ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Siapa Ayahku?


__ADS_3

Rumah Citra yang sederhana kini penuh pendatang tak diundang. Tokcer dan Bonar berjaga-jaga dekat Citra untuk hindari kemungkinan buruk dari wanita hilang akal sehat diterpa rasa cemburu buta.


Azzam dan Afifa duduk dekat Citra isyaratkan melindungi mami mereka. Umur mereka boleh belia namun pola pikir mereka cukup matang tahu induk mereka sedang dalam bahaya. Biasa sang mami yang menjaga mereka, kini timbal baliknya. Mereka harus menjaga mami mereka.


Setelah semua duduk manis di sofa pak RT ambil ancang-ancang sebagai juru bicara kedua belah cari pangkal masalah dan penyelesaiannya. Mengurus masalah asmara urusan paling pelik, mending urus sengketa tanah ataupun maling jemuran.


"Nah .. kita mulai dari nyonya ini! Ceritakan kenapa datang ke sini marah-marah pada warga kami?" Pak RT persilahkan Viona duluan kemukakan alasan menyerang Citra dibantu dua emak-emak dari golongan elite.


"Protes pak! Aku ini nona..belum nyonya! Apa bapak tak lihat aku masih muda." protes Viona keberatan dipanggil nyonya. Viona merasa dirinya paling cantik di antara semua yang ada di ruangan itu.


"Oh maaf nona siapa ya?"


"Aku Viona calon istri Heru Perkasa. Warga bapak yang tak tahu malu merebut calon suami aku! Dia itu ***** menyamar jadi dokter. Bapak harus usir warga sampah ini." seru Viona dengan berapi-api. Mata Viona menatap Citra dengan ******.


"Astaghfirullah nona! Bu Citra itu memang seorang dokter. Selama tinggal di sini Bu Citra tidak pernah melakukan hal-hal negatif. Jadi jujur aku meragukan semua kata-kata nona." Pak RT langsung membela Citra tanpa meragukan status Citra. Sebagai seorang Pak RT wajib melindungi warganya dari hujatan tanpa bukti.


"Apa bapak buta tidak melihat fakta? Tidak punya suami tetapi mempunyai anak segede gini?" Viona masih gencar membuka keburukan Citra berdasarkan imajinasi dia sendiri. Padahal dia belum mengenal Citra seutuhnya, hanya karena cemburu pada Citra dia tega memfitnah Citra.


"Anda salah nona Viona... Bu Citra mempunyai suami. Kami di sini mengenalnya dengan baik. Jadi semua kalimat-kalimat nona yang mengecilkan nilai ibu Citra itu tidak benar. Harap nona menarik kembali kata-kata nona yang tidak mempunyai dasar. Bu Citra bisa saja menuntut nona Viona telah menyebarkan fitnah." pak RT perlihatkan sikap serius melindungi warganya dari fitnahan orang.


"Memangnya siapa suaminya? Aku mau melihat bagaimana tampang suaminya? Tukang becak atau tukang angkot?" Viona tak bosan-bosan menyudutkan Citra.


Sejauh ini Citra masih bersabar diri memberi kesempatan pada Pak RT untuk menyelesaikan masalah ini. Citra bukannya takut pada Viona tapi menghormati kehadiran Pak RT di antara mereka.


"Suami ibu Citra sejauh yang kuketahui bernama Pak Alvan Lingga. Semua bukti-bukti bahwa mereka adalah suami istri ada di kantor kami."


"What! Alvan Lingga suamimu? Ngaku-ngaku bini orang terkaya setanah air. Mana buktinya? Setahu aku bini Alvan sedang sekarat dan calon kuatnya pengganti bini Alvan adalah kak Selvia. Kok dokter gatel ini bininya?" seru Viona hampir memecahkan seluruh kaca di rumah Citra. Andi menutup kuping merasa suara Viona mirip lengkingan kuntilanak nyari mangsa.


