ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Analisa Ngawur


__ADS_3

Alvan berjaga-jaga takut Viona lakukan sesuatu pada anaknya. Alvan tidak ragu sedikitpun tentang ketiga anak kembar itu. Dari raut wajah ketiganya sudah gambarkan itu hasil maha karya Alvan.


Dari muncul tikus got mengganggu ketenangan keluarga mereka. Ada saja orang tak bertanggung jawab ingin menghancurkan kebahagiaan mereka. Orang yang dimaksud oleh Viona pastilah kakek Wira yang menjaga Citra selama ini. Hal ini membuat Alvan makin yakin bahwa anak-anak Citra adalah miliknya. Terserah orang itu mau klaim anak Hamka atau anak siapapun Alvan tidak peduli. Jika perlu Alvan bersedia membawa keluarganya keluar dari keluarga Perkasa. Itu bukan hal yang sulit bagi Alfan bertanggung jawab atas anak dan istrinya.


"Hei anak kecil...ibumu ajar apa lagi padamu bersandiwara! Kau lihat! Inilah anak Hamka yang asli!"


"Ada bukti? Sudah test DNA? Aku bukannya ingin diakui sebagai anak dari keluarga mana. Tapi untuk membuktikan siapa penipu. Kau datang minta diakui sedang mami aku diminta akui keluarga Perkasa itu keluarganya. Dua hal berbeda."


"Apa kau buta tak lihat wajah gadis ini mirip Hamka?" bentak Viona makin gusar.


"Aku tak buta...dari bentuk tubuh yang melar kayak karet kedodoran yakin bukan gadis. Paling tidak punya selusin anak. Ya kan anak Hamka?" Afisa mengerling tajam ke arah wanita yang dibilang anak Hamka.


"Aku...aku...masih gadis! Belum punya suami.." kata wanita itu terbata.


"Bagus ..belum punya suami tapi punya anak kan? Sudah pasti itu cucunya Hamka. Gini saja! Hamka itu papa kamu. Coba katakan apa kebiasaan Hamka! Kudengar Hamka itu punya satu kebiasaan buruk. Opa Heru dan om Gi pasti tahu. Ayo katakan!" Afisa balas membentak saking geram pada orang ngaku keluarga Perkasa. Citra dan Heru sudah test DNA dan positif Citra memiliki darah Perkasa. Datang ngaku ini itu cari perkara saja.


Wanita itu bingung tak tahu harus jawab apa. Alvan dan Heru biarkan dulu lihat cara Afisa selesaikan masalah ini dengan caranya. Heru akui kecerdikan Afisa jebak Viona cs. Jujur dia sendiri tak tahu apa kebiasaan buruk abangnya. Dari mana ide Afisa keluarkan statement menyesatkan ini.


"Sudah lama mana ingat lagi! Kau anak kecil sok tahu!" ketus Viona sedikit gelisah Afisa mulai keluarkan jurus menjebak musang nakal.


"Anak apa kamu? Kebiasaan orang tua sendiri tak tahu. Ayo om Gi! Katakan apa kebiasaan opa Hamka!" Afisa memutar kepala ke arah Gibran sambil kedipkan mata.


Gibran yang semula melongo tak paham segera tangkap kode Afisa. Gadis kecil ini tentu berharap Gibran karang satu cerita di luar akal sehat untuk jebak Viona.


"Oya...aku ingat kalau pakde punya kebiasaan buruk korek upil lalu menelan sebagai cemilan. Kebiasaan menjijikkan."


Afisa mau ketawa ngakak dengar kebiasaan yang tak lazim. Papanya Citra bisa ngamuk di surga sana dituduh punya kebiasaan aneh. Alvan dan Heru memalingkan wajah menahan tawa. Kedua anak ini sungguh keterlaluan menuduh orang yang sudah meninggal punya hobi aneh.


"Betul-betul...aku baru ingat itu! Papi aku punya kebiasaan buruk itu! Sudah aku larang tapi dia terlanjur suka. Aku hidup dalam kemiskinan bertahun-tahun. Datang orang licik ngaku anak papi. Sedih aku!" ujar wanita itu melankolis.


