ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pulang


__ADS_3

Heru diam saja tidak menanggapi ocehan dokter wanita itu. Heru memang tak tahu harus jawab apa. Kabupaten memang berhak tentukan siapa yang bertugas di daerah mereka. Yang lain mana bisa membantah. Sebenarnya ini menyakiti hati para dokter yang duluan datang. Di saat masih terisolir mereka datang menebar kemampuan sebagai petugas medis, begitu transpor lancar petugas lain datang ambil pahala orang yang betul-betul membantu dengan ikhlas.


Terdengar egois cara Pemda tangani masalah ini tapi inilah fakta permainan kalangan pejabat. Cuma mau terima hasil melimpah tanpa mau bersusah payah.


"Baiklah! Besok kami pulang ke daerah kami. Terima kasih atas kebaikan Bu Dokter petik hasil dari kerja keras kami. Cara kerja Pemda yang patut diacungi jempol. Silahkan kalian lanjutkan diskusi! Aku permisi!" Citra berkata sembari tinggalkan tenda berisi orang-orang egois. Di mana mereka sewaktu daerah ini terisolir? Korban gempa berjatuhan satu persatu menguras tenaga para medis. Setelah aman mereka datang seolah berkat mereka desa ini tertangani baik.


Daniel merasakan hawa panas terpancar dari tubuh Citra. Citra wanita lembut terpancing amarahnya bukanlah hal sepele. Mereka yang duluan datang disuruh pergi secara tidak terhormat. Jasa mereka seakan menguap bersamaan terbuka akses jalan.


Daniel mengejar Citra diiringi tatapan Heru. Heru juga merasakan ada yang salah dalam urusan ini. Kebaikan para medis tidak dihargai sedikitpun. Tapi apa hak Heru ikut campur menangani para korban. Heru ingin ikut mengejar Citra namun ada sepasang tangan menyentuh lengan Heru perlahan.


Heru melihat tangan siapa berani menyentuhnya. Dalam kamus Heru dia yang menyentuh wanita mana dia mau. Bukan orang duluan menyentuhnya. Laki tajir ini bukan sembarangan bergaul dengan wanita. Hanya orang tertentu boleh seliweran di depan matanya.


"Pak Heru ...mau ke mana?" terdengar ******* manja dokter Tina bertanya. Sikapnya tak ubah mengenal Heru seabad lalu. Sok akrab.


"Aku lapar mau cari makan!" Heru mencoba beri alasan tidak permalukan dokter yang menurutnya genit. Dokter atau tukang goda imam lelaki. Kalau di kota dokter ini lebih pantas disebut kupu-kupu malam mencari mangsa.


"Makan? Sudah kuduga. Kami sudah bawa masakan memadai untuk jamu pak Heru dan pak Alvan. Orang besar kayak bapak mana pantas makan nasi di dapur umum. Tunggu sini saja! Kami akan segera hidangkan makan malam. Oya mana yang namanya pak Alvan? Kok tidak muncul?" Dokter Tina kembali sok akrab.


Heru mendesah gusar tapi tak bisa pergi gitu saja. Reputasi Heru bisa terbanting bila bicara kasar pada orang suruhan Pemda. Rencana ingin menghibur Citra ambyar kena rayuan dokter Tina.


Heru terpaksa duduk kembali menanti dua dokter wanita itu turunkan makanan dari mobil dinas Pemda. Beberapa rantang diturunkan khusus untuk menjamu dua orang tajir di desa kecil ini. Ntah dari mana kabar kalau Alvan dan Heru datang berkunjung ke desa kecil ini. Orang yang ingin numpang tenar berbondong datang cari kesempatan.


"Oya pak Hasan...tolong cari yang namanya pak Alvan! Biar kita makan bersama. Ini makanannya cukup untuk beramai." kata dokter menyusun masakan di atas bentangan plastik. Bau harum masakan khas daerah memang menggoda perut namun sayang Heru tidak begitu tertarik. Pikiran Heru tertuju pada Citra yang hatinya pasti kesal.


