
"Suami Citra jauh lebih berkharisma! Suaranya lembut pada isteri. Pasti dia lelaki baik sayang keluarga." Lan Yin tidak segan puji Alvan yang menurutnya lebih keren dari Heru.
"Aku setuju katamu Yin! Papi Afisa jauh lebih ganteng daripada Heru. Sudah tinggi ganteng baik lagi." Mung Si ikutan beri penilaian pada Alvan.
"Sebaik apapun dia tetap suami orang. Jangan berpikiran macam-macam!"
"Aku kan hanya kagum. Tak ada maksud tertentu terhadap papinya Afisa." Lan Yin manyun dituduh punya niat lain pada Alvan.
"Gitu saja marah! Aku hanya ingatkan! Kita tak boleh merusak hubungan orang lain. Jodoh kita pasti ada. Tak perlu kaya, yang penting sayang pada kita." kata Afung tak ingin berspekulasi dengan perasaan kedua temannya. Afung duluan beri peringatan agar kedua pengagum Alvan matikan niat buat rencana jadi perusak.
"Siapa lagi mau papi Chai Sia? Bisa bolong kuping kita dihajar Chai Sia pakai lidahnya yang setajam tombak itu? Aku menyerah kalau urusan dengan anak itu." Mung Si angkat tangan ingat lidah Afisa bisa bor kuping mereka pakai kalimat menohok.
Afung dan Lan Yin tertawa. Siapa tak kenal anak pintar itu. Judes kalau tak pas di hati.
"Dia paling sukses kali ini. Dapat tiga medali walau satu perak. Itu sudah prestasi bagus. Aku iri padanya. Semuda gitu prestasi menjulang. Kita ini sudah hampir pensiun." Mung Si memuji Afisa yang paling menonjol kali ini.
"Aku sih masih bisa ikut tanding dua tiga tahun lagi. Afung tahun depan sudah tak ikut dan kau Mung Si juga sama." kata Lan Yin ingat jejak masa pensiun mereka. Usia mereka dan Afisa beda jauh. Afisa anak umur delapan tahun sedangkan mereka sudah dua puluh lebih. Waktu mereka unjuk kebolehan makin menipis.
"Lagi ngobrol apa?" Citra bergabung mengantar teh pahit untuk jadi teman ngobrol. Sayang tak ada cemilan untuk hindari rasa pahit di lidah. Lama ngobrol tanpa cemilan buat bosan juga.
"Lagi bicara Chai Sia. Kamu harus bangga punya anak seperti dia!" jawab Afung jujur lagi ngerumpi prestasi Afisa.
Citra hanya tersenyum tipis tak ingin pamer kebolehan anaknya. Ibu mana tak bangga punya anak sejuta talenta, namun Citra tak boleh takabur ikut banggakan prestasi anak. Harusnya Citra dorong Afisa agar makin semangat menjawab tantangan.
"Itu semua berkat bimbingan mamanya. Aku di sini hanya bisa kirim doa. Apa kalian hanya mau duduk di sini habiskan satu hari?"
Ketiga tamu Citra mengedik bahu tak ada ide. Mereka bisa apa bila tak ada guide antar mereka keliling kota. Heru yang diandalkan harus ke kantor. Menunggu hanya itu yang bisa mereka katakan.
"Aku ingin lihat Monas kalian yang terkenal! Apa kau bisa antar kami?"
Citra menatap Lan Yin yang punya rencana. Citra tak mungkin antar mereka berhubung kedua kurcaci tak ada yang ngawasin.
"Gimana kalau kuminta abangnya Si Koko antar kalian keliling kota. Nanti Kupesan bawa kalian ke tempat menarik. Ok?"
"Very ok...jujur aku bosan disuruh jaga rumahmu! Ok kami siap-siap ya!"
"Pergilah bersiap! Aku beri pesan pada supir dulu."
