
Alvan berjanji dalam hati akan lindungi Citra dari gangguan siapapun termasuk dari Karin. Kata hati Citra takut akan Karin bukan isapan jempol. Karin pasti nekat usik Citra bila tahu wanita muda ini hadir kembali dalam hidup Alvan. Posisi Citra jauh lebih kuat dari Karin yang berstatus isteri siri. Citra sah dalam hukum ditambah Citra punya keturunan langsung dari Alvan.
Gampang sekali Karin tersingkir dari layar hidup Alvan. Belum lagi Karin berulang kali rangkai kesalahan. Hamil tak jelas dan ketahuan selingkuh. Masih adakah nama Karin di hati Alvan?
"Kamu tenanglah! Aku takkan bahayakan kalian. Aku tahu batasan. Sekarang kau tidur karena sewaktu Afifa akan butuh kamu!" kata Alvan lembut tunjukkan tanggung jawab sebagai suami sekaligus bapak Afifa.
"Bapak tidak pulang?" Citra balik tanya kuatir Karin cari Alvan sampai ke rumah sakit. Wanita itu mampu berbuat nekat bila terancam. Citra berusaha semaksimal mungkin hindari konflik dengan Karin. Toh dia hanya masa lalu Alvan. Sekarang dan selanjutnya Karin pemilik sosok ganteng itu. Citra tidak sedih harus tersingkir karena dia sudah punya modal kuat. Tiga anak siap lindungi Citra di masa depan.
"Aku sudah janji pada Afifa jaga dia sampai sehat. Aku tak mau ingkar janji. Anak-anak lebih berharga dari apapun. Kau tidur di samping Afifa. Aku tidur di sofa."
"Hmm baiklah! Bapak juga istirahat!" ujar Citra kalem tanpa nada permusuhan.
Hati Alvan adem diberi secuil perhatian dari Citra. Walau secuil tapi sangat bernilai. Semoga ini awal yang baik buat Alvan untuk masuk ke dalam lingkaran Citra dan kedua anaknya.
Citra berjalan ke tempat tidur Afifa sambil pantau infus berisi cairan darah Alvan. Citra mau pastikan selang infus berjalan baik. Setiap tetes darah adalah nyawa bagi si sakit. Kekacauan jumpa Alvan merupakan berkah sampingan. Bila tak jumpa Alvan mungkin mereka masih sibuk cari pendonor buat Afifa.
Citra merebahkan diri di sisi Afifa yang tertidur pulas. Tangan Citra sempatkan menyentuh dahi anaknya cek suhu. Untuk sementara masih normal. Tak urung Citra lega. Citra bisa tidur dengan tenang.
Di sofa Alvan perhatikan ibu dan anaknya yang tergolek di tempat tidur. Alvan berharap Afifa cepat sehat bisa kembali ke sekolah melanjutkan aktifitas sehari-hari.
Alvan coba merebahkan diri di sofa merenggangkan otot kaku. Seharian Alvan berada di rumah sakit temani Afifa. Kerja di kantor sampai terbelangkai. Beberapa proyek harus dicancel karena bos perusahaan tak hadir. Alvan tidak menyesal kehilangan proyek asal bisa kumpul dengan darah daging sendiri.
Andai Alvan lewatkan kesempatan ini maka selamanya Alvan takkan jumpa anak-anak lagi. Untung Avan cepat selangkah tahan Citra. Telat dikit Citra telah kabur bawa anak-anak. Alvan takkan biarkan hal itu terjadi.
Hp Alvan berbunyi. Alvan kaget segera geser layar terima agar tak usik tidur Citra dan Afifa. Laki ini bangkit dari sofa berjalan keluar tak ingin usik kedua wanita beda generasi itu.
"Halo...ada apa?" tanya Alvan setelah di luar. Suasana koridor ruang VVIP sepi tak ada orang lalu lalang seperti di sal umum. Sini tenang tanpa hiruk pikuk manusia lain. Alvan terpaksa kecilkan suara karena suaranya bergema di lorong sepi.
