ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Liburan Berakhir


__ADS_3

Heru mencoba bunyikan bel langsung di depan pintu karena rumah Viona tak ada halaman yang harus dipagar. Rumah lumayan bagus cuma sayang tak ada halaman untuk tanam tanaman penghias.


Lama Heru mengetok pintu barulah dibuka oleh seorang perempuan yang dikenal Heru sebagai ibu Viona.


Perempuan itu membuang muka tak mau memandang wajah Heru yang dianggap pengkhianat keluarga. Semua keluarga setuju Viona dijodohkan dengan Heru namun Heru terangan menolak Viona. Hal ini menoreh luka di hati keluarga Viona.


"Assalamualaikum Tante..." sapa Heru masih sopan hargai orang tua.


"Waalaikumsalam... ada apa datang ke tempat kami orang miskin?" ketus ibu Viona dengan arogan. Kalau bukan ingin persoalan tidak makin runyam Heru ogah injakkan kaki ke rumah penuh intrik jahat ini.


"Tante... bisakah kita bicara di dalam?" Heru menurunkan ego untuk kebaikan semua orang. Kalau ikuti amarah Viona sudah pasti mendekam di penjara. Heru masih teringat ada ikatan tali persaudaraan walau agak jauh.


"Soal apa? Tak ada yang perlu dibicarakan kecuali kau lamar Viona!"


"Itukah yang Tante inginkan? Baik...kita tunggu kisah Selvia jilid dua!"


Ibu Viona terhenyak dengar ancaman Heru. Mata yang mulai redup itu makin redup akibat omongan Heru. Apa yang telah terjadi sehingga Heru keluarkan kalimat bernada ancaman.


"Apa maksudmu?"


"Viona telah melakukan hal tidak terpuji maka itu aku datang untuk selesaikan. Di sini bukan cuma aku yang dijerumuskan melainkan ada keluarga lain. Aku bisa toleransi tapi orang lain belum tentu bisa." Heru langsung buka cerita agar ibu Viona tahu kelakuan anaknya.


Ibu Viona mulai paham tujuan Heru datang ke rumah. Ternyata Viona telah melakukan hal di luar sepengetahuan keluarga. Wanita paro baya ini menggeser tubuh ke samping ijinkan Heru masuk.


Heru melangkah masuk dengan berat hati. Viona ini ibarat bisul tak mau meletus bikin orang panas dingin. Kecil tapi sangat mengganggu. Tidak tanggung dia provokasi dua keluarga demi tercapai tujuan.


"Silahkan duduk! Aku panggil Viona dan papanya dulu!"


Heru menempatkan bokong di atas sofa kulit. Mata Heru mengitari ruang tamu Viona cari sesuatu. Di mana adanya foto kenangan mereka di masa lalu? Heru takut itu akan jadi bumerang di hari depan. Otak kotor Viona sanggup lakukan apapun dengan satu materi.


Jujur Heru takut Viona usik Afung dengan cerita tak masuk akal. Karangan di luar jangkauan akal sehat.


"Nak Heru...tumben datang pagi gini?" sapa seseorang dengan hangat tanpa nada sinis.


"Om...maaf pagi sudah datang ganggu!" Heru bergerak bangun menyalami bapak Viona.


"Oh tidak...kita sarapan bersama?"


"Sudah di rumah tadi."


Bapak Heru tersenyum ramah ikut duduk di sofa. Ibu Viona dan Viona muncul ikut duduk mau tahu cerita apa yang dibawa Heru. Viona masih belum sadar rencananya telah terbongkar. Dia pikir masih aman.


"Gimana papa dan mama kamu nak?"


"Alhamdulillah sehat ..mereka ada di Beijing untuk liburan. Mungkin bukan depan sudah kembali."

__ADS_1


"Syukurlah! Oya..ada kepentingan apa bertamu pagi ini? Orang sibuk macam nak Heru tentu bukan sekedar silahturahmi."


