
Heru besarkan mata tak habis pikir otak Viona terbuat dari apa. Isinya terbuat dari limbah sampah atau kotoran WC. Di daerah serba kekurangan ini masih sempat berpikir mandi cantik dengan air hangat. Air untuk dikonsumsi saja jadi kendala besar.
Heru menyadari salah telah membawa wanita mahal ke tempat salah. Tak seharusnya Viona ikut ke tempat tak ramah ini. Orang berjuang hidup mati dia malah memikirkan hidup nyaman.
"Vi...kau tahu ini daerah apa? Kau pikir ada bathtub dan shower untuk kamu mandi busa? Jangan mimpi! Aku akan minta tolong pada seseorang antar kamu bersihkan diri. Jangan bikin ulah!" Heru tidak peduli Viona cemberut. Viona hidup terlalu nyaman lupa di bawah masih ada yang merana.
Benar dugaan Heru kalau Viona akan cemberut ditegur agar jaga perasaan orang sedang berduka. Hari ini Heru menjadi manusia paling bodoh sedunia ajak manekin hidup ke lokasi bencana. Wanita macam Viona mana ada hati ikut meringankan beban korban. Tujuannya ikut tentu untuk bikin konten untuk disebar ke media sosial pamer dia artis punya toleransi tinggi. Niatnya mendongkrak nilai jual dia di dunia showbiz.
Heru sudah hafal ulah para cewek penghamba nama besar. Orang yang harus dihormati justru model Citra. Berbakti tanpa kenal lelah jauhi keramaian. Mengumpulkan pahala dalam kebisuan.
"Aku mau yayang antar! Aku takut sendirian di sini!" Viona kembali menyulitkan Heru.
"Aku lelaki tak sopan menunggumu mandi! Mungkin ada orang akan bantu kamu." ujar Heru dingin bak es balok.
"Tapi aku mau sama yayang! Gimana kalau aku diganggu cowok sini? Aku kan cantik, laki mana tidak tergiur." Viona belum menyerah menyeret Heru temani dia mandi.
"Tenang kamu! Orang lagi berduka tak terpikir jahatin kamu. Sana...aku akan minta tolong pada kades urus kamu!" Heru melangkah pergi meninggalkan Viona yang kesal sampai ke ubun kepala.
Gaya manja sudah tak mempan jerat Heru. Viona harus pikir cara lain jadikan Heru sebagai lahan cetak uang. Uangnya dari dunia model tidaklah cukup biayai taraf hidupnya yang menjulang ke langit. Butuh berton-ton tangga emas untuk capai nirwana kehidupan berkilau penuh warna kemegahan.
Tak lama seorang gadis muda datang hampiri Viona. Gadis itu menyapa dengan sopan tahu di depannya adalah tamu elite dari kota menyumbang untuk mereka. Perlakuan pada donatur tentu harus super baik. Setiap kata para dermawan adalah sabda harus dipatuhi.
Gadis muda itu mengangguk hormat pada Viona disambut lengosan angkuh Viona. Di mata Viona gadis muda dari kampung tak ubah kacung melayani majikan.
"Nona...katanya mau mandi ya! Mari kutemani!"
"Ambil koperku dulu. Aku mau pilih pakaian." perintah Viona seolah gadis di depannya makan gaji dengannya. Tak ada sedikitpun rasa empati pada orang yang baru trauma dilanda bencana.
"Kopernya di mana? Biar kuambilkan!"
"Tanya sama pegawai pacarku! Mungkin masih berada dalam helikopter. Hati-hati bawa kopernya! Jangan kotor kena lumpur! Koperku harganya puluhan juta."
Gadis muda itu menelan ludah kaget dengan harga satu koper gadis kota ini. Satu koper bisa beli motor baru untuk transpor. Untuk apa barang semahal gitu hanya untuk isi pakaian. Mubazir tingkat dewa.
