
Alvan terkesima mendengar nada Citra yang sangat yakin pada diri sendiri. Alvan tak boleh egois melarang Citra melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Tugas seorang dokter adalah tugas mulia. Mengabdi setulus hati pada orang sakit.
"Maafkan mas ya! Mas lupa kau sudah disumpah untuk menolong orang."
"Kok minta maaf! Mas kan tak rela istrinya disakiti. Oya terima kasih untuk lamaran dan makan siang romantis ini! Semoga semua yang kita lakukan sekarang takkan berakhir."
"Amin...mas antar kamu balik ke rumah sakit! Sore nanti mas jemput."
"Mas tak usah repot. Cukup panggil Tokcer saja! Untuk apa bolak balik jemput aku!"
"Tokcer sudah kutarik ke gudang bantu Bonar. Akhir-akhir ini masuk bahan baku perlu pengawasan. Tokcer kan tak ada kerja karena majikannya sudah liburan."
"Oh...kutunggu mas saja! Aku akan hubungi mas begitu selesai operasi."
"Yap..habiskan makananmu! Biar gendut dikit! Kamu terlalu kurus. Gemuk dikit biar terasa kalau dipeluk."
"Aneh nih suami! Semua cowok pingin istri ramping bebas lemak! Ini minta timbun lemak."
"Eiittt...jangan salah paham! Aku bukan mereka yang suka cuci mata pantau cewek sexy. Aku lebih senang intip istri halal. Tidak seperti maling incar harta orang. Aku punya harta tak ternilai, untuk apa yang lain." kata Alvan keluarkan segala jurus merayu cewek supaya Citra makin jatuh cinta.
"Asal jangan dimuseumkan dengan alasan sudah jadul!"
"Tuhlah kamu! Tak tahu barang antik makin jadul makin berharga."
"Aku bukan barang tapi manusia punya hati." keluar lagi taring Citra. Citra ogah dianggap benda yang bisa disimpan atau dibuang sesuka hati. Dia adalah orang yang diciptakan hidup berpasangan sampai ajal menjemput.
Alvan sadar telah salah bikin perumpamaan. Padahal niat Alvan hanya ingin menyenangkan Citra dengan kata kiasan Citra adalah barang antik yang sangat langka. Nyatanya dia telah salah mengungkap perumpamaan.
"Sori sayang... aku hanya ingin katakan bahwa kamu adalah sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Aku tak ingin kehilangan kamu dan anak-anak lagi."
Citra melengos menumpahkan tatapan ke arah makanan yang masih tersisa setengah. Alvan dibuat bingung oleh sikap Citra yang sebentar hangat dan sebentar lagi seperti singa kecil siap menggigit orang iseng. Sikap Citra ini persis sifatnya Azzam.
"Jangan gitu dong! Masa hanya gitu sudah ngambek." bujuk Alvan tak ingin moments indah mereka ternodai kata kiasan yang tak penting.
"Yang ngambek siapa? Aku kan harus habiskan makanan ini biar berlemak!"
Alvan meringis kena skakmat omongan sendiri. Itulah cewek! Gampang berubah moodnya. Barusan tadi tertawa gembira dilamar ulang kini sudah pasang wajah guru killer. Alvan harus bersabar hadapi isteri yang moodnya seperti angin bertiup. Arahnya tak dapat diprediksi.
"Jam berapa anak-anak tiba di Beijing?" Alvan alihkan topik biar Citra kembali berseri. Semua yang terkait anak-anak akan jadi bahan bahasan menarik bagi Citra. Dunia Citra hanya ada anak-anaknya.
"Biasa 8 sampai 9 jam. Lihat berapa kali transit. Yang paling sering jadi singgahan Xiamen. Setelah itu langsung ke Beijing. Azzam dan Afifa akan dibawa pulang ke rumah Pak Chen. Om Heru mungkin akan bergabung dengan opa Oma di rumah Afisa."