Ketiga gadis ini berhamburan meninggalkan teras menuju ke kamar mereka selama di sini. Citra segera mencari Tokcer agar anak lajang itu kawal tamunya jalan-jalan. Kendalanya pasti di komunikasi. Tokcer lebih parah dari Heru bila ajak ketiganya bepergian. Bukan hanya sekedar ayam dengan bebek tapi ayam dengan burung kasuari. Makin lebar gapnya.
Tokcer segera menghadap begitu dapat panggilan dari Citra. Citra memang kakak dalam keseharian di kampung sana tapi Citra juga nyonya bos yang harus dipatuhi.
"Tok ..kau antar ketiga tamu kita lihat Monas ya! Siang nanti kamu bawa mereka makan di restoran kita. Kamu teleponi Andi minta booking makanan dulu. Andi yang akan urus semua biaya makan kalian. Dan bawa ini untuk pegangan mana tahu orang itu pingin sesuatu." Citra memberi Tokcer beberapa lembar uang warna merah.
Tokcer bukannya mau tolak tugas ini. Lajang ini menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tak gatal tetap harus digaruk untuk unjuk dia bingung.
"Kak..ngomongnya gimana?"
"Ngomong apa? Nggak usah omong. Gunakan bahasa isyarat saja!"
"Kayak orang bisu gitu? Kalau orang lihat dipikir banyak amat orang bisunya. Ajak Koko ya!"
"Koko lagi belajar! Senin dia sudah ujian. Bukankah besok kalian mau jalan-jalan?"
"Iya kak! Paling nongkrong di mal. Kalau ada salah paham nanti kakak jangan marah ya!" Tokcer meringis ingat kendala bawa orang beda suku. Komunikasi sudah pasti mampet. Bahasa gado-gado harus diandalkan walau tak menjanjikan.
"Kakak ngerti kok! Yang sopan ya!"
__ADS_1
"Iya ibu bos..."
Sahutan merana Tokcer mengundang tawa kecil Citra. Citra ngerti Tokcer bukan mau hindari perintah tapi tak nyaman jadi guide tak bisa saling menyapa. Mana ada guide bicara dengan turis pakai bahasa tarzan. Ketawa seluruh penghuni hutan rimba.
Jadilah Tokcer jadi bodyguard plus guide dadakan buat ketiga gadis dari negeri tirai bambu. Citra tak mau bayangkan apa jadinya Tokcer kawal tiga cewek beda suku. Kepala Tokcer mau botak itu terserah dia lah. Pandai-pandailah si Tokcer.
Alvan dan Andi langsung disibukkan oleh pekerjaan. Alvan tak punya waktu untuk berleha karena pekerjaan harus tuntas hari ini. Besok Minggu hari libur tanpa job. Senin nanti sudah ada tugas baru. Kalau ditumpuk bisa berganda kerja Alvan.
Alvan asyik kerja tanpa sadar waktu hampir tengah hari. Hari Sabtu kantor cuma buka setengah hari. Itu tandanya Alfan akan segera bebas dari tugas. Cuma sayang tugas masih tertinggal sehingga Alfan tidak bisa segera pulang. Karyawan yang lain boleh pulang kecuali Andi dan Untung yang setiap hari harus mendampingi Alvan.
Benda pipih di atas meja bergetar lalu mengeluarkan nada dering bawaan ponsel. tanpa meninggalkan map yang berada di tangan Alvan melirik layar ponsel yang berkedip tanda ada panggilan masuk. Di situ tertera nama Karin.
Alvan segera meraih benda itu lalu menggeser bola tanda hijau ke atas. Benda itu didekatkan ke kuping untuk mendengar apa yang akan dikatakan orang dari seberang sana. Apa merasa pasti ada sesuatu yang penting karena selama beberapa waktu ini kalian tidak pernah menelepon ini.
"Ya..."
"Assalamualaikum Van.."
"Waalaikumsalam..." sahut Alvan dengan nada agak datar. Arfan adalah seorang lelaki yang harga dirinya telah diinjak oleh Karin. Niat hati ini memaafkan Karin tetapi tetap tertinggal rasa dendam dalam hati.
"Van...kau sibuk?"
"Hmmm...to the point!"