"Mbah Kunti lagi sakaw...!" seru Andi sengaja imbangi Viona untuk permalukan wanita itu. Andi gregetan lihat cara Viona menjelekkan Citra di dekan orang ramai.


Tokcer dan Bonar ngakak tak indahkan sopan santun lagi. Orang model Viona tak perlu dihormati. Punya mulut tak pernah duduk di bangku sekolah. Asyik ngemut lipstik maka tak tahu bicara dengan benar. Sebenarnya pak RT ingin ngakak namun demi menjaga wibawa laki berumur empat puluhan itu menahan diri.


Pak RT mendehem memberi kode pada Andi untuk diam diri. Bukan waktunya buat Andi untuk mengeluarkan pendapat konyolnya.


"Nona Viona... kami tidak mengenal yang namanya Selvia. Yang kami tahu bahwa Bu Citra adalah istri sah dari Pak Alvan Lingga. Yang lain-lain kami tidak tahu menahu. Jadi kehadiran nona ke sini membuat kacau bisa kami jadikan poin untuk melaporkan nona ke pihak yang berwajib."


"Pak RT apa anda? Bukannya membantu menyelesaikan masalah tapi mengancam orang lain. Aku ini korban daripada warga bapak yang merebut calon suami saya. Di mana tanggung jawab bapak sebagai RT?"

__ADS_1


"Baiklah! Nona dari tadi asik bicara! Aku belum mendengar pembelaan dari Bu Citra. Jadi sekarang kita beri waktu pada Bu Citra untuk menjelaskan apa yang telah terjadi? Silakan Bu Citra!"


Semua mata mengarah ke Citra. Semua berharap kita mengatakan sesuatu sesuai fakta. Mereka yang mengenal Citra semua kata-kata Viona adalah kebohongan.


"Aku memang mengenal Pak Heru. Beliau adalah pasien saya. Urat tangannya terluka dan harus dioperasi. Akulah dokternya. Setelah beliau dioperasi dia ditangani oleh rekan aku yang bernama dokter Rahma. Setelah itu kami berjumpa di daerah pengungsian. Kalau tidak salah waktu itu nona ini ikut ke sana. Yang telah bikin kacau menghabiskan air bersih di daerah pengungsian. Besoknya Pak Heru datang dengan mekanik membuat sumur bor di daerah. Suami aku pak Alvan ada juga mengunjungi daerah pengungsian sambil membawa bantuan untuk daerah yang terisolir. Cuma itu saja yang terjadi. Yang lain-lain aku sama sekali tidak mengerti terutama tuduhan nona ini kepada aku." cerita Citra berdasarkan fakta.


"Jadi kau benar istri Alvan Lingga? Ngaku-ngaku untuk nakuti aku? Nggak termakan? Lihat tuh foto keluarga kamu tak ada Alvan!" Viona bangkit menunjuk beberapa foto terpajang di dinding. Kedua ibu-ibu yang temani Viona ikutan lihat kebenaran kata-kata Viona. Memang tak ada foto Alvan di setiap bingkai. Yang ada hanya foto Citra dan anak-anak serta foto Citra bersama orang tuanya.


Salah satu ibu teman Viona mendekati foto jadul Citra merasa tertarik pada orang di dalam bingkai foto. Lama sekali ibu itu menatap foto Citra bersama ayah dan ibunya. Ntah apa yang menarik dari foto jadul mulai kusam itu.


"Siapa orang ini?" tanya ibu itu dengan nada suara bergetar. Wajah berubah pucat pasi hilang rona merah di pipi. Blush on yang samar-samar terlihat kini memudar.


"Apa ayahku juga bersalah merebut pasangan dari keluarga kalian?" sindir Citra dengan nafas agak sesak. Citra tak habis pikir apa yang diinginkan orang-orang ini darinya.


