar mandi Daniel. Wajah tetap muram cuma ada sedikit angin segar. Daniel tersenyum melihat temannya mulai tampak lebih manusiawi. Tidak seperti ikan kekurangan air.


Keduanya berjalan keluar menuju ke cafe yang belum dibuka untuk pengunjung. Beberapa karyawan sedang berbenah membersihkan cafe sebelum dibuka untuk umum. Kebersihan adalah kunci suksesnya satu restoran maupun cafe. Pemandangan rapi jali menyejukkan mata akan mengundang pelanggan ringankan langkah berkunjung.


Cafe Dan milik Daniel lumayan ramai terutama hari libur. Rata-rata pasangan tua muda habisan waktu senggang cengkraman di cafenya. Tak ada peluang berbuat maksiat karena ini tempat umum. Tenda dan gubuk dari atap Nipah mengajak pelanggan bersatu dengan alam. Yang ingin bersantap dalam cafe juga tersedia. Konsep Daniel mengajak pelanggan kembali ke alam.


Pelayan cafe telah menyiapkan sandwich dan kopi murni untuk Daniel dan Alvan. Harum kopi murni cukup menggugah mood Alvan ke arah lebih baik. Kegalauan terobati sedikit walau belum seratus persen dapat good feel.


Kedua cowok itu sarapan ala kadar. Nasi goreng spesial yang dimasak semalam tersiakan karena Alvan tidak tertarik untuk cicipi. Laki itu sibuk memikirkan wanita pujaan yang berkhianat. Kalau boleh Daniel ingin nasehati Alvan untuk tendang Karin dari hidupnya. Wanita itu tak pantas diberi pentas mulia keluarga Lingga. Siapa tak kenal kejayaan keluarga Lingga. Kaya raya dari jaman ke jaman. Harta tak punah dimakan tujuh kali tujuh turunan.


"Van...apa rencanamu selanjutnya? Pertahankan Karin atau buat tendangan pinalti?" Daniel menatap mata sahabatnya yang kosong.


"Aku belum ambil keputusan. Tunggu hasil Hans! Sumpah aku jijik pada diriku sendiri. Bertahun kugeluti sampah."


"Kalau boleh kutanya mengapa kau begitu terobsesi pada Karin. Padahal waktu kuliah dulu dia sudah terkenal player. Emang lhu cowok pertama baginya?"


"Aku juga tak tahu. Kami melakukannya pertama kali waktu camping. Dia ngaku gue cowok pertama."


"Emang masih perawan?"


Alvan berusaha mengingat bagaimana mereka hubungan intim pertama kali. Mereka lakukan di tenda camping waktu semua teman sudah tidur. Tidak terlalu sulit terobos liang di bawah perut Karin. Sekali masuk langsung tancap gas. Berbeda dengan Citra. Alvan harus berjuang berkali-kali baru bersatu dengan sempurna. Punyaan Citra sempit sulit diterobos tapi nikmatnya bukan main.


Alvan mulai bandingkan Citra dan Karin. Alvan tak ragu kesucian Citra. Gadis itu memang perawan suci, kini status Karin jadi pertanyaan. Berbohong untuk dapat pengakuan Alvan? Alvan sadar dia terlalu lugu waktu itu. Percaya saja pada Karin. Kini Alvan baru terpikir perbedaan Citra dan Karin.


Alvan menggeram bunyikan gigi saking menyesali kebodohan sendiri. Melihat seonggok tai bak sebutir berlian. Alvan takkan biarkan Karin hidup tenang bila telah permainkan ketulusan cintanya. Wanita itu harus bayar mahal apa yang telah dia lakukan. Alvan pastikan hidup Karin akan sengsara.


"Kita pergi...gue pulang ganti pakaian sebentar baru ke rumah sakit. Habis itu gue ke kantor karena ada meeting penting."

__ADS_1


"Ok...hari ini gue temani lhu sampai lhu puas!" janji Daniel bersikap teman sejati.


__ADS_2