
Citra ingin tajamkan kuku ke moncong nakal pasien usil itu. Kalau ada dua pasien kayak gitu dijamin banyak dokter mengundurkan diri. Siapa sanggup hadapi pasien nakal berbau mesum.
Rahma dan perawat menahan senyum saksikan wajah Citra merah padam menahan amarah. Citra terkenal penyabar di seluruh rumah sakit. Semua pasien suka padanya. Ada saja cara Citra membujuk pasien agar tenang.
Citra dapat cobaan dari pasien usil bin songong. Bagaimana Citra tak kesal asyik diganggu seolah Citra dokter pribadi.
Rahma dan perawat berhenti di pintu ruang rawat Afifa. Rahma masih mengulum senyum ingat kelucuan di ruangan tadi.
"Terima kasih dokter Citra! Kau membuat pekerjaanku lebih mudah. Semoga anakmu cepat sehat."
"Sama-sama...kalau pasien itu tanya aku lagi bilang sudah resign. Dipecat..." Citra berkata seraya melirik kamar sebelahan.
"Ok...semoga dia terima!"
"Oya jangan lupa bilang aku dipecat gara-gara berniat meracuni pasien."
Rahma dan perawat terbahak-bahak diberi amanah aneh untuk disampaikan pada Heru. Citra pintar bercanda bikin orang senang. Mana mungkin Heru percaya berita ini. Tak pikir Heru sudah tahu itu hanya guyonan belaka.
"Tenang Citra...kalau dia tanya akan kubilang sesuai pesanmu. Aku balik ke kantor dulu. Masih ada pasien belum dikontrol."
"Selamat bekerja." Citra biarkan dokter Rahma meninggalkan kumpulan ruang super VIP tersebut. Tugas dokter masih lumayan banyak. Kontrol setiap ruang yang berisi pasien masing-masing. Tugas Rahma bertambah sejak Afifa sakit. Alvan ijinkan Citra ambil cuti khusus rawat Afifa. Alvan lebih suka Citra jaga anaknya ketimbang percayakan pada perawat. Bukan perawat kerjanya tak becus tapi Alvan yang paranoid.
Citra masuk kembali ke ruang rawat Afifa. Afifa masih tidur sedangkan Nadine duduk santai main ponsel. Tak ada yang bisa dilakukan Nadine selain sibukkan diri dengan alat pipih tersebut. Sekedar buka YouTube maupun chat dengan teman.
Nadine meletakkan ponsel sewaktu lihat sosok Citra masuk. Tidak usah Citra buka mulut Nadine sudah tahu kalau dokter muda itu sedang dilanda api kesal. Jarang bisa lihat wajah kusam Citra. Wanita itu selalu sabar murah senyum.
Citra hempaskan diri di sofa menutup wajah pakai kedua tangan. Berkali-kali tangan Citra mengusap wajah cantiknya.
"Dasar gila..." rutuk Citra pelan.
Nadine mengerjit alis heran Citra bisa keluarkan kata-kata tak sedap di kuping. Siapa bernyali besar berani usik dokter favorit rumah sakit.
"Ada apa Cit?" tanya Nadine tanpa embel dokter. Kalau berada di rumah ataupun berduaan Nadine tak indahkan panggilan dokter. Kecuali kalau mereka sedang bertugas bersama. Nadine jarang satu team dengan Citra karena Nadine khusus perawat bagian anak.
"Pasien sebelah bikin jantungku mati suri!"
"Masih ada pasien tak patuh padamu?"
"Patuh sih! Cuma kelewatan."
"Kelewatan gimana?"
"Usil...Oya...aku harus ke sekolah Azzam. Aku sudah minta Azzam pindah sekolah kini balik lagi. Takutnya Azzam dapat tekanan dari sekolah."
"Katanya minta ijin doang! Wah tega kamu ninggalin kamu! Adik macam apa kamu ini? Mau bawa kabur keponakanku." Nadine besarkan suara tak terima Citra berniat kabur tanpa diskusi bersama. Masih untung Tuhan tak restui pelarian Citra dengan Afifa demam. Kalau Afifa tak sakit mungkin kini Citra dan kedua anaknya sudah terbang ntah ke mana.
