
Pagi hari cerah. Dua keluarga bahagia sedang sarapan pagi seperti biasa. Semua pasang wajah segar tanpa beban. Kebahagiaan demi kebahagiaan hampiri keluarga ini seperti bunga sedang mekar di musim semi.
Hanya Heru menyimpan rasa kuatir Meng Si usik Afung. Heru belum menemukan cara kerjain ponsel Afung karena wanita ini jarang bawa ponsel. Ponselnya selalu diletakkan di atas meja kamar. Kalau benda ajaib itu selalu berada di tempat aman bagaimana ada alasan lakukan sesuatu pada benda itu. Heru harus memutar otak cari kesempatan melenyapkan benda itu.
Sejauh ini Meng Si juga tidak hubungi Heru lagi. Ntah rencana apa sedang disusun wanita bermata kecil itu. Persis tikus licik incar mangsa jadi santapan untuk jangka panjang.
Bu Sobirin paling semangat karena keluarga mereka akan segera berpesta besar. Kemegahan pesta mewah sudah terbayang di kelopak mata. Bu Sobirin sebagai tuan rumah sudah pasti akan tampilkan yang terbaik dari keluarganya.
"Hari Minggu nanti aku sudah undang pemilik butik ukur badan kita untuk buat baju seragam untuk pesta. Model boleh pilih sendiri tapi warna harus seragam." kata Bu Sobirin tegas seolah ingin katakan tak mau dibantah.
Apa yang dia inginkan harus dituruti oleh seluruh anggota keluarga. Seluruh anggota yang duduk di kursi meja makan tak berani membantah keinginan orang tua ini walau dalam hati ada rasa tidak puas. Mereka sudah tahu warna yang dipilih oleh ibu Sobirin pasti tidak sesuai dengan selera mereka yang menyukai warna tersendiri.
"Warna apa Uyut?" tanya Azzam paling duluan karena menangkap ada yang tak beres dengan pilihan warna sang Oma Uyut.
"Warna hati...Warna paling indah!" kata Bu Sobirin bangga dengan warna pilihannya.
Afifa yang sedang makan sandwich sampai menyemburkan roti itu dari mulut dengar warna pilihan Oma uyutnya. Warna yang paling dia benci. Warna seperti darah beku. Afifa suka warna pink muda berkesan bersih.
Itu baru reaksi pertama dari Afifa, belum dari Gibran dan Azzam. Afifa yang cewek saja tak suka warna itu apalagi dua lajang penuh kharisma. Warna merah hati indentik dengan warna cewek. Membayangkan saja perut terasa kembung. Gimana kalau disuruh pakai pakaian warna itu.
"Uyut...warna hati memang bagus tapi untuk cowok akan hilang jati diri. Terutama opa Uyut. Cowok itu bagusnya hitam ataupun biru tua. Itu lambang lelaki sejati." Azzam berkata sopan tanpa bermaksud menyinggung perasaan Uyut.
Gibran angkat jempol puji selera Azzam. Afifa tepuk tangan setuju dengan selera Azzam. Tidak pinky juga tak apa asal jangan maron.
Yang lain diam seribu bahasa tak berani keluarkan ide takut Bu Sobirin kecil hati. Perempuan paro baya itu sudah susah payah menjadi panitia terbaik untuk pesta anaknya. Dibantah hanya karena beda selera warna bukankah akan menyakiti hati wanita itu.
"Lalu warna apa?" Bu Sobirin mulai bertekuk wajah agak sedih pilihan beliau langsung dipatahkan oleh cicit tercinta.
"Untuk pesta kita tak mungkin gunakan warna hitam. Bagusnya warna putih. Netral.. Oma Uyut pernah nggak dengar kalimat beauty in white? Warna suci lambang hati bersih seperti niat opa membangun keluarga sakinah." ucap Azzam diplomasi.