"Dasar sableng! Lhu suruh gue intip bini lhu. Sekarang tanya ada apa? Edan.."
"Sori bro! Ngak fokus... maklumlah baru naik pangkat jadi pejabat baru! Jadi papi tiga bocil keren."
"Sombong amat! Bocilnya buat lhu. Induknya jatah gue!"
"Coba saja! Citra itu bukan wanita gampang digoyang oleh fulus. Eh..ada info apa?"
"Sudah siap mental? Jangan kena serangan lho!"
"Sejak kapan lhu jadi cerewet? Point langsung!"
"Hehehe tak sabar ya! Ini terdengar gila tapi fakta. Bini lhu carteran satu lantai hotel mewah untuk party rayakan kehamilannya! Hebat kan? Coba lhu cek hotel bintang lima dekat rumah lhu!"
Darah Alvan serasa berhenti mengalir. Sewa satu lantai hotel butuh dana bukan sedikit. Apa lagi kalau suite room. Bisa bolong kantong Alvan bayar biaya sewa hotel Karin. Ke mana akal sehat Karin tega hamburkan uang jerih payah Alvan. Uang Alvan datang bukan hasil korupsi maupun turun dari langit. Uang datang hasil kerja keras Alvan.
Sakit hati Alvan ingat kelakuan minus Karin. Mengapa Alvan demikian buta tak lihat vampire pengisap darah berada di sisinya.
"Gila...apa yang harus kulakukan?" desah Alvan hilang akal hadapi kenakalan Karin. Tanpa sadar Alvan mengepal tinju arahkan ke tembok dinding.
__ADS_1
"Blokir semua kartunya. Biar dia bayar pakai kolor atau beha para tamunya. Gampang toh?"
"Kau benar! Apa sekarang masih sempat?"
"Sempat. Sekarang pelayanan operator bank kan dua puluh empat jam selama tujuh hari. Yang penting kamu hafal no kartu dan identitas pemilik."
"Untung yang tahu. Aku harus telepon Untung. Karin harus dikasih pelajaran. Terima kasih bro! Tanpa kamu gue makin tersesat oleh Karin."
"Tak perlu terima kasih! Cukup tutup mata dari Citra. She is mine (Dia milikku). Ok?"
"No way...jangan usik Citra! Dia wanita baik. Biar dia yang tentukan siapa pendampingnya. Bisa jadi bukan kita."
"Wah...belum tanding sudah ngaku kalah! Baguslah! Artinya gue punya kesempatan. Besok gue datang lihat anak sambung gue! Lhu urus tuh ayam loncat lhu! Hamil kok kayak Tarzan kota."
"Sialan lhu! Trims bro! Gue tutup dulu ya! Mau cari Untung!"
"Sip lanjut!"
Alvan mematikan panggilan Daniel. Tanpa menunda Alvan sambung ke Untung. Tak sulit bagi Untung blokir kartu Karin. Semua catatan ada pada Untung karena dia yang urus semua kartu Karin. Dari kartu ATM sampai kartu kredit semua data ada pada Untung.
Alvan tak mau tahu bagaimana cara Untung blokir semua kartu yang ada di tangan Karin. Wanita itu semena-mena hambur uang sementara anaknya yang lebih berhak hidup sederhana walau tidak kekurangan. Anak-anak Alvan beruntung punya ibu sehebat Citra. Tegar tidak silau akan harta. Citra bisa saja minta uang pada Alvan gunakan anak sebagai tameng. Alvan tak mungkin ngelak bila keluar hasil test DNA. Namun orang itu Citra wanita kuat tak suka gunakan anak raup keuntungan.
Setelah beri tugas pada Untung Alvan masuk kembali ke ruang rawat Afifa. Dua wanita cantik itu tertidur pulas versi gaya masing-masing. Afifa balikkan badan ke arah Citra yang tidur tenang. Naluri Afifa katakan ada sosok hangat telah hadir. Reflek tubuh mungil itu mencari kehangatan dari tubuh wanita melahirkan dia.
