ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Kembali Ke Sekolah


__ADS_3

Azzam menyusun strategi baru agar tidak menarik perhatian. Tidak perlu heboh untuk melakukan penyelamatan Fitri dan Jasmine.


Semua setuju dengan rencana Azzam. Mereka tak boleh bawa masuk Alvan agar tidak tertangkap kamera CCTV. Semua yang berkaitan dengan Jasmine dan Fitri harus bersih.


Sesuai pengarahan Fitri mereka berempat menemukan pintu kecil yang dimaksud Fitri. Daerah itu memang sepi kurang perawatan. Ada semak-semak tutupi akses masuk. Tampak sekali jarang difungsikan.


Keempat orang itu hati-hati mencari kantor pengawas CCTV. Mereka hanya mengandalkan arahan Fitri mencari tempat dimaksud. Untunglah ketiganya berhasil menemukan lokasi yang dimaksud Fitri. Gibran duluan pantau ada berapa orang di dalam ruang pengawas itu. Azzam dan Afisa menanti di balik tembok hindari pantau CCTV.


Gibran terpaksa memutar ke arah yang tidak terjangkau intaian kamera canggih itu. Azzam dan Afisa menanti kode dari Gibran.


Gibran intip dari balik jendela kaca melihat ada dua pengawas sedang santai minum kopi. Dasar orang malas. Disuruh kerja malah santai minum kopi.


Gibran mengendap-endap balik berkumpul dengan kedua keponakannya untuk buat laporan. Mereka tak boleh gegabah bertindak. Salah sedikit mereka semua akan masuk jurang.


"Ada dua orang..." bisik Gibran pelan sekali.


Azzam mengernyit alis dengar penjaga ada dua orang. Berarti kerja mereka akan makin sulit. Kalau cuma satu bolehlah ditangani dengan cara kelabui petugas dengan alasan tersesat. Tapi ini dua orang. Apa yang harus mereka lakukan?


"Gawat nih! Gimana pancing mereka pergi?" keluh Azzam bingung. Kening si ganteng kecil berlipat-lipat persis kakek kehilangan tongkat.


"Aku ada akal..kita bakar semak-semak di belakang. Mereka pasti panik. Koko masuk saja sendiri dan kami akan menghindar dari pintu belakang. Pokoknya kita tak boleh nampak di layar pengawasan." Afisa ngasih ide terlintas di otak.


"Apa kita punya korek api? Pakai apa kita bakar?" bisik Azzam tertarik juga ide Afisa. Semak kering terbakar bukan hal mengherankan. Cuaca cukup panas untuk ciptakan kebakaran kecil.


"Kita balik ke kak Tokcer dulu minta korek api." kata Gibran setuju.


"Nggak usah semua. Koko tunggu di sini saja. Biar kami yang bergerak. Begitu kedua orang itu keluar Koko langsung bertindak. Ok?" Afisa acung jempol.


Azzam mengangguk. Sambil menunduk keduanya balik ke arah mereka datang. Azzam hanya bisa menanti aksi Afisa dan Gibran. Mereka bertiga tak ubah seperti detektif kesiangan. Beraksi di siang hari.


Lama Azzam menanti barulah ada reaksi karena adanya asap mengepul di sekeliling kantor pengawas. Azzam menduga Afisa telah beraksi membakar semak. Semoga saja tidak membahayakan bangunan rumah sakit. Jarak semak ke bangunan ada jarak lumayan jauh. Kisaran sepuluh meter. Tapi itu bisa saja membahayakan bangunan. Cuma mereka tak punya pilihan lain selain gunakan cara ekstrim ini.


Azzam melihat kedua pengawas agak panik berlarian ke arah pembakaran semak. Tanpa buang waktu Azzam menyelinap masuk ke ruang pengawas dan langsung beraksi. Azzam butuh waktu untuk cari file rekaman dua hari lalu. Tangan Azzam kutak katik komputer dengan cepat. Ekor mata Azzam tak henti melirik ke arah pintu berharap pengawas tidak segera balik.