Heru menunduk malu kedatangannya telah dibaca laki peramah itu. Sikap bapak Viona bak langit dan bumi dengan anaknya yang licik.


"Sebelumnya aku mau minta maaf kepada kalian semua. Namun ini menyangkut keselamatan dua keluarga maka harus kita bahas bersama."


"Oya? Memang ada apa? Langsung saja! Kayak orang lain saja!"


"Baiklah! Ini menyangkut Viona. Viona telah berkali-kali bikin ulah. Pertama meminta orang menyamar jadi anak bang Hamka lalu utus orang ngaku isteri siri Alvan. Semua jadi kacau dan ribet. Kalian tahu kalau Lingga bukan orang biasa bisa kita bodohi. Resikonya sangat besar cari masalah dengan Lingga dan aku! Ayo Viona kau jujur saja!"


Bapak Viona cukup kaget dengar kelakuan Viona. Tidak sedikitpun disangka Viona bisa bertindak di luar akal sehat. Apa yang dilakukan Viona hanya andalkan bukti kosong berani usik dua keluarga kuat. Gali lubang timbun tubuh sendiri alias cari mati.


Viona menatap ketiga orang di depannya dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Apa yang dia lakukan bukan lain ingin dipandang tinggi oleh orang karena jadi nyonya orang top. Hatinya telah buta tak bisa lihay fakta bahwa semuanya konyol.


"Aku tidak lakukan semua tuduhan kamu. Aku hanya bantu mereka yang berhak." Viona membela diri masih teguh pendirian tak mau di salahkan.


"Vi...jangan ngelak lagi! Semua bukti mengarah padamu! Ada perawat dipecat karena kamu. Ada dua wanita lain ketakutan karena kamu. Alvan bisa masukkan kamu ke penjara karena karang cerita yang bikin keluarganya berantakan. Untung Citra masih punya hati ijinkan aku tangani hal ini. Kalau Alvan turun tangan kau sudah di penjara. Mereka punya bukti lengkap. Kau mau ngelak lagi?" kata Heru berusaha sabar. Mengamuk di depan orang tua Viona hanya bikin imagenya buruk.


"Vi...apa yang kau lakukan? Tidak cukup kau bikin malu keluarga? Cepat minta maaf!" bentak Bapak Viona mulai paham tujuan Heru datang bertamu pagi hari.


"Pa... kalian tahu aku dan mas Heru sudah hubungan bertahun tapi dia memilih perempuan lain. Apa aku tak boleh sakit hati?" teriak Viona tidak terima disalahkan. Viona menatap Heru dengan tatapan tajam. Viona kesal rencananya tak berjalan baik malah kena ultimatum dari Heru.


"Di mana otakmu nak? Cinta itu tak bisa dipaksa. Apa kau mau hidup serumah dengan orang yang tak cintai kamu? Lebih baik kamu terima lamaran pak Hutomo. Dia terima kamu apa adanya. Dia tahu semua kelakuan kamu. Maaf nak Heru! Bapak akan urus Viona! Katakan pada pak Alvan bahwa aku wakili keluarga minta maaf! Viona akan segera menikah. Kujamin Viona takkan bikin ulah lagi. Mohon maafkan dia!"


"Kuharap begitu! Kalian ingat Selvia berurusan dengan Alvan? Akhir tragis kan? Aku masih pertimbangkan hubungan baik kita selama ini maka aku minta pada Alvan serahkan padaku. Kalau Alvan berdiri di sini bukan begini cara dia omong. Dia pasti bawa pihak berwajib." Heru ingatkan kasus Selvia agar Viona ada rasa takut.


"Baik...kalau gitu papa serahkan kamu pada pak Alvan!"


"Serahkan pada Alvan? Dinikahi ? Jadi isteri kedua juga tak apa. Aku pasti akan singkirkan si centil Citra. Itu aku setuju!" seru Viona girang. Semangat Viona berkobar lagi bikin rencana pendahuluan singkirkan Citra. Belum apa-apa sudah penuhi otak dengan akal busuk. Tak ada obat lagi ini orang.