"Iya nona!" gadis itu ngeloyor pergi untuk kerjakan perintah Viona. Gadis lugu dari desa kecil mana terpikir aneh-aneh pada orang lain. Mereka hidup apa adanya tanpa rekayasa. Tidak seperti orang kota setiap langkah sudah diperhitungkan matang.
Citra hindari kontak dengan Heru dan Viona agar tidak menambah beban pikiran. Dia berada di sini untuk berbakti. Bukan cari sensasi seperti kedua tamu itu. Citra tak tahu apa tujuan Heru datang ke situ. Murni simpati pada korban atau cari tenar biar dianggap orang baik.
__ADS_1
Citra memilih bergabung dengan dokter lain di tenda perawatan. Di sana ada dokter Gerry dan dokter Melati. Gerry satu rumah sakit dengan Citra sedang Melati dari rumah sakit lain. Keduanya dokter umum menangani semua penyakit. Sedangkan Citra dokter spesialis penyakit syarat dan urat.
Kedua rekan Citra duduk lemas meringkuk di lantai tanah beralas plastik. Citra yakin kedua orang itu tak kalah capek darinya. Pasien harus tertangani hari itu juga mengingat kondisi pasien tak bisa ditunda. Keterbatasan obat dan alat menyulitkan mereka bertindak lebih dalam tangani pasien.
"Hai..." sapa Citra ikut duduk di lantai darurat itu. Melati tertawa kecil lihat Citra tak ubah ikan asin baru kena matahari. Kisut tak bersinar.
"Gimana pasienmu?" tanya Melati mencolek pundak Citra. Citra memanjangkan bibir agak ragu jabarkan kondisi pasien yang cukup parah.
"Ada dua tulang remuk. Besok kita kirim ke kota. Kau ikut ke sana ya Ger!" Citra menatap Gerry yang layu.
"Via? Jnt atau JNE?" sempat Gerry bergurau.
"Apa kau tak tahu ada heli masuk sini? Pemiliknya bersedia bantu kirim pasien. Kau bisa ikut heli balik sini!"
"Wow...horang kayak mana baik hati kirim heli? Pasti horang tajir." Gerry surprise kelewatan berita kekinian. Di situ hidup seperti zaman primitif. Listrik terbatas dan jaringan seluler tidak berfungsi. Mau hubung keluarga juga tidak bisa.
"Eh...orang kayanya langsung ke sini atau wakilnya datang?" Melati mencolek Citra cari tahu siapa yang datang. Dokter ini penasaran siapa demikian baik hati kirim bala bantuan dahului Pemda. Pasti bukan sembarangan orang.
"Dia datang sendiri! Tuh orangnya!" Citra menunjuk sosok bertampang dewa sedang datang menuju ke arah mereka. Gerry dan Melati terpesona oleh kegagahan Heru yang bak dewa perang dalam mitos Yunani. Kalau Gerry seorang cewek akan luluh jatuh cinta pada ketampanan laki itu. Melati tidak usah diceritain bagaimana terbius oleh sosok luar biasa itu. Mulut Melati sampai ternganga menanti lalat nyasar nyelonong masuk ke dalam. Mengapa di dunia nyata masih ada manusia seganteng gitu? Yang sedang berjalan ke arah mereka itu manusia atau dewa sedang turun ke bumi.
Citra mendesis tanpa arti lihat kebodohan kedua rekannya terpesona oleh fisik Heru. Kedua orang itu belum kenal sifat kekanakan Heru. Seorang big bos akalnya tak ubah anak kecil. Citra tak heran pada akal Heru ingin menang sendiri.
Gerry dan Melati terbelalak dengar ada panggilan mesra di kamp pengungsian. Siapa yang dipanggil demikian mesra oleh Heru. Kalau untuk mereka sangat jauh dari kemungkinan. Jumpa baru hari ini tak mungkin Heru kelepasan umbar kata sayang.
