ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Bahas Poliandri


__ADS_3

Citra menggeleng melarang tari mengeluarkan kalimat yang tidak sedap didengar. Terlepas dari masa lalu semua orang mempunyai tanggung jawab terhadap masalah ini. Kalau mau diurutkan sebenarnya Citra lah yang masuk ke dalam kehidupan Karin dan Alvan. Mereka duluan pacaran sebelum mengenal Citra.


"Kak... tak usah pikir yang bukan-bukan! Yang penting sekarang kakak menyehatkan tubuh agar bisa kembali beraktivitas."


"Aku tak tahu perkataanmu itu tulus atau hanya sekedar pemanis di bibir. Yang ada di hatiku hanyalah penyesalan menyesali semua yang telah terjadi. Andai dulu kita hidup damai mungkin hari ini kita tetap bahagia di posisi masing-masing."


Citra menepuk bahu Karin agar lebih bersemangat berjuang. Asyik mengingat yang sudah berlalu hanya menambah beban dan luka di hati. Saatnya move on dari segala kesalahan agar tidak terulang lagi di kemudian hari.


"Kak Karin... apa gunanya mengulang-ulang kisah lama? Yang telah berlalu tidak akan kembali. Sekarang kakak mau pulang atau istirahat di salah satu ruang rawat?"


"Apa kamu pikir Kakak kamu ini sudah jompo? Kalau mau kakak bisa diajak keliling shopping di mall kok." Karin mencoba sok kuat padahal kalau betulan diajak mungkin takkan sanggup berjalan.


"Ayok kita shopping!" tantang Citra.


"Besok saja...hari ini kakak masih syok lihat kehadiran ibu Selvia. Wanita ular itu."


"Aku tak mengenalnya mengapa dia serang aku terus. Emang apa salahku?"


"Salahmu adalah kamu isteri Alvan. Dia tidak berani padaku karena dalam tanganku banyak rahasianya. Kakak pulang saja! Tidak enak ganggu kamu bertugas."


"Mau diantar mas Alvan?"


"Tidak usah merepotkan Alvan. Aku bisa pulang dengan taksi. Ada Iyem di luar kok!" Karin bangkit dari kursi dibantu oleh Citra.


Citra menggandeng Karin menuju ke pintu besar rumah sakit. Para pegawai rumah sakit kini tahu bahwa dokter yang rendah hati di rumah sakit ini ternyata nyonya bos asli. Alvan telah akui Citra di depan umum maka tak perlu disangkal lagi status Citra.


Kehebohan di rumah sakit membawa dampak cukup besar buat Citra. Kini para pemburu berita berusaha cari tahu latar belakang Citra. Hari-hari tenang Citra akan segera tamat. Nama Citra mulai jadi sorotan.


Citra menemui Hans untuk minta maaf telah mengacaukan ketenteraman rumah sakit. Memang bukan salah Citra tapi Citra tak luput dari rasa bersalah. Orang-orang itu datang karena dia.


Citra mengetok pintu ruang kerja Hans selaku kepala rumah sakit. Hans jarang praktek sejak diangkat jadi kepala rumah sakit. Seabrek persoalan rumah sakit sudah cukup menyita waktu lajang akut itu. Kapan punya waktu urus pasien.


"Masuk..." sahutan dari dalam menjawab ketokan pintu Citra.


Citra tidak sungkan masuk karena telah ijin dari sang pemilik ruang.


Mata Hans kontan melembut lihat siapa yang datang. Dokter muda yang dia incar ternyata istri pemilik rumah sakit. Tak ada celah buat Hans tebar pesona dalam diri Citra lagi.


"Hai...ganggu?"


"Ach tidak...ayok duduk! Angin apa bawa kamu balik sini! Katanya mau cuti seminggu."


Citra tertawa kecil ingat Alvan cegat dia di stasiun kereta api. Terlambat sedikit Citra akan segera berangkat. Namun Citra tak mungkin cerita kemelut dalam keluarganya. Itu hanya menjadi lelucon bagi orang lain.


