
Citra tidak kalah salut pada Gibran tidak malu akui kelebihan Azzam. Citra sendiri juga tak tahu mengapa dari perutnya terlahir anak-anak segudang prestasi. Apa karena paduan dua keluarga terkemuka?
"Gibran harus ngalah pada Azzam dan Afifa ya! Mereka masih anak-anak kadang belum ngerti banyak hal. Gi yang dewasa harus ngalah!" pesan Citra agar Gibran tak merasa dikucilkan gara-gara anak kecil.
"Kakak ini lucu! Azzam itu setara sama papi. Otaknya super jenius...tak usah kuatir kak! Gi sayang kok sama mereka berdua terutama boneka cantik itu!" Gibran tertawa tidak ambil hati disekak Azzam. Gibran orangnya easy go. Santuy..
Citra bersyukur Gibran tidak kecil hati di kuliahi oleh Azzam. Ada sebagian orang tidak terima kalau diberi nasehat. Gibran lain dari yang lain mampu berlapang dada menerima kelebihan keponakannya. Kelihatannya Citra mendapat sambutan yang baik dari keluarga Perkasa. Hari-hari Citra akan lebih semarak dengan pertemuan yang tak terduga ini.
"Baiklah hari sudah malam! kami mohon pamit dulu. Kalau ada waktu luang kami akan kembali ke sini untuk menengok cicit-cicit kami." Pak sopir tahu diri kalau hari telah merangkak jauh. Sudah waktunya semua istirahat dengan hati puas. Kini tak ada ganjalan di dalam hati menyambut esok yang lebih ceria.
"Pintu rumah kami selalu terbuka untuk Opa Oma dan seluruh keluarga. Terima kasih telah datang menjenguk kami." Citra bangkit menyalami keluarga barunya satu persatu terakhir memeluk Gibran dengan hangat.
Gibran senang saja dipeluk oleh kakaknya yang cantik. Remaja tanggung Ini sangat bahagia mendapat seorang kakak yang cantik dan keponakan-keponakan yang berprestasi. Tidak sia-sia dia ikut bergabung menjenguk keluarga barunya. Gibran tak menyangka kalau keluarga barunya orang-orang terpilih.
Lebih dahsyat lagi kalau keponakannya adalah keturunan dari keluarga Lingga yang sangat terkenal itu. Gibran telah bisa membanggakan keponakannya yang mempunyai prestasi luar biasa di luar negeri.
Akhirnya keluarga Perkasa mohon pamit meninggalkan rumah Citra yang sederhana. Keluarga ini meninggalkan keluarga Citra tanpa membawa beban karena Citra bukanlah wanita mata duitan. Belum apa-apa Citra telah menolak seluruh pembagian harta atas hak ayahnya. sebagai orang tua Pak Sobirin tidak mungkin membiarkan Citra dan anak-anaknya tidak mendapat apapun. Lelaki tua ini telah menyusun rencana yang baik untuk masa depan cucu dan cicitnya. Heru pasti tidak akan keberatan menyisihkan sebagian kekayaan kepada orang yang mempunyai hak. Inilah kelebihan keluarga Perkasa yang sangat terbuka.
Jauh berbeda dengan keluarga Lingga yang menganggap harta itu adalah segala-galanya. Padahal Citra sedikitpun tidak tertarik pada kekayaan keluarga suaminya. Justru Citra ingin menghindari setiap pembahasan yang mengenai harta warisan.
Alvan cukup malu melihat cara keluarga Perkasa memperlakukan Citra. Sungguh jauh berbeda dengan perlakuan mamanya yang kemaruk harta dan gila akan kemewahan. Kali ini Alvan tidak akan menyerah memperjuangkan keutuhan rumah tangganya.
Citra membersihkan diri lalu masuk ke kamar untuk beristirahat karena besok dia telah harus bertugas lagi. Sejujurnya Citra masih trauma dengan perlakuan Bu Dewi terhadap Azzam. Citra belum tahu rencana Bu Dewi menjodohkan anaknya dengan keluarganya di Kalimantan. Entah bagaimana reaksi Citra kalau mengetahui hal ini. Sejuta persen Citra akan angkat kaki dari kehidupan Alvan. Citra sudah sangat lelah dengan segala pernak-pernik asmara suaminya.