"Ayah? Apa dia bernama Hamka?" tanya ibu itu berjalan ke arah Citra. Bonar langsung memalang di depan Citra agar ibu itu tidak terlalu dekat. Belum selesai satu cerita ibu ini buka lagi kisah lain.


"Bukan...ayahku bernama Suroso! Kami orang miskin...tak ada yang kenal kami!"


"Itu Hamka abangnya Heru. Hamka anak aku yang hilang hampir tiga puluh tahun. Apa ibumu bernama Inge?" ujar ibu itu tidak menyerah walau Citra membantah pengakuan ibu itu.


"Bu...anda kenal ibuku?" Citra melunak karena ibu itu menyebut nama ibunya dengan tepat.


"Kenal...karena ibumu aku kehilangan anakku! Anakku lari dari keluarga untuk menikahi ibumu! Sekarang di mana mereka?" ujar ibu itu dingin.


"Mereka sudah meninggal.. Ayahku sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Sedang ibuku meninggal di saat umurku lima belas tahun." Citra tidak menutupi seluruh kisah ayahnya agar tak ada salah paham. Ayahnya bernama Suroso sedang anak ibu itu Hamka. Di situ sudah terjadi perbedaan. Citra sama sekali tidak berharap masuk jadi keluarga orang tak punya naluri.


"Apa kau bilang nak? Anakku Hamka sudah meninggal? Tidak Kau pasti bohong.."


"Maaf ya bu! Aku tak bilang Hamka meninggal aku hanya bilang ayah aku dan ibu aku telah meninggal. Jadi kumohon jangan menambah beban pikiran di keluarga kami!" Citra malas berdebat dengan orang-orang yang tak punya rasa empati.


"Apakah ayahmu memiliki tompel warna hitam di sebelah dada kiri?"


Citra tergugu mendengar pertanyaan dari ibu itu. Ciri yang digambarkan oleh ibu itu memang ada di dalam tubuh ayahnya. Namun untuk saat ini Citra tidak ingin interaksi dengan yang telah melukai harga dirinya. Melihat Viona saja Citra merasa perutnya mual. Gimana lah rasanya kalau benar dia benar keturunan dari keluarga orang sombong itu.


"Aku tak tahu..." Citra menjawab sambil memalingkan wajah agar tidak terlihat menyembunyikan kebohongan.


"Nak... Kalau benar ayahmu itu Hamka berarti kamu ini cucu saya. Hamka itu anak saya abang kandung dari Heru. Kumohon kasih tahu di mana keberadaan Hamka sekarang ini?" Ibu itu memohon dengan wajah memelas. Wajah yang tadi angkuh kini berubah seratus delapan puluh derajat. Keangkuhannya runtuh bak tembok raksasa runtuh tersapu badai dahsyat.

__ADS_1


"Bu... aku tidak mengenal Hamka. Ayah aku memang bernama Suroso." Citra masih pertahankan kenyataan hidupnya. Ayahnya memang Suroso walau ibu itu menggambarkan ciri ayahnya dengan tepat.


"Itu memang foto Hamka dan Inge...! Ibu takkan melupakan wajah anak sendiri! Ibu akan telepon Heru agar ke sini! Semua harus diperjelas siapa kamu sesungguhnya."


"Siapapun mami kami yang pasti bukan pelakor seperti kata bude tua ini! Keriput sana sini masih sok muda. Yang muda itu Amei. Lihat mami aku! Punya anak segede kami masih tampak seperti anak SMP. Beda dengan bude ini! Katanya masih muda tapi wajah boros amat! Kukira umur lima puluh tahun. Masih muda. pak RT kami!" mulut beracun Azzam mulai menyemburkan bisa mematikan ke arah Viona.


Viona ingin mencekik leher anak kecil kurang ajar ini. Enak saja ngatain dia berusia lima puluh tahun. Umurnya baru tiga puluh tahun dua tahun lebih tua dari Citra. Artinya jarak usia mereka tak beda jauh. Cuma tampang Citra sangat imut membuatnya tampak tak pernah tumbuh dewasa.


