ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Azzam Anakku


__ADS_3

Kali ini Alvan harus berterima kasih kepada Pak Jono yang telah membela Citra. Mungkin Pak Jono telah sadar bahwa wanita yang paling cocok berada di samping Alvan adalah Citra.


"Lalu Karin mau kamu ke mana kan?"


"Citra melarang Alvan meninggalkan Karin. Citra mau Alvan bertanggung jawab seumur hidup terhadap Karin. Karin sekarang sakit dan tidak ada obatnya. Karin akan tetap tinggal di rumah Alvan tetapi Alvan tidak akan tinggal se atap dengan Karin. Kalaupun Alvan pulang ke sana hanyalah untuk melihat keadaan Karin. Ini sudah menjadi keputusan Alvan. Semoga mama menerima apa yang telah Alvan rencanakan."


"Tapi Van... Mama sudah berjanji pada keluarga di sana akan mengusahakan Si Farah untuk menjadi istrimu walaupun sebagai madunya Karin."


"Mama kok makin ngaco? Apa Mama tidak malu mempunyai anak tukang kawin? Alvan masih mempunyai moral. Sudah cukup ada Citra dan Karin. Jangan bahas siapa-siapa lagi dengan Alvan!"


Pas selesai Alvan omong masuklah Nadine membawa makan siang pak Jono. Untunglah Nadine tidak mendengar pembicaraan mereka. Nadine itu orangnya Citra pasti akan sakit hati mendengar Citra tidak dianggap oleh Bu Dewi.


"Suster Nadine...papaku akan pulang! Tolong urus semuanya!" perintah Alvan kepada Nadine.


"Iya pak! Biar bapak makan dulu!" Nadine menyiapkan makan siang Pak Jono. Gerakan Nadine cekatan persis perawat terlatih. Alvan puas lihat cara kerja pegawai rumah sakit. Mereka pantas dapat apresiasi atas kesetiaan mereka.


Alvan dan Bu Dewi biarkan Nadine urus pak Jono hingga tuntas. Alvan sudah tak sabar ingin cepat bawa Pak Jono pulang ke rumah. Hati Alvan merasa berkhianat pada citra walaupun tidak melakukannya. Lagi-lagi Bu Dewi ingin melakukan sesuatu yang memisahkan Alvan dan Citra. kali ini Alvan tidak akan salah melangkah lagi.


Tanpa banyak prosedur ***** bengek akhirnya Alvan berhasil membawa pulang Pak Jono ke rumahnya. Pak Jono dan Bu Dewi tidak dapat menyembunyikan rasa bahagia kembali ke rumah yang telah puluhan tahun di tempati. Lain dengan Alvan yang sudah tidak sabar ingin segera meninggalkan tempat tinggal mamanya yang dianggap tidak kondusif. Bu dewi sudah melangkah terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga anaknya. Bisa-bisanya Bu Dewi menyodorkan wanita lain untuk dinikahi Alvan.


Bu Dewi tidak dapat disalahkan juga karena telah trauma mendapat menantu model Karin. Dalam pemikiran Bu Dewi memberi alasan seorang istri dari keluarganya mungkin adalah jalan terbaik. Terbaik untuk Bu Dewi atau terbaik untuk Alvan.


Seusai mengantar Pak Jono pulang Alvan segera balik ke kantor untuk menyelesaikan sisa tugasnya. Untung dan Andi merupakan karyawan cekatan yang dapat membantu Alvan dari segala segi. Uang paling menakjubkan adalah Andi dari seorang lelaki bertulang lunak berhasil menjadi seorang sekretaris handal.


Tak terasa waktu bergulir mengantar matahari condong ke arah barat. Sinar matahari yang semula memperlihatkan kegarangan membakar bumi perlahan melembut menyejukkan insan di bumi.


Alvan dan Andi bersiap-siap pulang ke rumah untuk melepaskan kepenatan seharian bekerja. Seperti biasa Andi menumpang pada Alvan pulang ke rumah Citra. Mereka searah maka tak ada alasan bagi Alvan tidak memberi tumpangan pada Andi.


