
Hati Alvan terasa lebih lapang sudah mendapat persetujuan Citra untuk ngobrol dengan anak-anak. Alvan jamin kalau Azzam dan Afisa akan mendukung mereka pindah dari keluarga Perkasa. Tak mungkinlah selamanya Alvan dan keluarga menetap di rumah keluarga Perkasa. Di mana harga Alvan sebagai orang kaya menumpang pada keluarga istri. Sudah cukup kesabaran Alvan mengikuti kemauan Citra tinggal bersama Oma uyutnya. Saatnya mereka berdikari berdiri di atas kaki sendiri tanpa mengandalkan keputusan orang lain.
Alvan mengantar Citra kembali ke rumah lalu lelaki ini balik ke kantor untuk meneruskan pekerjaan yang terbengkalai. Nanti malam Alfan berniat mengajak anak-anak makan malam di luar sekalian merembuk soal kepindahan mereka. Itu saja tujuan utama Alvan pada hari ini.
Hari ini Alvan lebih semangat lagi mengingat dia akan terbebas dari tekanan batin. Dia telah melakukan segalanya untuk Citra untuk bayar kesalahan di masa lalu. Hutang itu takkan lunas sampai kapanpun selama dia masih bersama Citra. Alvan akan menyenangkan Citra sampai maut memisahkan mereka.
Seusai makan siang Alvan mendapat panggilan telepon dari Karin. Sudah lumayan lama mereka tidak komunikasi. Teringat Alvan terakhir mereka kontak sewaktu pesta nikah Karin dengan Ustad Syahdan. Setelahnya mereka loose kontak.
Alvan surprise tiba-tiba Karin meneleponi dia pada siang ini. Ada kabar gembira apa hendak disampaikan mantan isterinya itu.
"Halo... assalamualaikum Van!" sapa Karin terdengar jelas di sana.
"Waalaikumsalam...apa kabar Karin? Semua sehat?"
"Alhamdulillah baik...kulihat posting Daniel anak-anak kamu buat acara syukuran ya! Kenapa tidak undang?"
Alvan tahu ini hanya basa basi Karin. Diundang pun belum tentu dia datang.
"Yang urus semuanya Omanya Citra. Saya hanya ikut pesta saja. Hanya sebatas keluarga. Syukuran kecilan."
"Apa kecilan? Kulihat acaranya cukup mewah. Andai dulu aku tidak salah jalan mungkin yang jadi tuan rumah itu aku!"
"Untuk apa ungkit yang sudah berlalu? Kita sudah berada di posisi masing-masing. Waktu itu tak bisa diputar. Oya gimana anak kalian? Kok tak ada kabar?"
"Kau benar Van! Kita tak mungkin kembali ke masa lalu. Semua telah berubah. Anakku? Oh itu...anak laki kami beri nama Gunawan biar berguna tidak seperti kami tak bisa diandalkan. Ambar sudah kembali ke kota. Apa dia tidak cari kamu? Katanya mau minta kerja."
"Jujur aku takut pada anak itu. Dia berani berbohong untuk sesuatu yang tak ada. Aku takut kelak dia bikin ulah jebak aku dalam situasi tak tentu. Aku sudah capek hadapi wanita-wanita model gitu! Kurasa aku akan rekom dia kerja di tempat lain. Jauh dari aku!"
"Pede amat digilai cewek! Kau memang punya sejuta pesona Van! Tak heran semua wanita tergila padamu termasuk aku! Terserah kamu saja bagaimana hadapi Ambar! Kurasa dia mau tobat jalani hidup di jalan benar tapi ngak tahu juga isi otaknya. Cuma dia ada bilang mau jumpa kamu. Kerja apa saja boleh asal halal."
"Kita tunggu saja kapan dia datang. Semoga saja dia sudah dapat kerja lain."