"Aku percaya Alvan akan masukkan kamu ke sel. Dia sudah tak sabar dua kali kamu usik dia. Kau buat Citra tampak buruk dan usaha bikin mereka ribut. Apa kau pikir dia sudah gila mau nikahi wanita berotak kotor macam kamu?" Heru mulai kasar karena Viona tak bisa diajar.


"Jaga mulutmu Heru! Viona itu anak kami! Kami yang berhak didik dia! Dasar apa kamu bicara gitu?" bentak ibu Viona tak terima anaknya dihina Heru.


Suasana berubah panas karena sama-sama tersulut amarah. Hanya bapak Viona berpikir waras sadar tak mungkin melawan Alvan. Kuku Alvan ratusan kali lebih tajam dari mereka. Sekali cakar mereka kontan tumbang. Viona sudah bersalah buat semua kacau. Jalan terbaik adalah singkirkan Viona dari sekeliling Heru dan Alvan.


"Semua diam...Viona akan kami bawa pergi jauh dari sini. Percayalah dia takkan ganggu kalian lagi. Hari ini juga kita berangkat ke Medan. Bilang ke Alvan selanjutnya Viona takkan muncul di sini. Dia akan menikah dengan teman abangnya di Medan. Gitu saja nak Heru! Aku ucapkan terima kasih atas kemurahan kalian memaafkan Viona." ujar bapak Viona jadikan keputusannya sebagai pedoman masa depan Viona.


Viona menangis bayangkan jadi isteri dari duda beranak tiga. Belum apa-apa sudah harus jaga tiga bocah. Bagaimana dengan klub sosialita yang selama ini jadi tempat dia pamer kemewahan. Hutomo hanya pegawai negeri yang gajinya pas-pasan.


Viona harus terima nasib jadi ibu tiri. Rencananya berbulan hancur karena kurang perhitungan. Argumentasi yang dia rancang terlalu banyak titik lemah. Tak satupun bisa diandalkan. Viona telah gali lubang untuk benamkan diri.


"Terima kasih om! Aku tunggu kabar baik dari om. Kita sudahi semua ini! Aku bukan mengalah tapi mengingat tali saudara kita. Kuharap Viona sadar bahwa tak semua masalah bisa terwujud sesuai keinginan kita. Belajarlah dari pengalaman! Aku permisi masih harus ke kantor!" Heru berdiri setelah dapat jawaban dari bapak Viona.


Semoga saja bapak Viona tepat janji ungsikan Viona ke tempat lain. Satu lagi bibit penyakit hilang dari kehidupan Citra. Jalan ke depan makin terang. Tak ada lagi konflik dan perusuh bikin hati miris. Semua telah sangat lelah jalani hari penuh kerikil. Kecil tetap jadi batu sandungan bisa jatuhkan mental.

__ADS_1


Hari berlalu santai dan tenang. Tak terasa waktu liburan Afisa telah habis. Gadis ini harus kembali ke Beijing. Alvan ingin antar Afisa namun sang opa ngotot dia yang antar. Tujuan Heru bukan lain ingin jumpa Aisyah alias Afung. Heru kangen pada isteri yang masih terikat kontrak. Afung akan bebas bila selesai pertandingan akhir tahun.


Meja makan dua keluarga kaya dikelilingi oleh para penghuni santap makan malam. Dua singa berseteru perebutkan tiket menuju ke Beijing. Satu ingin jadi papi baik dan satunya ingin jumpa isteri. Siapa yang akan jadi pemenang kompetisi meraih tiket ke Beijing.


Citra dan keempat anak-anak jadi penonton pertarungan dua singa gagah ini. Satu berstatus bapak dan satu menantu.


"Aku sebagai orang paling tua harus bertanggung jawab pada keluarga maka aku yang harus antar cucu aku!" kata Heru gagah tak mau dibantah.


"Aku ini pemilik cucu kamu! Aku harus antar anak aku!" Alvan langsung bantah.