Dalam perjalanan pulang ke rumah Alvan tidak banyak bicara karena masih memikirkan rencana mamanya yang sangat tidak masuk akal. Terusan memojokkan Citra dengan alasan harta ternyata hanya akal-akalan Bu Dewi untuk menyingkirkan Citra dari kehidupan Alvan. Alvan bersumpah tidak akan masuk perangkap mamanya menikah lagi. Kalau Alvan melakukannya maka dia akan kehilangan segalanya. Citra dan anak-anak pasti akan meninggalkan dirinya. Alvan belum siap kehilangan pelita yang sedang menerangi hatinya.


Andi dapat merasakan kegalauan hati Alvan. Mau bertanya tetapi merasa segan karena status Andi hanyalah seorang pegawai rendah. Tampak jelas sebentar Alvan menarik nafas seperti ada ganjalan di dalam hati.


"Pak... bagaimana perkembangan kasus Selvia?" Andi mencoba menarik perhatian Alvan agar jangan melamun. Membawa kendaraan dalam keadaan bingung sangat berbahaya bagi keselamatan mereka. Andi belum mau mati muda karena belum sepenuhnya menikmati hidup yang indah ini.


"Masih ditangani pihak berwajib. Kau masih menemukan kecurangan lain?"


"Sementara ini belum ada Pak! Maunya bapak bawa Azzam ke kantor untuk memperbaiki sistem di komputer perusahaan. Harus ada perlindungan berlapis-lapis agar tidak semua karyawan bisa membuka data-data yang penting. Bapak serahkan saja pada Azzam! Dia akan mampu selesaikan dengan baik."


"Anak sekecil itu bisa apa? Taunya hanya main game."


"Itulah bapak tidak mengenal anak sendiri! Azzam tiap hari duduk di depan laptop bukan hanya main game. Azzam itu termasuk hacker muda yang berprestasi. Kenapa bapak tidak diskusikan masalah ini dengan Azzam biar tahu potensi Azzam sampai di mana?" Andi membanggakan Azzam yang menurutnya sangat pintar itu.


"Hmmm...baiklah! Nanti malam aku akan diskusi dengan Azzam. Besok kamu ke dealer motor dengan Untung! Kamu pilih motor yang kamu sukai untuk jadi transport kendaraan kamu."


Andi merinding dapat tawaran motor. Nasibnya sedang mujur, baru diangkat jadi sekretaris sekarang dapat transportasi berupa motor. Mimpi seribu kali Andi tak percaya dapat motor sebagai transpor.


"Bapak mau nyicil motor untukku?"


"Bukan nyicil tapi beli! Sudah punya SIM?"


"Belum pak! Nggak punya motor ngapain buat SIM? Andi akan buat kalau sudah punya motor." janji Andi bahagia tidak kepalang tanggung. Kalau bukan berada dalam mobil Andi ingin joget dangdut suarakan kegembiraan.


"Bagus...minta Untung urus semuanya."

__ADS_1


"Iya pak! Terima kasih sebelumnya?"


Andi akan pamer motornya pada kedua konconya biar mereka iri. Mereka sudah dapat ponsel baru maka sebagai gantinya Andi dapat motor. Adil tidak adil itu kenyataan.


Alvan tiba di rumah Citra senja belum jatuh. Cahaya mentari masih lumayan terang menyinari alam. Anak-anak kecil berlarian sepanjang jalan kampung untuk habiskan waktu senja. Para tetangga hujani Alvan dan Andi dengan sudut pandang berbeda. Ada yang kagum, ada yang iri hati pada nasib Citra dapat suami ganteng dan kaya raya. Sifat lumrah manusia jaman now.


Para tetangga berbisik-bisik seenak perut bikin gosip. Ntah apa topik mereka. Alvan tak punya waktu urus mulut para emak-emak. Andi yang risih dikerling bak maling hendak beraksi di kampung.


"Woi..Mpok Hindun! Tuh lihat! Ingus anaknya sudah sampai ke leher. Emaknya dandan cantik, anak kayak tuyul belum sarapan." omel Andi pada tetangga depan yang kasak kusuk ceritain keluarga Citra.


"Hei banci rombeng..baru kerja sombongnya selangit. Paling jadi ob!" sahut wanita bernama Hindun.