"Gimana dengan para dokter lain? Apa ikut gabung makan sini?" Pak Hasan bertanya sebelum melaksanakan perintah dari dokter daerah.


"Tidak usah! Mereka itu ramai. Kan bisa makan di dapur umum. Ini khusus untuk pak Heru dan pak Alvan. Sudah pergi sana!" Dokter Tina mengusir pak Hasan tidak ada sopannya.


Pak Hasan sungguh kecewa cara orang Pemda hargai jerih payah relawan. Tak ada sopannya terhadap orang yang tulus ikhlas bantu pengungsi. Pak Hasan hanya segelintir orang kecil tunduk pada atasan. Punya hati tapi tak punya daya.


Dengan langkah berat Pak Hasan mencari Alvan. Orang yang dicari baru saja menunaikan sholat magrib bersama jemaah lain. Alvan terheran melihat Citra balik ke mesjid tergantung awan kelabu di wajah. Tadi waktu pergi cari makan masih cerah. Balik sini kok mendung.


Alvan tak menunda diri segera hampiri Citra cari info apa yang terjadi. Daniel ikut masuk di belakang menyusul pak Hasan. Alvan menduga telah terjadi sesuatu tak menyenangkan baru bisa obrak abrik suasana hati Citra.


"Ada apa?" tanya Alvan berlutut di hadapan Citra yang duduk memeluk lutut lagi. Alvan memegang kedua lutut Citra harap ada penjelasan dari isterinya itu.


"Kita pulang besok! Pengobatan pengungsi sudah diambil alih dokter dari kabupaten." sahut Citra lirih.


Daniel dan pak Hasan turut prihatin terkait pemulangan Citra secara mendadak. Siapapun akan sedih diminta pergi tanpa ada pemberitahuan duluan. Jerih payah mereka selama beberapa hari ini seperti bensin kena udara panas. Menguap begitu saja.

__ADS_1


"Maafkan kami Bu Citra! Aku tak punya hak melawan perintah atasan. Bu Tina itu adik Bupati dan Bu Indah itu saudara bupati kami. Kami mohon maaf sebesarnya telah tempatkan Bu Citra dan kawan-kawan dalam posisi terjepit." Pak Hasan sungguh tak enak hati pada dokter relawan yang telah berjasa membantu para korban pada pertolongan pertama.


"Aku ngerti pak Hasan! Bapak silahkan kasih tahu dokter Melati dan dokter Gerry untuk bersiap pulang besok. Perawat kami ikut pulang. Biarlah kami serahkan tugas selanjutnya pada dokter lokal. Mungkin penduduk akan lebih nyaman bersama dokter yang sering mereka temui." Citra berusaha Arif tidak menyulitkan pak Hasan. Sebagai dokter bertugas di mana saja sama asal di barengi hati tulus.


"Terima kasih! Oya...pak Alvan ditunggu makan bersama oleh petugas dari kabupaten."


"Tidak usah pak Hasan. Aku temani Citra saja. Aku akan makan di dapur umum bersama Citra! Eh kau Dan! Ajak Bonar makan sono!" Alvan beralih ke Daniel yang terbengong.


"Ok... hitung-hitung piknik ala pengungsi! Mau kubawa ke sini?" sambut Daniel antusias ingin coba ragam masakan daerah sekitar situ.


"Tidak usah! Aku makan bersama Citra. Makan sama garam doang pasti lezat asal bersama orang terkasih!"


"Huueekkk...rayuan basi! Asam banget!" Daniel pura-pura mau muntah dengar rayuan Alvan pada Citra.


"Syirik tanda tak mampu! Pergi sono! Jangan lupa kasih makan anak buah gue ya! Jangan sempat ceking tak kau umpan!"


"Yaelah...baru sehari tak makan sudah ceking! Si Bonar takkan kisut tak diumpan sebulan. Dia itu kayak beruang. Ada stok lemak untuk bertahan hidup." Daniel mana mau kalah kalau diajak berdebat. Ada saja alasannya adu mulut cari kemenangan.


