
Tokcer dan Andi tahu situasi segera menggandeng Afifa untuk berlalu dari hadapan Citra dan Alvan. Afifah yang tidak mengerti keadaan hanya manut dibawa meninggalkan rumah sakit. Di belakang Andi menggandeng Azzam dan Afisa agar ikut langkah tokcer yang telah duluan ke depan.
Tinggallah Alvan dan Citra saling memandang tak tahu bagaimana harus membuka mata hati Bu Dewi agar tidak selalu suudzon. Dengan anak kecil saja Bu Dewi sanggup bertengkar mulut padahal ajam dan Afisa adalah cucu kandungnya.
"Ma...sudah puas melukai perasaan anak kecil? Asal Mama tahu kalau anak-anak aku tidak tertarik sedikitpun pada kebesaran nama keluarga Lingga. Dari dulu mereka sudah berencana meninggalkan tanah air menjadi kehidupan yang lebih baik. Apa yang menyebabkan Mama tidak menyukai Citra dan anak-anak dan apa salah mereka?" Alvan langsung buka mulut setelah anak-anak pergi karena Alvan tidak mau bertengkar dengan mamanya di depan anak-anak.
"Siapa bilang mama tidak menyukai mereka. Mereka adalah cucu-cucu Mama cuma Mama tidak suka kalau mereka tidak menghormati mama." Bu Dewi masih ngeyel pertahankan ego.
"Kalau Alvan tidak mendengar dengan kuping sendiri maka Alfan akan percaya kata-kata mama tetapi faktanya Mama memang melukai hati mereka dengan mengatakan yang bukan-bukan. Siapa yang menginginkan harta mama? Saudara mama yang di Kalimantan atau ada calon besan lain yang ada di otak Mama?"
"Ngomong apa kamu? mama hanya ingin kamu memperistri Kayla agar tali persaudaraan tidak putus. Kamu telah mempunyai beberapa orang istri menambah satu juga tidak jadi masalah. Toh Citra tidak keberatan kalau kamu beristri lagi."
Citra hanya tersenyum mendengar perkataan Bu Dewi. Kalau Alfan mengiyakan kata-kata mamanya maka Citra akan memilih jalan mundur. Tidak ada kata keadilan di dalam poligami titik Citra bersedia menerima Karin karena wanita itu sedang sekarat. Bukan berarti Citra siap menerima istri baru Alvan lagi.
"Maaf...kalian lanjutkan rencana berpesta. Citra masih harus mengontrol kesehatan papa. Permisi..." Citra melangkah pergi tanpa menoleh ke arah Alvan maupun Bu Dewi lagi. Kemarahan Afisa sangat beralasan kalau sikap Bu Dewi terusan begini. Sangat tidak rasional sebagai orang tua orang tua. Seharusnya mengharap kebahagiaan anak bukan mengacaukan kehidupan anak.
Alvan menatap nanar kepergian Citra. Alvan sudah menangkap gelagat tidak baik akan menimpanya. Tampaknya Citra juga terpancing oleh kata-kata Bu Dewi yang sangat tidak masuk akal. Citra telah memberi toleransi yang sangat tinggi pada Alvan tapi semuanya telah dikacaukan oleh Bu Dewi.
"Ma...apa mama belum puas memisahkan Alvan dari Citra dan anak-anak? Alvan tidak peduli pada Kayla atau wanita manapun. Alvan akan usahakan Kayla dan mamanya dihukum penjara seumur hidup. Semua aset perusahaan Alvan kembalikan pada mama. Mama dan papa kelola sendiri." kata Alvan sudah hilang kesabaran. Dari tadi Alvan sudah ingin marah tapi ditahan agar tak beri image buruk pada anak-anak.
"Alvan...kau tahu apa yang sedang kau katakan? Kayla akan memberimu sepuluh anak sehat. Dia sudah pernah melahirkan. Bibitnya pasti subur."
