
Bu Sobirin mulai bergerilya mencari tahu di mana W O dan busana pengantin bisa dipercaya. Meskipun ini perkawinan Heru yang kedua tapi tetap pesta meriah untuk Perkasa. Pada moments ini Bu Sobirin ingin rayakan pertemuan dengan cucu dan cicit.
Heru juga mulai cari tahu di mana cetak kartu undangan yang bagus. Tentu saja dibantu oleh asisten setia bernama Laba. Asisten saja namanya Laba, perusahaan pasti tak pernah rugi. Asisten Alvan bernama Untung lambang keuntungan melulu. Satu kombinasi klop pemilik perusahaan raksasa ini.
Heru juga mendata siapa yang bakal diundang untuk meramaikan pesta pernikahan dia dan Afung. Heru harus bergerak cepat pestakan Afung biar wanita itu tidak sedih walau tahu dia bakal tak bisa punya anak. Bagi Heru itu bukan beban karena dia sudah punya Gibran. Ditambah anak-anak Citra. Tak punya anak lagi tak masalah.
Cuma kadang wanita itu aneh suka perasaan merasa tak berguna tak bisa beri keturunan pada suami. Padahal itu bukan tujuan utama menikah. Bagi Heru yang penting hidup tenang dan nyaman hingga akhir hayat.
Kebahagiaan sedang hinggap di kepala laki ini. Sebentar lagi dia akan punya keluarga utuh. Tak ada lagi gangguan wanita-wanita pencinta materi akan usik dia. Hidup tenang bersama Afung. Gadis berkulit putih dari negeri seberang.
Ting. Ada kabar masuk di chat Heru. Heru mengernyit alis merasa asing dengan nomor masuk ke chat aplikasi dari negeri seberang. Heru hanya gunakan aplikasi itu untuk chatting dengan Afisa dan Afung. Siapa pula yang tahu nomor ponselnya ini. Rasanya dia tidak bagi pada orang di Beijing selain Afung dan Afisa.
Heru baca chatting yang sudah translate ke bahasa Indonesia. Mata Heru agak membesar membaca awal yang tak menyenangkan.
\=Maaf sudah mengganggu. Aku tahu masalah Afung. Dia sudah tak bisa kasih keturunan pada keluarga kamu. Apa kamu masih mau nikahi wanita seperti Afung? Itu karma karena sudah sombong dapat lelaki kaya. Afung juga bukan gadis baik-baik. Pernah pacaran dengan pelatih kami dan hidup bersama cukup lama. Aku ada di sini siap ganti Afung. Aku jauh lebih baik dari Afung. Aku juga sehat bisa kasih keturunan buat kamu. Kamu boleh coba dulu sebelum nikahi aku. Sudah hamil baru menikah. Aku siap jadi ibu dari anakmu. Aku ini subur. Hubungi aku bila sudah ambil keputusan. Aku ini teman Afung yang pernah datang ke rumah kalian. Aku Meng Si. Aku tunggu kamu datang. Aku akan jadi isteri terbaik untukmu."\=
Perut Heru menegang karena chatting dari teman Afung. Dari mana dia tahu Afung tak bisa hamil lagi. Siapa yang bocorkan rahasia besar ini. Seingat Heru dokter cuma katakan rahasia ini pada dirinya. Heru wanti-wanti minta dokter rahasiakan kekurangan Afung karena tak mau wanita itu berpikiran.
Dari mana Meng Si dapat bocoran ini. Hal ini sangat berbahaya bagi Afung. Heru harus berbuat sesuatu agar Afung tak pernah kontak teman di senam. Bisa saja si Meng Si teror Afung.
Heru tak mau kebahagiaan mereka yang akan segera tiba diusik orang usil. Sedikitpun Heru tak tertarik pada teman Afung yang licik. Tega buka keburukan teman demi capai hasrat sendiri.
