
Alvan harus makin tegar menjaga keluarga. Paling penting bungkus diri dengan pertahanan tidak ditembus serangan dari para wanita pencari kehangatan dari suami orang.
Hari ini Alvan bertingkah normal tidak terpancing oleh aroma bikin perut dihantam badai. Semua lakukan aktifitas seperti biasa. Cuma Heru sedang usaha urus penerbangan pribadi agar cepat tiba di Beijing. Alvan urus visa sedang Heru urus yang lain.
Dengan the power of money visa Heru selesai hari itu juga. Sore hari Heru langsung take off dengan pesawat sendiri agar cepat tiba di Beijing. Alvan sendiri yang antar Heru berangkat. Alvan tak ingin merepotkan Citra sedang hamil muda. Alvan sudah konsultasi dengan dokter Hans mengenai kondisi Citra yang hamil anak lebih dari satu. Citra tak boleh banyak aktifitas karena ini sangat berbahaya bagi janinnya. Kehamilan Citra beda dengan kehamilan biasa.
Makanya Alvan sebisanya kurangi kegiatan Citra demi keselamatan janin dalam perut. Untuk sementara Citra termasuk emak power. Sampai sekarang belum tampak wanita itu mengeluh ini itu. Semoga kondisi ini bertahan hingga hati H.
Kepergian Heru membuat Alvan makin repot karena harus bantu kontrol perusahaan Heru. Di luaran tersiar berita kolaborasi dua perusahaan karena Alvan telah muncul di kantor Perkasa.
Berbagai isu muncul dalam hal ini. Pihak yang tak senang dengan kebesaran nama Perkasa menghembus isu kerajaan Perkasa susah runtuh serta di akusisi oleh Lingga. Pemegang saham Perkasa tentu saja ketar-ketir takut kerajaan Perkasa runtuh. Alvan terkenal keras dalam berbisnis bikin para direksi agak segan.
Tapi semuanya hanya isu belum ada bukti. Orang tak tahu apa yang sedang terjadi pada dua keluarga ini. Mereka mana tahu isteri Heru baru saja mengalami kecelakaan. Pernikahan Heru belum tersiar ke khalayak umum maka orang masih berspekulasi sesuai apa yang ingin mereka bayangkan. Terserah orang mau pikir apa. Yang penting roda perusahaan masih bergerak seperti biasa. Tak ada yang berubah.
Siang itu Citra pulang cepat karena kurang enak badan. Sudah hampir dua Minggu Heru berada di Beijing sekalian urus kepindahan Afung ke Indonesia. Afung telah batal ikut tanding alasan dia tak bisa ikut lagi akibat luka parah di perut. Heru gunakan kesempatan ini ajak Afung pulang ke tanah air suaminya.
Citra beserta keluarga hanya bisa menanti di tanah air. Kabarnya orang tua Heru juga ikut pulang karena sudah bosan di luar negeri. Beliau sudah rindu pada cucu dan cicitnya.
Tokcer mengantar Citra pulang duluan berhubung anak-anak juga belum pulang sekolah. Citra serahkan ruang praktek pada murid magang yang mulai menunjukkan skill. Laura juga telah kembali bertugas seperti biasa. Citra terbantu oleh kehadiran murid magang.
Citra tiba di rumah dalam keadaan rumah sangat sepi. Punya banyak tak jamin rumah jadi semarak. Terbukti sekarang rumah sepi senyap. Tak ada suara apapun selain deru kenderaan sekali-kali lewat di depan rumah.
Citra merasa kesepian yang sangat mendalam. Biasa dia akan santai hadapi semua ini karena sadar anak-anak akan pulang tak lama lagi.
Tak ada kerja lain Citra coba ngobrol dengan Karin tanya bagaimana kondisi mantan isteri Alvan itu. Citra berharap Karin makin sehat hidup damai di pondok pesantren. Citra sengaja telepon untuk tahu bagaimana keadaan Ambar wanita yang ngaku hamil anak Alvan. Wanita itu sudah lama betapa di pesantren ustad Syahdan. Ntah bagaimana keadaan dia dan bayi dalam kandungan.
