
Alvan memeluk Citra agar bisa merasakan malam melelahkan ini menjadi pelipur rasa capek. Mencintai seorang wanita bukan di hitung berapa banyak frekuensi bercinta melainkan berapa banyak kasih akan ditumpahkan ke badan sang isteri.
Alvan biarkan malam merangkak jauh mengejar fajar. Dia ingin meleburkan hati pada Citra menjadi kesatuan tak terpisahkan. Menggombal tanpa melakukan tindakan nyata seorang suami sama saja bohong. Alvan sudah berjanji akan bayar semua kesalahannya di masa lalu dengan banjiri Citra dengan rasa bahagia. Itu harapan terbesar dalam sisa hidup Alvan.
Pagi sekali Citra bangun untuk mengurus sarapan tamu-tamu dan suami. Citra harus koordinasi dengan Bu Sobirin dulu sebelum memasak. Takutnya oma Sobirin telah siapkan sarapan pagi seperti hari biasa. Masak dobel kan hanya buang uang. Mubazir tersiakan.
Citra mendapatkan Bu Sobirin sedang menyiapkan miethiaw goreng dengan telur orak-arik. Dari jauh tercium harumnya bau putih. Hidung Citra kempas kempis cium harum masakan Omanya. Kelihatannya Oma sedang mengukur selera Afung dan kawan-kawannya. Biasa orang dari negeri tirai bambu suka kali konsumsi bawang putih. Makanya Oma menghidangkan makanan yang sesuai dengan selera tamu-tamu Heru.
"Assalamualaikum Oma.." sapa Citra seraya mengecup pipi Omanya dari samping. Bu Sobirin tertawa senang dapat hadiah pagi yang sangat berharga. Hadiah yang tidak dapat dibeli dengan uang.
"Waalaikumsalam... tamu kalian sudah bangun?" Oma bekerja di bantu oleh Art setia yang kerja sudah puluhan tahun.
"Kayaknya belum...semalam Oma ke tempat mendiang apa reaksi orang itu?"
Bu Sobirin membalik diri menatap Citra dengan pandangan berkaca-kaca. Bu Sobirin sangat terharu pada kebaikan hati Alvan membebaskan adiknya. Mengenai meninggalnya Selvia bukanlah kesalahan Citra maupun Alvan. Selvia memang mengidap virus HIV ditambah dengan virus copy maka mempercepat kepergiannya. Keluarga Selvia kini mulai paham apa yang telah terjadi dan bisa menerima kenyataan.
"Terima kasih telah bebaskan adik Oma. Heru telah menjelaskan semuanya pada mereka. Dan pihak kepolisian telah beri hasil visum kalau Selvia memang mengidap virus HIV dan covid 19. Itu tak ada hubungan dengan kalian. Kita katakan saja kalau memang itu sudah ajalnya."
Citra majukan badan memeluk Omanya. Hati Citra lega ganjalan yang membuatnya tak tenang telah terurai. Satu persatu prahara dalam rumah tangganya berlalu seiring waktu. Semoga cahaya terang akan bersinar terangi keluarga Citra. Tak ada perusuh dan orang berhati dengki lagi. Kisah sedih harus segera tutup buku.
"Citra lega Oma...Citra selalu dikejar rasa bersalah pada Selvia dan ibunya."
"Anak bodoh... Di mana salahmu? Mereka duluan yang mencari masalah bukan kamu yang menjerumuskan mereka."
"Boleh dikatakan demikian Oma. Tetapi tetap ada terasa beban di hati Citra karena secara tak langsung gara-gara Citra Selvia masuk penjara."
"Jangan punya pikiran begitu! Selvia mencuri uang di perusahaan suamimu lalu meminta orang menculikmu untuk menghabisi kamu. Bukankah itu suatu kesalahan yang sangat fatal? Sudah... pagi ini kita tidak usah bercerita tentang hal yang tidak menyenangkan. Kamu pulang menata meja makan. Nanti Oma akan suruh bibi mengantar makanannya ke tempat kamu."
"Terimakasih oma cantikku! Citra balik dulu." Citra melepaskan pelukan berlari kecil menuju ke rumahnya.