"Anak-anak tidak mau berlibur terlalu lama meninggalkan pelajaran maka kami cuma liburan sehari saja. Aku datang ke sini untuk minta maaf atas kejadian yang terjadi yang terjadi hari ini."


"Itu bukan salah kamu dokter Citra. Alvan terlalu banyak penggemarnya sehingga kita tidak tahu yang mana sesungguhnya orang yang betul-betul di hati Alvan." Hans bukan ingin jelekkan Alvan tapi tahu pencinta Alvan sepanjang gerbong kereta api.


"Aku tahu maka memilih menutup diri. Pak Hans lihat sendiri! Begitu Alvan buka jati diriku di keluarga telah muncul banyak persoalan. Aku tak tahu berapa banyak lagi rintangan di depanku!"


"Bu Citra harus semangat! Selama kita masih bernafas cobaan itu takkan berhenti menerpa! Pak Alvan itu orang baik. Dia jarang main gila. Catatannya bersih kok!"


Citra tertawa kecil akui Hans tidak bohong. Citra sudah dengar dari Karin kalau Alvan tidak terbius oleh wanita cantik. Contohnya Selvia yang tergila-gila pada Alvan sampai berbuat curang agar bisa bersama Alvan selamanya.


"Terima kasih pak Hans. Semoga aku tak dapatkan surat peringatan bikin kacau rumah sakit."

__ADS_1


"Ya nggak lah! Tenang saja! Besok kembali bertugas seperti biasa."


"Terima kasih pak! Aku permisi dulu!" Citra pamitan untuk kembali bertugas.


Sementara di tempat lain Karin mengajak Iyem ke penjara untuk menjenguk Selvia. Sebelum ke sana Karin beli sepet suntik yang paling halus. Ntah apa tujuan Karin membeli barang itu.


Habis itu Karin ke toilet umum untuk laksanakan misi yang telah dia simpan dalam hati. Apa yang akan dia lakukan hanya Karin yang tahu.


Singkat cerita Karin dan Iyem meluncur ke penjara tempat Selvia menginap. Hotel gratis yang cocok untuk orang sejahat Selvia. Karin akan datang ke sidang Selvia bila digelar secara terbuka. Karin siap jadi saksi untuk beratkan Selvia. Ini untuk membalas budi baik Alvan selama ini.


Selvia akhirnya berhadapan dengan musuh bebuyutannya. Kedua wanita yang pernah jadi teman baik kini saling bermusuhan mirip dua gladiator cewek akan bertarung. Sorot mata Selvia serasa ingin menelan Karin hidup-hidup.


"Kamu merasa sudah menang dariku?" tukas Selvia masih angkuh padahal wajahnya yang biasa cantik telah berubah kusam tanpa perawatan alat kosmetik mahal.


"Bukan merasa tapi memang sudah menang. Alvan masih suamiku. Dan kau apa? Narapidana..." sahut Karin tersenyum puas bisa pojokan Selvia.


"Ini hanya sementara! Kekuatanku Perkasa...kau hanya seorang pengidap HIV. Alvan tentu takkan menyentuhmu lagi!"


Karin tidak marah dibilang gitu oleh Selvia. Karin bangkit dari bangku kayu hampiri Selvia lalu menepuk bahu Selvia dengan lembut.


"Sayang sekali harapanmu tidak berhasil. Aku baik saja hanya kehilangan bayiku! Tapi tak apa, anak-anak Alvan telah memanggilku bunda. Aku miliki anak walau bukan anak kandung." Karin kembali menepuk bahu Selvia. Kali ini agak keras membuat Selvia menjerit.


"Kau mau bunuh aku ya!"


"Ya ampun...ditepuk saja bilang sakit! Gimana kalau kau dihukum mati?" Karin kembali duduk di bangku dengan gaya elegan seperti yang ditampilkan Selvia setiap hari di kantor Alvan.


Selvia masih meraba tengkuknya yang agak pedih akibat ditepuk Karin agak kuat. Pakai tenaga apa sampai terasa pedih. Orang sakit tapi tenaga kayak kuli bangunan.