"Bukan itu maksudku! Aku panik lihat Alvan. Aku takut dia bakal rebut kedua hartaku. Aku salah kak! Aku minta maaf!" Citra merapatkan kedua tangan ke dada memohon maaf dari Nadine.
Di antara rasa kesal Nadine iba juga pada Citra. Ibu manapun tak rela berpisah dengan anak yang dibesarkan susah payah. Citra berjuang sendiri besarkan ketiga anaknya. Alvan tidak punya andil dalam hal ini. Dasar apa dia tuntut anak-anak.
"Kakak bukan marah. Tapi ya harus kasih tahu. Kita hadapi sama-sama. Kamu tidak sendiri. Ada ibu, Andi dan aku. Kamu punya kami." Nadine mengalah tak perpanjang rasa jengkel. Citra pasti punya alasan tersendiri simpan semua rapat-rapat dalam hati.
"Terima kasih kak! Aku pergi sebentar ya! Tolong jaga Amei!" Citra meraih tasnya yang tergeletak di atas meja. Nadine tak menahan langkah Citra mengingat wanita ini bukan pergi jalan-jalan.
__ADS_1
"Aku pergi ya! Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Citra bergegas pergi ke luar halaman rumah sakit cari tumpangan ke sekolah Azzam. Citra berniat cari angkot karena pesan ngojek maupun taksi online butuh waktu. Baru beberapa langkah Citra berjalan ponselnya berbunyi.
Citra terpaksa tunda langkah lihat siapa yang telepon. Nomor baru asing sekali.
"Halo assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...gimana Afifa?"
"Siapa ini? Afifa sudah membaik."
"Baru pisah beberapa jam sudah lupa pada suami. Kau mau makan apa? Aku akan bawa ke sana untuk makan siang."
Citra tersadar siapa yang telepon. Lelaki yang ngaku suami namun tidak bertanggung jawab. Citra tak gampang terlena dirayu pakai status palsu. Katanya suami tapi cinta pada perempuan lain. Pantaskah Alvan mengaku suami Citra?
"Bapak tak usah repot. Di kantin semua ada kok! Maaf aku harus pergi ke sekolah Azzam."
"Ngapain? Azzam akan kujemput nanti. Kami akan bareng ke rumah sakit."
"Ini soal surat pindah Amei dan Azzam."
"Oh itu...sudah kutangani! Tak ada masalah lagi. Kau jaga Afifa saja! Siang nanti aku jemput jagoan aku. Kami akan makan siang di sana."
"Pak...tak usah repot! Kehadiran bapak hanya menambah kesulitan aku! Kasihan Kak Karin...pulang dan makan bersamanya! Itu keluarga bapak yang asli. Tak usah hirau kami."
"Citra...aku ini papinya anak-anak. Aku harus bersama mereka selamanya. Karin biarlah jadi urusanku! Suatu saat kau akan ngerti posisiku! Sudahan ya! Aku masih banyak pekerjaan." Alvan matikan ponsel tanpa beri kesempatan pada Citra menjawab.
Citra memutar balik badan kembali ke rumah sakit. Alvan bergerak cepat tunda perpindahan Azzam dan Afifa. Laki itu sudah pasti takkan biarkan Citra pergi bawa kedua anaknya. Apa lagi sekarang Alvan lagi berada di posisi sulit. Secara resmi Alvan menyandang gelar laki mandul. Pengobatan tak jamin Alvan bisa dapat keturunan dalam waktu singkat. Bisa bertahun bahkan tidak sama sekali.
Dengan langkah gontai Citra kembali ke tempat Afifa dirawat. Tak ada yang dapat Citra lakukan selain berdoa semoga Afifa cepat pulih. Pulih untuk kembali jalankan aktifitas sebagai murid. Afifa tidak sepintar Azzam namun Afifa punya kelebihan sendiri. Afifa baik hati dan peramah. Wajah imutnya menambah nilai plus Afifa sebagai anak manis.