Alvan dan Citra tertawa dengar guyonan Daniel. Mereka memang butuh penyegar di kala suasana menyesak gini. Pak Hasan ikut tersenyum bersyukur Citra berjiwa besar tidak memasalahkan tindakan semena-mena orang dari kabupaten. Pak Hasan tak enak hati pada ketulusan Citra dkk yang telah susah payah datang. Tak dibutuhkan langsung diusir pergi.


"Ok kami pergi ya! Yok pak Hasan! Kita berpesta. Hajar saja!" Daniel merangkul pak Hasan berlalu dari pasangan suami isteri di atas kertas itu.


"Kita makan yok!"


"Kita tunggu Melati dan Gerry ya! Mereka pasti syok disuruh pulang secara mendadak."


"Ini perintah! Kita bisa apa? Nah itu Gerry!"


Gerry datang bersama Melati menuju ke tempat Citra dan Alvan. Kedua orang itu tampak tegang buat suasana jadi kaku. Citra menduga kedua dokter itu sudah dapat kabar di suruh pulang ke kota.


"Gila...besok kita disuruh pergi! Sialan dokter genit itu! Kudengar kabar mereka datang untuk bergabung dengan dua pengusaha kondang membangun desa ini. Dasar semut gatel! Ada gula manis langsung datang mau berbakti. Kau kira mereka datang tulus bantu korban? Mereka datang untuk menggoda dua pengusaha kaya itu. Kali aja kecipratan rezeki diangkat jadi piaraan." Melati langsung nyerocos tak sadar salah satu pengusaha dimaksud berada persis di depannya.


Citra dan Gerry saling tukar mata geli lihat Melati ngomel tanpa direm.


"Sudah biarin saja! Toh kita bisa pulang tidur nyaman di kasur kita. Tak usah takut diserang nyamuk, mandi air bersih, bisa chatting dengan doi. Kan lebih asyik!" Citra meredakan emosi Melati.


"Enak aja! Waktu masih berantakan kita yang benahi. Sudah rapi mereka sok jadi pahlawan. Aku doain kedua pengusaha tidak buta lihat ulat bulu menyaru jadi dokter bergeliat depan mata."


Alvan geli dengar istilah Melati pada dokter yang baru tiba. Benar-benar dokter berdarah panas. Apa melayani pasien juga demikian panas? Alvan bangkit berdiri memamerkan tubuh jangkungnya membuat Melati tersadar ada sosok lain di antara mereka.

__ADS_1


Melati mendekap mulut kaget lihat sosok ganteng saingan Heru berada dekat dengannya. Kemarin Melati mengagumi Heru kini muncul sosok lain patut jadi idola hati.


"Aku Alvan...aku datang untuk Citra! Citra pulang maka aku juga pulang! Jadi biarkan dokter sini berubah jadi ulat bulu, jika perlu biar kering sekalian."


"Wah....ini baru pas! Ini pak Alvan pemilik rumah sakit Health Center?" Melati malu-malu kucing jumpa lelaki seganteng Alvan. Diajak jadi bini ketiga takkan menolak. Siapa tak kenal pak Alvan lelaki super kaya yang jarang digosipin berpetualang di paha- paha mulus.


"Tepat...aku di sini karena Citra! Seratus dokter ulat bulu takkan bisa ganggu aku."


"Wah...aku suka itu! Mereka pikir pak Alvan akan di sini terusan maka usir kami. Senang banget lihat tampang bodoh mereka menunggu kehadiran pak Alvan untuk hari selanjutnya. Tunggu sampai gempa mendatang!" celoteh Melati makin tak bisa direm.


"Huusss...itu doa jelek! Ayok kita pergi makan! Isi perut yang kenyang biar enak tidur. Besok kita sudah tidak tidur sini." Citra berusaha ceria walau dalam hati sedih.