"Ingat kau Karin! Aku Selvia takkan menyerah sebelum depak kamu dari sisi Alvan. Alvan hanya milik aku!"


Selvia tampak geram tapi tak berdaya karena masih berstatus tahanan. Selvia hanya berharap ibunya dan Heru membebaskan dia. Harapan Selvia terletak pada Heru karena laki itu punya power menekan Alvan. Mereka sama-sama singa bisnis pasti saling membutuhkan.


"Kalau aku keluar dari sini kau akan rasakan pembalasanku! Aku takkan biarkan kamu hidup tenang. Kau lihat bagaimana aku habisin kamu dan isteri Alvan yang mendadak muncul. Anak itu bukan level aku!"


"Bukan level kamu tapi dia keturunan Perkasa. Mewarisi darah Perkasa. Apa kau tak lihat di televisi kalau Heru langsung umumkan kalau Citra itu keponakannya. Kau hanya benalu yang numpang hidup di pohon Perkasa. Citra itu anak keluarga Perkasa."


Selvia dibuat tertegun oleh laporan Karin. Memang Selvia ada dengar sekilas dari ibunya kalau keluarga Heru telah menemukan anak dari Abang Heru. Cuma Selvia tak menyangka itu Citra isteri Alvan. Kedudukan Citra makin kuat karena dapat dukungan dua keluarga top setanah air. Di mana Selvia akan berdiri bila Citra diapit dua kekuatan dahsyat.


Tak usah dipikir, Selvia sudah ngerti misi ibunya usir Citra telah gagal bila Heru ikut turun tangan bela Citra. Ditambah Alvan dukung dari samping. Makin kuat posisi wanita itu.


"Mengapa? Sudah nyesal cari pasal dengan kami? Aku dan Citra berhubungan baik. Dia dokter aku! Kau mau masuk di dalam keluarga kami? Tidak mungkin."


"Malas omong sama wanita murahan. Jual diri untuk nafsu!"


"Dan kamu apa? Aku lumayan masih ada harga untuk dijual. Kau? Diobral saja tak ada yang mau." ejek Karin puas lihat wajah Selvia berubah pucat. Wanita seculas Selvia tidak pantas dibaiki.


"Pergilah kalian tinggalkan tempat ini dan jangan pernah kembali ke sini lagi. Aku tidak butuh simpati dari kalian. Tunggu kita jumpa di luar. Selvia bangkit meninggalkan Karin dan Iyem yang terperangah tidak mengerti masalah.


Karin hanya tertawa sinis lihat Selvia memilih akhiri kunjungan kerabat. Karin puas telah menjatuhkan mental Selvia. Dia telah jatuh, orang yang menyebabkan dia jatuh harus rasakan apa yang dia rasakan.


Karin dan Iyem meninggalkan penjara langsung pulang ke rumah. Dalam mobil menuju ke rumah Iyem masih belum ngeh apa yang terjadi di keluarga majikannya. Mengapa akhir-akhir ini Alvan jarang pulang bahkan tidak pulang. Tapi sebagai pembantu Iyem tak punya hak bertanya. Hanya menduga dalam hati.


"Nona...kita tidak belanja dulu? Isi kulkas habis!" lapor Iyem kebetulan lewat supermarket.


"Biar Iyem dan Bik Ani yang belanja! Aku lelah mau istirahat." Karin menyandarkan diri di jok mobil taksi online.

__ADS_1


Kesehatan Karin belum mengijinkan wanita ini bawa mobil sendiri. Untung juga tak dapat melayani Karin setiap jam karena tugas kantor. Karin harus belajar mandiri tidak gantungkan hidup pada Alvan lagi. Masa jayanya telah berakhir. Karin sendiri ciptakan kesuraman itu.


Citra cepat pulang karena tugasnya cepat berakhir. Citra pulang dengan motor matic lalui rute yang biasa dia lalui. Citra tak sadar telah ada beberapa pasang mata intip keberadaan Citra sepanjang jalan pulang.