Citra pilih posisi santai untuk ngobrol panjang lebar dengan mantan isteri siri Alvan. Citra sandarkan tubuh ke pinggiran sofa rentangkan kaki ke depan cari kenyamanan. Setelah capai apa yang dia inginkan Citra keluarkan ponsel.
"Halo... assalamualaikum Bu ustad!" sapa Citra duluan begitu ponselnya disambut.
"Waalaikumsalam...belum lagi! Hampir.. bagaimana kabarmu? Alvan dan anak-anak?"
"Alhamdulillah sehat...kakak sehat?"
"Sehat... Alvan ada kirim uang untuk pesantren dalam jumlah besar. Katakan terimakasih ya! Obat-obatan untuk warga sini terpenuhi untuk beberapa bulan ke depan."
Citra tidak marah sedikitpun pada Alvan bantu warga pesantren yang rata-rata kena virus HIV. Alvan berbesar hati tentu karena adanya Karin di situ. Sedikit banyak Alvan masih ingat kenangan manis dengan wanita itu. Tak urung Citra cemburu Alvan masih menaruh perhatian pada Karin. Rasa cemburu tak mendasar. Karin dan Alvan sudah resmi pisah dan punya kehidupan masing-masing. Untuk apa paksa diri sendiri sakit hati.
"Iya kak...Oya bagaimana si Ambar? Apa dia sudah pergi dari pesantren?"
"Baru ini dia pergi cari pacarnya tapi laki itu tak mau tanggung jawab. Dia malah hina Ambar wanita murahan maka Ambar balik sini. Ustad ijinkan dia tinggal di sini sampai lahiran. Ambar akan berikan anaknya pada kami untuk diadopsi. Aku akan jadi mami macam kamu Citra!" Citra dengar nada begitu ceria dari Karin. Satu berkah bagi Karin mendapat anak dari wanita malang. Di sini siapa yang salah? Ambar yang terlalu liar atau laki itu yang kurang ajar. Mau enak saja. Giliran minta tanggung jawab malah kabur.
"Syukurlah kak! Kakak akan punya anak. Prosedur hukum harus jelas agar kelak anak ini tidak jadi anak buangan."
"Kami akan atur semuanya. Ambar akan bikin pernyataan bahwa tak sanggup rawat anak ini dan serahkan pada pondok pesantren. Ustad tahu segala caranya kok!"
"Syukurlah! Aku doakan kakak bahagia. Selamanya bahagia." Citra tulus ucapkan selamat pada Karin mendapat momongan tanpa harus melahirkan. Karin lebih beruntung tak perlu susah payah hamil dapat anak. Sedang dirinya masih harus berjuang berapa bulan lagi baru bisa gendong anak.
__ADS_1
"Kamu gimana? Belum ada rencana tambah anak? Apa cukup tiga kembar saja?"
"Alhamdulillah sedang kak!" jawab Citra beri jawaban membingungkan Karin. Sedang dalam arti sangat luas. Sedang usaha atau sedang hamil. Kata sedang ini beri dua alternatif pada Karin berpikir jalan mana sedang dilalui oleh Citra.
"Sedang apa?" Karin cari jawaban pasti. Jawaban Citra tidak tunjukkan sesuatu yang pasti.
"Sedang hamil kak!"
Karin terdiam tak segera beri reaksi. Ntah apa terlintas di benak wanita itu. Kecewa atau ikut senang Citra akan dapat momongan lagi. Citra juga diam beri waktu pada Karin untuk menyahut.
Mungkin Karin akan kecewa karena Alvan tak berhasil buahi rahimnya selama dia menjadi isteri. Begitu Citra jadi isteri Alvan sudah sehat. Ini tanda mereka memang tak berjodoh. Jodoh Alvan memang Citra.
"Selamat ya Citra! Sudah berapa Minggu?"
"Masuk sepuluh Minggu. Belum sempat pergi cek up lagi karena sibuk dengan isteri om Heru yang kecelakaan. Kalau tak ada halangan besok aku akan cek up."