Akal-akalan Alvan berhasil. Citra kembali ceria bahas soal anak. Alvan telah menemukan kunci kelemahan Citra. Cukup gunakan anak sebagai tameng semua pasti ok.
"Kenapa mereka tak gabung saja? Kan kasihan Gibran!"
"Azzam dan Afifa pasti mau gabung sama Afisa. Afisa kan tinggal di rumah pak Chen. Anak-anak di sana aku lebih tenang. Di sana mereka akan dirawat dengan baik. Gibran bisa ke sana. Aku akan kabari mama Afisa."
__ADS_1
Alvan tak membantah. Niat Citra tentu mau kedua anaknya dapat perhatian dari orang tua angkat mereka. Mana lagi kedua anaknya sudah terbiasa dengan keluarga Chen.
"Bagaimana bagusnya. Aku pergi urus bill dulu ya! Kau tunggu sini!" Alvan meninggalkan Citra untuk mengurus janji yang telah dia sebar untuk menyambut moments indah bersama Citra.
"Ya mas..." Citra tak banyak tingkah menghabiskan sisa makanan. Makanannya lumayan lezat jadi sayang kalau disiakan. Orang di bawah bahkan tak ada makanan untuk ganjal perut, yang berdiri di atas seenak buang makanan tak ingat di bawah sana masih banyak yang kelaparan. Inilah garis hidup dalam masyarakat sekarang.
Citra sudah membersihkan piring dari sisa makanan. Semua telah aman dalam perut Citra. Tinggal lambung Citra menggiling mereka jadi sumber gizi bagi Citra.
Alvan telah selesaikan menunaikan janji membayari semua pengunjung restoran. Satu persatu pengunjung yang mendapat berkah dari Alvan mengangguk hormat pada Alvan. Ternyata Alvan bukan pembual sok kaya cari muka biar pamor naik. Wanita yang menjadi istri Alvan tentu saja menjadi wanita paling bahagia. Suami kaya dan ganteng.
"Sudah selesai sayang?"
"Sudah..ayo kita kembali ke kantor! Aku langsung ke rumah sakit."
Alvan angguk iyakan kata Citra. Masih banyak tugas menanti mereka. Cuma sekarang mereka tidak perlu terlalu kuatir anak-anak tak ada yang jaga. Hampir separuh keluarga bersama anak-anak. Mereka pasti akan menjaga kedua anaknya dengan baik.
Sambil bergandengan Alvan dan Citra meninggalkan restoran. Sayang mereka tak merekam moments sangat berarti ini. Alvan lupa abadikan moments ini sebagai kenangan di kemudian hari.
Alvan mengecup Citra sekali lagi setelah keduanya berada dalam mobil. Alvan takkan bosan merasakan keharuman tubuh Citra walau belum mandi. Keharuman tubuh Citra seakan mengandung pelet buat Alvan tak bisa move on.
Citra persiapkan diri masuk ke ruang operasi. Di tempat lain Alvan kembali disibukkan oleh tugas yang takkan pernah selesai. Tiap hari ada saja proyek baru harus ditangani. Alvan harus bersyukur makin diberi rezeki melimpah.
Di jaman serba krisis gini banyak lowongan kerja makin minim. Banyak perusahaan gulung tikar akibat resesi global. Hampir separuh dunia alami krisis ekonomi. Perputaran uang makin ketat membuat perusahaan yang tak mampu menahan gempuran terpaksa gulung tikar.
Alvan melanjutkan kerja tanpa adanya gangguan. Ntah berapa lama Alvan tenggelam dalam tugas sampai ponsel berbunyi memecahkan konsentrasi Alvan terhadap tugas.
Alvan meraih benda pipih itu lihat siapa telepon.
Tanpa ragu Alvan angkat telepon dari adik mamanya. Ada kabar apa lagi dari sana? Semoga bukan kabar yang menyulitkan Alvan.
"Assalamualaikum Amang.. apa kabar?"
"Waalaikumsalam...kabar baik nak! Mama kamu gimana? Apa ada kemajuan?"