Afisa menatap Heru dan Alvan silih berganti tak mau banyak komentar lagi. Kedua orang itu lebih berhak menentukan siapa dan apa Citra ini.


"Maaf ya Bu... kebiasaan pakde itu karangan aku. Dari lahir aku belum pernah jumpa pakde. Artinya kamu ini bukan anak pakde. Minta diakui oleh kami? Tidak segampang itu. Kita test DNA. Jika perlu kita gali kuburan pakde untuk buktikan kebenaran siapa anak pakde sesungguhnya. Ini sudah menyangkut hukum. Menggali kuburan orang sudah lama meninggal bukan perkara kecil. Kalau ibu sudah siap tanggung segala resiko kita mulai besok." Kali ini Gibran tunjukkan dia juga punya otak cemerlang tangani pengakuan Viona.


"Om Gi benar...kita lakukan test DNA. Kalau terbukti Tante ini anak Hamka silahkan naik tangga kehormatan jadi ratu Perkasa. Aku akan jadi dayang pengiring ratu naik tahta." timpal Afisa tambah garam dikit biar asin.


"Aduh ribet nih orang! Apa kalian tak lihat gadis ini mirip bang Hamka. Segalanya mirip. Soal test DNA mungkin kita lakukan nanti. Soalnya anak ini trauma lihat darah. Bisa pingsan lihat darah." Viona bikin alasan baru.


"Apa Tante tak lihat mami aku mirip opa Heru? Hasil test DNA mami aku dengan opa Heru positif mirip. Kau berani jawab tantangan kami test? Jangan gunakan alasan takut darah! Aku bisa minta suster suntik dia pingsan biar ambil sampel darah. Gampang kok! Kita test malam ini. Ayok sekarang juga! Papi aku pemilik rumah sakit jadi urusan beres." koar Afisa mulai dapat angin. Gadis ini rasakan kegelisahan Viona dapat tantangan Afisa. Wanita itu lebih pucat karena ketahuan bohong soal kebiasaan Hamka. Itukan hanya karangan Gibran. Orang gila produk jaman mana korek upil untuk jadi Snack.

__ADS_1


"Ini sudah malam. Kita lakukan besok saja! Lebih baik malam ini Hanna tinggal di rumah yang menjadi haknya. Dia tak mungkin balik ke Jogja bukan?"


"Mental baja... Tante bisa ajak dia datang tentu sudah siapkan amunisi perang lawan kami. Kami takkan mundur nama baik mami aku tercemar. Aku akan tuntut kalian ke pihak hukum, jika perlu ke neraka sekalian kalau tempat itu rumah kalian." ujar Afisa mulai hilang kesabaran.


Alvan segera memeluk anaknya agar jangan makin terpancing dalam sandiwara konyol orang ingin ambil jalan pintas jadi kaya.


"Sudah sayang...biar papi yang urus! Kau diam dulu!" Alvan menenangkan Afisa.


"Mereka kelewatan banget Pi! Tuduh mami incar harta! Mami nggak butuh harta karena dia punya kami." Afisa melempar pandangan penuh amarah ke arah Viona.


"Papi ngerti. Tak seorangpun papi ijinkan caci mami kamu. Gi bawa Afisa ke sana dulu. Biar aku dan papa kamu urus masalah ini." kata Alvan lembut pada Gibran.


Gibran manggut percaya Alvan akan bijak handel klaim Viona ini. Gibran menarik tangan Afisa jauhi ajang tempur pengakuan. Afisa belum rela pergi namun tidak membantah perintah Alvan.


Sepeninggalan Afisa Alvan mengajak keempat wanita itu cari tempat nyaman untuk ngobrol. Bersitegang takkan menyelesaikan masalah. Malah tambah ruwet.


"Mari kita duduk ngobrol dengan baik. Silahkan!" Alvan ajak mereka tempati kursi kosong di tengah ruang. Viona menerima saran Alvan yang tampak lebih ramah.