Heru mau Meng Si agar buka rahasia dari mana dia dapat bocoran tentang Afung. Heru harus main tak tik untuk jebak orang licik. Afung kawan sama Meng Si namun dia tega menusuk Afung dari belakang. Dari sini Heru bisa menilai manusia model apa Meng Si itu.
\=Maaf nona! Siapa bilang isteri aku bermasalah? Jangan sembarangan sebar gosip tak benar! Dari mana kau dengar Isteri aku tak bisa punya anak?\= balas Heru di aplikasi dari luar negeri itu. Heru tak ingin terpengaruh oleh ocehan orang tak bertanggung jawab. Susah payah dia mencari wanita yang cocok dengan seleranya. Begitu dapat badai mulai menyerang. Heru tak boleh lengah tertiup badai murahan.
Ponsel Heru kembali berbunyi Ting tanda ada balasan dari sana. Heru tak sabar lihat apa jawaban Meng Si. Teman licik Afung.
\=Tak usah bohong. Aku tahu semuanya. Saudaraku yang tangani kasus Afung. Saudaraku itu perawat yang menjaga Afung. Tak usah bela dia lagi. Aku sudah katakan siap menjadi ibu dari anakmu. Aku tak keberatan berbagi suami dengan Afung. Aku bisa punya anak kau pasti akan sayang padaku. Jemput aku! Aku akan beri pengertian pada Afung. Dia akan terima aku.\=
Heru mendesah marah pada pihak rumah sakit yang bocorkan rahasia pasien. Heru bisa menuntut pihak rumah sakit. Tapi kalau dia lakukan pasti akan heboh. Afung pasti akan dapat kabar hal ini. Heru mesti pikir panjang sebelum lakukan sesuatu. Orang paling tepat diajak diskusi tentu saja Alvan. Di sini cuma mereka berdua tahu rahasia Afung.
\=Mengapa aku harus percaya padamu? Bagiku Afung itu segalanya. Dari segi manapun dia jauh lebih baik darimu. Dia tidak jahat jatuhkan kawan. Tak perlu buang tenaga dan pikiran mau goda aku. Aku lelaki sejati tidak mudah berpaling dari orang tercinta. Aku terima baik buruk Afung. Jangan hubungi aku lagi!\= Heru membalas niat busuk Meng Si dengan tegas biar wanita itu tahu tak semua lelaki itu bejat. Pernah tersesat tak berarti akan sesat selamanya.
Selesai membalas Heru langsung teleponi Alvan minta pendapat. Heru hanya takut Meng Si teror Afung. Orang punya niat jelek pasti akan tempuh segala cara mencapai niat busuk tak peduli itu menyakiti orang lain.
Alvan tidak kaget mendapat panggilan dari om Citra. Laki itu lagi kasmaran pada isteri sendiri butuh saran untuk naik pelaminan kedua kali. Sudah nikah tapi belum resmi. Pengantin basi.
"Halo...halo... assalamualaikum..."
Alvan menjauhkan kuping dari benda pipih warna hitam. Suara Heru seperti suara burung gagak lagi bete. Berkoar gede cari perhatian orang.
__ADS_1
"Waalaikumsalam...apa lagi om tercinta? Mau penculik bayi aku lagi? Masih lama om!"
"Cerewet...bayimu sudah pasti dua akan masuk KK Perkasa. Kamu ini rakus amat! Semua mau diambil sendiri."
"Lho! Itu hasil produk aku yang spektakuler! Aku masih kekurangan anak. Enak aja om masukkan ke daftar Perkasa! Cetak sendiri! Masukkan gist kue yang banyak biar berkembang."
"Walau aku bisa produk tetap saja aku akan minta dua bayimu sebagai kenangan dari Abang aku. Pas pula pabrik aku lagi rusak. Tak bisa produksi. Untung ada keponakan subur menghasilkan produk berkualitas. Nah aku sebagai om harus dapat jatah!"
"Dasar om sedeng..anak dijadikan bola boleh oper sana sini! Itu manusia om! Anak-anak aku!"