"Demikian bencinya kau kepadaku?"
"Haruskah aku jawab pertanyaan bodoh ini?"
"Aku minta maaf sekali lagi. Aku terlalu bodoh di masa lalu sehingga tak lihat ketulusan kamu."
"Aku tak harap apapun! Aku cuma ingin minta ijin berangkat ke Jawa Tengah."
"Kau mau ke pesantren itu?"
"Iya...rencana besok aku berangkat dijemput oleh santri dari sana. Kau tak perlu antar aku lagi. Mereka utus orang jemput aku!"
Alvan tertegun sejenak. Ada rasa sesal membuncah di hati telah kasar pada wanita yang pernah hiasi hari-harinya. Alvan mengira Karin menelepon hanya mencari perhatian. Siapa sangka Karin menelepon hanya minta izin untuk berangkat ke pondok pesantren.
"Kau yakin ke sana? Aku tidak memaksamu untuk pergi. Nanti kau pikir aku laki kejam campakkan kamu."
"Tidak...kamu sudah sangat baik! Aku tidak menyesal pernah berada dalam hidupmu walau berakhir kacau. Aku tidak salahkan kamu Van! Takdir aku ya segini. Cuma kumohon padamu agar jaga Citra. Dia wanita terbaik yang pernah kutemui. Janganlah kau tergoda oleh wanita macam aku lagi! Seperti katamu waktu yang telah berlalu tidak akan kembali jadi jangan mengulangi kesalahan yang sama!" Karin berbalik menasehati Alvan agar jangan terjerumus dengan wanita yang tidak benar. Alvan tidak akan menemukan yang kedua wanita seperti Citra yang berani berkorban untuk orang yang dia cintai.
"Aku tahu...aku akan jumpai kamu besok sebelum berangkat. Kalau kau pergi, Bik Ani dan Iyem kubawa tinggal bersama Citra. Kau tak keberatan?"
"Tentu saja tidak... itu lebih baik daripada mereka tinggal berdua di rumah yang besar. Mereka juga dapat membantu Citra di rumah."
"Terimakasih... Apa kau sudah yakin ingin berangkat ke pondok pesantren? Aku sama sekali tidak mengharap kamu pergi dengan keterpaksaan."
"Bukan gitu Van! Aku ingin belajar ilmu agama untuk menembus semua kesalahanku di masa lalu. Aku tidak berharap banyak dari semua ini tetapi aku ingin mencari ketenangan bersama orang yang senasib denganku."
"Baiklah kalau memang itu sudah keputusanmu! Kalau kau tidak betah segeralah pulang! Aku akan membawamu pulang."
Karin sedikit terhibur masih ada sisa perhatian dari Alvan. Semula Karin mengira Alvan akan senang Karin menghilang dari hidupnya. Karin dianggap sebagai benalu parasit dalam hidup Alvan.
"Terima kasih Van. Sekali lagi maafkan aku! Kalau pendek umurku rasanya tak ada beban lagi. Satu lagi Van...aku ingin lihat anak-anak kamu! Mereka juga anak-anak aku. Semoga kau penuhin permintaanku yang sangat sederhana ini."
"Aku akan usahakan! Aku sudah memaafkan kamu! Jadilah orang lebih baik untuk ke depan. kita semua telah memetik hasil dari perbuatan kita masing-masing. Semoga ke depan tidak terulang lagi hal-hal yang sangat menyayat hati ini. Kita terluka oleh perbuatan kita sendiri."
__ADS_1
"Aku ngerti. Terima kasih Van! Besok kutunggu kamu! Bawa Citra dan anak-anak ya!"
"Baik...aku tutup dulu! Jangan sungkan bila kau memerlukan sesuatu! Aku tetap mendengar semua keluhan kamu."
"Terima kasih. Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.." Alvan termenung hubungan putus. Mengapa Alvan merasa ini seperti panggilan terakhir dari Karin. Nada suara Karin demikian pasrah tanpa tersirat adanya hasrat berjuang.