Berpisah secara mendadak dengan sesama relawan tentu saja ada rasa sedih. Kata orang perjumpaan adalah awal dari perpisahan makin terbukti kalimat itu. Mereka jumpa sesaat menggalang rasa bersaudara dan tiba-tiba harus berpisah hanya karena perintah atasan. Mereka sebagai bawahan hanya bisa ikut perintah.


Keempat orang itu segera menuju ke dapur umum mengisi perut. Ini makan malam bersama yang terakhir. Selanjutnya mereka kembali pada rutinitas masing-masing. Hendak komunikasi juga paling lewat telepon.


Di kota dekat rumah Citra terjadi kehebohan mengguncang seisi komplek perumahan type sederhana itu. Pasalnya di depan rumah janda miskin terparkir mobil mewah seharga ratusan juta. Para tetangga kasak kusuk bertanya mobil siapa terparkir di depan rumah Tokcer.


Belum ada penjelasan sudah tersiar berita Tokcer menjadi maling mobil. Terutama mereka yang punya hati bercabang kiri kanan. Salah satunya cabang syirik. Tokcer peduli amat ocehan makhluk berhati hitam. Yang penting dia tidak menipu.


Malam ini Tokcer dan Andi sudah janjian ajak ibu-ibu mereka pergi belanja sepuasnya. Berbekal uang pemberian Alvan kedua anak itu berniat memanjakan ibu masing-masing. Ini saat tepat tunjukkan bakti mereka pada ibu mereka.


Tokcer bawa ibunya pakai mobil mewah menuju ke tempat Andi untuk jemput ibu Andi belanja bersama. Ibu Tokcer merasa itu semua hanya mimpi indah sesaat. Begitu terbangun semuanya sirna kembali pada kondisi semula.


Ibu Tokcer masih ragu memandangi mobil hitam berkilauan ditimpa cahaya lampu jalan. Apa benar anaknya sudah dapat kerja tetap walau hanya jadi supir papi Azzam. Tidak soal jadi apa yang penting halal.


"Tok...ini benar mobil bos kamu?" Bu Tokcer belum berani masuk ke mobil takut ini mobil bermasalah.


"Bu...ini mobil Azzam. Sekarang tugas aku antar jemput Azzam dan Afifa. Ini semua berkat Andi. Si Bonar juga sudah kerja. Ibu tak usah kuatir aku melakukan kejahatan. Kita boleh miskin tapi jangan sampai berbuat jahat. Ayo cepat! Andi sudah tunggu kita!" Tokcer membuka pintu agar ibunya masuk ke dalam mobil. Bu Tokcer bergetar ketakutan masuk ke dalam mobil super wangi. Beda banget dengan angkot yang disupiri Tokcer. Segala wewangian campur aduk dalam angkot. Tak ada yang menyegarkan hidung, semua mencubit hidung.


"Bismillah..." ucap Bu Tokcer awali langkah kaki injak lantai mobil.


Setelah yakin ibunya telah aman dalam jok Tokcer memutar badan ke kanan tempat supir menyetir. Stater otomatis berdengung kecil mesin menyala. Mobil meluncur ke rumah Citra yang jaraknya hanya dua puluh meter.


Dalam sekejab mobil sudah berhenti di rumah Andi. Di depan rumah Andi terparkir mobil lain punyaan Untung. Sesuai perintah Alvan pada Untung sebelum berangkat. Untung baru boleh pulang setelah kedua anaknya tidur.


Untung dengan senang hati ikuti amanah bos. Memang itu harapan Untung berlama-lama di rumah Andi agar punya peluang pedekate dengan Nadine. Untung mulai jatuh cinta pada perawat manis itu. Tidak secantik Citra tapi Nadine sangat manis di mata Untung. Semuanya manis kalau kesandung batu cinta.


Andi dan Bu Menik sudah tak sabar menanti Tokcer dan Ibunya untuk segera hambur uang di toko pakaian. Tokcer dan Andi tahu diri tidak berani gunakan mobil Alvan untuk pergi bersenang-senang.

__ADS_1


__ADS_2