Tokcer dan kedua konconya tak segan ngakak sepuas mungkin. Dari tadi mereka heran mengapa si anak beracun tak berkotek, nyatanya sedang menyusun serangan mematikan. Terbukti Viona mati kutu tak berkutik.


"Lha ini gimana? Mau dilanjutkan atau mau korek kisah masa lalu?" Pak RT mulai tak kerasan karena cerita telah berubah arah. Dari kisah pelakor berubah menjadi ajang pencarian anak hilang. Yang mana harus ditangani dulu.


"Duanya pak RT..." sahut Azzam sok pintar.


"Ke mana aku harus mencari anak ibu ini? Toh hilangnya sudah sangat lama. Mungkin waktu itu aku masih SD ya! Aku waktu itu sekolah di kampung nenek aku! Tiap hari jalan kaki tiga kilo untuk capai sekolah. Sekarang mah enak ada bus sekolah! Jaman bapak mana ada!" Curhat pak RT menuai cibiran warga nomor satunya yakni Tarzan kampung bermarga Marpaung.


"Itu salah bapak kenapa minta dilahirkan jaman itu! Maunya minta lahir di jaman kita ini. Sarapan di sini buang air besar di Hongkong." olok Tokcer membuat petinggi kampung itu besarkan mata jengkel digoda terus oleh warganya.


"Kalian asyik canda! Bagaimana nasib aku? Masa aku diam saja digampar wanita murahan ini?" Viona hilang kesabaran karena kasusnya tersingkir oleh pengakuan calon mertuanya yakni ibu Heru. Mana mungkin Citra cucu dari keluarga Perkasa isteri dari Alvan Lingga. Betapa kuat posisi Citra bila betul berada di posisi ini.


"Diam kau Viona! Kita tunggu kehadiran Heru." bentak ibu yang ngaku ibunya ayah Citra.


"Jeng...kok main bentak? Apa salah anakku? Dia datang untuk membela haknya. Kau sendiri janjikan Heru nikahi Viona. Kok sekarang malah bela pelakor?" balas ibu lain tak kalah angkuh dari anaknya si Viona.


"Pokoknya kita tunggu kehadiran Heru. Biar Heru yang tentukan semuanya." sahut wanita tua yang dipanggil Jeng.


"Mana bisa gitu jeng? Viona ini kan calon istri Heru calon mantu kamu! masak kau biarkan calon mantu kamu dihina-hina orang!"


"Seingat aku yang menghina itu Viona. Kita harus dengar kata Heru." ibu yang ngaku ibu Heru berubah arah membela Citra.


"Tadi bukan itu ceritanya? Kamu mau bantu anakku serang pelakor yang ganggu Heru. Kok sekarang malah bela wanita rendahan ini." Ibunya Viona menunjuk Citra yang masih pusing tiba-tiba diserang Viona dan kini ada orang mengaku ibu dari ayahnya. Kepala Citra menjadi berat memikirkan kejadian pagi ini. Padahal tadi masih bersenang menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan konconya.


"Aku tak tahu kejadian sebenarnya hanya mendengar sepihak. Kini aku sudah melihat dan mendengar pembelaan nona ini maka aku rasa nona ini belum tentu bersalah."


Viona dan ibunya kena skak mental mendapatkan ibu Heru berubah arah membela perempuan yang dianggap menggoda Heru. Tujuan mereka menyerang Citra adalah mengancam Citra meninggalkan Heru. Siapa sangka di balik punggung Citra berdiri orang tak kalah besar dari Heru. Siapa tak kenal nama Lingga?


Viona syok mendengar Citra berhasil menggaet Alvan yang konon kekayaannya jauh melampaui Heru. Ada saudaranya Selvia sedang incar Alvan setelah kekuasaan Karin berakhir.

__ADS_1


__ADS_2