Sebentar lagi Alvan akan sarapan agar tidak terjebak macet di jalanan. Alvan harus berangkat ke kantor tanpa didampingi oleh Citra. Citra memilih tidak berangkat ke rumah sakit untuk mendampingi tamu-tamunya. Rasanya tidak afdol bila tuan rumah tidak berada di rumah sementara tamu terkurung dalam rumah.
Citra menemui Alvan yang masih berleha dalam kamar. Tak ada tanda-tanda lelaki itu bersiap untuk berangkat ke kantor. Suaminya masih memakai piyama bergolek di atas tempat tidur.
"Mas...tidak bersiap ke kantor?" tegur Citra menepuk bahu suaminya lembut.
Alvan tidak puas hanya dapat tepukan. Sekali sentak tubuh mungil Citra sudah berada di atas tubuh gede Alvan. Citra tak ubah seperti boneka yang dipakai untuk jadi teman tidur di kala kesepian. Boneka hidup yang cantik.
"Kenapa Tuhan ciptakan kamu untuk goda aku?" tanya Alvan mengecup bibir Citra yang berada persis di depan wajahnya.
"Aku cantik dari dulu cuma mas yang tidak nampak! Di mata mas kan cuma ada .."
Belum selesai Citra bicara Alvan menyumbat mulut Citra dengan bibirnya. Alvan tak ijinkan Citra ulang kaset usang. Hanya merusak suasana cerah pagi ini. Membuka kisah lama sama saja buka luka lama. Alvan mau luka itu sembuh total tanpa tinggalkan bekas. Kalau perlu operasi plastik agar mulus kembali.
Lama sekali adegan mesra pasangan suami isteri berlangsung. Alvan tertawa puas dapat sarapan pagi nan segar. Walau hanya sekedar ciuman namun sangat berarti bagi Alvan. Ini akan jadi doping menambah semangat kerja.
Citra merebahkan kepalanya ke atas dada bidang Alvan. Suara degup jantung Alvan jelas tertangkap di gendang kuping Citra. Jantung itu berpacu kencang tanda Alvan sedang memompa gairah tinggi.
__ADS_1
"Aku ingin begini sampai rambut memutih." ujar Alvan tanpa diminta. Keinginan yang juga janji Alvan dampingi Citra menghitung tumbuhnya uban di kepala.
"Amin...apa kita harus begini sampai buah hatimu ajak sarapan?" Citra menggeliat mau bangun dari dekapan Alvan.
"Sebentar lagi...aku sangat tenang begini! Segala keruwetan sirna bila bersamamu."
"Sudah pintar gombal ya? Belajar dari siapa? Daniel atau om Heru? Ayo ngaku!"
"Kenapa mesti belajar dari mereka? Aku juga bisa menggombal bahkan dengan konten 10."
Citra ulurkan tangan mencubit hidung Alvan sampai merah. Alvan mengaduh kesakitan kena jepitan jari Citra. Jari Citra cepat sekali kalau disuruh cubit mencubit. Kalau pinggang ya di hidung jadi sasaran favorit Citra hukum Alvan.
"Aduh nih isteri! Ibumu pasti ngidam kepiting waktu hamil kamu. Kerjanya jepit melulu."
Alvan mengusap hidungnya yang kena dua jari Citra. Hidung mancung Alvan agak memerah mirip hidung badut. Pada kesempatan emas ini Citra menarik diri kabur dari dekapan suami yang sedang naik tensi gairah. Lebih lama di situ kemungkinan besar akan mandi wajib lagi.
"Cepat bersiap ke kantor kalau tak mau terjebak macet!"
"Iya nyonyaku!" Alvan terpaksa bangun untuk memulai aktifitas di akhir pekan ini. Ntah berapa banyak tugas menanti di kantor. Semoga tidak perlu lembur di malam Minggu ini.
Di ruang makan sudah komplet keluarga Alvan ditambah tamu dan dua lelaki dari keluarga Perkasa yakni Heru dan Gibran. Azzam dan Afifa tidak masuk sekolah karena Sabtu Minggu mereka memang tidak sekolah. Beda dengan Gibran yang sekolah di sekolah reguler. Sabtu juga sekolah.
