ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Cari Fakta


__ADS_3

Daniel tak sabaran menanti hari bergulir ke waktu sore. Daniel kangen berat pada Citra yang imut si pencuri hati. Kalau maling hati seimut Citra, Daniel rela kehilangan seluruh jiwa raga dicolong Citra. Tak peduli Citra itu mantan Alvan. Di mata Daniel Citra itu tetap gadis baik. Alvan mau omong seburuk apapun Citra takkan goyahkan iman Daniel kejar cintanya pada Citra.


Daniel menanti Alvan dengan bosan. Menjadi bos bukan pekerjaan enak. Otak harus selalu cas hitung untung rugi. Mencari investor juga memutar otak agar karyawan selalu dapat gaji tiap bulan.


Dunia Daniel sederhana tak perlu berkutat dengan segala trik dunia bisnis yang kadang sangat kotor. Halalkan segala cara meraup untung sebanyak mungkin. Daniel harap Alvan bukan termasuk jajaran bos berotak mafia. Alvan terlalu baik dimasukkan dalam daftar hitam.


Menjelang siang Alvan datang bersama si gempal Untung. Bujang lapuk berkacamata itu tetap sangat berdiri di samping Alvan walau lelah gerogoti seluruh tubuh. Alvan terlalu andalkan Untung sampai bujang lapuk itu lupa cari pasangan. Lama kelamaan Untung bisa jadi isteri Alvan tak terpisahkan.


Daniel bersyukur jumpa Alvan setelah bertapa dalam kebisuan di kantor Alvan. Akhirnya aura manusia hinggap di ruang besar yang tertata rapi. Semua peralatan kantor tersusun rapi jali di tempat. Aroma ruangan juga segar berkat bantuan aroma terapi dari pengharum ruangan. Orang bisa betah berada di ruang tak sumpek itu.


Alvan melemaskan otot-otot di kursi kebesaran bos Lingga. Rapat dan segudang masalah pribadi menyita seluruh pikiran Alvan. Alvan bersandar pada sandaran kursi memejamkan mata pusing memikirkan Karin. Mengapa wanita itu tega berbuat senonoh dengan laki lain. Apa kekurangan Alvan sampai Karin berpaling. Semua kalimat cinta yang melambungkan Alvan ke langit luas ternyata hanya isapan jempol. Karin memanfaatkan cinta Alvan untuk hidup foya-foya.


Daniel dan Untung saling tukar pandangan lihat Alvan terpuruk sampai ke dasar jurang. Terhempas berkeping-keping hati dan raga. Kejadian beruntun bak tabrakan beruntun di jalan tol. Hancur semua.


Daniel iba juga lihat kondisi Alvan. Tapi apa mau dikata. Alvan terlanjur piara kutu kupret pengisap darah.


"Untung...tanya Hans ada di rumah sakit ngak?" tiba-tiba Alvan beri tugas pada Untung.


Si gempal langsung keluarkan ponsel dengan sigap. Tanpa banyak mulut Untung hubungi dokter yang dimaksud Alvan. Tak susah hubungi dokter itu karena yang berkaitan dengan Alvan selalu jadi prioritas Hans.


"Halo dokter Hans...Di mana posisi?"


"Mana lagi kalau bukan di rumah sakit. Kenapa lagi dengan bos kamu? Belum puas menyulitkan dokter Citra?"


"Pak dokter jangan ke mana-mana! Bos mau jumpa."


"Ok...ditunggu!"


Ponsel dimatikan. Untung berdiri sigap di depan Alvan buat laporan hasil pembicaraan dengan dokter Hans.


"Hans ada di rumah sakit pak! Kita ke sana?"


"Kau di kantor saja. Aku pergi dengan Daniel. Teleponi aku kalau ada kendala di kantor." sambil bicara Alvan bangkit merapikan pakaian yang masih rapi. Wajah lusuh namun tak kurangi kegantengan Alvan.


Ganteng tak jamin dapat perempuan setia. Alvan korbankan jiwa dan raga untuk seonggok sampah. Karin tak pantas dapat cinta Alvan yang agung. Karin pasti akan menyesali semua pengkhianatan terhadap Alvan.