"Mending ob dari pada jadi ODGJ.."


"ODGJ...pangkat apa pula?"


"Orang dengan penyakit jiwa." seru Andi disambut riuh oleh emak lain.


Andi tertawa terbahak-bahak melihat Mpok Hindun manyun. Senang sekali bisa menghibur diri berantem dengan emak-emak kurang produktif. Sudah lama Andi tidak lakukan hal ini sejak kerja di kantoran. Sebelumnya Andi acap adu mulut bila diejek orang.


"Hei An...katanya Sadikin, Kasim dan Iming sudah kerja ya! Kasih kerja laki gue dong! Apa lhu tak kasihan lihat anak gue kelaparan?" salah satu emak muda minta kerja pada Andi. Andi mulai dikenal punya koneksi luas beri kerja pada tetangga.


"Lha bukankah laki Mpok sudah ada kerja?"


"Jadi penjaga sekolah gajinya kecil! Kudengar Mpok Leha ditinggal uang belanja lima juta oleh bos kalian."


"Itu bohong Mpok! Yang benar satu juta untuk beli beras selama bang Iming tidak pulang. Jangan percaya gosip! Baru kerja dari mana uang lima juta. Gaji juga tak segitu. Sesuai UMR paling tiga jutaan."


"Itu gaji Tokcer lima juta hanya nungguin Azzam di teras rumah! Pecat Tokcer biar laki gue masuk kerja. Aku kan enak bisa lihat laki gue tiap jam."


"Ayoklah! Bantu abangmu!" rayu si emak tidak menyerah.


"Nggak bisa...Tokcer sudah teken kontrak kerja! Tak bisa keluar gitu aja!"


"Ala bilang aja tak mau bantu!"


"Nanti kutanya bos apa masih ada lowongan kerja! Ok?" Andi harus angkat kaki sebelum membahayakan posisi Tokcer.


Mulut emak-emak susah dilawan. Tidak ada limitnya. Nyaplak seenak dengkul. Andi heran dari mana para emak dapat info besaran gaji Tokcer. Apa mungkin Tokcer besar mulut banggakan gajinya? Secara rasional tak mungkin Tokcer buka kartu perusahaan.


Andi melirik ke rumah Citra cari bayangan supir Azzam. Tak ada tanda-tanda keberadaan Tokcer. Andi harus tanya pada Tokcer soal ini agar tidak jadi rumor tak sedap.


Andi masuk rumahnya setelah beri salam pada emaknya. Bu Menik bersyukur Andi banyak berubah sejak kerja di kantor Alvan. Daster Nadine tidak jadi korban Andi kalau kumat.


Bu Menik menyambut Andi dengan senyum bangga seorang ibu. Andi menyalami Bu Menik lalu cium punggung tangan emaknya dengan takzim. Ada bau tak sedap terselip di tangan Bu Menik.


"Bau apa ini mak? Kok kayak bau ikan basi?" Andi mengendus tangannya yang tertular bau dari tangan emaknya.


"Bukan ikan basi tapi bau terasi. Emak baru giling sambel terasi kesukaan mas Untung."


Andi mengerjit kening heran kok emaknya urus makanan mas Untung. Apa hubungan si gendut dengan emaknya. Apa si gendut ada kelainan jiwa doyan nenek keriput?


"Kok mas Untung?"

__ADS_1


"Tadi kakakmu telepon kalau mas Untung mau makan di sini. Bentar lagi mereka datang."


"Oh gitu toh! Emak suka mas Untung?"


"Ya sukalah! Orangnya sopan dan baik! Suka beliin emak martabak!"


"Emak aku ini gampang disogok! Cuma martabak lagi! Ingat umur nek! Sudah tuir nek!"


Bu Menik jitak kepala Andi yang menggembara jauh. Apa Andi berpikir Bu Menik mau pacaran dengan Untung. Untung senangnya pada Nadine putrinya.


"Dasar anak kurang ajar! Kau pikir emakmu sudah gila ya! Untung itu datang untuk kakak kamu."


"Kak Nadine toh? Boleh deh! Satu kantor sama calon Anang ipar. Pasti dibantu kalau tak ngerti. Maap...Andi mandi dulu!"