"Dokter Citra..."
Citra menoleh merasa namanya dipanggil orang. Di rumah sakit itu cuma ada satu dokter bernama Citra. Siapa lagi dipanggil kalau bukan dirinya.
"Dokter Budi?"
Dokter senior bagian anak mengejar Citra menjajarkan langkah. Citra hentikan gerak kaki merasa tak enak biarkan dokter lebih senior mengejarnya. Tetap harus ada tingkatan walau dalam status mereka setara cuma beda bidang.
"Dari mana?" Dokter Budi berhasil sejajar dengan Citra.
"Tadi rencana mau ke sekolah anakku yang lain. Tapi sudah ditangani Pak Alvan."
Pak Budi tertawa kecil dengar panggilan Citra pada Alvan. Katanya suami isteri namun ada ganjalan dalam panggilan. Mana ada isteri panggil suami dengan kata Pak. Ada apa dalam rumah tangga pasangan muda ini.
"Aku mau kontrol anakmu. Kita pergi bersama ya! Kita harus cek lab lihat perkembangan Hb darah Afifa. Kalau sudah naik syukur."
"Kayaknya dia tambah segar. Cuma banyak tidur."
"Itu lebih bagus biarkan dia istirahat! Pemulihan akan lebih cepat."
__ADS_1
Citra dan dokter Budi berjalan beriringan menuju ke lift untuk capai lantai super VIP di mana Afifa dirawat. Dokter Budi tidak berani bertanya lebih jauh hubungan Alvan dan Citra. Dokter Budi cukup heran mengapa tiba-tiba Citra berstatus isteri Alvan. Seingat dokter Budi isteri Alvan merupakan selebgram kondang yang punya jutaan followers. Lebih mencengangkan hadirnya anak kecil di antara mereka. Siapa yang jadi orang ketiga dalam rumah tangga Alvan. Karin atau Citra.
Tak terasa kedua dokter Health Center telah tiba di lantai super VIP. Mereka berjalan sepanjang koridor yang sepi karena penghuni kamar mewah itu bisa dihitung jari. Sekarang ini mungkin cuma Afifa dan Heru dirawat di lantai ini. Tak heran bila suasana sunyi jauh dari kebisingan.
Sebelum masuk kamar rawat Afifa, dokter Budi memanggil perawat yang piket bertanggung jawab terhadap pasien. Semua riwayat penyakit Afifa tercantum dalam file. Dokter Budi harus tahu setiap perubahan Afifa dari waktu ke waktu.
Bertiga mereka masuk ke kamar Afifa. Nadine betah kutak katik ponsel sedang pasien masih terbuai mimpi. Nadine segera bangun begitu lihat para dokter hadir kontrol pasien. Nadine tetap harus jaga etika walau dapat pengecualian hari ini.
"Boleh kita bangunkan putri tidur ini?" gurau dokter Budi tak dapat sembunyikan rasa kagum pada kecantikan anak Citra. Kecil begini sudah memikat hati. Bagaimana kelak kalau Afifa tumbuh besar. Para pejantan siap-siap patah hati ditolak kencan oleh boneka hidup ini.
"Oh boleh..." Citra mengiyakan permintaan dokter Budi. Citra menyentuh lengan Afifa dengan pelan takut Afifa kaget dibangunkan secara paksa. "Sayang...bangun nak!"
Afifa bergerak malas. Matanya berat untuk melihat siapa yang datang. Malaikat kecil ini tetap pejamkan mata malas buka mata. Rasa ngantuk lebih dominan ketimbang rasa penasaran.
"Sudahlah kalau dia masih ngantuk! Aku cuma mau lihat reaksi dia diajak ngobrol! Biar kucek saja!" Dokter Budi pasang stetoskop dengar denyut jantung Afifa dan lainnya. Senyum di bibir dokter Budi melegakan Nadine dan Citra. Dokter Budi pakar anak-anak tentu lebih paham cara tangani penyakit anak kecil.
"Ok dok?" tanya Citra penuh harapan.