Daniel paham ikut langkah Alvan tanpa diajak. Detik ini jalan paling baik adalah diam. Diam adalah emas mungkin cocok diterapkan saat ini.


Kedua laki itu jalan beriringan keluar dari kantor. Beberapa karyawan menyapa dengan sopan pada bos galau itu. Seperti biasa Alvan balas dengan anggukan kepala. Kesopanan anak buah harus dapat apresiasi walau hanya satu anggukan. Alvan dingin namun punya hati.


Di parkiran Alvan menyerahkan kunci mobil pada Daniel. Pikiran Alvan terlalu kacau untuk bawa mobil. Jujur Alvan patah arang karena dikhianati orang yang paling dia cintai. Wanita yang dianggap bidadari suci.


Daniel jalankan mobil mewah Alvan tanpa protes. Avan butuh teman bisa berbagi saat ini. Daniel adalah orang yang paling pahami Alvan. Baik buruk Alvan ada di tangan Daniel. Alvan cukup gentle sebagai laki. Cuma ada satu noda hitam di tubuh Alvan yakni campakkan wanita sebaik Citra.


"Van...kau tak berniat test DNA Azzam maupun Afifa?" tanya Daniel setelah mereka di jalan raya. Jalan lumayan macet karena waktu orang istirahat cari makan siang. Anak-anak sekolah sedang pulang salah satu penyebab jalan macet.


Daniel dan Alvan berbaur dengan kenderaan lain menerobos jalan raya belah kemacetan. Suara bising klakson tak ganggu pendengaran kedua laki itu karena pintu mobil tertutup rapat.


"Nantilah! Kita tunggu waktu tepat. Kita tak boleh takuti Citra sekarang. Bisa saja dia nekat sembunyikan bocil-bocil bikin gregetan itu. Azzam yang sok dewasa, Afifa yang imut dan Afisa yang misterius. Gue penasaran banget bagaimana Citra besarkan anak-anak mirip boneka itu?" mata Alvan sedikit berbinar bercerita tentang anak Citra.

__ADS_1


"Yang pasti di kasih makan. Yang kubayangkan gimana bagi ASI. Pompa cuma dua tapi mulut tiga. Rebutan kali ya!"


Alvan mencolek kepala Daniel dengan gemas. Otak kotor Daniel terarah ke hal negatif melulu. Alvan tak rela Daniel bayangkan bukit kembar Citra. Keduanya pernah jadi bagian dari Alvan walau dalam situasi tak kondusif.


"Pulang ini beli sabun cuci otak ngeres lhu! Kalau perlu bawa laundry biar bersih total."


Daniel tertawa ngakak bikin Alvan makin sebel. Kapan Daniel bisa kesal pada Alvan? Daniel tahu semua rahasia Alvan sampai seujung lubang jarum.


Tiba-tiba ponsel Daniel berbunyi tanda ada panggilan masuk. Daniel beri kode pada Alvan untuk klik tombol terima. Alvan klik bulatan hijau. Alvan aktifkan speaker agar bisa didengar barengan.


"Halo...ada info apa?"


"Sekedar info lanjutan semalam. Orang yang nyangkut di liang Karin semalam itu penderita Aids. Katakan pada orang yang dekat Karin agar test HIV. Lumayan akut! Sudah banyak makan korban."


"Sialan...sudah berapa lama dia hubungan sama Karin?"


"Dua malam ini. Coba lhu cari tahu cowok mana pernah gituan sama Karin! Ingatkan agar jangan mati sia! Karin belum tentu kena sih karena masih baru. Gue heran mengapa si Karin bisa nyangkut sama si Zaki. Anak itu brengsek habis."


"Zaki si Pakistan gigolo kampret itu?"


"Nah lhu kenal! Sudah dua malam dia yang goyang Karin di pub. Lhu ingatkan orang dekat Karin agar hati-hati! Kami berencana lapor polisi untuk perkecil korban. Tidak tega lihat cewek Indonesia pada ketularan Aids."