"Dia subur atau tidak bukan urusan Alvan. Yang pasti dia akan dipenjara seumur hidup. Alvan tidak akan beri toleransi sedikitpun pada wanita yang berhati keji itu. Kalau mama ingin mempunyai keluarga yang berhati busuk mintalah Papa kawin perempuan itu! Dengan demikian kalian akan berkeluarga walau wanita itu di penjara. Percayalah! Dia akan membusuk di penjara." selesai ngomong gitu Alvan memilih meninggalkan Bu Dewi yang terbengong-bengong mendengar amarah Alvan.
Alvan bukannya tak mau tegas pada Bu Dewi. Alvan cuma tidak mau mengumbar amarah di depan keluarganya. Afifa selalu menganggap Alvan adalah panutan maka itu Alvan harus menjaga image agar tetap menjadi Papi yang baik bagi anak-anak. Alvan juga ingin mengajarkan pada anak-anaknya bahwa melawan orang tua itu tidak bagus. Masih ada cara lain yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah.
Alvan menyusul Citra mengontrol Pak Jono yang telah dibawa ke ruang rawat di kamar VVIP. Semoga saja Pak Jono telah membaik. Pikiran Pak Jono lebih rasional daripada istrinya. Tidak menjadi budak harta.
Tersadar Alvan telah meninggalkannya maka Bu Dewi cepat-cepat mengayunkan langkah mengejar anaknya yang telah duluan ke depan. Hati Bu Dewi belum puas karena Alvan tidak bersedia mencabut tuntutan terhadap Kayla dan mamanya. Apapun caranya Kayla dan mamanya harus dibebaskan dari hukuman. Lalu menyingkirkan Citra agar lebih mulus menempatkan Kayla di samping Alvan.
Di dalam ruang rawat Citra dan pak Jono sedang berbincang. Mereka ngobrol dibarengi tawa halus dari Citra. Ntah apa yang membuat Citra senang ngobrol dengan mertuanya. Mereka tampak akrab menimbulkan kecemburuan Alvan.
Alvan tak mau kejadian Karin terulang di tubuh Citra. Walau Alvan tahu Citra bukanlah wanita gampangan macam Karin. Akhlak Citra terlalu mulia dibanding dengan Karin.
"Pa...gimana perasaan papa?" Alvan langsung berdiri halangi Citra berdekatan dengan pak Jono.
"Alhamdulillah sudah enakan! Mana mamamu dan cucu papa?"
"Mama ada di bawah. Cucu papa sudah pulang istirahat. Afisa baru tiba butuh istirahat. Nanti akan datang lagi kok!" ujar Alvan sengaja blok obrolan mantu dan mertua. Keintiman keduanya membekas kenangan buruk di hati Alvan.
__ADS_1
"Oh gitu... Papa sangat senang melihat anak-anakmu yang pintar dan cerdas. Papa tak sangka mempunyai keturunan yang sangat luar biasa. Terutama yang baru datang itu siapa namanya?"
"Afisa..." sahut Citra cepat ikut bangga pak Jono hargai anaknya.
"Ya Afisa...pancaran matanya sangat tajam mencerminkan kecerdasan yang sangat luar biasa. Semoga kelak dia dapat menjadi pewaris daripada keluarga kita. Yang laki itu juga cukup luar biasa. Pokoknya Papa sangat bahagia telah jumpa dengan cucu-cucu papa."
"Mereka tidak butuh yang namanya materi. Mereka bahagia hidup apa adanya pa! Papa tidak perlu menyebut-nyebut soal warisan kepada anak-anak Alvan. Mereka telah mempunyai harta yang lebih berharga yakni ketulusan. Papa lihatlah Mama yang asyik menyebut-nyebut masalah warisan! Itu sangat melukai hati anak-anak."
"Maafkan mamamu nak! Dia hanya panik saudaranya kena jeratan hukum. Nanti papa akan bicara dengan mamamu! Citra dan cucu opa yang lebih penting. Orang luar itu tak berarti apa-apa."