"Kuharap begitu! Oya...akhir ini kesehatan ustad agak menurun. Dia terlalu capek kelola pesantren. Apa kau bisa nasehati agar jaga kesehatan? Aku lihat dia ada beban tapi tak mau cerita. Aku telepon mau minta tolong kau bicara dengan ustad."
"Apa dia tidak mengatakan sesuatu?"
"Tidak cuma seminggu ini mantan isterinya sering telepon. Cuma aku tidak ikut dengar pembicaraan mereka. Tidak etis aku ikut campur urusan mereka."
"Kamu saja tidak etis gimana aku? Begini saja! Kau ajak bicara dari hati ke hati. Jangan sembunyikan apapun biar sama-sama merasa lega! Kalian suami isteri, suka duka tanggung bersama."
"Apa Citra begitu? Dia mau ikut tanggung dukamu?"
"Dia tanggung semuanya. Aku malah malu padanya telah ambil alih semua duka aku. Dia sisakan suka untukku, di mana harus kucari wanita model itu lagi?"
Alvan tak tahu kalimat Alvan mengetuk hati Karin. Karin malu pada diri sendiri hanya bawa duka bagi Alvan sedang Citra hanya beri suka. Inilah perbedaan antara mereka.
"Dia memang wanita baik. Pantas menjadi ibu dari anak-anak kamu. Jujur aku iri padanya. Dari sini aku hanya bisa doakan semoga kalian berdua bahagia hingga jadi kakek nenek."
__ADS_1
"Aku tak mau cuma jadi kakek aku mau jadi kakek Uyut seperti Oma opa Citra. Mereka masih muda sudah jadi Uyut. Aku juga mau berada di posisi mereka."
Karin tertawa dengar harapan Alvan. Satu cita-cita aneh. Biasa orang ingin jadi makin tajir dengan keluarga bahagia. Ini malah ingin jadi Uyut.
"Amin dah! Semoga harapanmu terwujud. Oya salam untuk Citra ya!"
"Pasti kusampaikan. Kau jaga kesehatan. Sekarang sudah ada tanggung jawab kamu pada Gunawan. Begitu juga ustad Syahdan. Dia juga harus semangat besarkan anak kalian."
"Itu pasti! Senang ngobrol dengan mu Van! Mengapa tidak dari dulu kita saling terbuka begini. Aku menyesal telah campakkan kebahagiaan sendiri untuk sesuatu tak penting." Karin mengeluh belum bisa move on dari masa lalu.
"Karin...kita harus adil pada pasangan kita sekarang ini. Jangan mengeluh tentang hal yang sudah berlalu! Takdir kita memang sudah begini. Saat ini kita cukup tebalkan iman jangan tergoda oleh hal merusak kebahagiaan kita."
"Iya Van! Kadang aku menyesal tak bisa ikut jejak Citra jadi manusia berbudi luhur. Aku terlalu angkuh pada kekuatan cinta aku. Nyatanya aku salah."
"Karin...kalau kau masih ingin kita berteman baik janganlah ungkit hal tak penting! Aku malu pada Citra dan ustad tak bisa jaga hati dan mulut. Kita harus perbaiki diri untuk jadi contoh baik untuk anak-anak kita. Bukan tenggelam dalam kenangan lama. Beratus kali kita bahas tetap saja tak bisa ubah keadaan. Kuharap kau mengerti maksud aku! Kita cuma bisa berteman sampai kapanpun."
"Karena aku kena HIV?"
"Bukan...karena aku mencintai Citra. Dialah pelita aku di kala aku tersesat di jalan gelap. Susah payah aku keluar dari kegelapan tak mungkin aku kembali tersesat. Cukup sekian kita bahas hubungan masa lalu. Kelak kita saling kontak cerita cukup kita bahas cerita sekarang dan masa akan datang. Kuharap kau tak merusak yang telah ada."
"Kau marah Van?"
