ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Opa Jono


__ADS_3

Sedang asyik Alvan dan Afifa ngobrol tiba-tiba masuk Citra membawa file berisi catatan kesehatan Pak Jono. Secara otomatis Alvan melirik ke arah Citra melihat wajah Citra apa menunjukkan sesuatu yang yang tidak mengena di hati. Untunglah wajah Citra adem ayem tidak menunjukkan gelagat telah terjadi sesuatu pada Pak Jono. Jauh di lubuk hati Alvan sangat bersyukur, walaupun sejahat apapun Pak Jono dia tetap bapak kandungnya.


"Gimana Cit?" buru Alvan tak sabar ingin tahu hasil lab Pak Jono.


Citra mengangsurkan hasil lab pada Alvan agar laki itu lihat langsung hasil lab agar puas. Tujuan utama Alvan adalah lihat apa Pak Jono tertular virus HIV.


Dada Alvan plong karena di catatan tertera negatif. Kalau bukan ada anak isterinya rasanya Alvan ingin berteriak keluarkan perasaan sedih yang selama ini membuncah di dalam dada.


Yang bisa dilakukan Alvan saat ini adalah menatap Citra dengan tatapan terima kasih. Citra adalah wanita yang sangat bijak, bisa membaca keadaan tidak mengecilkan nilai opanya di depan anak-anak. Seharusnya dari dulu Alvan pertahankan Citra. Kalau mereka bersama dari dulu mungkin keadaan tidak akan sekacau ini. Alvan telah menerima karma dari keangkuhannya di masa lalu. Punya istri kacau balau model Karin dan papa yang berwatak bejat.


"Papa hanya mengalami stroke ringan. Memang untuk sementara ini anggota tubuh akan sulit digerakkan tapi aku yakin semua akan segera berlalu." kata Citra menguatkan Alvan agar tak menyerah.


"Kau yakin papa bisa sembuh total"


"Aku bukan Tuhan tapi Insyaallah aku akan berusaha. Sebentar lagi papa akan diantar ke sini. Dia sudah bangun!"


"Kau sudah jumpa papa?" selidik Alvan mau tahu bagaimana reaksi papanya jumpa Citra.


"Belum...aku hanya lihat papa dari jauh. Ada petugas dari ruang radiologi yang tangani papamu. Azzam dan Afifa bersiap jumpa opa ya! Opa itu papanya papi. Kalian harus sopan apa lagi opa lagi sakit!" Citra memberi wejangan pada kedua anaknya untuk belajar menerima anggota baru dalam hidup mereka.


Afifa mangut mengiyakan nasehat Citra sedangkan Azzam tetap dengan sikap abadinya. Cuek menanti reaksi orang lain duluan. Azzam takkan beri reaksi bila orang itu tidak mengganggu privasinya.


Benar kata Citra. Tak selang berapa lama dari luar terdengar suara orang mendorong brankas hendak masuk ke dalam ruang VVIP. Citra merasa tubuhnya mengeras ketakutan harus jumpa orang yang pernah jadi mertuanya. Pak Jono memang tak pernah menolak Citra. Lelaki tua itu abstain tidak berpihak pada Karin maupun Citra. Pak Jono memang kurang suka pada Karin. Kelakuan buruk Karin menumbuhkan rasa tak suka namun tak punya kuasa memaksa Alvan tinggalkan Karin. Akhirnya Pak Jono sendiri masuk liang jebakan Karin.


Begitu brankas masuk ke dalam mata pak tua itu liar memandangi orang-orang dalam ruang rawatnya. Wajah pak Jono masih dipenuhi tanda tanya mengapa ruangnya berubah ramai pengunjung.


Mata itu berhenti tak pindah dari tubuh Citra yang mungil dalam pakaian dokternya. Citra mengetahui tatapan Pak Jono segera memberi senyum tipis agar pak Jono tidak merasa asing padanya.


Belum ada yang buka mulut karena para perawat sedang memindahkan Pak Jono dari brankas Sorong ke tempat tidur yang lebih nyaman.