Alvan lupa mengabari keluarga di Banjar kalau Bu Dewi telah berangkat ke Tiongkok untuk berobat. Alvan terlalu sibuk dalam berbagai masalah sampai lupa kabari keluarga di sana.
"Oh maaf mang! Alvan minta maaf tak kabari Amang kalau mama sudah berangkat ke Tiongkok untuk berobat."
"Ya Allah...sejauh itu? Siapa yang temani mama kamu di sana?"
"Itu tak perlu Amang kuatirkan! Ada saudara Citra telah urus papa dan mama. Mama telah ditangani dengan baik. Sekali lagi Alvan minta maaf lupa memberi kabar. Terlalu banyak masalah menyita seluruh perhatian Alvan. Kadang Alvan tak tahu harus mulai dari mana dan berakhir di mana. Semua datang bertubi-tubi menerpa hidup Alvan." Alvan curhat pada Amangnya sebagai orang yang bisa diajak diskusi.
"Amang maklum.. apa isteri yang sekarang tak merawatmu dengan baik?"
"Justru dia terlalu baik jadi orang membuatku kuatir dia akan dibodohin orang lain. Dia selalu iba hati pada orang lain. Tidak rela melihat orang lain dalam kesusahan. Dia sendiri susah dia tidak merasa itu satu kepahitan."
"Amang bersyukur bilang istrimu yang ini jauh lebih baik daripada istrimu yang dulu. Bagaimana keadaan istrimu yang sedang sakit itu?"
__ADS_1
"Maksud Amang si Karin? Aku telah menceraikan dia atas permintaan dia sendiri. Sekarang dia sedang belajar ilmu agama di pondok pesantren. Aku telah melepaskan dia mencari kebebasan yang dia mimpikan."
"Betulkah? Amang turut berbahagia bila kamu telah terbebas dari perempuan yang nakal itu. Semoga semua ini akan menjadi pelajaran buat kamu dan si Karin."
"Iya mang! Aku telah sadar bahwa yang kita tampak baik itu belum tentu baik untuk kita. Yang buruk di mata kita justru itulah penuntun jalan kita ke depan. Aku tidak mengharap apapun lagi selain berkumpul dengan Citra dan anak-anak."
"Van...Amang hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kamu! Amang telepon mau katakan bahwa keluarga Kayla minta kamu berbaik hati bebaskan Kayla. Mereka telah sadar akan kesalahannya dan bersedia bayar kompensasi pada Citra."
Alvan tertawa dengar tawaran dari pihak Kayla. Apa nyawa seorang Citra bisa ditukar dengan segembok uang? Mungkin mereka lupa Alvan jauh lebih kaya dari mereka. Ditambah Citra punya dukungan tak kalah gahar yakni keluarga Perkasa yang cukup punya nama.
"Amang... pengakuan yang sangat terlambat. Gimana kalau Citra berhasil diculik? Apa mereka sanggup bayar nyawa isteriku? Kami tak butuh semua uang dari mereka. Citra juga bukan mata duitan. Dia juga punya latar belakang tak kalah dari kita. Dia itu cucu dari Perkasa. Orang kaya terdaftar di Asia. Mampukah mereka saingi kekayaan Perkasa?"
"Apa? Citra cucu dari keluarga Perkasa? Bukankah dia anak yatim?" Amang tak kalah kaget dengar siapa Citra sesungguhnya. Keturunan dari satu kerajaan tak kalah dari Lingga.
"Dia itu anak Hamka Perkasa. Baru ini ketahuan kalau Citra anak dari Hamka. Citra punya backing cukup mumpuni! Siapa berani main belakang pasti dihabisi oleh Heru Perkasa. Mang... kita jalani saja hasil sidang! Bukan Alvan kejam tapi setiap perbuatan ada akibatnya yang harus kita bayar. Alvan minta maaf tak bisa penuhi permintaan Amang."
"Bukan Amang yang meminta tetapi keluarga Kayla memohon pada Amang untuk bicara dengan kamu. Amang hanya kasihan pada anak Kayla yang masih kecil tetapi memang kalau sudah begitu Amang pun tidak bisa berkata apa-apa."