Alvan tersenyum senang lihat pemandangan adem ini. Andai Alvan mampu luluhkan hati Citra besar kemungkinan hidupnya akan normal layak laki lain. Punya isteri cantik piawai di bidangnya dan anak-anak cantik. Laki mana tak bangga dipanggil papi anak berparas jelita.
Ketiganya terlelap nyenyak sampai tak tahu berapa kali perawat masuk cek kondisi Afifa. Sang perawat kerja hati-hati takut usik keluarga bos besar mereka. Segala upaya ditempuh supaya Afifa cepat sehat.
Pagi cerah menaungi seluruh umat tanah air. Di luar rumah sakit angin bertiup sepoi memberi rasa sejuk pada pasien yang bangun pagi cari kesegaran udara yang belum banyak polusi. Beberapa pasien duduk di kursi roda menanti pancaran cahaya mentari. Berjemur matahari pagi bisa menambah kekuatan fisik. Jemur satu jam di bawahan sinar lembut mentari sebelum tampil garang memanggang persada bisa membantu penyembuhan pasien.
Di salah satu ruang VVIP satu keluarga kecil terdiri bapak, ibu dan anak masih lelap padahal matahari mulai bersinar perlihatkan cahaya keemasan. Yang lain berlomba-lomba bangkit lakukan aktifitas kais rezeki yang mesti dikejar. Tak ada yang gratis. Semua harus dikais pakai tangan baru ada hasil.
Perawat masuk cek keadaan Afifa sebelum dokter spesialis anak datang berkunjung. Perawat harus buat laporan setiap perkembangan pasien. Itu kewajiban perawat.
Kantong darah infus juga hampir habis. Untuk transfusi selanjutnya harus cek lab lagi lihat perkembangan trombosit dan HB darah Afifa. Masih perlu tambah darah atau cukup sekian.
Perawat itu beranikan diri bangunkan Citra untuk tanya apa tindakan selanjutnya untuk antisipasi infus darah selesai. Bagaimanapun Citra seorang dokter yang ngerti apa yang harus dilakukan.
"Maaf Bu dokter?" perawat itu menyentuh lengan Citra perlahan. Ada rasa takut serta segan di wajah perawat itu. Citra ibu juga dokter handal. Nama Citra cukup disegani walau pada dasarnya dokter itu kayak anak SMA.
"Oh maaf! Kebablasan tidur!" Citra terbangun menatap perawat yang berdiri tak jauh darinya.
Citra menengok di samping lihat Afifa masih pulas. Tangan Citra bergerak cepat menyentuh dahi Afifa. Suhu tubuh Afifa mendekati normal. Kelegaan terukir di bibir Citra.
Citra turun dari ranjang perlahan takut ganggu tidur Afifa. Badan Citra terasa segar tidur lumayan nyenyak. Sudah lama Citra tak rasakan kenyamanan ini. Perasaan lega ditambah bahagia. Afifa tidak panas lagi.
"Bu..darahnya hampir habis. Kita ganti infus apa?" perawat meminta petunjuk.
__ADS_1
"Kasih elektrolit dulu. Kalau dokter Budi datang baru kita dengar apa katanya. Oya..ada ukur suhu anakku tengah malam?"
"Ada Bu. Kisaran tiga tujuh tiga delapan. Jam tiga saya drip parasetamol. Kalau kasih minum takut ganggu tidur adik kecil. Itu sesuai perintah dokter Budi."
"Gitu ya! Terima kasih ya! Maaf sudah merepotkan."
"Oh tidak Bu! Ini tugas saya. Ibu dokter kayak tak tahu tugas perawat. Sudah kubuat laporan untuk teman ganti nanti. Kudengar Kak Nadine akan bertugas pagi ini di sini."
"Syukurlah! Kak Nadine itu tantenya anakku. Terima kasih sus! Oya...tolong pesan kopi dan roti bakar dua porsi. Untuk si kecil masih bubur. Boleh bubur ayam atau seafood." Citra mengambil uang dari tas berikan pada perawat untuk pesan sarapan pagi untuk mereka sekeluarga.