Andi meloncat riang menuju ke belakang untuk bersihkan diri dari semua kotoran menempel di tubuh. Seharian kerja di ruang ber-AC tidak menyurutkan semangat Andi bercanda dengan cairan bening penyegar tubuh.


Andi ikut senang akhirnya kakak dapat jodoh lumayan baik walau bukan yang terbaik. Di mana akan dicari manusia sempurna? Semua pasti ada cacatnya.


Kita tinggalkan Andi yang sibuk bersihkan keringat. Di rumah sebelah Andi tepatnya rumah Citra tampak Alvan sedang diskusi dengan putra satu-satunya. Alvan mencoba mengorek keterangan berdasarkan cerita Andi. Alvan tidak percaya anaknya yang berusia delapan tahun mampu menembus teknologi canggih.


Kedua anak bapak duduk di depan laptop mungil pemberian Alvan. Alvan sengaja pancing Azzam untuk tunjukkan skill putranya.


"Apa yang mau papi ketahui?" tanya Azzam setelah laptop dinyalakan. Benda itu terjaga baik oleh sang pemilik. Tak ada orang boleh menyentuh barang itu selain dirinya.


"Papi mau tanya apa Azzam bisa masuk ke sistim perusahaan papi?"


"Berikan linknya!"


"Harus gitu ya!"


"Iyalah! Kalau tidak Koko mana tahu yang mana link perusahaan papi. Akun juga boleh!"


Alvan menghela nafas tahu sedang berhadapan dengan anak jenius. Tak disangka Azzam memang ngerti soal IT. Alvan masih ingin test Azzam memberi link yang diinginkan anaknya.


Begitu dapat info link tangan mungil Azzam cekatan mengetik di keyboard laptop dengan kecepatan luar biasa. Alvan pusing lihat huruf dan angka aneh muncul di layar mungil Azzam. Alvan samasekali tidak ngerti bahasa sandi yang ribet. Tulisan di layar laptop berubah-ubah dalam setiap detik.


Azzam tenang saja seolah terbiasa dengan rangkaian kalimat berupa sandi dan kode itu. Alvan diam saja beri waktu pada Azzam untuk buktikan isi otaknya.


Cukup lama Azzam kutak Katik laptop akhirnya muncul logo perusahaan Lingga berupa huruf L dalam huruf besar diberi warna emas dikelilingi pinggiran hitam.


Mata Alvan tidak percaya melihat di layar telah ada seluruh keterangan tentang perusahaan Lingga. Di awal tertera daftar nama pegawai berikut pangkat mereka. Masuk lebih jauh susunan properti Lingga Group. Dan selanjutnya sampai total aset Lingga Group yang hanya diketahui Alvan.


Alvan tercengang pada kemampuan Azzam membobol sistim pertahanan rahasia perusahaan Lingga. Azzam tertawa renyah melihat betapa kayanya sang papi. Perusahaan menjangkau banyak aspek. Aset keluarga Lingga menggurita ke mana-mana.


"Wah papi kaya banget ya! Cuma sayang tak ada yang ikut membantu papi kelola perusahaan."


"Emang Azzam tak mau meneruskan perusahaan papi?"


Azzam menggeleng, " Itu bukan hak Koko dan Amei!"


"Kata siapa? Kalian anak papi ya harus warisi semua kekayaan papi. Azzam harus rajin belajar agar bisa jadi penerus papi."


Azzam menggeleng keras menolak keinginan Alvan memberi semua kekayaan pada mereka. Didikan Citra sungguh luar biasa. Belum apa-apa sudah menekan anaknya tak boleh tertarik pada kekayaan keluarga Lingga.

__ADS_1


"Azzam... anakku. Kamu anak laki papi! Kamu harus ambil alih semua perusahaan bila dewasa. Waktu itu papi sudah tua. Mungkin lumpuh kayak opa bahkan duluan meninggal. Kalau bukan Azzam siapa lagi warisi semua ini?"


"Papi jangan omong gitu! Papi akan panjang umur." Azzam memeluk pinggang Alvan sangat sedih membayangkan Alvan tua kelak.


__ADS_2