Meja makan penuh oleh anggota yang akan mengisi perut dengan miethiaw karya Bu Sobirin. Kelihatannya lezat menggugah selera.
Azzam tetap tampil cool seolah dia laki dewasa setara dengan Heru. Sikap ini yang bikin Afung gemas pada lajang kecil itu. Azzam sekarang jauh beda dengan Azzam sewaktu di Beijing.
Alvan datang terakhir membuka acara makan pagi. Citra segera bertindak memindahkan mie ke piring-piring untuk dibagikan ke peserta sarapan. Di antara orang-orang yang duduk kelilingi meja yang paling sumringah adalah Heru. Laki itu bucin Afung.
Citra tak tahu Heru itu hanya jatuh sesaat atau memang mentok cintanya pada gadis dari Tiongkok itu. Cinta Heru tak bisa dipegang mirip kutu loncat.
Citra kuatir Heru tidak serius terhadap Afung. Laki itu hanya ingin jerat temannya itu dengan pesona tampang dewa Yunani. Bosan nanti dia akan pindah ke lain hati. Kalau Afung ingin menjadi tantenya butuh pengorbanan tidak kecil. Syarat utama pindah agama lantas pindah negara meninggalkan dunianya masuk ke dunia Heru. Dua dunia yang sangat berbeda.
"Sayang...kok melamun terus?" Alvan menyadarkan Citra yang lebih banyak tertegun daripada santap hidangan di meja.
"Ach nggak mas! Ayok makan!" Citra menunjuk makanan di piring agar ketiga gadis berkulit bening itu ngerti kode Citra.
Citra tak enak gunakan bahasa daerah ketiganya. Takut Heru dan Alvan salah sangka mengira Citra mengatakan sesuatu tentang kedua pria dewasa itu.
"Afung ie bilang makanannya enak!" cetus Afifa setelah dapat bisikan dari Afung.
"Bilang ini masakan calon mertua." gurau Heru disambut deheman Gibran. Gibran masih belum akrab dengan gadis beda suku itu. Terlalu aneh tiba-tiba papanya bawa pulang calon ibu tiri. Gibran tidak kuatir tersingkir oleh wanita berkulit putih. Gibran masih punya Citra dan opa Oma.
"Apa sudah tembak?" ujar Gibran mengintip Heru lewat kerlingan sudut mata.
"Tembak apa? Emang papa ABG macam kalian. Papa sudah tua." sanggah Heru.
"Papa tua tapi orang di sana masih fresh. Paling seumuran sama kak Citra." sahut Gibran. cuek pada sanggahan Heru.
__ADS_1
"Gi benar om. Cewek incaran om setahun di bawah Citra. Belum tua amat!" timpal Citra agar Heru punya insiatif ungkap perasaan. Bukan hanya dengan bahasa isyarat mau pinang anak orang.
Heru malah bingung diserang dua anaknya. Apa demikian rumit kalau hendak menikahi seorang gadis. Kayaknya waktu dulu dia pinang mamanya Gibran tidak seribet gitu. Bilang mau nikah lalu pesta. Jadi dah mereka jadi sepasang suami isteri walau berakhir berantakan.
"Lalu papa harus gimana?" tanya Heru kayak orang tolol.
"Beli sebuket bunga lalu tanya orangnya bersedia tidak terima papa tuaku jadi suami?" Gibran yang beri saran bagaimana Heru menembak Afung.
"Oh gitu ya! Ok...pulang kantor papa beli bunga."
"Jangan lupa cincin opa! Cincin itu lambang keseriusan opa pinang anak orang!" Azzam ikut sumbang ide.
Yang ngerti bahasa Indonesia angguk setuju ide Heru. Cincin tanda ikatan sekalian tunjukkan keseriusan Heru meminang Afung dalam cinta kilat. Bak petir menyambar di siang bolong. Sekali sambar tepat sasaran.