Alvan menyusul Citra masuk ke dalam kamar memandangi istrinya yang telah duluan bergulung di dalam selimut. Alvan betul-betul dibuat bodoh oleh kejadian malam ini. Mata Alvan makin terbuka bahwa harta bukanlah segala-galanya di dalam kehidupan yang sakinah.
Perlahan Alfan ikut masuk di bawah gulungan selimut seraya memeluk Citra dari belakang. Alvan mencium dalam-dalam bau harum tubuh Citra yang lembut. Ketenangan menyergap seluruh otak Alfan bila berada dekat dengan Citra.
"Sudah ngantuk ya?" bisik Alvan pelan di belakang leher Citra. Citra dapat merasakan betapa hangat setiap ******* nafas suaminya. Kehangatannya mulai menjadi kebiasaan bagi Citra setelah bergaul lebih dekat dengan Alvan.
"Iya mas! Besok aku sudah harus balik kerja!"
"Sebenarnya kau tak perlu kerja lagi. Cukup berada di rumah menanti aku dan anak-anak pulang ke rumah. Cuma sayang aku bukan lelaki egois yang membatasi kegiatan istri. Kamu bebas lakukan apa yang kamu mau selama itu berada di jalan yang benar."
Citra membalik diri menghadapi Alvan terpancing kata Alvan. Kata Alvan tidak ada salahnya namun ada nada seolah hakimi Citra pernah berada di jalan salah.
"Maksud bapak aku pernah berada di jalan hitam?" geram Citra.
"Emang aku ada omong gitu? Kau yang sensi salah artikan!"
"Aku sudah tua. Tidak perlu diingatkan cara melangkah. Uang harus hati-hati itu bapak Alvan terhormat. Pasang perangkap rubah di mana-mana. Mau jadi kolektor rubah?"
Alvan menyentik ujung hidung Citra dengan gemas. Cara Citra bicara mulai mirip Azzam. Citra yang mirip Azzam atau Azzam yang warisi ketajaman lidah Citra. Bicara pelan tapi mencubit kuping.
"Sudah pensiun! Nih ada yang lebih hebat dari rubah! Serigala betina yang cool!"
Citra mendelik di samakan dengan serigala. Serigala lebih parah dari rubah. Dari jauh mirip anjing jinak tapi begitu di dekati ternyata kejam.
"Tak usah iseng ya! Aku bukan piaraan kayak gundikmu! Aku punya kaki tangan bisa cari makan sendiri." ketus Citra melempar mata ke langit-langit tanda ngambek.
__ADS_1
"Stop...jaman kerajaan sudah berakhir! Tidak ada gundik maupun selir. Cuma ada Citra Ayu pemilik hati Alvan. Ok?"
"Tidak ok... tidur! Besok kita masih banyak kerja!"
"Ok...tapi mas mau kamu janji tidak akan pergi lagi! Apa pun masalah kita hadapi bersama. Aku lelah Citra! Aku bukan anak muda lagi. Kaki aku tidak sekokoh dulu mengejar kalian. Mas hanya minta kau jadi tongkat mas bila mas jatuh!"
Hati Citra tersentuh mendengar pengakuan Alvan. Citra tak tahu kalimat-kalimat itu tulus atau hanya kamuflase untuk mencari simpatik. Citra bisa rasakan Alvan tulus pada anak-anak. Mungkin ini yang akan membuat Citra betah di samping Alvan.
"Tidurlah mas! Citra tetap ada untukmu."
"Terima kasih!" Alvan hadiahkan ciuman mesra di kening Citra."Mas mencintai kalian!"
Alvan sengaja tak gunakan kata kamu melainkan kalian agar tahu Alvan bukan hanya butuh Citra tapi dengan buah hati mereka.
Citra puas dengan gombalan Alvan. Tulus atau hanya gombalan kosong itu tidak penting. Semua berpulang pada hati nurani Alvan.