"Iya pa...semoga mama sadar ya!"
"Sekarang papa istirahat! Kalau ada yang tak nyaman segera kabari perawat. Mereka akan membantu Papa. Citra permisi mau pulang lihat anak-anak." Citra merasa Pak Jono telah bisa ditinggalkan maka ingin pulang jumpa Afisa.
Citra harus membujuk Afisa agar melupakan semua yang terjadi hari ini. Afisa datang untuk bersenang-senang bukan datang bertengkar dengan Oma.
"Aku antar kamu sayang!" Alvan menawarkan diri mengantar Citra pulang ke rumah keluarga Perkasa.
"Tidak perlu...temani papa dulu! Aku bisa sendiri. Aku sudah biasa hidup mandiri." ketus Citra mulai alirkan nada tak senang pada Alvan yang dia nilai kurang tegas pada Bu Dewi. Di depan Citra masih menawarkan perempuan lain untuk jadi istri Alvan. Keluarga gila.
"Citra...jangan berpikir yang aneh-aneh! Kalian tetap prioritas utamaku!"
Citra mendengus lalu pergi. Dalam perjalanan Citra berpapasan dengan Bu Dewi. Citra melangkah tanpa beri salam lagi. Bu Dewi tidak hormati orang lain ngapain Citra susah payah hormati orang itu.
Sementara di mobil Tokcer dan Andi mengantar ketiga anak majikan mereka pulang ke rumah baru Citra. Ketiga anak Citra duduk manis di jok belakang. Afifa duduk di tengah memisahkan Azzam dan Afisa. Wajah Afisa dingin membeku tak lancarkan kebahagiaan seperti pertama datang.
Afifa menatap ke dua saudaranya silih berganti menanti reaksi kedua anak yang lebih tua beberapa menit darinya.
"Kok diam?" tanya Afifa gerah perjalanan jadi ajang tapa bisu.
"Mau omong apa Mei? Cece lagi kesal sama papi kalian!" sungut Afisa ketus.
"Papi itu baik kok Ce! Suka cerita sama Amei...Amei sayang banget sama papi." sahut Afifa lugu.
"Tapi papi kalian tolol. Bagaimana mau menjadi seorang Papi? Melindungi anak istri saja tidak sanggup. membiarkan oma semena-mena menghina kita."
"Kamu salah ce...papi bukannya tak lindungi kita tapi hargai orang tua! Apa kata orang bila papi ngamuk pada Oma? Papi itu seorang pemimpin. Koko bukan membela papi tapi paham papi sedang susah juga. Dia juga seorang anak macam kita. Kita saja tak tega melawan mami. Takut mami bersedih. Sama juga papi. Koko yakin papi akan menyelesaikan masalah ini dengan bijak." kata Azzam menasehati Afisa.
Andi dan Tokcer saling melirik salut pada cara pikir Azzam. Anak itu pantas jadi anak sulung karena dapat memilah masalah. Bu Dewi buat masalah imbasnya ke Alvan.
__ADS_1
"Tapi papi kalian tidak langsung bantah." Afisa mulai dengan nada tinggi.
"Apa kau ingin melihat papi ngamuk kayak banteng gila di rumah sakit? Apa kamu tidak malu punya papi sakit jiwa?"
"Aku tak punya papi. Hanya punya papa."
"Huusss...tak boleh omong gitu! Kita ini anak-anak Alvan tanpa perlu bawa marga Lingga. Kau harus ngobrol dengan papi. Nanti kamu akan temukan jawaban bagaimana sosok papi. Koko jual kecap juga tak ada guna." Azzam tidak marah walau Afisa kobarkan emosi meletup-letup. Azzam harus dinginkan hati agar bisa membawa angin sejuk di antara Afisa dan Alvan.
"Maunya sih gitu!"
"Tidak jadi balik Singapura kan? Koko belum tunjukkan kucing kami. Ada di rumah papi. Namanya Brondy dan Kitty."