"Aku ada ide..aku akan telepon Daniel siapkan tempat romantis untuk kalian. Ini kan malam Minggu! Jadi kita semua ke sana saksikan opa tua kita tembak anak gadis. Apa cara tembak sesuai gelarnya sebagai playboy cap kadal buntung!" olok Alvan disambut tawa derai. Afung dan kedua temannya hanya melongo tak ngerti isi dialog keluarga besar ini.
"Hati-hati kau Van! Isteri kamu itu anakku. Kupecat kau jadi mantu baru tahu rasa." ancam Heru malu merasa dipojokkan keluarga sendiri. Gaya playboy Heru menguap raib dimakan rasa jengah. Ke mana Heru yang biasa gagah perkasa. Giliran jumpa Afung kayak anak ayam hilang induk.
"Duh mertua yang lagi kasmaran! Sebagai mantu yang baik aku akan siapkan tempat romantis. Untuk bunga dan cincin itu terserah sama opanya Azzam."
Heru bersemangat dapat dukungan dari keluarga. Jalan menuju ke Afung akan makin mulus saingi jalan tol Jagorawi.
"Bunga apa ya?"
"Bunga Kamboja..." olok Azzam buat yang lain tertawa.
"Huusss..tembak cewek pakai bunga Kamboja. Emang ada yang meninggal? Kualat kamu ya Zam! Opa tua kamu permainkan!"
Terlihat Afung berbisik-bisik dengan Afifa. Ntah apa yang mereka bicarakan. Hanya tampak Afung manggut kecil sambil tersenyum. Sekilas mungkin Afifa sudah gambarkan apa yang jadi bahan perbincangan.
Kalau Afung ngerti maka dia akan tahu rencana Heru menembaknya. Itu memang dia harapkan Heru punya nyali berterus terang tentang perasaan. Bukan hanya beri signal tertarik pada Afung. Lelaki sejati harus siap siaga dalam arena manapun.
"Opa serahkan pada kalian! Semoga rencana kita berhasil!"
"Amin..."
Acara makan pagi bubar setelah waktu aktifitas tiba. Heru, Gibran dan Alvan meninggalkan rumah untuk kegiatan sehari-hari. Di rumah hanya ada Citra dan ketiga teman Heru. Azzam dan Afifa sudah pasti mengulang pelajaran karena hari H ujian tinggal dua hari lagi. Mereka harus lebih giat lagi.
Tokcer siaga di tempat Citra menunggu perintah dari bos hendak diantar ke mana. Hari gini biasa Tokcer santai karena kedua anak Alvan tidak sekolah. Keduanya juga tidak rewel minta diantar sana sini. Keduanya lebih suka main dalam rumah ketimbang keluyuran tanpa arah jelas.
Sebenarnya Citra ingin bawa ketiga tamunya jalan tapi berhubung tak ada yang ngawasin dua bocah itu maka Citra mengurung niat. Kasihan juga tamunya hanya main di rumah. Datang bukan tepat waktu. Waktu Citra dan Alvan sedang dirundung masalah dan anak-anak mau ujian.
Ketiga tamu Citra nikmati sinar keemasan cahaya mentari pagi. Pancaran sinar matahari masih bersahabat tidak menyengat kulit. Ketiganya duduk di teras depan tempat favorit kelompok Azzam kongkow. Kalau ada Andi dan Tokcer datang mereka selalu ngobrol di teras.
Lan Yin kagum pada kemegahan rumah Citra. Begitu juga Mung Si. Mereka tak sangka keluarga Afisa kaya raya. Kalau di Tiongkok hanya orang benar-benar kaya bisa tempati rumah dengan halaman luas di tengah kota. Mereka dari kalangan sederhana rata-rata tinggal di apartemen.
"Tak kusangka keluarga Chai Sia sangat kaya!" keluh Lan Yin pada nasib Afisa.
__ADS_1
"Mereka kaya tapi tidak sombong. Lihat suami Citra dan Heru! Mereka mapan dan ganteng tapi tidak jual mahal." Afung bela bakal keluarganya. Kalau dia benaran menikah dengan Heru maka dia akan bergabung dalam keluarga besar Lingga dan Perkasa.