
"Nak Alvan...kini semua tergantung padamu bagaimana menata keluargamu! Jadikan kejadian di masa lalu sebagai cambuk untuk bangkit. Nafkahi isteri dan anak-anak lahir batin. Nah bapak mau pamitan! Bisa antar bapak pulang?" Pak Ustad merasa telah bantu Alvan tuntaskan masalah keluarga. Tak ada guna dia lebih lama di sana. Citra juga bukan wanita tak bermoral seperti dugaan pak ustad semula.
Pak ustad sudah saksikan sendiri betapa mulianya wanita yang dilupakan Alvan demi seorang wanita berhati keji. Semoga Alvan memetik hikmah dari semua yang telah terjadi dalam hidupnya.
"Oya...di pondok pesantren saudara aku ada pemondokan khusus penderita HIV. Kau bisa coba bawa wanitamu ke sana untuk mendapat bimbingan. Di sana semua penderita HIV termasuk pengurusnya." kata pak ustad sebelum meninggalkan rumah Citra.
Pak ustad memberi informasi ini hanya sekedar untuk meringankan beban Alvan juga memberi ruang pada tarian untuk lebih mengenal agama. Mengidap virus HIV bukan berarti dunianya telah tamat. Karin dapat melanjutkan hidup yang dengan baik asal mematuhi semua protokol kesehatan.
"Terima kasih Pak Ustad atas infonya. Semuanya masih tergantung pada keinginan Karin sendiri. Cuma aku tidak akan membahayakan anak-anakku dan istriku. Karin tak mungkin berada di sekitar mereka." kata Alvan dengan tegas.
Sifat Karin yang buruk membuat Alfan takut kalau perempuan itu akan melakukan sesuatu yang tidak baik pada Citra dan anak-anak. Alvan tidak akan meninggalkan Karin selama warna kita itu masih bernafas. Namun Alvan tidak akan hidup bersama dengan Karin lagi.
"Kau benar nak! Semua ini baru pulang pada wanita itu. Semoga mata hatinya terbuka untuk melihat kebenaran."
"Harapanku pun memang begitu. Mari kuantar!" Alvan mempersilahkan pak ustad keluar dari rumah Citra dengan sopan. Alvan tak mungkin meminta Tokcer antar pak Ustad karena dia yang jemput.
"Pak ustad...terima kasih sudah datang!" ujar Citra memberi salam hormat mendekap telapak tangan ke dada.
Pak ustad tersenyum damai menyejukkan hati. Sebagai orang tua pak ustad bahagia bila melihat ada satu keluarga bersatu kembali setelah cerai berai sekian lama. Hati orang tua di mana saja sama menaruh harapan pada kebahagiaan kawula muda.
Alvan dan Pak ustad meninggalkan rumah Citra dibarengi tatapan beberapa pasang mata. Keadaan tenteram kembali warnai rumah Citra yang biasa memang tenteram. Akhir-akhir ini muncul banyak kejadian di tempat Citra. Ntah masalah Citra maupun masalah ketiga jagoan neon.
Bu Menik datangi rumah Citra setelah Alvan pergi. Bu Menik kuatir Citra bakal terpuruk oleh fitnahan yang tidak mendasar. Orang yang berhati syirik lebih banyak daripada orang yang berhati bersih.
Bu manik langsung menemui Citra di dalam rumah setelah melewati 3 jagoan neon yang sedang termenung. Ketiga lajang itu tidak tahu harus berbuat apa untuk meringankan beban di hati Citra. Namun Andi bersyukur karena status Citra sudah makin jelas. Citra adalah istri sah lahir batin buat Alvan.
"Gue mau pulang mandi boleh nggak ya?" gumam Bonar merasa badannya sudah tidak nyaman karena keringat. Kehadiran emak-emak itu telah menghilangkan separuh roh Bonar. Bonar bukan takut pada emak-emak itu tetapi Citra dituduh yang bukan-bukan.
"Gue juga mau pulang dulu! Entar kita balik sini lagi!" sambung Tokcer tertarik pada usul Bonar.