"Sejauh ini ok. Kita lihat malam ini apa akan capai fase kritis? Kalau dia demam tinggi kita drip Norages. Setelah itu aman. Penyembuhan sangat cepat. Tak ada yang perlu dikuatirkan. Beri banyak minum dan makan. Apa saja boleh asal jangan yang dingin. Tak usah pantang. Besok kita cek lab. Tak perlu hari ini. Anakmu dalam kondisi stabil."
"Terima kasih dok! Aku akan hati-hati malam ini." janji Citra hormati analisa dokter Budi. Citra sudah tahu prosedur urus anak demam berdarah namun yang lebih berhak beri cara pengobatan tentu dokter anak. Citra dokter beda jalur. Waktu jadi dokter umum Citra sering tangani pasien demam berdarah. Alhamdulillah semua tertolong asal tidak terlambat diberi pertolongan.
"Kalau ada keluhan silahkan panggil aku! Aku akan datang setiap saat." ujar dokter Budi penuh arti. Citra sulit jabarkan kata dokter Budi. Takut pada Alvan atau karena Afifa anak rekan sejawat. Alvan sudah katakan Afifa anaknya. Otomatis pelayanan pada anak pemilik rumah sakit akan lebih sepesial. Ini hal lumrah terjadi di seluruh dunia. Yang berkuasa tetap jadi nomor satu.
"Terima kasih dok! Obat untuk Afifa sudah diresepkan semua?"
"Sudah...paling kutambah beberapa vitamin agar cepat segar. Tak ada masalah besar. Nah..aku pergi dulu! Aku masih di sini sampai jam dua."
"Iya dok! Terima kasih..."
"Kantongku penuh kata terima kasih. Kalau Putri cantik ini sembuh kau harus buatkan aku lontong sayur. Lontong sayur buatan mu sangat lezat."
"Kapan dokter Budi makan lontong buatanku?" Citra kaget mengapa dokter Budi tahu dia pandai olah lontong jadi santapan lezat.
"Aku numpang makan sama dokter Rahma. Katanya buatan kamu. Sering-sering bawa sarapan untuk rekan kerja. Berpahala lho!"
Citra tersenyum tak bisa mengelak. Citra memang suka bawa sarapan pagi dibagi ke teman sejawat. Kebetulan dokter Rahma satu ruang dengan Citra. Sama-sama dokter bagian syaraf wajar dokter Rahma paling sering ketiban rezeki sarapan lezat.
"Aku janji...tapi tunggu Putri aku fit seratus persen."
"Tenang...waktu kita masih panjang. Fokus sama putri cantik ini dulu. Ok..aku pamit. Kalian dua jangan lengah pantau terus suhu badan Afifa." Dokter Budi beri peringatan pada perawat piket dan Nadine. Kedua perawat itu angguk tanda paham.
Dokter Budi melenggang tinggalkan ruangan diikuti perawat piket. Citra menyelimuti Afifa yang agak berantakan sebab di buka untuk diperiksa dokter Budi. AC dalam kamar cukup dingin. Setelan AC dikontrol dari pusat, tak bisa setel secara manual. Satu rumah sakit suhu dinginnya sama.
"Aku jaga sampai pagi atau pulang awasi si lajang?" tiba-tiba Nadine berkata dari sofa. Cepat sekali Nadine sudah tempatkan bokong di sofa.
"Kakak pulang saja. Koko mana takut Ance. Bisa bergadang sampai subuh dua makhluk ajaib itu."
Nadine tertawa ingat gimana konyolnya Azzam bila disuruh cepat tidur. Sejuta alasan mentah keluar dari mulut anak ganteng itu. Nadine tak pernah menang berdebat lawan lajang kecil itu. Ada saja cara Azzam patahkan kata-kata Nadine. Ada Nadine saja bisa tidur di atas jam sepuluh. Gimana kalau dititip pada Ance. Habislah cerita!
"Tapi kau sendiri. Aku kuatir."
"Aku tak yakin sendiri. Takutnya lintah darat akan numpang tidur sini."
__ADS_1
"Alvan akan ke sini lagi?"