Citra merebahkan kepalanya ke dada Alvan untuk dengar detak jantung Alvan sebagai irama pengantar tidur. Detak jantung Alvan tenang berirama teratur. Sebagai dokter Citra tahu Alvan menemukan ketenangan dalam dirinya.
Pagi cerah mengawali kegiatan keluarga Alfan menuju ke tempat kegiatan masing-masing. Alvan dan Andi berangkat ke kantor sedangkan Tokcer mengantar Azzam dan Afifa ke sekolah. Citra lebih nyaman mengendarai motor matic nya menuju ke rumah sakit. Citra tidak ingin merepotkan siapapun karena mengendarai motor matic akan lebih leluasa mencapai rumah sakit dalam tempo singkat.
Citra segera masuk ke dalam rumah sakit melapor pada Hans bahwa dia telah kembali. Semula Citra meminta cuti seminggu untuk hindari kecaman Bu Dewi terhadap Azzam. Citra pikir dia butuh pendinginan pikiran agar bisa beradaptasi dengan Bu Dewi. Siapa sangka Alvan bergerak cepat menemukan mereka.
Benar kata Alvan. Persoalan bukan dihindari tapi dihadapi. Ke manapun Citra pergi persoalan takkan kelar bila tidak dijernihkan.
Siapa berani melarang istri bos melakukan aktivitas di rumah sakit. Citra bisa sesuka hati minta ijin selama dia suka. Rumah sakit punyaan Alvan sama saja punyaan Citra.
Citra berkunjung ke pasien dirawat di waktu senggang. Karin dan Pak Jono sudah pulang sehingga tak ada keluarga wajib dikunjungi Citra. Hanya pasien umum yang masih dirawat.
Selesai kontrol pasien Citra kembali ke ruangnya untuk observasi semua catatan medis pasien. Kedua perawat pembantu Citra juga lebih santai karena pasien kurang. Di tempat dokter Rahma yang ramai karena sebagian pasien Citra dialihkan ke sana.
Fitri tiba-tiba saja nyelonong masuk tanpa ketok pintu. Perawat muda itu seperti melihat hantu di siang bolong. Wajah Fitri pucat pasi sambil berlinangan air mata. Seluruh tubuh gadis muda itu bergetar hebat seperti telah terjadi sesuatu yang maha dahsyat.
Citra segera bangkit dari tempat duduknya menenangkan Fitri dari rasa syok yang hebat. Citra mengelus-ngelus bahu Fitri agar gadis itu tenang.
"Ada apa Fitri? Mengapa kamu begini?"
"Bu dokter... itu...itu.." Fitri menunjuk ke luar pintu tanpa bisa melanjutkan kalimat.
"Tenang ..ayok minum dulu!" Citra meraih air mineral yang terletak di atas mejanya lalu diserahkan kepada Fitri. Fitri bukannya meminum air itu malahan menatap botol air mineral dengan tubuh masih bergetar.
"Bu dokter di luar ada demo.. orangnya sangat banyak berteriak-teriak di luar."
Citra kaget juga mendengar tiba-tiba mengapa di rumah sakit ada demo. Apa terjadi malpraktek di rumah sakit ini sehingga keluarga pasien datang berunjuk rasa?
"Ayok kita lihat!" ajak Citra menarik tangan Fitri agar keluar bersama-sama.
Fitri justru menggeleng melarang Citra keluar. Perawat muda ini mencekal Citra agar tidak keluar. Citra dibuat bingung oleh tingkah Fitri yang tidak biasanya.
"Jangan keluar Bu! Mereka bawa spanduk mendemo bu dokter."
__ADS_1
"Aku?" Citra menunjuk hidungnya sendiri heran mengapa tiba-tiba ada demo lagi untuk dirinya. Kesalahan apa yang telah diperbuatnya sehingga terusan di demo.
"Iya...mereka menuntut Bu dokter diusir dari rumah sakit karena telah merebut laki orang dan berzinah."
Citra tidak habis pikir mengapa masih banyak orang iseng ingin menjatuhkannya. Dari pihak mana lagi ingin mengacaukan hidup Citra. Dari Karin atau Selvia?