"Terserah kaulah! Oya apa kau ingat teman Afung yang ikut datang berlibur ke sini?"
"Tahu gitu saja! Aku tidak terlalu perhatikan mereka. Lupa lupa ingat gitu! Ada apa? Mau bawa ke pelaminan juga biar sanding dua?"
"Cuci otakmu ke doorsmeer mobil! Semprot bersih dikit.." Heru berkata dengan kesal pada suami keponakannya. Orang lagi bingung dia tambah ide konyol.
"Tenang...sudah bawa ke laundry kok! Emang kenapa dengan teman Afung? Minta di undang?"
"Perempuan itu gila! Dia tahu tentang Afung lalu menawarkan diri jadi ibu dari anakku kelak. Dia mau berbagi suami dengan Afung."
Alvan surprise dengar ada perempuan rela berbagi suami dengan perempuan lain. Biasa wanita paling anti suami poligami. Maunya jadi ratu satu-satunya dalam keluarga. Ini kok ada sukarelawan masuk ke dalam rumah tangga Heru.
"Kau gila ya? Afung itu dermaga terakhir. Aku tak mau berlayar lagi. Aku sudah tua tak sanggup dihempas ombak badai lagi. Bisa stroke aku punya dua bini."
"Setuju...manis sebentar pahit seumur hidup! Aku sudah lalui hari pahit itu. Om tak usah coba deh! Sengsara..."
"Sekarang kita harus lindungi Afung dari Meng Si. Aku takut dia ngoceh buat Afung sakit hati."
"Betul...kita harus lindungi Afung dari wanita gila. Pertama kau blokir nomor wanita itu di ponsel Afung lalu kau ganti nomor kartu Afung. Ganti nomor dengan yang ada Indonesia. Untuk sementara Afung tak perlu ada kontak dengan orang di Beijing. Takutnya kalau Afung ada kontak dengan keluarga di sana wanita itu pasti akan minta nomor Afung dari mereka."
"Afung pasti curiga kenapa tak boleh hubung keluarga."
"Hmmm iya juga ya! Gini saja! Kau hilangkan ponsel Afung. Jadi untuk sementara dia total tak bisa hubungi siapapun. Nanti beli ponsel baru semua kontak kan tak ada. Paling tidak sampai pesta kalian kelar." Alvan beri ide yang hanya dipakai jangka pendek. Wanita licik macam Meng Si bisa saja lacak nomor Afung dari Afisa ataupun keluarga Afung.
"Kita harus ingatkan Afisa tentang wanita ini! Afisa tak boleh buka cerita kalau kami mau pesta. Takut dia bikin kacau!"
"Setuju...nanti aku teleponi Afisa kasih tahu sekilas rencana temannya itu."
"Jangan kau bahas rahasia Afung pada anak kecil! Jangan bebani anak kecil dengan pikiran buruk! Afisa pasti sangat sayang pada Afung jadi kita harus saling menjaga hati anak-anak."
"Aku akan bicara hati-hati pada Afisa. Pulang nanti kau harus langsung beraksi curi ponsel Afung. Usahakan yang alami jangan tinggalkan jejak!"
__ADS_1
"Itu tak usah kuatir! Tak perlu mencuri, bisa juga jatuh ke air. Ponselnya juga bukan mahal. Produk sana kualitas medium. Itu aku punya akal. Terima kasih sudah ikut prihatin. Aku tak ragu kau bisa jaga keponakan aku! Kau laki baik!"
"Gombal...semoga rayuan om tidak ada udang di balik batu."
Heru sudah bisa ketawa telah ada jalan keluar perihal masalah Afung. Ada saja badai hampiri hidup mereka. Baru saja hirup udara tanpa bau polusi kini disemprot gas karbondioksida menyesak dada. Sesak nafas Heru kena serangan mendadak.