"Ya sudah kalian pulang saja. Kalau ada apa-apa nanti ku kabarin." sahur Andi membenarkan keinginan kedua temannya. Senja pun mulai hadir. Segala aktivitas akan segera berakhir di dalam rumah begitu matahari pulang ke ufuk barat.
"Thank's ya bro! Kita cabut dulu. Kalau ada apa-apa jangan lupa segera hubungi kami!" Tokcer dan Bonar ambil ancang-ancang meninggalkan teras rumah Citra yang kecil. Kedua lajang itu berjalan ke rumah masing-masing.
Andi menatap kepergian kedua kawannya dengan hati tidak tentu. Andi masih hutang satu penjelasan pada citra tentang Selvia. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan pada citra siapa sesungguhnya Selvia itu. Maka itu tanpa buang waktu Andi segera masuk ke dalam.
Di dalam ruang tamu tampak bu Menik dan Citra sedang berbincang. Andi menduga topiknya pasti tidak jauh dari demo ibu-ibu tadi. Mereka berdua berbincang dengan seriusnya. Sebenarnya Adi tidak ingin memotong pembicaraan orang itu namun Andi juga tidak mau Citra salah paham pada Pak Alvan.
"Kak..." panggil Andi sambil menyela pembicaraan kedua wanita yang sangat dia sayangi.
Citra dan Bu mani mengalihkan pandangan ke arah Andi. Andi menggosok-gosok kedua tangannya agar hangat sebelum memulai buka jati diri Selvia. Selvia itu bagai benalu baru buat Alvan setelah Karin. Ternyata jadi orang ganteng itu tidak gampang. Ada saja pernik-pernik asmara di dalam hidupnya.
"Ya An..."
"Ini lho kak! Andi mau terangkan soal Selvia. Selvia itu memang wakil Pak Alvan. Sejauh ini Andi tidak pernah melihat Pak Alvan berlebihan pada Bu Selvia. Mereka berhubungan hanya sebatas masalah pekerjaan. Tidak pernah sekalipun Pak Alvan bergenit-genit dengan Bu Selvia." Andi menjelaskan secara lugas.
"Lalu kenapa Selvia berani berbuat sangat brutal? Apa mungkin bos kamu pernah menjanjikan sesuatu pada wanita itu?"
"Andi rasa tidak Kak! Soalnya Selvia itu sedang dalam penyelidikan Andi. Dia telah korupsi uang perusahaan sampai ratusan miliar. Maka itu Andi melarang kakak melakukan sesuatu supaya dia tidak sadar sedang diselidiki. Andi tidak rela uang Azzam ditilep sama perempuan jahat itu. Kakak sabar saja sampai Andi menemukan bukti yang lebih akurat."
Citra tersenyum melihat semangat Andi membela perusahaan. Kini Andi telah menjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri juga bagi perusahaan Alvan. Bu Menik tidak kalah bahagia melihat perubahan Andi. Anak yang selalu dicemooha orang akhirnya menjadi manusia.
__ADS_1
"Kakak akan menunggu hari itu tiba An! Kakak dukung kamu selama itu berada di koridor kebenaran. Kakak bukan orang yang berhati sempit. Bagusnya kamu bawa foto perempuan itu jumpai Bu Maryam untuk yakinkan bahwa itu adalah Selvia. Kita tak boleh sembarangan menuduh sebelum ada bukti yang kuat."
Andi mengangguk setuju pada kata-kata Citra. Sifat Citra yang baik inilah yang sangat disukai oleh Andi. Citra baik sama semua orang tetapi Citra menyimpan rasa anti pada Alvan. Ternyata wanita di dunia ini semua sama kalau sudah terluka karena asmara.
"Terima kasih pengertian kakak! Kini Andi dapat bekerja dengan tenang. Andi malah mendapatkan sesuatu yang lebih besar tentang pemasukan tahun lalu. Ini hanya bisa Andi jelaskan pada Pak Alvan."