"Fit...aku harus hadapi semua ini karena ini bermula dari aku! Kita lihat siapa dalangnya?" ujar Citra tegas.
Media elektronik tak siakan kesempatan ini ekspos berita ini secara besar-besaran. Ada demo dokter di rumah sakit top di kota. Berita hangat yang luar biasa. Bahkan masuk berita televisi jadi breaking news.
Heru dan Alvan cukup kaget melihat kejadian ini. Tanpa menunda waktu keduanya segera berangkat ke lokasi. Alvan merasa saatnya buka siapa sesungguhnya istri sahnya. Citra selalu jadi korban orang tak bertanggung jawab. Saatnya semua diakhiri.
Karin yang melihat acara di tv merasa tak bisa tinggal diam dalam kasus ini. Dia harus ikut campur untuk menjernihkan persoalan rumah tangga Alvan dan Citra. Karin rasa sudah saatnya dia bayar hutang pada Citra. Citra terusan jadi korban dari masa lalu.
Citra keluar bersama Fitri walau telah dilarang Hans. Hans wajib lindungi semua dokter yang kerja di rumah sakit tanpa kecuali. Terlepas status Citra sebagai isteri Alvan.
"Itu dia perempuan murahan ini!" seru panitia demo yang sangat Citra kenal. Tidak bosannya ibu Selvia ganggu hidupnya. Tidak di rumah, tidak di tempat kerja masih saja tidak bersedia lepaskan Citra.
Para pendemo hendak masuk ke dalam rumah sakit ganyang Citra yang dituduh jadi perebut suami orang. Untung armada pihak keamanan menahan mereka.
Citra berusaha tenang. Di samping Citra Fitri mencekal tangan Citra erat-erat semakin ketakutan lihat massa yang cukup banyak.
Nadine yang sedang piket tak kalah kaget dengar kabar ada dokter di demo khalayak orang. Apa lagi nama Citra terbawa-bawa dalam hal ini. Nadine segera datang jadi tameng Citra.
"Usir dokter mesum..."
"Usir dokter nakal. Anda tak pantas jadi dokter. Buka lapak di pinggir jalan saja! Layani laki hidung belang."
Ntah berapa puluh hujatan di arahkan ke Citra. Citra tak tahu harus bagaimana jelaskan duduk perkara ini. Sungguh konflik runcing melibatkan Citra. Asmara Alvan telah berimbas pada Citra. Tujuan Ibu Selvia jatuhkan Citra tentu demi Selvia.
"Citra..." panggil Nadine bersikap lindungi Citra.
"Kak Nadine...aku tak apa! Itu orang gila cari perhatian! Apa kita perlu layani orang gila?"
"Bukan gitu Cit! Satu Indonesia tahu kamu perempuan nakal! Berita mu sedang hangat di mana-mana. Aku tak rela kau disakiti."
"Kita tunggu emosi mereka reda baru kita bicara. Itu dalangnya perempuan tua paling depan. Apa kau tega lihat wanita tua itu terkapar mati kena serangan jantung?"
"Kalau dia tega fitnah kamu mengapa kita tidak? Ayoklah! Jangan mau dijadikan korban! Kita harus lawan!"
"Aku tak tahu caranya." lirih Citra otaknya blank.
Tak lama Heru sampai langsung menenangkan masa. Heru tampak marah melihat siapa di balik keributan ini. Adik mamanya berdiri paling depan dengan gagahnya pegang mic wireless teriak sesuka hati provokasi para pendemo.
Heru maju merebut mic tantenya dengan mata menyala api amarah. Perbuatan ibu Selvia sudah lewat batas. Mempermalukan Citra sama saja menampar keluarga Perkasa karena Citra adalah bagian dari Perkasa.
"Saudara-saudara...kalian ini akan berhadapan dengan hukum bila fitnah tanpa alasan jelas!" seru Heru gantiin ibu Selvia berorasi di depan pendemo.
"Usir perempuan setan itu!" teriak ibu Selvia masih semangat.
__ADS_1