Azzam tak punya pilihan selain menghapus seluruh rekaman di hari Minggu. Pilih satu persatu akan makan waktu. Azzam segera tinggalkan ruang pengawas tanpa tinggalkan jejak. Lajang ini meringsut cari daerah aman untuk kabur ke pintu belakang. Beberapa pegawai rumah sakit sibuk memadamkan api yang menyala cukup besar. Gibran dan Afisa tidak tampak di lokasi berarti mereka telah duluan pergi. Azzam gunakan kesempatan orang sedang sibuk kabur keluar dari pagar tembok rumah sakit.


Azzam mencari ketiga konconya tapi tidak tampak. Mereka pasti sudah jauhi rumah sakit begitu api membesar. Mereka pasti ketakutan-. Azzam melacak keberadaan Afisa cs sampai ke parkiran di luar kawasan rumah sakit.


Benar dugaan Azzam ketiganya telah menanti di mobil. Azzam segera bergabung masuk ke mobil. Yang didalam mobil menatap Azzam penuh harapan.


Afisa mengguncang lengan Azzam minta kepastian. Azzam melirik sekilas tanpa senyum bikin Afisa lemas.


"Gagal ya ko?" tanya Afisa lemas.

__ADS_1


Tokcer dan Gibran ikutan kuyu. Sia-sia usaha mereka menggemparkan rumah sakit. Hasilnya nihil. Betapa menyedihkan.


"Kok pada lesu? Sejak kapan usaha Koko gagal?" kata Azzam tertawa licik berhasil mengacau perasaan ketiga gengnya.


Tangan kecil Afisa mendarat di punggung Azzam saking gemas dipermainkan abangnya. Rugi mewek untuk tipuan Azzam.


"Nakal banget..."


"Berhasil tapi seluruh file hari Minggu dihapus. Koko tak punya waktu pilih file lagi. Pokoknya rekam jejak kak Fitri dan kak Jasmine terhapus. Kita tunggu bagaimana reaksi para orang tua. Kita pulang sebelum dicari papi." ajak Azzam tak mau menambah masalah lagi. Kalau mereka pergi terlalu lama nanti dicari oleh Citra maupun Alvan.


"Ok... ingat kata papi mami tidak boleh mengetahui hal ini. Sampai di rumah kita harus melupakan masalah ini dan pura-pura tidak mengetahui apapun." kata Afisa ingat amanah Alvan.


"Sip ..yok cabut!"


Tokcer tak buang waktu jalankan mobil ke arah pulang. Semoga persoalan sampai di sini. Jangan ada kata konflik lagi. Tokcer yang lihat saja sudah lelah apa lagi yang jalani. Sudah waktunya kedua keluarga hidup rukun damai. Orang-orang berhati busuk minggir ke tepi jurang. Jangan ganggu majikan mereka lagi!


Alvan pulang duluan dibanding Heru. Heru berpesan akan pulang terlambat karena ada pertemuan dengan klien. Alvan tak mungkin menahan Heru kembangkan sayap lebih lebar. Nanti dipikir iri hati pula.


Alvan tak sabar ingin segera jumpa Citra setelah hari menegangkan. Alvan tak tahu kalau anaknya berbuat lebih dari menegangkan. Pakai acara bakar rumah sakit demi melindungi kedua perawat tak bersalah. Tapi kedua anak Alvan dan Gibran berbuat seolah tak pernah terjadi sesuatu. Mereka juga akan segera kembali ke bangku sekolah. Afisa akan ditinggal sendirian di rumah. Pasti bosan menanti sendirian di rumah. Tapi apa mau dikata. Tempatnya jauh di seberang lautan.


Aktivitas belajar telah di mulai. Citra dan Alvan langsung antar kedua anaknya untuk ikuti tahun ajaran baru. Sebelumnya tentu harus antar Gibran dulu. Afisa ikut melihat sekolah saudaranya sekalian sekolah Gibran yang lebih umum. Gibran sudah cukup umur untuk pilih tempat duduk sendiri. Gibran diantar tanpa ditungguin. Lain dengan Azzam dan Afifa. Kedua anak itu ditungguin kedua orang tua.