Alvan bersorak dalam hati punya anak demikian bijak. Bisa meredam rasa sedih Bu Sobirin dengan kalimat menyentuh perasaan. Heru tak kalah bersyukur Azzam telah mewakili perasaan dia sesungguhnya.
"Apa putih tidak pucat?" gumam Bu Sobirin mulai termakan kata Azzam.
"Berhubung pernikahan opa kami berharga kita padu dengan warna gold. Jadi putih campur gold. Elegan dan mewah!" Azzam kembali perlihatkan gaya sok tahu. Padahal gimana konsep pernikahan belum dia ketahui.
"Kau benar nak! Uyut setuju pilihan mu. Putih gold. Ok.. warna putih gold! Jangan rubah lagi ya!" ujar Bu Sobirin menatap seluruh anggota keluarga satu persatu berharap tak ada bantahan.
Tak ada yang berpendapat artinya sudah deal warna pilihan Azzam. Satu masalah terselesaikan. Tinggal pilih menu dan busana pengantin serta dekorasi ruang pesta. Pelaminan konsep apa dan gimana itu terserah Afung dan Heru sebagai yang punya pesta.
Seusai sarapan Heru mengajak Afung ke kamar untuk sampaikan rencana pemilihan busana dan dekorasi pelaminan. Heru mau tahu apa isterinya ada rencana sendiri? Heru tak bisa abaikan hasrat hati Afung. Dia berhak menentukan pilihan.
__ADS_1
Heru sengaja meninggalkan ponsel di ruang makan rumah Citra agar ada kesempatan sentuh ponsel Afung untuk translate bahasa antara mereka. Biasa gunakan ponsel Heru maka hari ini gunakan ponsel Afung.
Berkali bolak balik translate Afung tidak keberatan pilihan Azzam. Afung juga suka warna bersih. Artinya tidak ada masalah dengan pilihan Azzam.
Heru minta isteri ambil vitamin dan air minum sebelum dia berangkat kerja. Heru ingin konsumsi vitamin agar fit sampai dengan hari pernikahan. Heru juga minta Afung jaga kesehatan agar tak ada kendala di hari H.
Heru sengaja letakkan air minum dekat ponsel Afung sebelum diminum. Lelaki ini sibuk pakai dasi di bantu oleh isteri. Afung dengan telaten memasang dasi di leher Heru tunjukkan diri sebagai isteri patut diberi jempol.
"Terima kasih!" Heru mengecup kening Afung sebagai tanda sayang. Afung hanya tersenyum manis. Heru balik ke meja nakas untuk minum vitamin yang telah disediakan Afung.
Laki angkat gelas berisi air putih tanpa sengaja lepas tangan hingga air tumpah basahi ponsel Afung di atas meja nakas.
Heru berseru kaget karena ponsel Afung telah mandi. Afung berteriak tak kalah panik.
"Ya Tuhan" teriak wanita itu berburu ambil ponselnya. Sebelum tangan mungil Afung jangkau benda itu Heru duluan menyambar benda pipih itu tak ijinkan Afung sentuh barang itu. Kini Heru ada alasan perbaiki ponsel Afung ataupun minta ijin keringkan dengan cara menjemur atau dengan cara tradisional masukkan ke dalam tumpukkan beras.
"Sori..." Heru beri kode biar dia yang urus ponsel istrinya. Afung mengulurkan tangan meminta benda itu.
Heru menggeleng sambil memasukkan benda itu ke kantong celana. Heru takut ponsel itu tidak benaran tewas. Ponsel sekarang banyak yang tahan guyuran air dalam jumlah tertentu. Bahkan ada yang tahan dicelupkan dalam air. Heru takut ponsel Afung jenis tahan air. Kalau begini sia-sia sandiwaranya.
Heru memeluk Afung menenangkan wanita agar tak usah susah soal hp. Afung. ngerti sedikit bahasa Indonesia tapi belum kuasai sepenuhnya. Keduanya masih gunakan aplikasi ponsel untuk komunikasi dan bahasa tarzan saling bagi cerita.