Lagi-lagi Citra beri dua lembar uang warna merah. Perawat itu jengah terima uang terlalu banyak itu. Uang semalam masih berlebih Citra tambahkan pula. Ntar dipikir perawat itu cari keuntungan.
"Bu uangnya terlalu banyak."
"Tak apa...pergi beli dulu! Sebentar lagi Afifa bangun. Dia pasti lapar. Cepat ya!"
"Ya Bu!" Perawat itu pergi dengan tergopoh-gopoh laksanakan perintah Citra. Bisa melakukan sesuatu pada keluarga bos merupakan hal membanggakan. Nasib perawat itu akan berubah bila dapat laksanakan tugas dengan baik.
Sepergi perawat itu Citra masuk kamar mandi. Di samping meja wastafel sudah tersedia paper bag berisi pakaian serta perlengkapan mandi Citra. Citra tak tahu sejak kapan barang itu masuk ke ruang rawat Afifa. Ini pasti ulah Alvan meminta Untung ambil pakaiannya di rumah.
Citra bersyukur bisa mandi ganti pakaian. Dari kemarin tubuh Citra belum menyentuh air. Hanya sempat mandi pas foto. Mandi wajah dan lengan.
Citra tak siakan kesempatan ini bersihkan badan dengan sempurna. Segar rasanya bisa mandi rontokkan daki tak tahu malu betah lengket di kulit mulus Citra. Semua keruwetan terlepas sesaat dari benak otak Citra. Hanya ada tersisa rasa adem membelai tubuh.
Citra segera berberes mengingat Afifa masih tidur. Takut anak itu terbangun kaget tak melihat maminya. Alvan masih tidur tak bisa diharapkan. Wanita ini segera tuntaskan acara mandi. Masih banyak waktu balas dendam pada air di kemudian hari.
Citra keluar dari kamar mandi perlihatkan wajah segar. Saking segar mirip ikan baru dipancing dari kolam. Masih fresh tidak kena es batu.
Netra Citra menangkap sosok besar yang semalaman tidur di sofa telah bangun. Wajah bantal melekat erat di wajah laki macho itu. Kusut masai tak bergairah. Mata masih merah siratkan belum puas tidur. Citra tak tahu jam berapa Alvan tidur. Dia duluan berlayar di pulau mimpi. Segalanya sirna dibawa bahtera mimpi.
"Selamat pagi pak!" sapa Citra terapkan sopan santun. Tidak dosa ucapkan selamat pagi buat mantan suami. Mereka tidur satu ruang demi Afifa. Tak ada hubungan intim antara mereka. Ini semata-mata demi kesembuhan Afifa.
"Pagi...kau cantik!" gumam Alvan sadar tidak sadar. Baru pertama kali ini Alvan puji Citra setulus hati.
"Maaf..apa kata bapak?" Citra bertanya karena gumaman Alvan kurang jelas di kuping.
Alvan tersadar kelepasan omong. Memuji Citra tidak tepat saat ini. Wanita itu masih belum bisa terima kebaikan Alvan apa lagi gombalan di pagi hari. Citra bisa saja salah sangka kira Alvan lancarkan gombalan kosong.
"Oh tidak...maksudku kau segar! Sudah mandi?" ralat Alvan biar tak tampak bodoh.
"Sudah pak. Bapak silahkan gunakan kamar mandi kalau perlu! Aku sudah pesan kopi dan roti untuk bapak!"
Alvan belum beranjak bangun. Alvan teringat semalam dia dan Untung blokir semua kartu Karin. Terakhir Untung datang bawa pakaian Citra. Setelah itu Alvan baru tidur nyenyak ikuti Citra. Alvan tidur kayak kayu mati tak tahu hari sudah pagi.
Ini pagi pertama bersama setelah berpisah sembilan tahun. Dahsyatnya mereka satu kamar walau tidak seranjang. Untuk sementara Alvan tak berhak satu ranjang dengan Citra karena mereka telah bercerai secara agama.
Kalau Alvan ingin Citra kembali jadi isterinya mereka harus rujuk secara agama. Secara hukum masih sah suami isteri.
__ADS_1