Citra tidak merasakan firasat apapun selai ingin cepat tiba di rumah. Rumah adalah tempat paling nyaman bagi Citra walau rumahnya sederhana. Di situlah Citra membangun chemistry dengan kedua anaknya.


Ternyata di rumah telah ada Azzam dan Afifa ditemani Tokcer. Kini Tokcer agak kesepian karena Bonar telah bertugas di gudang. Tak ada teman bercanda selain Azzam yang suka nyakitin kalau berdebat. Ketiga orang itu duduk santai di teras main ular tangga di tablet Afifa.


"Assalamualaikum..." sapa Citra disambut seringai manja Afifa.


"Waalaikumsalam..." sahut Azzam dan Afifa barengan.


"Wah...asyik bener! Baru pulang sekolah?"


"Baru mi! Koko ajak main ular tangga!" cerita Afifa cerah tanpa beban.


"Lanjut...mami ke dapur ya! Oya Tok...Bonar ada kasih kabar?"


"Ada kak! Dia cerita agak bosan tapi dia usaha kerasan. Namanya juga kerja."


"Baguslah! Jaga adikmu ya! Kakak di dapur." Citra maju masuk ke dalam rumah tinggalkan Tokcer bersama kedua anaknya.


Citra berkutat di dapur menyiapkan makan malam. Alvan pasti pulang makan seperti biasanya. Citra harus sediakan menu lebih banyak karena Alvan termasuk tukang sapu makanan di piring. Sifatnya mirip Azzam. Kalau suka makanan itu senang lupa diri.


Alvan pulang agak telat karena pekerjaan di kantor menumpuk. Hati ini Alvan pulang sendiri karena Andi telah punya transportasi sendiri. Andi beranikan diri bawa pulang motor baru walau tidak memiliki SIM. Anak ini coba-coba siapa tahu lolos dari pantauan pak polisi.


Nasib Andi lagi mujur berhasil lolos sampai ke rumah. Taraf hidup Andi makin bikin tetangga iri. Baru kerja sudah dapat ini itu. Dewa keberuntungan sedang berpihak pada Andi maka selangkah demi selangkah naik ke jenjang lebih tinggi.


Tatkala malam makin tua. Semua orang kembali ke gubuk masing-masing,hangatkan tubuh dengan cara tersendiri. Yang jomblo harus puas berpelukan dengan guling sedang yang punya keluarga tentulah dapat anugerah surgawi.


Alvan dan Citra beristirahat di tempat tidur saling berdekapan. Alvan tak ingin Citra memikirkan kejadian hari ini yang memalukan dokter itu. Alvan sudah janji akan lindungi Citra dan anak-anak sampai kapanpun.


"Oya sayang...aku punya sesuatu untukmu!" ujar Alvan tiba-tiba sambil mengambil dompet kulit warna hitam di atas meja kecil samping tempat tidur.


"Apa itu?"


Alvan mengeluarkan kartu sejenis ATM lalu diletakkan di telapak tangan Citra.


"Ini kewajiban seorang suami! Terima uang ini untuk biaya hidup kita. Belanja sesuka hatimu. Ini hak kamu!"


Citra menatap kartu di tangannya sambil tersenyum. Baru kali ini Alvan ngasih uang belanja secara langsung kepadanya. Dulu pak Man yang beri dia uang belanja karena Alvan cuek padanya.


"Aku terima... aku terima agar mas tidak dianggap lelaki tak bertanggung jawab. Aku akan gunakan uang ini untuk bayar uang sekolah anak-anak."


"Terserah kamu asal jangan gunakan beli suami baru!"


"Emang boleh?"


"Boleh asal siap kucincang hingga remuk." ancam Alvan seraya mengecup bibir Citra yang selalu bau mints. Citra seorang dokter tentu ngerti cara merawat nafas agar tetap segar.


"Nggak ikhlas namanya!"


"Kamu ini...mana ada yang ikhlas bininya main hati?"


"Lalu mas boleh? Jaman ini laki perempuan setara. Ada poligami maka poliandri harus ditegakkan!"

__ADS_1


__ADS_2