"Lakukan! Kalau perlu suntik mati saja! Dasar brengsek...Karin itu sedang bunting tahu ngak?"


"Emang gue tanam saham di perut Karin? Puluhan cowok gilirin dia. Siapa bapak anaknya juga tak jelas. Suaminya masih hidup ngak? Bini tukang goyang tak dikurung. Rugi..."


"Beres...ingat! Tak gratis.."


"Kubayar ntar! Ingat beresin si Zaki."


"Beres cuy..."


"Tutup ya. By the way thanks ya coy! Info mu sangat penting bagi sahabatku."


"Sami-sami.."


Hubungan end. Alvan dan Daniel terdiam malas bahas topik baru yang makin melukai hati Alvan. Berita baru ini muncul terlalu mendadak bikin hati Alvan makin nyeri. Seberapa liar Karin sampai dianggap perempuan tak bermoral. Mau Tarok di mana muka Avan bila tersiar berita isteri CEO kaya raya hanyalah penganut *** bebas.


"Van...gimana ini?" Daniel melirik Alvan.


"Tunggu itu yang bisa kulakukan! Kita harus cari tahu siapa bapak anak itu. Kalau ada waktu aku akan bawa Karin kontrol sama Hans. Dari situ kita bisa temukan banyak jawaban."


Daniel angguk tanda setuju. Saat ini Alvan tak bisa berbuat banyak hukum Karin. Alvan butuh bukti dan kepastian dengan siapa saja Karin berhubungan.


Belum habis Alvan kaget mengetahui Karin main belakang muncul berita kekinian pasangan ranjang Karin pengidap penyakit mematikan. Tamatlah hidup Karin bila ikut terjangkit penyakit itu. Sejauh ini belum ada obat penyembuh penyakit mematikan itu. Terjangkit ujungnya tetap maut.


Mobil Alvan tiba juga di rumah sakit swasta yang dikelola Hans sebagai dokter kepercayaan Alvan. Rumah sakit yang berdiri puluhan tahun dibangun oleh kakek Wira. Dulu tak sebesar sekarang ini. Sejak diurus oleh Alvan semua berubah. Alvan macam bisnis berotak encer. Sayang ngadat bila jumpa Karin.


Kedua laki itu berjalan menuju ke ruang praktek Hans bila sedang jalankan tugas sebagai dokter. Hans tak jalankan praktek secara rutin karena harus urus perkembangan rumah sakit. Sekali-kali Hans turun tangan bila ada penyakit kronis. Penyakit Alvan langsung Hans tangani sendiri. Hans tak percaya dokter lain tangani penyakit Alvan. Hal ini juga menyangkut harga diri Alvan selaku orang kaya. Harta segunung tapi tak punya keturunan. Memalukan.

__ADS_1


Hans sudah menanti Alvan di tempat praktek bukan kantor direktur rumah sakit. Saat ini posisi Hans adalah dokter yang menangani penyakit Alvan. Bukan sebagai direktur.


Hans menangkap suasana tak ramah di lingkungan Alvan. Wajah laki ganteng bergelayut mendung tebal. Hans memahami kondisi Alvan yang terpuruk. Sebagai seorang dokter Hans akan berusaha membantu Alvan mendapat penerus. Itupun tergantung seberapa rusak jaringan di alat reproduksi Alvan.


"Silahkan duduk! Bawa bodyguard pecicilan!" Hans menggoda Daniel sebagai tukang pukul Alvan. Gaya Daniel jauh dari sosok bodyguard. Lebih tepat jadi seniman setengah jadi.


"Asem nih dokter! Gue di sini takut ada yang bunuh diri di pohon bonsai!" sahut Daniel tak mau duduk dekat Alvan yang lagi menyala. Dekat-dekat malah takut terbakar. Daniel memilih bersandar dekat brankas pemeriksa pasien padahal di samping Alvan masih ada kursi kosong.


"Gimana hasil laporan gue? Masih sama?" todong Alvan tanpa basa basi.


"Van...aku sendiri yang periksa bibitmu. Memang nol. Sudah tiga kali hasilnya sama."