Heru ikut dari belakang mau tahu kelanjutan kejutan dari Viona. Kalau dilihat dari raut wajah wanita itu memang mirip Hamka. Tapi Citra juga punya kemiripan dengan Perkasa. Citra mirip Bu Sobirin. Teka teki masa lalu Hamka akan dibuka. Siapa anak Hamka sesungguhnya.


"Mau minum sesuatu?" tawar Alvan tetap ramah.


"Ok...besok kita test DNA! Jika memang DNA nona ini positif dengan DNA keluarga Perkasa maka aku akan bawa anak isteriku tinggalkan rumah Perkasa. Tapi kalau terbukti negatif aku akan tuntut kalian ke meja hijau. Pencemaran nama baik dan berbohong. Malam ini nona boleh tinggal di hotel ini. Kami yang akan tanggung biaya penginapan. Dan soal anak-anak aku tak perlu kau ragukan. Kakek yang kau maksud itu kakek aku! Beliau sudah meninggal. Jadi ketiga anak itu murni anakku." ujar Alvan kalem tanpa emosi tapi mengandung ancaman.


Viona tersentak dengar pengakuan Alvan. Artinya Alvan tahu Citra dibiayai oleh seorang kakek sewaktu di Jogja.


"Mas Alvan jangan mau dibodohi Citra! Dia itu wanita nggak benar. Ngaku kuliah di luar negeri tapi dia itu kerja jajakkan diri di Jogja."


"Sayang kau salah...dia memang seorang dokter lulusan terbaik. Ok sudah malam! Aku akan atur nona nginap sini. Besok anak buah aku akan jemput kalian ke rumah sakit. Dan kita terpaksa libatkan pihak kepolisian agar jadi saksi tidak ada kecurangan! Setuju?"


"Apa yang dikatakan Alvan itu benar. Aku dan Citra sudah test DNA. Sekarang giliran nona Hanna. Kami ini orangnya adil. Pasti tidak akan merugikan siapapun." timpal Heru menyakinkan Viona agar laksanakan test darah. Itu jalan terbaik untuk jawab misteri anak kandung Hamka.


"Kalian sudah test DNA? Hasilnya pasti di manipulasi oleh Citra. Dia kan dokter." ucap kawan Viona mulai bersuara.


"Baik...anggap Citra manipulasi hasil DNA! Kita akan test dengan nona Hanna. Beres kan?"


Hanna menatap Heru dengan takut. Wajah wanita ini makin tak sedap dilihat.


"Aku takut darah dan jarum suntik. Aku tak mau test darah. Yang aku tahu aku anak Hamka. Kalau kalian lebih percaya pada penipu ya terserah. Aku dengar Citra itu wanita malam di Jogja. Anaknya juga tak jelas bapaknya. Ketiganya beda bapak."

__ADS_1


Alvan agak emosi dengar Citra difitnah demikian buruk. Jelas-jelas ketiganya kembar, dari mana muncul banyak bapak. Kelihatannya mereka belum mengenal Citra seutuhnya. Karangan mereka terlalu berlebihan.


"Tutup mulutmu nona! Citra itu wanita mulia...ketiga anaknya anak kembar. Bukan beda bapak. Dan yang tadi itu tidak tinggal di sini tapi di luar negeri. Kamu mengarang cerita dusta jelekkan Citra. Semua karangan kamu itu fitnah besar. Aku sudah saksikan sendiri bagaimana kehidupan cucu aku di luar negeri. Tak satupun dusta. Aku akan tuntut kamu cemarkan nama baik cucu aku!" seru Heru naik darah.


Heru sendiri sudah lihat langsung kehidupan Afisa sesuai cerita Citra. Keluarga Afung jadi saksi hidup perjalanan Citra selama menuntut ilmu di sana. Dari mana cerita Citra jual diri di Jogja. Karangan tak mendasar.