"Pinter kamu nak! Di balik batu ada udang yang gede. Tinggal tunggu waktu untuk dipanen!"
"Nggak usah mimpi om sangklek! Citra tak mungkin ijin anaknya pindah tangan."
"Soal Citra kau tak perlu kuatir! Aku punya cara bujuk dia. Masalahnya bukan di Citra tapi kamu. Orang serakah. Segitu banyak anak masih pelit!"
"Anak itu buah hati om! Mau seratus orang juga darah daging aku! Tujuh belum banyak. Rencana aku dua belas anak! Bangga toh jadi bapak dari dua belas anak! Papi macho baru bisa hasilnya segerobak anak. Laki cuma bisa hasilkan satu bayi kejantanan diragukan!" sindir Alvan bikin Heru menelan ludah kekalahan. Fakta anaknya memang cuma satu dari isteri terdahulu. Selanjutnya kosong sampai dia berpisah sama isteri.
"Dasar mantu kurang ajar! Kau mau ejek mertua sendiri ya? Kualat lhu! Semoga burung perkutut kamu kena santet tak berfungsi lagi. Keponakan aku cari laki lebih macho!"
"Doa orang sirik tak mempan untuk orang baik. Simpan doanya untuk diri sendiri! Tuh teman Afung sedang cari dukun China yang mumpuni santet perabotan om !" Alvan ngakak sendiri berhasil bikin Heru gusar. Alvan mau dilawan.
"Dasar mantu kualat..." ketus Heru pancing tawa Alvan. Alvan merupakan lelaki paling bahagia sekarang. Dia telah memiliki segalanya. Tinggal menunggu kedua orang tuanya sehat dan iringi Afisa pulang untuk berkumpul dalam rumah. Keluarga sempurna.
"Hehehe ..nggak gitu om! Aku doain semoga om juga dapat keajaiban mendapatkan anak sendiri biar tidak incar anak orang lain."
"Kamu ini mengangkat lalu kau banting sampai hancur."
Alvan kembali tertawa. Tawa tanpa beban. Dia sudah lalui banyak badai. Sekarang giliran Heru rasakan pahit manis punya isteri.
"Nggak kok! Aku doain om semoga mendapat apa yang jadi impian! Ok dulu om! Aku ada meeting dengan klien. Nanti kita bahas di tempat Daniel biar lebih detail. Di rumah susah bicara karena banyak Intel."
"Baiklah! Kita bicara nanti! Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Heru mematikan ponsel dengan hati sedikit lega. Paling tidak ada solusi untuk selesaikan kemelutnya. Itulah guna bersaudara. Ada tempat berbagi duka. Bukan cuma berbagi suka saja. Suka duka sama dirasakan agar beban berat jadi ringan.
Heru dan Alvan janjian jumpa di tempat Daniel biar bebas bahas soal rencana nakal Meng Si. Kalau Heru mau keluarganya aman harus bisa tangani wanita mengerikan itu. Wanita punya akal licik tak pantas diajak masuk dalam keluarga. Bisa saja jadi duri dalam daging.
Ketiga teman Jumpa setelah sekian lama putus kontak akibat kesibukan masing-masing. Daniel direpotkan oleh cafe yang makin ramai. Alvan dan Heru ya berkutat sekitar masalah rumah tangga dan masalah kantor. Kesibukan ini membuat mereka hilang kontak.
Heru duluan tiba baru datang Alvan setengah jam kemudian. Ini benaran acara untuk para cowok. Mereka berkumpul untuk cari solusi selesaikan kelicikan Meng Si. Heru tak ingin ada orang ketiga tahu kekurangan Afung maka hindari percakapan mengenai kekurangan Afung walau cerita agak melenceng dari tujuan utama. Heru hanya bisa cerita Meng Si menjelekkan Afung dengan tujuan bisa jadi orang ketiga dalam hidup Heru.
Daniel tak banyak komentar karena hidupnya juga lancar soal perjodohan. Semua kacau.
__ADS_1