Citra menyembunyikan wajahnya di antara lutut tak mau tanggapi kata-kata orang songong. Urat malu Heru sudah terbenam dalam daging paling dalam maka tak bisa timbul. Citra belum gila ikutan jadi orang tolol impikan jadi permaisuri kerajaan terkaya di tanah air.
Heru daratkan pantat di samping Citra tanpa rasa jijik pada lantai di alasi plastik. Heru buktikan dia bisa hidup merakyat kayak Citra. Tidak terkungkung pada kemilau harta. Heru juga manusia punya hati nurani.
"Bapak ini yang punya heli?" tanya Melati mencoba akrab. Siapa tahu ketiban rezeki disukai lelaki kaya itu. Berusaha kan tidak dosa. Yang penting tidak menipu.
"Iya...saya Heru. Kalian ini rekan kerja Citra?" tanya Heru melirik Citra yang masih betah bersembunyi tutupi wajah di antara lutut kaki.
"Iya pak! Kami baru tiba pagi tadi. Saya dari rumah sakit pemerintah. Kedua rekan ini dari Health Center. Bapak tahu Health Center kan?" Melati makin berani ajak ngobrol karena Heru tidak sombong seperti kata orang. Justru Heru tampak ramah dan baik sebagai orang kaya.
"Kenal dong! Citra kan kerja di situ. Aku akan kawal kebutuhan kalian selama Citra masih bertugas di sini." ujar Heru kalem tetap menatap kepala Citra yang terbenam dalam lutut. Gaya Flamboyan Heru makin bikin Melati gregetan. Kalau saja punya kesempatan daratkan kepala ke dada bidang Heru dunia serasa milik pribadi. Dunia milik mereka berdua. Yang lain hanya ngontrak tinggal di dunia ini.
"Oh...betapa beruntung Citra punya backing sekuat ini! Bagi dikit dong perhatiannya pak!" gurau Melati hangatkan suasana. Melati tahu dia takkan pernah punya kesempatan curi perhatian Heru karena lelaki itu tampak bucin berat ke Citra.
__ADS_1
"Maaf...sayangku sudah bulat untuk dokter cantik aku! Iya kan sayang?" Heru dekatkan bibir ke kuping Citra menggoda Citra makin berani. ******* hawa panas dari mulut Heru menyentuh kuping Citra hadirkan rasa aneh.
Citra tak pernah dekat dengan pria selain Alvan sembilan tahun lalu. Kini ada laki lain usik wilayah adem Citra. Citra tidak munafik tidak terpancing oleh kemesraan dari Heru.
Gerry dan Melati tertawa geli lihat pasangan baru ini saling tarik ulur. Heru maju sedang Citra mundur. Melati anggap Citra bodoh menolak laki seganteng Heru. Siapa tidak bermimpi jadi bini orang kaya.
"Wah...nyatanya ada calon nyonya kaya di sini! Aku mau dong jadi selingkuhan bapak." Melati kembali lancarkan olokan dengan berani. Dari luar tampak Melati sedang bercanda tapi jauh di lubuk hati mengharap Heru respon isi hatinya. Cinta tulus nomor sekian. Di jaman ini mana cinta suci yang diagungkan. Cinta materi lebih tepat diangkat jadi topik cinta masa kini.
"Tidak...aku tak suka selingkuh. Cukup satu Citra."
Citra angkat kepala menantang Heru yang dianggapnya lelaki bebal tak tahu malu. Di kamp pengungsian umbar cinta yang ntah sejak kapan tumbuh di hati. Citra kenal Heru baru belakangan ini. Laki itu seenak perut klaim Citra calon bini.
"Masih mabuk udara pak? Sini kusuntik rabies biar sadar." sungut Citra disambut derai tawa Gerry dan Melati.
Heru tidak marah cuma tersenyum masam. Orang seganteng gini hendak disuntik rabies. Dokter lulusan kampus mana punya nyali malpraktek pada orang kaya setanah air. Mungkin cuma Citra akan perlakukan Heru tanpa harga. Yang lain mengelu-elukan Heru sedang Citra cuek bebek.