"Soal perusahaan kakak tidak akan ikut campur. Itu bukan wilayah kakak. Pandai-pandai kamulah An!"
"Kakak nggak usah pikir ke situ! Sekarang pikir makan malam kedua adik aku! Kalau kakak tak sempat masak biar Andi beli nasi di warung?"
"Tak usah...ibu ada masak kok! Tinggal kasih panas! Azzam dan Afifa tak baik makan nasi warung. Perut mereka masih muda untuk makan nasi pedas. Biar ibu bawa ke sini!" potong Bu Menik menyelesaikan problem makan malam.
"Terima kasih Bu...Oya...kan Nadine mana? Kok tidak pulang?"
"Katanya dia dapat piket khusus rawat papanya pak Alvan."
"Oh..." Citra mangut paham. Alvan mengandalkan Nadine merawat papanya. Alvan tidak mungkin sembarangan menempatkan orang di sekeliling keluarganya. Yang diajukan tentu saja orang terpercaya.
Andi plong Citra mau kerja sama mengumpulkan kesalahan Selvia. Andi tak sabar bongkar borok Selvia di kantor. Wanita itu tak sadar sedang bercanda dengan maut.
Andi melaksanakan permintaan Citra menunjukkan foto Selvia pada Bu Maryam. Ini untuk memastikan kalau dalang misterius itu adalah Selvia. Andi takkan memaafkan Selvia bila benar terbukti jadi dalang demo Citra.
Andi berjanji akan habisin Selvia sampai lumpuh tak bisa berdiri di muka umum. Gimanapun Citra sangat berjasa padanya, beri motivasi untuk berubah lebih baik.
Dalam perjalanan menuju ke rumah Bu Maryam, Andi bertemu Bu Siti salah satu emak songong ikut demo. Perempuan paro baya itu tampak lebih ramah pada Andi. Mukanya penuh tawa palsu tampak inginkan sesuatu dari Andi.
Andi maju terus tak peduli emak-emak berakal musang. Licik incar mangsa di saat lengah. Andi tidak lengah hadapi orang kurang vitamin.
"Andi..Andi kece..." panggil Bu Siti bikin bulu kuduk Andi merinding. Panggilan itu seolah panggilan maut dari alam kubur.
"An.." seseorang menepuk Andi dari belakang.
Andi terloncat sambil menjerit kaget. Jantung Andi nyaris copot dari rongga dada.
"Astaghfirullahaladzim..." seru Andi memecahkan ketenangan kampung.
"Wei...aku Kasim..."
Andi membuka mata menatap orang yang menepuknya. Ternyata bukan setan seperti dalam bayangan Andi. Hari masih terang dari mana muncul setan. Setan itu ada bila kita ciptakan sendiri.
"Sialan lhu Sim!" Andi memukul bahu Kasim dengan jengkel.
"Sori bro! Lhu mau cari emak gue ya!"
"Kok tahu? Baru turun gunung dari pertapaan ya!"
"Edan nih banci! Lhu pasti disuruh Bu dokter hukum emak gue!"
"Lhu yang edan! Emang lhu pikir Bu dokter orangnya edan kayak emak lhu? Bu dokter sudah maafin emak lhu! Gue datang cuma mau pastiin siapa dalangnya."
Kasim meringis malu kena smack mental oleh Andi. Orang tak punya kerja tetap pikirannya ke kiri terus. Orang sudah niat baik masih juga di kira niat buruk.
__ADS_1
"Sori An..itu emak gue satunya! Barang antik..."
"Kok nggak dimuseumkan saja? Emak lhu di rumah?"
"Iya...tuh ketakutan di penjara! Jangan lhu nakuti lagi ya!"
"Emang gue iblis menakutkan? Sembarangan..." sewot Andi kurang senang dipikir hendak aniaya orang tua.
"Nggak sih! Lhu makin ganteng kok! Eh lhu udah kerja kantoran?"
"Iya...kerja di kantor papinya Azzam."
"Tokcer dan Bonar? Mereka tampaknya juga mulai makmur!"