Viona dan ketiga kawannya kaget lihat Heru marah besar matian bela Citra. Heru bukan bela tanpa alasan. Tapi dia ikuti fakta yang jelas. Citra telah buktikan bahwa dia memang lama tinggal di Beijing. Aisyah alias Afung jadi saksi Citra memang kuliah di sana. Lalu dari mana kisah Citra jadi kupu-kupu malam di Jogja.


"Aku dengar cerita kawan.." sahut Hanna ketakutan.


"Kamu dengar cerita tapi aku lihat fakta yang ada. Isteri aku jadi saksi hidup kisah Citra." kata Heru berapi-api.


"Isteri? Kau sudah menikah mas Heru?" tanya Viona bergetar.


"Iya...aku sudah menikah. Mau bikin rencana apa lagi? Mau cari tahu siapa isteri aku lalu karang cerita bohong lagi? Asal kalian tahu aku tak ragu Citra itu anak aku. Dia bukan wanita punya niat terselubung model kalian. Jangan karang cerita tak masuk akal! Aku dan Citra sudah test darah. Darah kami sama. Dan anak-anak Alvan itu mewarisi darah Alvan. Kalian tak perlu repot-repot cari siapa bapak si kembar. Itu orangnya!" Heru menunjuk Alvan yang tersenyum simpul.


"Bohong...kalian berbohong! Citra itu tak mungkin anak bang Hamka. Dan kau mas Heru teganya kau khianati aku menikah dengan orang lain. Aku sudah lama menunggumu!" Viona terisak ditinggal nikah oleh Heru. Semua rencananya berantakan. Ingin hati meraih simpati Heru malah buyar.


Tak berhasil jatuhkan Citra malah ditinggal nikah. Rencana yang sudah tersusun berbulan remuk dalam satu malam. Tak ada yang percaya pada hasil karangannya. Viona terduduk lemas tak punya daya lanjutkan sandiwara. Orang diharapkan telah jadi milik orang lain.


"Ini sudah malam. Besok kita lanjutkan. Besok pagi sekali kita test DNA! Aku sibuk kalau sudah siang. Nona tak perlu kuatir soal phobia darah. Nanti kita ada cara bikin nona tidak takut." Heru berkata pada Hanna yang gelisah. Ntah gelisah trauma darah atau gelisah takut ketahuan dia berbohong.


"Iya...kalau gitu kami pamit dulu! Aku tinggal di rumah teman saja. Tak perlu nginap sini!" elak Hanna takut ketahuan belangnya.


"Baik... tinggalkan alamat biar besok kami jemput kamu!" sambung Alvan berusaha meredakan ketakutan Hanna.


"Iya...iya...tanya Viona saja! Dia yang urus aku!"


"Tidak perlu...aku yang akan antar dia ke rumah sakit kepercayaan kami. Kalau kalian yang pilih takutnya main belakang." ketus Viona judes. Viona bangkit dari kursi menatap marah pada Heru yang dianggap berkhianat dari cintanya.


"Baik ..kita libatkan aparat kepolisian biar lebih yakin! Tak ada manipulasi. Semua serba jelas."


"Tak usah ngancam! Aku tahu yang terbaik untuk hadapi manusia busuk macam Citra. Kita jumpa besok!" Viona pergi tanpa menoleh lagi. Ketiga kawannya ikutan pergi. Wanita yang bernama Hanna menoleh sekejap lalu ikut pergi.


Alvan dan Heru menghela nafas. Viona tidak bosan bikin masalah. Kasus Selvia tidak membuat Viona kapok bikin ulah. Heru pikir wanita itu sudah melupakan dirinya cari mangsa baru namun ternyata susun strategi baru.


Di hari baik anak-anak Alvan dia buat ulah. Untunglah bukan di waktu ramai tadi. Apa kata orang bila Viona cuap-cuap karang cerita berbau busuk. Mau di mana muka Citra yang terkenal sebagai dokter disegani. Bisa hancur reputasi Citra dianggap pembohong ngaku cucu orang kaya.


"Kita pulang Van! Pesan pada Gi dan Afisa jangan bawa pulang cerita ini. Aku takut Azzam bisa jadi mesin giling Gilas Viona."

__ADS_1


__ADS_2