Afisa harus dilibatkan dalam hal ini agar tidak bocorkan nomor baru Afung pada Meng Si. Afisa anak bijak pasti akan paham apa tujuan Heru jauhkan Meng Si dari Afung.
Hari berganti tiba juga hari H pesta Afung dan Heru. Pesta megah dilaksanakan di hotel Alvan mengundang ribuan tamu dari berbagai kalangan.
Keluarga Afung dijemput pakai pesawat pribadi Alvan karena lebih besar dari punyaan Heru. Keluarga inti Afung hadir semua termasuk Afisa ikut pulang. Afisa dapat ijin sela beberapa hari untuk hadiri pesta Opanya. Sekarang dia tidak memanggil Afung dengan panggilan Ayi(Tante) melainkan Oma karena sudah menjadi isteri Heru.
Seluruh keluarga Perkasa dan Lingga kenakan pakaian rancangan designer ternama putih berpadu gold sesuai dengan permintaan Azzam. Citra sendiri sangat cantik dengan pakaian ibu hamil karena perutnya sudah sangat buncit akibat berisi banyak janin. Alvan tak ijinkan Citra ikut menerima tamu sebab takut Citra akan capek. Cukup Orang tua Heru, orang tua Afung, Alvan dan Gibran dampingi Heru dan Afung. Ketiga anak Citra duduk di tempat agak sudut temani sang mami yang sudah hamil cukup besar.
Ketiga jagoan neon plus pasangan masing-masing jadi seksi pengurus kado dan amplop dari tamu. Ketiga pasangan itu cocok dengan tugas ini karena Andi spesialis bagian kado.
Mata Gibran nyaris terloncat lihat makhluk paling tidak dia sukai hadir juga. Lajang bule dari Inggris beserta orang tua datang beri kehormatan pada Heru di hari bahagia. Thomas dan kedua orang tua datang atas undangan Alvan. Alvan sengaja kirim undangan lihat apa raja kapal itu bersedia hadir di pesta mereka.
Pesta ulang tahun si kembar mereka sayang beri mobil sport yang sampai sekarang masih nganggur di garasi. Tak ada yang kendarai mobil itu maka tersimpan di garasi tunggu pemilik dewasa.
Heru merasa tersanjung dikunjungi orang tajir dari Inggris. Alvan senang jumpa dengan orang kaya ramah itu. Mereka jumpa beberapa kali sehingga tidak canggung lagi. Alvan mempersilahkan keluarga Smith bergabung dengan tamu lain.
Si Thomas sibuk pantau keberadaan Afisa yang telah mengukir kesan baik di hati lajang itu. Thomas sengaja ajak orang tuanya berkunjung demi jumpa Afisa.
Gibran gregetan lihat bule itu berhasil menemukan Afisa di sudut ruang. Dengan langkah besar lajang itu bergabung dengan Afisa dan Azzam. Gibran ingin sekali ikut bergabung tapi terhalang oleh tamu yang datang satu persatu.
__ADS_1
Kita dekati kelompok Afisa dikunjungi Thomas. Bule muda itu menebar senyum paling maut untuk memancing perhatian Afisa.
Afisa cukup kaget lihat kehadiran Thomas di pesta Opanya. Di mata Afisa Thomas makin ganteng dengan setelan jas warna hitam bergaris abu. Di tangan lajang itu ada paper bag ntah apa isinya.
"Halo...senang jumpa lagi!" sapa Thomas sopan. Lajang ini menyalami Citra baru ke Afisa susul kedua saudara kembarnya.
"Kamu datang juga? Jauh dari England untuk ikut pesta?" tanya Afisa surprise masih ada sahabat demikian setia terbang ribuan mil hanya untuk pesta.
"Iya.. aku akan ada untuk setiap pesta kalian! Oya ini ada sedikit buah tangan untuk kalian bertiga." Thomas berikan paper bag pada Afisa. Afisa tak segera terima karena segan. Hadiah dari Thomas di luar jangkauan akal sehat. Dulu kasih dia mobil sport. Sekarang apa lagi?