Alvan termenung percaya Hans tak berani manipulasi hasil laporan. Ini bukan perkara main-main atau buat candaan. Hans belum makan nyali harimau untuk tipu Alvan. Hans masih sayang pada kariernya sebagai dokter terpercaya.


"Karin hamil..." ujar Alvan datar bak jalan tol rata mulus.


Hans mendekap mulut tak percaya ujaran Alvan. Mustahil Karin hamil sementara bibit Alvan kosong. Apa telah terjadi keajaiban atau mukjizat dahsyat Karin bisa hamil dengan bibit nol?


"Kok bisa? Sumpah disambar cewek cakep aku tak bohong hasil lab kamu Van! Aku sebagai dokter tak boleh kasih harapan palsu. Yang sakit kita obati."


"Aku percaya padamu! Bini gue yang kerasukan jin cabul. Oya gue mau tanya soal HIV! Bisa kau terangkan sekilas?"


"Siapa terjangkit HIV? Penyakit paling berbahaya. Belum ada obat tak bisa sembuh. Ada yang bertahan setahun, tapi ada juga yang bertahan bertahun-tahun. HIV itu virus penyebab penyakit Aids. Virus tertular dari hubungan ***, jarum suntik, transfusi darah dari pembawa HIV. Kamu merasa terjangkit penyakit itu?"


"Amit-amit...aku cuma mau tahu. Berapa lama orang kena bisa muncul gejalanya?


"Tergantung daya tahan tubuh orang itu. Biasa sepuluh sampai berbulan. Untuk sementara tak ada pengobatan untuk penyakit Aids selain bertahan. Virus HIV menyerang imun tubuh dan merusak sistim kekebalan tubuh. Biasa di awali gejala seperti gejala flu. Makanya banyak orang tak tahu terkena HIV. Sadar sudah stadium tinggi. Pokoknya kalian harus mawas diri dari wanita ngak benar. Biasa sumbernya dari situ. Bukan hakimi tapi cerita fakta."


"Terima kasih Hans! Oya Citra sudah datang?"


"Belum...katanya sore nanti. Pagi ini dia ada urusan sedikit. Van...jangan persulit Citra! Dia itu dokter baik. Berdedikasi tinggi terhadap tugas."


"Aku tahu dia dokter baik maka tak kuijinkan pergi dari rumah sakit ini. Pertahankan dia agar rumah sakit kita tak kehilangan dokter baik. Suruh dia jumpa aku!"


"Woi...apa mau kamu? Kamu punya Karin yang jelita." Hans bersungut tak suka Alvan usik Citra.


"Karin yang hamil sementara suami mandul?" ejek Alvan mau Hans terbuka pikiran berpikir berita Karin hamil. Orang tolol juga bisa menduga ada setan di balik hamilnya Karin.


"Nah lho! Kok aku tak berpikir ke situ ya? Hasil sumbangan sukarela mana ya?" tanya Hans bingung.


Daniel tak dapat tahan tawa lihat dokter itu bingung meraba jalan cari jawaban untuk pertanyaan sendiri.


"Aku mau bawa dia cek up di sini. Kamu cek sejak kapan dia hamil?"


"Bisa...bisa...test DNA juga bisa walau ada resikonya. Bagusnya tunggu bayinya lahir baru kita bisa kerja lebih leluasa. Kasihan amat kamu Van! Punya bini jelita bak bidadari tapi akal jin ifrit. Aku tak sabar mau tahu siapa pendonor kurang ajar itu?"


"Tenang bro! Kita harus main cantik agar bidadari Alvan tak curiga dia telah terciduk. Biar dia berkhayal masih naik kereta kencana. Begitu dapat bukti Alvan bakal kirim dia ke Ukraina untuk jadi sasaran rudal balistik Rusia." timpal Daniel yang dari tadi bungkam.


"Sadis amat! Tapi kok bisa ya? Apa rudal mu tak bekerja bagus sampai harus pinjam rudal orang lain? Tapi nol bibit tak ganggu fungsi kerja otot kelamin. Biasa aman-aman kok!"

__ADS_1


__ADS_2