Banyak wali murid datang untuk melihat lokal baru anaknya. Tahun ajaran baru dengan sangat baru. Wajah para pelajar berseri-seri telah naik setingkat dari tahun ajaran kemarin. Yang berprestasi harus dipertahankan sedang yang belum beruntung harus makin rajin kejar ketinggalan.


Alvan perhatikan mata anak keduanya yang berbinar melihat kegiatan murid-murid sekolah Azzam. Alvan tentu sangat berharap Afisa tergoda untuk gabung dengan Azzam lanjutkan sekolah di tanah air.


Alvan meraih tubuh Afisa ke pelukan biar anak itu dia juga disayangi. Afisa sendiri pilih tinggal di luar negeri sehingga Alvan tak dapat membagi kasih seperti pada saudaranya.


"Kau tak ingin sekolah di sini?" tanya Alvan pelan takut didengar Citra. Citra sibuk mengurus Afifa yang sedikit rewel pagi ini. Citra berusaha membujuk anak bungsunya agar ikuti arahan guru masuk ke kelas pilih bangku sesuai keinginan. Afifa dapat tempat di barisan dua karena ada yang lebih pendek dari dia. Afifa mau duduk didepan dekat guru.


"Cece ingin tapi bagaimana sekolah di sana dan kegiatan Cece? Dan siapa kawani papa dan mama?" kata Afisa lebih mirip bergumam. Suaranya serak dengan intonasi tak pasti.


Alvan menduga Afisa mulai goyah tapi tak tega tinggalkan orang tua angkatnya. Apa lagi Afung akan segera tinggalkan Beijing untuk menetap di tanah air. Di sana pasti makin sepi. Afisa makin tak tega.


"Papi serahkan pada Afisa! Papi siap menanti kamu pulang." Tangan Alvan bergerak mengelus kepala Afisa ikut rasakan kegalauan Afisa.


"Iya Pi..tunggu Cece selesaikan pertandingan musim dingin nanti. Kalau Allah mengijinkan Cece akan berkarier di tanah air."


"Papi dukung...sekarang kau bantu mami bujuk adikmu yang rewel. Kasihan mami tuh!" Alvan menunjuk ke Afifa yang manyun.


Afisa tersenyum sesaat lantas gandeng Alvan dekati adiknya. Perkara kecil bujuk Afifa. Anak itu mesti diangkat ke langit biar merasa paling tinggi.


Afisa hampiri Afifa lalu rangkul pundak adiknya. Afisa perlakukan Afifa seperti seorang teman yang sudah dewasa bisa diajak diskusi.

__ADS_1


"Wah adik Cece sudah kelas tiga. Satu level sama Cece. Sudah gede dong!" Afisa lancarkan aksi angkat Afifa.


"Iya ya...Amei sudah kelas tiga. Cece juga kelas tiga. Akhir tahun baru naik kelas empat. Kita satu tingkatan." seru Afifa melupakan kekesalan tak dapat bangku depan.


"Ini berarti Amei tambah tinggi dong! Orang tinggi tak boleh duduk di depan halangi orang yang lebih kecil. Kasihan orang di belakang terhalang tubuh Amei. Amei tak kasihan pada kawan di belakang kalau Amei duduk paling depan?" Afisa sengaja melirik ke belakang seakan ada anak menderita.


Afifa tertegun mencerna omongan Afisa. Kata Afisa masuk akal sehat. Dia telah ulang tahun dan naik kelas. Otomatis segalanya bertambah.


"Cece benar...Amei makin gede harus ngalah. Iya deh Amei duduk di belakang! Makasih ya ce! Cece sudah ingatin Amei."


Citra dan Alvan saling tukar senyum bangga punya anak bijak. Afisa dan Azzam memang anak luar biasa. Ada berapa anak sekecil mereka bisa sebijak gitu. Citra pasti telah banyak berbuat baik maka Yang Maha Kuasa karuniakan keturunan bernilai plus.