Pak Jono belum bisa move on dari wajah Citra. Kelihatannya pak Jono mulai mengingat mantan menantunya itu. Wanita yang pernah jadi bagian keluarganya. Citra salah tingkah asyik diperhatikan oleh Pak Jono. Sebenarnya hal itu lumrah jadi pusat perhatian pak Jono. Citra menghilang sekian tahun dan mendadak muncul lagi bersama Alvan.


Mungkin puluhan pertanyaan terbit di otak pak Jono. Dari mana Citra dan mengapa bersama Alvan lagi. Itu pertanyaan paling utama di benak pak tua itu.


Citra segera dekati Pak Jono sambil menyalami pak tua itu dengan salam takzim.


"Pa...apa kabar?" sapa Citra dibarengi senyum lembut.


"Citra??? Kenapa di sini?" tanya Pak Jono sedikit cadel karena efek dari stroke.


"Aku dokter papa! Aku tugas di sini! Papa tak usah kuatir...papa akan sembuh asal patuh pada pengobatan!"


"Kau sudah jadi dokter? Alhamdulillah...nak! Ke mana kamu selama ini? Kenapa pergi meninggalkan Alvan?"


"Aku kuliah di Beijing ambil sepesial...Citra punya hadiah untuk papa!" Citra melambai pada kedua anaknya agar mendekat pada Pak Jono.

__ADS_1


Pak Jono terpana melihat dua sosok makhluk kecil mirip Alvan datang mendekat. Pak tua ini merasakan dadanya sesak bisa menduga walau masih ada keraguan. Ini anak Alvan atau anak Citra dengan laki lain.


"Panggil opa nak!" Citra beri perintah pada kedua anaknya untuk panggil Pak Jono dengan panggilan yang diidamkan semua orang tua lanjut usia.


Afifa duluan maju hampiri Pak Jono dengan mata bening memancarkan kilauan tulus. Azzam masih dipenuhi rasa ragu untuk menyapa orang yang konon katanya papa dari papinya. Munculnya orang baru dalam hidup mereka membuat kedua anak Citra terkaget-kaget.


"Benarkah kakek opa kami?" tanya Afifa dengan lugu.


Pak Jono tak bisa menjawab cuma matanya memandangi Afifa dengan mata tua dipenuhi cairan bening. Pak Jono merasa sangat tua telah ada yang memanggil opa. Keangkuhan seorang lelaki gagah hilang tak berbekas setelah melihat anak kecil bermata bening.


"Pa...ini anak-anak aku dengan Citra!" Alvan perkenalan kedua anaknya pada Pak Jono agar pak tua itu tidak memikirkan siapa anak kecil ini.


"Anakmu?" ucap Pak Jono lirih. Pak tua ini seperti sedang bermimpi dengar ada orang bilang dia telah punya cucu. Tanpa sadar air mata pak Jono meleleh lalui pipi yang mulai keriput itu. Ntah air mata bahagia atau air mata penyesalan telah berbuat curang pada Alvan.


"Iya pa...mereka cucu-cucu papa! Ini Azzam dan ini Afifa. Masih ada satu lagi sekolah di Beijing. Namanya Afisa." lanjut Alvan agar papanya tidak bingung.


Mulut pak Jono komat-kamit ingin mengatakan sesuatu namun tak ada suara yang keluar. Leher pak Jono serasa tercekik tak bisa bersuara saking senang punya cucu. Tak pernah dia sangka telah ada penerus keluarga Lingga. Susah payah berzinah agar ada penerus nyatanya semua itu sia-sia. Malahan menumpuk dosa berkhianat dari anak dan isteri.


"Ko..Amei ayo panggil Opa!" Citra kembali bersuara meminta kedua anaknya maju menyalami Pak Jono.


Afifa yang telah dekat Pak Jono tidak ragu mengambil telapak tangan kakeknya untuk disatukan dengan jidatnya.


"Opa...saya Afifa..." Afifa perkenalkan diri dengan kenes.