Alvan kuatir Karin mulai patah semangat terhadap penyakitnya. Di antara rasa benci terselip rasa iba. Mana yang lebih dominan. Benci atau iba.
Dari Karin Alvan teringat janji pada Heru membantunya buat acara menembak Afung dengan acara romantis. Ini butuh bantuan Daniel. Seniman gagal itu paling lihay menata acara romantis untuk pasangan.
Heru ingin memberi Afung kenangan indah di moments penting ini. Bagi Heru mungkin hanya acara biasa namun bagi Afung ini adalah yang pertama dengan harapan yang terakhir.
Alvan meneleponi Daniel agar bersedia sulap cafenya menjadi ajang pengungkapan cinta antara dua manusia beda negara. Alvan berniat memberi kenangan indah pada orang yang telah berjasa dalam hidup Afisa. Keluarga Afung telah bersedia menerima Afisa serta melatihnya menjadi orang berguna itu sudah merupakan jasa tak dapat dibalas Alvan.
Dengan memberi hadiah kejutan kecil bisa menciptakan kenangan tak terlupakan termasuk salah bentuk balas Budi Alvan.
Alvan kembali mengambil benda pipih di meja hubungi Daniel. Seniman gagal itu tentu sedang gembira telah singkirkan benalu dari keseharian hidupnya. Semoga saja Natasha tidak kembali usik Daniel.
"Halo Bray.. Tumben telepon?" Daniel duluan menyapa tanpa pakai basa-basi ucapan kata pembukaan yang mengandung gula.
"Rindu padamu! Lhu tak rindu padaku?"
"Nggak...tapi rindu pada orang di sampingmu! Kapan lhu talak Citra? Gue ikhlas lhu jadian sama Niken! Gue doain pagi siang malam lhu keceplosan beri talak pada Citra!"
"Dasar demit! Gue mau kabarin kalau Selvia sudah meninggal."
"Serius lhu? Kok mendadak banget?" Daniel cukup terperanjat dapat kabar duka dari Selvia. Daniel samasekali tidak berharap adanya kabar ini. Selvia cukup di penjara saja, tapi mengapa kabarnya sangat menyeramkan.
"Dia kena HIV dan terpapar covid. Gabungan keduanya memperpendek umurnya. Dia langsung dikubur oleh pihak rumah sakit."
"Kasihan juga ya! Andai dia tak berbuat salah maka tak ada kejadian hari ini. Siapa harus jadi kambing hitam masalah ini? Selvia atau kamu yang buat Selvia nekat merancang rencana jahat."
"Kau omong gitu membuatku merasa bersalah. Secara tak langsung akulah inti dari kematian Selvia."
"Bukan itu maksudku! Pesona lhu terlalu dahsyat. Maunya lhu oplas biar mirip tazmania!"
Alvan pernah dengar tokoh dalam khayalan anak-anak. Sudah jelek mulutnya lebar di tambah gigi tajam kayak gergaji. Tampangnya sungguh mengerikan.
"Apa tak ada yang lebih jelek dari itu?"
"Ada...zombie pakai rok kembang!"
"Kau mau aku bersaing dengan Andi? Dia bisa anggap aku ini satu dunia dengannya. Kami akan sama-sama gunakan lipstik duduk di perempatan cari cowok bercambang tebal untuk ajak kencan." ujar Alvan sewot.
Daniel tertawa ngakak keluarkan tawa ciri khasnya. Daniel selalu bahagia bila Alvan sewot. Ada rasa puas di dada bisa buat si macho jatuh rantai.
"Aku harap hari itu tiba. Aku akan segera petik kembang pujaan hati kalau kau sudah lunakkan tulang mu."
"Doa orang jahat tidak dijabar Tuhan terutama orang songong."
"Didengar...didengar asal di doa tiap detik!"
"Tiap detik? Emang doamu cuma satu kali tarik nafas? Kalau gitu jangan bernafas!"
"Metong dong! Aku belum capai tujuan pantang tinggalkan dunia. Maju pantang mundur." seru Daniel sekuat tenaga usik kuping Alvan.
__ADS_1