"Mau jadi anak durhaka bantah orang tua?"


"Sudah tua maunya tiduran di rumah. Tak usah ngelayap. Ntar kumat encok, rematik dan sakit asam urat."


Citra dan keempat anak menghela nafas saksikan perdebatan paling konyol. Saling klaim berkuasa bukannya cari solusi siapa lebih cocok antar Afisa. Kalau dilanjutkan sampai tahun depan takkan kelar.


"Opa...papi...cukup! Cece pulang sendiri saja! Kalian cukup antar sampai di bandara. Selanjutnya Cece bisa sendiri." kata Afisa melerai..


Heru dan Alvan saling berpandangan tak sangka Afisa buat keputusan ekstrim. Sampai matipun Alvan tak ijinkan Afisa pulang sendiri. Anak-anak Alvan mulai dikenal publik sebagai pewaris dua kerajaan. Bagaimana kalau ada yang berniat jahat culik Afisa minta tebusan uang. Ini sangat berbahaya bagi Afisa.


"Nggak bisa sayang ..papi tak ijinkan kamu pulang sendiri. Papi yang harus antar kamu. Kita berangkat dengan pesawat kita. Kau bisa santai."


"Sama opa saja! Ada juga pesawat opa. Pesawat opa lebih gede lagi." Heru menawarkan perjalanan tak kalah nyaman.


"Aduh papi dan opa kayak anak kecil. Ya sudah...berangkat bareng saja! Kan pakai pesawat sendiri. Papi bisa langsung pulang sedang opa bisa tinggal di sana barang seminggu. Gitu aja kok ribet!" Afifa angkat bicara gregetan pada dua lelaki tua tak tahu usia.


Heru acung jempol pada saran Afifa. Akhirnya Afifa bisa juga beri usul. Biasa Afifa cuek bila diajak diskusi. Gadis kecil ini pusing dengar perdebatan papi dan opanya bikin hilang selera makan.


"Betul juga saranmu! Kita pergi bareng karena gunakan pesawat pribadi. Kita pergi semua!" seru Heru gembira.


"Kita sekolah lho opa! Tak mungkin kita bolos hanya untuk berangkat ke Beijing." sahut Azzam si bijak.


"Paling bolos tiga hari. Main satu hari kalian bisa langsung balik." Heru berharap cemas semoga Citra terima usul Afifa. Citra sangat disiplin dalam hal pendidikan anak. Apa mungkin berbesar hati ajak anak-anak bolos demi Afisa.


"Mami boleh?" rengek Afifa terpancing ingin ikut antar Afisa.


"Sayang...urus visa butuh waktu! Kita tak mungkin berangkat tanpa visa. Jadi mami rasa biarlah papi dan opa saja berangkat." ujar Citra lembut.


Ada kabut kelabu di mata Afifa. Berangkat ke luar negeri tidak segampang berangkat ke luar kota dalam tanah air. Masih banyak prosedur harus dilakukan. Afifa mana ngerti tata cara berangkat ke luar negeri. Dia pikir mau pergi tinggal angkat koper.


"Itu tak perlu kau pikirkan Citra! Beri paspor anak-anak biar kuurus. Gini saja. Kita berangkat hari Kamis. Hari Minggu langsung balik. Jadi anak-anak cuma bolos dua hari. Sabtu Minggu kan memang tak sekolah."


"Ya ampun... diskriminasi banget! Om Gi mau dibuang ke mana? Ditinggal merana sendirian? Aku bolos tiga hari dong!" Gibran cepat ikut nimbrung biar tidak ketinggalan pesawat. Nelangsa banget ditinggal sendiri di rumah gede.


"Om Gi harus ikut dong! Setiap ada event Om Gi harus ikut. Amei takkan tenang kalau tinggalkan om sendiri. Takut nangis!" olok Afifa.

__ADS_1


"Iya terserah apa katamu! Kita ajak Kak Tokcer ya! Dia itu teman sejati bisa diandalkan. Setia tidak bermulut ember."


__ADS_2