"Bukan marah tapi ingatkan kalau cerita tamat tak perlu diperbarui. Maaf aku harus kembali kerja! Jaga diri dan anakmu! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Alvan menarik nafas dengan berat lalu buang sebanyak-banyaknya untuk keluarkan semua beban di dada. Sedikitpun tak ada rasa pada Karin selain rasa iba. Alvan telah berjanji takkan menoleh ke belakang. Dia harus move on. Telah ada tujuh pengawal Citra siap hancurkan dia bila ketahuan selingkuh di belakang layar.
Ini peringatan buat Alvan agar makin hati-hati melangkah. Masih banyak jebakan siap bikin hidupnya sengsara.
Alvan benamkan diri pada pekerjaan untuk lupakan semua kata-kata Karin. Sebentar lagi dia akan makan malam bersama anak-anak. Moments langka bisa kumpul bersama keluarga. Afisa yang selalu jadi topik hilangnya kekompakan keluarga mereka. Anak itu sulit sekali diajak berkumpul karena jadwalnya sangat rapat. Waktunya habis untuk berbagai latihan dan belajar.
Di rumah Citra telah meminta anak-anak bersiap makan malam keluarga. Gibran tak mau ikut alasan ada tugas sekolah padahal anak itu jengkel atas kehadiran Thomas merebut pamornya sebagai cowok keren di mata Afisa. Herannya Afisa dan Thomas bergaul akrab dan selalu bercanda tawa lepas. Kedua anak itu makin akrab buat Gibran kuatir Afisa kepincut bule Inggris itu.
Citra menitip bayi-bayinya pada Afung dan dua baby sister bayinya. Afung hanya bertugas mengawasi semua tugas sang baby sister. Citra masih belum percaya pada kedua perawat bayi tanpa pengawasan. Sudah banyak kejadian bayi terlantar akibat kelalaian sang perawat.
Seusai sholat Magrib keluarga Alvan meluncur meninggalkan rumah Perkasa menuju ke restoran Alvan. Alvan begitu gembira bisa kumpul nikmati makan malam bersama anak-anak. Kali ada tambahan calon menantu masa depan. Thomas si tajir dari Inggris.
Citra ikut senang lihat ketiga putra putri tersenyum senang bisa jalan dengan orang tua. Satu moments langka karena untuk berkumpul Afisa harus menempuh jarak sangat jauh.
"Ada rencana main ke mana Ce?" tanya Citra melirik Afisa dari balik kaca pion.
"Waktunya singkat bisa main ke mana? Mami juga baru melahirkan. Kan kasihan kalau ajak main jauh." sahut Afisa pengertian.
"Gimana kalau kalian main ke pegunungan? Kak Tokcer bisa kawal kalian ke sana." tawar Citra kasihan juga lihat Afisa hanya main dalam rumah masa liburan begini. Seharusnya pergi jalan-jalan ke tempat wisata.
"Tak boleh cuma Tokcer kawal. Aku akan minta Untung jaga mereka. Jika perlu ajak Nadine sekalian biar ada yang ngawasin." tukas Alvan cepat kuatir Tokcer tak bisa jaga mereka. Mereka adalah pewaris dia kerajaan besar mana mungkin pergi bebas gitu saja. Tanpa mereka ketahui ke manapun pergi ada pengawalan jarak jauh atas perintah Alvan.
__ADS_1
"Bagus juga rencana mas! Biar Untung dan Nadine bisa jalan-jalan. Mereka jarang bersama karena tugas masing-masing. Aku setuju rencana mas!"
"Kak Andi ikut kan?" tanya Azzam ingat konco tercinta.
"Ikut.." Alvan ijinkan Azzam bawa konco kesayangan sehidup semati.
"Terima kasih Pi!" Azzam girang bukan main bisa bawa teman satu geng untuk liburan bersama. Bersama Nadine dan Untung doang pasti membosankan. Untung orangnya serius tak bisa diajak bercanda.