"Aku Azzam...anak sulung papi." Azzam perkenalkan diri menyatakan posisi sebagai anak sulung.


Pak Jono bergerak ingin bangkit namun seluruh anggota tubuhnya masih lunglai tak bertenaga. Gerakan tangan kiri kaku karena serangan stroke yang baru dia alami. Pak Jono antusias ingin memeluk cucu-cucu yang baru dia temui.


"Panggil lagi opa..." pinta pak Jono dengan bibir bergetar. Pak tua ini ingin dengar sekali lagi anak-anak Alvan memanggilnya agar tahu itu bukan ilusi.


"Opa..." Azzam dan Afifa panggil dengan lantang disambut Isak tangis Pak Jono. Pak Jono terlalu bahagia dengar ada yang memanggilnya dengan panggilan termerdu yang pernah dia dengar. Suara nyanyian penyanyi top sekalipun kalah merdu dari suara kedua anak kecil itu.


"Papa tidak sedang bermimpi kan Alvan?" Pak Jono menggeserkan mata ke arah Alvan. Alvan menggeleng perkuat kalau itu semua bukan mimpi.


"Mereka itu nyata pa! Sekarang papa harus kuat biar bisa jaga cucu-cucu papa yang pintar. Papa harus patuh pada Citra agar cepat sembuh!"


"Papa mau minta maaf nak! Papa berdosa padamu dan cucu papa! Papa tak pantas jadi opa dan papa. Papa ini jahat padamu!" Pak Jono makin terisak telah berbuat tak pantas dengan Karin. Hawa nafsu telah butakan hati sampai tega khianati keluarga.


"Masih banyak waktu untuk bertobat! Sekarang papa harus sehat dulu. Aku akan kabarin mama agar pulang!" Alvan bergerak maju menepuk punggung tangan Pak Jono. Rasa benci di hati mampu dikalahkan oleh rasa bakti pada orang tua. Alvan belum berniat jadi anak durhaka mengutuk pak Jono. Sekarang saja papanya telah mendapat karma. Allah itu tidak tidur, yang salah tetap akan dapat ganjaran.


"Terima kasih nak! Ayo sini sayang. Opa ingin melihat kalian lebih jelas." Pak Jono melambai pakai tangan kanan karena tangan kiri belum bisa bergerak bebas.


Afifa dan Azzam maju berdiri persis di samping kasur pak Jono. Mata tua Pak Jono meneliti kedua anak Citra silih berganti. Azzam persis Alvan sewaktu kecil. Dari kecil sudah tampak gagah berani. Cocok jadi pewaris keluarga Lingga.


"Kalian anak-anak cantik! Sekolah kelas berapa?"

__ADS_1


"Amei kelas dua dan Koko kelas tiga. Amei tidak sepintar Koko maka masih di kelas dua. Cece lebih pintar lagi. Selalu ranking satu." celoteh Afifa membingungkan pak Jono. Siapa Amei, Koko dan Cece.? Pak Jono tak tahu kalau mereka punya panggilan khas dari Tiongkok.


"Amei? Koko dan Cece? Siapa itu?" pak Jono mengerut kening. Kening sudah keriput tambah keriput lagi berkat ocehan Afifa.


"Koko itu Azzam, Cece itu Afisa dan Amei itu Afifa. Mereka gunakan bahasa Mandarin untuk menyebut tingkatan mereka." Citra beranikan diri menerangkan walau tidak dapat perhatian. Perhatian pak Jono tentu saja tertuju pada kedua anak Citra yang merupakan cucunya.


"Oh gitu ya! Opa tak sangka punya cucu-cucu manis!"


Dalam hati Alvan tertawa, pak Jono belum ngobrol panjang lebar dengan Azzam. Pak tua itu belum rasakan semburan racun dari mulut Azzam. Sekali kena nyeri ke ulu hati.


"Iya mereka anak baik! Papa harus kuat ya! Lawan penyakit papa!" Alvan beri spirit supaya Pak Jono kuat lalui cobaan.