"Semoga tak ada halangan."
"Amin..."
"Apa mereka kembar lagi?" Karin iseng bertanya penasaran bagaimana kelanjutan anak Alvan. Akankah buat kejutan lahir anak kembar lagi?
"Kok kakak tanya gitu? Apa feeling kakak mereka kembar lagi?"
"Penasaran. Dulu sekali kalian hubungan langsung siap adonan tiga bocah kembar. Kali ini kembar berapa?"
"Gila...kau mau bilang mereka berempat? Kalian keturunan kucing ya?" seru Karin kaget dengar Citra hamil kembar empat. Sebagai manusia umum yang tak luput dari rasa iri Karin jujur iri pada Citra.
Karin semula meragukan anak Citra anak Alvan. Tak mungkin sekali hubungan tercipta anak kembar tiga. Karin tak percaya kuasa Tuhan. Nampaknya keraguan Karin telah terjawab. Anak Citra memang keturunan Alvan. Terbukti Allah beri lebih lagi kali ini.
"Aku juga tak sangka akan hamil kembar empat. Aku tidak mabuk maupun ngidam. Alvan yang ngidam dan mabuk. Katanya dia juga pernah gitu sembilan tahun lalu. Cuma dianggap kena asam lambung. Ikatan batin Alvan dan anaknya sudah terbangun jauh hari."
Kata-kata Citra mengingatkan Karin bahwa Alvan memang pernah muntah-muntah dan sering pusing sampai setengah tahun. Mereka berobat ke dokter dibilang tekanan pekerjaan memicu asam lambung naik. Tak disangka cerita dulu terulang lagi. Citra yang hamil Alvan yang mabuk.
Karin sangat sedih tak bisa rasakan jadi ibu hamil sampai melahirkan. Dia pernah hamil tapi bukan anak Alvan melainkan anak mertuanya. Betapa kacau hidupnya dulu. Bangga akan cinta mati Alvan sehingga dia lupa daratan.
"Kau benar Citra. Alvan pernah alami masa sulit sembilan tahun lalu. Siapa sangka dia sedang dihukum karena terlantarkan anak isteri. Ini semua karena aku!"
"Tak usah ungkit masa lalu. Kini sudah punya tanggung jawab sendiri. Kakak juga bakal jadi mami. Fokus pada keselamatan Ambar dan bayinya. Beri asupan gizi agar si kecil sehat dan jangan lupa sering kontrol kesehatan. Tiap bulan lakukan rutin cek up pantau perkembangan bayi."
"Iya..terima kasih nasehatmu. Kau juga jaga kesehatan. Ujian mu berat harus jaga empat bayi. Katakan pada Alvan kalau aku ucapkan selamat. Dia telah buktikan dia lelaki tulen. Ok.. assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Citra menangkap ada nada getir dalam suara Karin. Tak pungkiri Karin sakit hati Alvan bisa buat Citra hamil. Mengapa takdir tak berpihak padanya? Apa karena dia terlalu angkuh sehingga Tuhan memberinya hukuman sangat berat. Mengapa Citra mendapat banyak kemudahan sedangkan dia harus lalui badai dan ombak yang tak sanggup dia lalui. Dia terhempas dalam kehancuran. Inilah jawaban untuk mereka yang angkuh dan munafik.
Citra termenung merasa bersalah pada Karin. Andai dia tak muncul ntah bagaimana pula kisah rumah tangga Alvan. Apa Alvan harus menyesal seumur hidup ikutan kena penyakit HIV? Tuhan telah mengatur karma baik dan buruk untuk semua insan manusia.
__ADS_1
Lama Citra termenung sampai Bik Ani membuyarkan lamunan Citra. Perempuan tua itu selalu berprasangka baik pada semua orang termasuk Karin yang kelewatan semasa jadi isteri Alvan. Bik Ani tetap setia walau acap kena amarah wanita berdarah panas itu.
"Non Citra mau makan? Ini sudah waktu zhuhur!" tegur Bik Ani menunggu respon Citra.