"Tokcer jadi supir pribadi Azzam dan Afifa sedang Bonar jaga gudang. Gaji Bonar yang besar karena tanggung jawabnya besar. Kalau kami ya ikut UMR!" cerita Andi sambil berjalan bareng dengan Kasim ke rumahnya.
"Beruntung kali kalian! Masukkan aku dong! Jadi tukang sapu juga boleh! Gue sudah lama nganggur! Kasihan emak tiap hari berdoa supaya gue dapat kerja."
Andi tidak tega cerita kalau emak Kasim memaksanya beri kerja pada Kasim. Model ngancam pula.
"Nanti kutanya pada mas Untung ada lowongan apa lagi. Cuma kuingatkan yang paling utama dilihat pak Alvan adalah kejujuran. Kerja bisa belajar namun kejujuran keluar dari hati."
"Aku janji takkan bikin malu lhu! Kalau si Bonar bisa kenapa aku tidak? Terima kasih bro! Aku juga mau minta maaf pada Bu dokter atas kesalahan emak gue!"
"Bagusnya gitu! Eh tuh emak lhu!" Andi menangkap bayangan Bu Maryam duduk sendirian di depan rumah. Emak itu mungkin masih kepikiran pada kejadian demi tadi. Kalau bukan Citra baik hati sekarang emak Kasim sudah bersantai di kantor polisi.
"Assalamualaikum Mak!" sapa Andi dahului Kasim.
Bu Maryam mendongak menatap Andi dengan mata tersirat rasa takut. Kalau sudah begini Andi merasa iba. Emak Kasim hanya perempuan kampung tanpa pendidikan. Dibawa pulang uang berapa oleh Kasim itulah uang belanjanya.
"Mak...Andi datang cuma pastikan perempuan yang datang sama emak! Tak usah takut!" ujar Andi pakai nada paling rendah biar tampak kalem.
"Oh...apa bukan Bu dokter masih marah?"
"Kapan Bu dokter kita suka marah-marah? Nah...coba emak ingat apa iya orang ini yang datang ke emak?" Andi memberi ponselnya pada Bu Maryam.
Bu Maryam kontan angguk lihat foto wanita di ponsel Andi. Amarah di dada Andi kembali membuncah walau dari awal mereka sudah juga kalau itu memang Selvia. Amarah itu tetap datang tanpa diundang.
"Terima kasih mak! Cuma ini yang mau aku tanyakan! Besok-besok kalau ada orang yang datang meminta emak berbuat yang bukan-bukan emak jangan mau! Itu melanggar hukum, emak bisa dipenjara." Andi memberi nasehat pada Bu Mariam agar jangan terpancing oleh provokasi orang lain lagi.
"Iya nak Andi emak akan ingat semua itu! Emak minta maaf ya!"
"Bu dokter sudah memaafkan emak dari tadi jadi lupakan masalah hari ini! Andi minta pamitan dulu. Assalamualaikum mak..."
"Waalaikumsalam..."
Andi menepuk bahu Kasim sebelum meninggalkan rumah Bu Maryam. Andi tak ingin menggalang permusuhan di antara sesama tetangga. Tetangga adalah saudara yang paling dekat maka itu mereka wajib saling menjaga.
"An... jangan lupa soal kerja ya!" teriak Kasim sebelum Andi meninggalkan rumahnya.
"Beres bro..." Andi mengacung jempol ke atas tanda akan mengusahakan.
__ADS_1
Langkah Andi terasa lebih ringan pulang ke rumah Citra karena telah menemukan jawaban pasti siapa dalangnya. Ingin rasanya Andi segala menghabisi servia sampai ke akar-akarnya. Wanita itu hanya elite dari luar tapi di dalamnya busuk.
Semoga Alvan menyadari siapa sesungguhnya Selvia itu. Wanita itu harus segera disingkirkan dari kehidupan Alvan. Andi tidak akan membiarkan wanita itu menjadi duri di dalam daging keluarga Citra.