"Terima kasih atas pengertian Amang dan sampaikan maaf Alvan kepada keluarga Kayla. Kalaupun Alvan mengalah keluarga Perkasa tidak akan mengalah. Apa Amang tidak tahu Heru tega pada saudara sepupunya hingga meninggal di penjara itu akibat ingin melenyapkan Citra. Apa Alvan sebagai suami memberi maaf pada orang yang ingin lenyapkan istri sendiri?"
"Oh... Heru termasuk orang tidak mengenal kata kompromi. Sepak terjang dia di dunia bisnis cukup mengagumkan. Kalau sudah begini Amang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Semoga Kayla dan ibunya bersikap baik di penjara sehingga dapat remisi."
"Semoga mang! Amang tidak menyalahkan Alvan bukan?"
"Oh tidak.. Itu hak kamu karena citra adalah istri kamu. Amang malah bangga kamu melindungi istri kamu dengan baik. Amang akan sampaikan apa yang kamu katakan pada keluarga Kayla."
"Iya mang! Soal Mama akan Alvan kabari begitu dapat berita dari Tiongkok sana. Sejauh ini kabarnya baik-baik saja."
"Mamamu beruntung punya menantu macam Citra. Punya hati lapang tidak dendam pada mama kamu. Coba ganti wanita lain mungkin bersyukur mamamu sakit."
"Itulah Citra! Dia matian obati mama agar pulih! Tak ada sepatah kata kesal dari mulutnya. Dia selalu ingatkan Alvan untuk menjenguk mama supaya perasaan mama lebih baik."
"Syukurlah Citra sayang pada mama kamu. Amang lega kalau keluargamu utuh. Amang ijin tutup dulu! Semua katamu akan Amang teruskan pada keluarga Kayla. Maaf sudah menyita waktumu. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Alvan termenung. Pihak Kayla masih berusaha hindari hukuman. Kalau Alvan lembek kelak akan muncul kasus baru. Alvan harus keras tak boleh mengalah biar ada efek jera. Keluarga Kayla mungkin anggap uang sanggup membeli semuanya. Pandang remeh pada Citra yang dianggap bisa di beli gunakan uang.
Bicara soal harta kekayaan, Citra jauh lebih unggul dari mereka dengan status barunya sebagai cucu Perkasa. Pak Sobirin takkan tinggal diam cucunya diinjak orang. Heru mungkin akan lebih sadis bila harga diri Perkasa dipermainkan.
Alvan buang jauh-jauh pikiran menjadi pemaaf dalam kasus Citra. Heru saja turun tangan kejam pada saudara sendiri mana mungkin Alvan menurunkan emosi hanya untuk menyenangkan keluarga di Kalimantan.
Bagaimana keluarga Perkasa akan menilainya? Lelaki lunak tak punya wibawa? Isteri nyaris hilang nyawa masih jaga kebebasan orang lain.
Tidak. Alvan tak boleh terpengaruh oleh bujukan keluarga Kayla. Satu hati satu tujuan. Melindungi anak isteri.
Alvan menanti telepon Citra dengan sabar. Alvan harus ingat Citra bukan sedang bersenang-senang pergi shopping di mal. Melainkan sedang menyelamatkan hidup seseorang. Berapa lama pun Alvan tak boleh mengeluh. Mestinya Alvan dukung lagi semangat Citra supaya makin menanjak ke atas memberi kesembuhan pada seluruh orang sakit.
__ADS_1
Lewat jam lima Citra baru telepon kalau dia sudah selesaikan tugas sebagai dokter. Alvan tak buang waktu mengejar isteri di rumah sakit.
Untung dan Andi sudah tak sabar ingin pulang. Berhubung bos besar belum pulang maka kedua orang kepercayaan Alvan tak berani duluan kabur dari kantor. Alvan memang tak meminta mereka menunggunya tapi kedua laku itu sadar status tak melangkahi kewajiban anak buah.