"Nah sekarang Amei duduk manis tunggu pengarahan guru! Kami harus tunggu diluar."


Afifa mengangguk setuju. Waktunya para wali murid tinggalkan kelas karena guru akan mulai absen satu persatu murid. Wali murid boleh menunggu di luar kelas sampai pelajaran selesai.


Alvan mengajak anak isteri jauhi kelas agar Afifa mandiri. Kalau Azzam tak perlu dikawal karena anak itu tahu apa yang harus dilakukan. Mana lagi para guru juga sayang pada Azzam. Andai para guru tahu ada yang lebih berprestasi pasti akan makin salut pada kejeniusan anak-anak keluarga Lingga.


Alvan mengajak Citra dan Afisa lanjutkan kegiatan sendiri. Citra harus ke rumah sakit sedang Alvan berangkat ke kantor. Tokcer standby menunggu kedua konco sekaligus majikan kecil lepas dari sekolah. Tugas Tokcer memang melayani anak-anak bos.


Secara diam-diam Alvan mengirim pengawal gelap untuk jaga kedua anaknya. Pengawal itu akan berjaga dari jarak aman agar tidak ganggu kegiatan anak-anak. Alvan tak ingin anak-anak terkena musibah. Siapa tahu Viona punya niat terselubung.


Dalam perjalanan ke rumah sakit Alvan menawarkan Afisa ikut ke kantor. Anak kecil tak baik berada di rumah sakit bila tidak penting. Alvan memastikan ketiga anaknya berada dalam kondisi aman.


Afisa dudu di samping Alvan sedangkan Citra duduk di jok belakang sebagai penumpang. Afisa perhatikan bangunan sepanjang jalan dengan leluasa karena mobil berjalan pelan. Tak bisa ngebut karena jam kantor. Mobil berjejeran merayap menuju ke tujuan.


"Ya ampun...kenapa mobil berlapis-lapis? Ke mana polisi lalu lintas?" sungut Afisa gemas mobil tidak maju-maju.


"Memangnya di sana tidak macet?"


"Jarang macet! Orang lebih senang naik angkutan umum pergi kantor. Hanya orang benar kaya berangkat kerja dengan mobil. Naik motor juga motor listrik. Tidak seperti di sini."


"Apa orang di sana baik-baik?"


"Baik juga tapi tetap ada yang jahat. Di belahan bumi manapun ada yang baik dan jahat. Tergantung bagaimana cara kita sikapi. Dari cerita Koko sekeliling mami banyak orang jahat. Mereka gencar serang mami hanya untuk kepuasan sendiri. Apa tak ada hati tanpa asap hitam?" Afisa menatap Alvan dari samping. Wajah papinya memang keren tapi sayang pernah tercoreng oleh jeratan seorang wanita.


"Semua orang punya salah nak! Cuma kita harus berlari dari kesalahan cari tempat menebus dosa. Kalau kita berbuat dosa sekali maka kita harus seratus kali lipat berbuat baik untuk hapus dosa itu." sahut Alvan tanpa menoleh ke arah Afisa. Alvan tak sanggup melihat guratan kecewa di mata Afisa. Gadis kecil ini harus belajar terima bahwa papinya telah tahu salah. Tak perlu ikut sang mami putar kaset usang. Buah jatuh tak jauh dari batang induk. Begitulah Afisa.


Katanya memaafkan Alvan tapi ada kesempatan muncul juga lagu lama memojokkan Alvan.


"Harusnya begitu. Ambil hikmah dari kesalahan. Jangan terulang lagi karena kesempatan itu bukan diperjualbelikan! Kesempatan kedua itu mahal apa lagi ketiga. Mungkin tidak akan ada saking mahalnya."


Alvan menelan air ludah. Kata-kata Afisa seperti satu peringatan buat Alvan agar tidak salah meniti jembatan. Salah langkah pasti akan terpeleset masuk sungai. Yakin akan tenggelam tidak tertolong.

__ADS_1


"Papi akan bangun keyakinan takkan keluar dari rel arahan mami. Papi takut terperosok dalam jurang dalam."


__ADS_2