"Demi kamu disuntik mati juga mau asal kamu yang lakukan! Jadi janda sebelum dinikahi kan sayang. Pulang dari sini kita nikah ya! Kujamin kau akan jadi wanita paling bahagia di dunia ini." rayu Heru disaksikan kedua rekan kerja Citra.
Citra pilih bangkit dari tempatnya sekarang ketimbang dengan ocehan ngawur Heru. Makin ke depan Heru makin berani ungkap perasaan pada Citra padahal mereka belum kenal pribadi masing-masing. Citra belum gila masuk ke dunia asing baginya.
Heru ikut bangun mengejar Citra yang keluar tenda. Belum sampai di luar suara berisik Viona meramaikan ketenangan di kamp. Viona sudah cantik lagi dalam balutan pakaian warna hitam berlengan. Kali pakaian Viona lebih sopan dibanding barusan tiba. Profil orang tenar kembali hadir melekat di tubuh Viona.
"Sayang...aku sudah mandi! Lihat aku mandi air dingin. Segar walau sedikit dingin." Ujar Viona manja berangkul lengan Heru.
Citra melirik sekejap lalu angkat kaki dari hadapan Heru dan Viona. Tidak penting berada di antara wanita caper dan cowok songong. Lebih baik Citra pergi bersihkan badan menyambut waktu magrib.
Melati dan Gerry terpana karena mendadak muncul sosok lain full press dibalut kemewahan. Gerry tidak kenal Viona namun Melati ada gambaran sedikit tentang fotomodel cantik itu. Mengapa wanita high class itu bisa nyasar ke tempat kumuh di mana bencana sedang berlangsung. Tak disangkal wanita itu datang karena Heru.
Viona salah satu koleksi Heru? Siapa pun tahu sekeliling Heru full cewek bahenol siap layani big bos itu. Big bos itu justru tertarik pada cewek sederhana macam Citra. Mungkin Heru mulai bosan dengan wanita-wanita penuh kepalsuan. Siang hari cantik jelita, malam hari muncul wajah nenek lampir. Make up di hapus muncul sosok asli sang wanita jelita. Mata panda dengan vlek hitam numpang istirahat di wajah.
"Jangan bertingkah Vi! Di sini bukan tempat bermain. Kamu mau duduk di mana? Di sini tempatnya sederhana." Heru menyapu wajah Viona dengan tatapan tak bersahabat. Tak pijaran api cinta di mata Heru. Yang ada hanya rasa jengkel Viona cari perhatian melulu.
"Kita balik ke mesjid saja. Di sana lebih bersih. Aku tak mau tidur di sini ya! Aku mau kasur empuk dan kelambu. Berhubung tak ada AC yayang harus cari kipas angin." kata Viona manja bikin gaya orang terzolimi oleh kondisi serba minim. Heru melepaskan tangan Viona dari lengannya. Sikap Heru tidak sehangat ditunjukkan pada Citra. Gerry dan Melati menduga Viona hanya gula-gula pemanis bikin diabetes. Bibit penyakit tak boleh disimpan.
"Sudah kubilang jangan ikut! Sekarang kau tuntut ini itu. Di sini bisa bernafas saja sudah syukur. Kau minta yang aneh. Besok kau ikut pulang ke kota saja. Jangan merepotkan orang dengan sikap manjamu!" Heru dingin tidak terpengaruh sikap manja Viona.
"Yang...tega amat siksa aku! Aku mau tidur di sampingmu biar aman. Aku kan cantik, takut dijahili laki lain. Apa yayang tidak sakit hati aku diganggu cowok lain?"
__ADS_1
"Cowok sini punya penglihatan baik jadi kamu tak usah curiga. Tak ada yang katarak. Mereka lihat jelas mana yang pantas dikejar."
Melati tak bisa tahan tawa lihat cara Heru mematikan gaya Viona.