"Mami ijinkan kalian piara kucing?" tanya Afisa melupakan konflik sejenak tertarik pada kucing Azzam.
"Nggak...maka kami titip pada papi. Kami juga sudah lama tak jenguk kucing kami. Papi dan mami sibuk sih!"
"Cece harus jumpa mereka! Cece juga tak sempat urus kucing kita lagi. Kata papa sudah dikasih sama saudara di desa. Katanya Wang-Wang sudah jadi Daddy."
"Wow...Amei harus lihat anak Awang! Pasti cute ya!" Afifa bersemangat ingat kucing mereka yang tertinggal di Beijing.
"Lalu Rambo gimana?" Azzam teringat kucing jantan yang agak nakal.
"Rambo masih ada. Dipiara sama Awung Chiu. Dia sangat rindu pada kalian dan mami. Katanya kalau mami balik sana dia akan melamar mami."
Azzam terdiam sejenak tak tega lukai hati Alvan. Awung Chiu tetangga mereka yang punya toko serba ada. Beliau sangat baik ikut bantu Citra jaga anak-anak Citra.
Andi dan Tokcer ingin sekali menolak harapan Afisa menjauhkan Citra dari Alvan. Gadis itu terbawa gaya hidup di Tiongkok melupakan dari mana dia asal. Pintar bukan jaminan orang itu bijak. Yang bijak itu Azzam. Pintar mampu tunjuk sikap seorang Abang sejati.
"Mami tak cocok untuk Awung Chiu. Dia itu penganut agama Buddha sedang kita adalah muslim sejati. Koko tidak kecilkan agama Awung Chiu tapi mami tak mungkin ikut agama Awung Chiu dan sebaliknya. Mereka berdua dua kutub saling tolak belakang." lagi-lagi kalimat bijak meluncur dari mulut Koko Azzam.
Andi tepuk tangan setuju omongan Azzam. Citra tak mungkin murtad ikut agama orang lain hanya untuk menikah. Agama itu sesuatu yang keluar dari lubuk hati. Bukan hanya sekedar omong kosong demi capai nafsu serakah.
"Koko benar Ce...mami kalian itu muslim sejati. Dia mana mau pindah agama hanya untuk jadi istri orang. Tempat tepat untuk mami adalah di sisi papi kalian." Andi nimbrung agar fantasi Afisa tidak liar ke mana-mana.
"Tapi Cece tak suka pada nenek peyot hina mami dan kami. Emang dia kenyang makan harta? Sudah tua bukan sadar diri tapi menggila. Tuh papi kalian seperti sapi bodoh dicocok hidung. Patuh kayak orang tak punya akal." omel Afisa masih belum puas pada sikap pasif Alvan membela mereka.
"Papi diam bukan berarti papi tak punya rasa marah. Papi itu orangnya lembut hati. Tidak suka marah. Tapi Amei percaya papi akan bijak urus Oma." ujar Afifa membuat yang lain kaget. Tak disangka Afifa yang masa bodoh ternyata nyimak semua kejadian di rumah sakit.
"Kau yakin Mei?" tanya Afisa takjub Amei mau ikut campur bela Alvan.
__ADS_1
"Amei yakin...papi selalu ajar kebaikan! Dalam setiap bicaranya selalu utamakan kita dan mami. Papi tidak bicara tadi tentu dengan alasan tersendiri." mulut mungil Afifa bikin Andi makin gemas. Bibir mungil itu sanggup juga mengeluarkan kata bijak. Semua berpikir Afifa tidak secerdik Azzam dan Afisa. Nyatanya Afifa menyimpan kewelasan hati tersendiri.
"Wah adik Koko sudah gede...! Kita tunggu bagaimana papi bergerak. Melindungi Oma atau bertahan untuk kita. Kita tunggu dengan sabar. Ok?" Azzam mencolek Afisa lewat belakang punggung Afifa yang duduk di antara mereka.