Azzam mencium ada bau-bau cinta monyet antara Thomas dan Afisa. Perasaan takjub Thomas buat cowok bule itu idolakan Afisa. Bayangkan seberang lautan hanya untuk datang pesta. Azzam rasa bukan pesta menarik kehadiran Thomas melainkan magnet di tubuh Afisa menarik Thomas merapat.
"Terima saja! Orang sudah bawa dari jauh!" ucap Azzam dalam bahasa Indonesia. Azzam paham perasaan Thomas bila Afisa tolak oleh-oleh dari jauh. Anak itu pasti kecewa berat niat baiknya ditolak mentah-mentah.
Afisa melirik Citra yang hanya tersenyum tipis. Citra angguk sepaham dengan Azzam.
Dengan agak ragu Afisa terima paper bag Thomas. Afisa tidak segera membuka hadiah biar tidak dibilang norak. Kampungan bila langsung buka hadiah di depan pemberi hadiah.
"Cece ajak Thomas cari makanan! Tak baik tinggalkan tamu." pesan Citra mendorong Afisa layani tamu jauh dengan baik. Orang sudah datang dari jauh pasti dengan niat baik.
Afisa melaksanakan perintah Citra ajak Thomas ambil makanan dan minuman. Dari jauh Gibran sangat marah lihat usaha Thomas curi perhatian Afisa. Gibran tak suka Thomas dekati Afisa. Tapi lajang ini tak berdaya akibat terikat oleh tugas dampingi papanya terima tamu.
Pesta berlanjut hingga cukup larut. Afifa bahkan tertidur di tempat pesta karena anak itu tak pernah telat tidur. Alvan terpaksa bawa Afifa dan Citra pulang duluan karena kedua wanita istimewanya butuh istirahat lebih.
Alvan terpaksa tinggalkan pesta demi kedua buah hati. Citra tak bisa lama di pesta sedang Afifa sudah tidur. Alvan tak bisa ingat akhir pesta. Uang penting dia sudah berbuat yang terbaik untuk Heru dan isteri.
Keluarga Afung nginap di hotel Alvan. Tak mungkin segitu ramai ikut numpang di rumah Heru maupun Citra. Ibu Afung, kedua orang tua angkat Afisa serta paman dan bibi Afung harus rela tinggal di kamar VIP hadiah dari Alvan.
Keluarga Afung baru tahu betapa kaya suami Afung dan suami Citra. Mereka bersyukur keduanya mendapat suami kaya raya dan baik. Hidup Afung dan Citra sudah terjamin.
Sehari setelah pesta Heru undang seluruh keluarga makan di restoran mewah sebagai ucapan terima kasih telah datang dari Beijing.
Keluarga sederhana Afung terkagum-kagum pada nasib baik Afung dapat suami tajir. Makan malam saja di restoran super mewah dengan private room. Meja besar muat puluhan orang membentang di isi menu mahal. Semua hadir kecuali Afisa yang diundang makan oleh keluarga Thomas.
Citra yang ngerti bahasa Mandarin wakili keluarga ucapkan terima kasih pada Afung sekeluarga telah hadir restui pernikahan Afung.
"Aku wakili keluarga ucapkan terima kasih pada keluarga Afung! Mulai hari ini kita telah menjadi satu keluarga besar. Semua beban kita tanggung bersama untuk keutuhan kita. Untuk itu mari kita saling sulang!" Citra angkat gelas berisi air jeruk.
Semua berdiri ikut acungkan gelas satukan visi. Beda negara terkendala bahasa. Bergerak ikuti kata hati saja.
"Kami juga ucapkan terima kasih sudah menerima anak kami yang serba kekurangan. Mohon bimbingan kalian bila anak kami ada kesalahan." paman Afung wakili keluarga bicara di antara tiga keluarga.
__ADS_1