"Tak boleh nginap ya! Harus pulang pergi."
"Iya Pi...Erce boleh ikut kan?" Afifa was-was dia tak diijinkan ikut karena selalu dijadikan anak bawang.
"Boleh asal patuh pada Tante Nadine. Ke mana saja harus ikut Tante Nadine. Bisa patuh kan?"
"Bisa...bisa...Erce takkan pisah dari Tante Nadine."
"Papi ingat janjimu!"
Afifa bersorak girang bisa acara yang dia anggap untuk orang dewasa. Biasa anak bawang ke mana saja ikut orang tua. Kali ini Afifa nikmati kemerdekaan jadi orang dewasa.
Alvan dan Citra tersenyum senang bisa bahagiakan anak dengan hal sekecil ini. Tak perlu buang uang banyak untuk ciptakan moments berharga bagi anak. Cukup perhatian dan kasih sayang.
Thomas yang tak paham hanya tersenyum melihat kehangatan keluarga ini. Dia anak tunggal tak punya saudara. Semua dia kerjakan sendiri bersama para pelayan di rumah. Tak ada teman bercerita apa lagi berbagi isi hati. Untunglah ketemu Afisa yang selalu ceria walau kadang suka marah.
Akhirnya mereka tiba di restoran milik Azzam. Satu keluarga Lingga minus bayi segera keluar dari mobil menuju ke restoran. Alvan menggandeng Citra dan Afifa sedangkan ketiga anak lain jalan sendiri masuk ke dalam restoran setelah lewati pintu kaca.
Pelayan yang kenal Alvan segera bertindak cepat melayani pemilik restoran. Alvan sekeluarga ditempatkan di tempat ternyaman di restoran untuk beri pelayanan terbaik bagi majikan mereka.
Seperti biasa Azzam dan Afifa heboh pesan makanan keinginan mereka. Sedangkan Afisa lebih kalem tidak grasa grusu ikutan pilih menu. Gadis ini tahu jaga image di depan Thomas. Tidak semua lelaki suka cewek berkelakuan kasar.
Azzam dan Afifa puas mereka yang memilih menu. Alvan dan Citra tidak protes asal anak-anak senang. Alvan tak sabar ingin segera bahas soal pindah rumah dengan anak-anak. Makin cepat makin baik agar ada keputusan mengenai perpindahan mereka. Alvan menatap Azzam lekat-lekat minta anak itu duluan bahas soal pindah rumah.
Azzam bukannya tak paham namun harus ada awal buka cerita agar tidak seperti sudah ada kongkalikong antara Azzam dan Alvan.
"Cece kapan balik ke Beijing?" Azzam mulai beraksi.
"Mungkin setelah pulang dari wisata. Sekalian tunggu kabar mengenai cuaca. Asal cuaca bagus segera balik."
"Kapan main sini lagi? Waktu kau balik adik-adik mungkin sudah besar."
"Iya...asal ada libur Cece usaha pulang! Adik-adik akan tumbuh besar. Apa kamarnya sekarang muat untuk mereka berempat?" Afisa mulai nyetir ke arah topik bahasan mereka.
"Untuk sementara bolehlah! Tempat kita belum ada ruang baru untuk mereka. Tunggu papi beli rumah baru untuk kita baru adik-adik bisa mandiri dengan kamar masing-masing." jawab Azzam makin mengarah ke topik.
"Itu kalian tak perlu kuatir! Papi sudah punya pilihan rumah dengan dua belas kamar. Setiap dari kalian dapat jatah kamar. Iya kan mi?" Alvan pura-pura minta persetujuan Citra mengenai rumah mereka.
"Wah syukurlah! Cece tak sabar ingin lihat rumah baru kita. Kapan pindahnya?" buru Afisa semangat.
__ADS_1
Citra merasa dadanya sesak anak-anak dukung Alvan pindah rumah. Dia belum ikhlas tinggalkan Bu Sobirin.