"Papa akan kuat! Mamamu pasti bahagia dengar kabar ini! Kau harus kasih tahu mamamu Alvan!"


"Pasti...pasti...papa tak usah ingat yang sudah-sudah! Kita punya tugas penting besarkan kurcaci-kurcaci cantik kita! Mereka butuh bimbingan kita!" ujar Alvan sendu pada Pak Jono. Apa pak Jono pantas membimbing anaknya sementara dia sendiri berjalan di atas bara api.


"Iya...iya...papa ingin cepat pulang. Azzam dan Afifa harus tinggal bersama Opa dan Oma. Kita tinggal bersama-sama di rumah Opa ya!" bujuk Pak Jono pada kedua anak cantik itu.


Azzam dan Afifa tidak segera menjawab. Mereka berdua patuh pada Citra. Semua kunci jawaban berada di tangan Citra. Kalau Citra ijinkan maka mereka akan ke sana. Bila Citra menolak maka mereka takkan pernah ke sana. Remotenya ada pada Citra.


"Tanya mami dulu Opa! Tanpa ijin mami kami takkan ke mana-mana!" sahut Afifa jujur. Afifa tidak takut pak Jono bersedih karena dia telah diajar jadi orang jujur sejak kecil.


"Mami pasti kasih!" Pak Jono menyusut sisa air mata di pipi. Pak Jono tak kuasa menahan haru melihat Alvan akhirnya punya sesuatu bisa dibanggakan. Cuma pak Jono belum mengerti bagaimana Alvan dan Citra bisa punya anak padahal mereka berpisah cukup lama.


"Suatu hari kita akan ke sana! Papa banyak istirahat. Besok kita fisioterapi untuk pulihkan motorik gerak papa. Papa mau naik sepeda dengan Azzam dan Afifa kan?"


"Mau...opa tak sabar ingin cepat sehat! Opa akan ajak kalian jalan-jalan ke taman!"


"Opa tenang saja. Amei akan jaga Opa biar tidak jatuh. Amei kuat lho Opa!" Afifa si peramah cepat akrab dengan siapapun. Gadis ini tidak segan-segan perlihatkan betapa dia hebat bisa menjaga sang kakek yang kurang sehat.


"Opa percaya..." Pak Jono takjub tiba-tiba punya cucu sudah gede. Tidak tanggung sekali dapat tiga cucu. Paras cantik rupawan. Mulut semanis gula. Afifa cepat membuat orang jatuh cinta padanya.


"Opa tak boleh nangis lagi! Kata mami kita tak boleh cengeng. Jadi anak harus kuat. Amei tidak cengeng karena kuat. Opa tidak usah takut! Amei akan jaga Opa." Afifa dada kecilnya membuat semua tersenyum. Pak Jono tak sempat bersedih lagi kena bujukan cinta Afifa.


"Opa akan patuh sama Amei! Koko Azzam kok diam saja?" pak Jono beralih ke Azzam yang tenang menghanyutkan. Alvan gemas sekali pada sikap sok cool anaknya. Alvan saja kalah cool dari putra satu-satunya.


"Koko senang jumpa opa! Jujur Koko masih kaget punya papi, opa dan Oma. Biarkan Koko berenung dulu mengapa hari ini datang sangat terlambat?" kata Azzam tenang bak orang dewasa sedang analisa semua kejadian hari ini.


Pak Jono melongo dibuat heran oleh gaya keren Azzam. Terlalu dewasa untuk ukuran seorang anak kecil.


"Ko...kita bersyukur saja punya


keluarga rame! Kalau Amei lebih suka ada om Tante yang banyak! Kan senang punya keluarga yang banyak." Afifa menjawab supaya Azzam tidak mengurai masa lalu papinya lebih detail. Buntutnya papi akan bersedih di sekak Azzam.


"Afifa benar Azzam...kalau Azzam dewasa kelak papi akan bercerita semuanya. Tak ada yang akan papi sembunyikan!" Alvan menengahi rasa penasaran Azzam.

__ADS_1


__ADS_2