Citra mengangguk, "Makan dong Bik! Kasihan si bayi bila mami mereka diet. Aku sholat dulu ya! Bik Ani tak usah hidangkan di meja. Aku ambil di dapur saja. Kayaknya lebih enak numpang makan di dapur."
"Tapi non..nanti Bik Ani dimarahin tak layani nona dengan baik."
"Siapa bilang tak baik? Bik Ani paling baik. Tak usah dengar kata tuan kalian. Dia itu banyak pantangan. Kita makan bareng di dapur. Besok Bik Ani masak sayur lodeh ya!"
"Iya non! Apapun keinginan ibu hamil harus dituruti." sahut Bik Ani memanjakan Citra yang sedang berbadan dua. Alvan wanti-wanti pada Bik Ani untuk menjaga Citra termasuk semua menu keinginan Citra. Ibu hamil harus dijaga ekstra apalagi Citra mengandung anak luar biasa.
Di kantor Alvan agak pusing urus dua perusahaan. Belum lagi rasa mual dan pusing yang bisa datang kapan saja. Alvan paling alergi bau menyengat. Minyak wangi para karyawan jadi momok bagi Alvan.
Si tulang lunak Andi dilarang keras masuk ruang Alvan akibat minyak wangi super sangit milik laki itu. Andi sedih karena mengira Alvan mulai tak suka padanya. Laki ini belum tahu kakaknya sedang hamil muda. Kakak hamil yang sengsara Alvan gantiin Citra ngidam.
Menjelang akan pulang kantor Alvan mendapat telepon dari Heru di Beijing. Alvan segera aktifkan ponsel terima telepon dari jauh itu. Alvan sudah tak sabar harap Heru segera pulang untuk urus perusahaan sendiri. Alvan mati kutu gara suka mual tanpa sebab. Orang yang tak tahu pikir laki ini penyakitan.
"Halo... assalamualaikum..." Heru duluan beri salam.
"Waalaikumsalam... kapan pulang?"
"Kamu ini bukannya tanya kabar malah tanya pulangnya. Sudah bosan jadi mantu aku ya?"
"Bukan itu om! Kau tahu aku kurang sehat. Bolak balik dua kantor mau cabut nyawa aku. Kalau om pulang aku mau cuti seminggu. Mau pulihkan stamina!"
"Stamina apa? Bini lhu sedang hamil! Jangan mesum! Tak boleh jenguk anak-anak sampai lahiran."
"Yaelah...bukan itu tujuan aku! Aku mau bed rest seminggu betulkan urat di kepala agar jangan korsleting lagi. Aku menderita tapi tak berani mengeluh pada Citra. Takut pengaruhi janin di perutnya. Afung sudah sehat?"
"Alhamdulillah sudah sehat tapi ada masalah cukup pelik. Untuk sementara Afung tak tahu kalau rahimnya hancur akibat kena palang besi. Dia tak pernah bisa hamil lagi." ujar Heru dengan nafas berat.
"Ya Allah... bagaimana ini bisa terjadi?"
"Kau tanya aku lalu aku tanya siapa? Aku ajak kamu bicara dari hati ke hati. Citra dan Afung tak perlu tahu hal ini. Biarlah Afung mengira Tuhan belum percayakan anak pada kami!"
"Syukurlah sudah ada Gibran! Tapi apa Afung tak tuntut anak darimu?"
"Aku sudah punya anak untuknya."
"Kau mau adopsi anak? Jangan cepat sekali! Nanti dia curiga mengapa kau tak sabar pingin adop anak. Tunggu setahun dua tahun."
"Kau salah perhitungan. Aku akan minta dua anakmu!"
"Apa??? Om waras kan? Itu anakku! Bagaimana bisa dialihkan jadi anak kalian?"
"Apa aku punya pilihan lain? Aku tak mau anak tanpa hubungan darah dengan Perkasa. Dalam diri anakmu jelas mengalir darah Perkasa jadi lantas jadi anakku."
__ADS_1