ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Restoran Warteg


__ADS_3

Alvan Sekeluarga diiringi ke lantai atas. Suara musik lembut menyambut kehadiran Alvan dll. Suasana di lantai atas lebih indah karena dinding terbuat dari kaca tebal. Dari dalam bisa melihat pemandangan kota di malam hari. Ribuan lampu aneka warna kelap kelip hiasi kegelapan kota. Berkat cahaya buatan kota tampak indah di malam hari. Azzam dan Afifa tak sabar berlari ke arah kaca melayangkan pandangan ke luar kaca.


Alvan persilahkan yang lain ambil tempat masing-masing di meja bentuk bulat. Taplak meja warna biru muda berhias motif abstrak menutupi meja bulat itu. Cahaya lampu tidak begitu terang menambah suasana romantis. Seharusnya yang datang pasangan tanpa dikawal satu keluarga. Misalnya Alvan undang Citra makan berduaan sebagai kencan yang belum pernah ada di antara mereka.


Pelayan menyodorkan daftar menu kepada Alvan selaku pimpinan keluarga. Alvan menerima daftar menu lalu serahkan pada Citra karena Citra lebih tahu selera anak-anak. Selera anak-anak di utamakan sebab Alvan ajak mereka makan untuk menyenangkan Azzam dan Afifa.


"Mau pesan apa?" tanya Alvan lihat Citra belum menentukan pilihan.


"Boleh seafood? Azzam pingin makan kepiting asam manis. Afifa udang bakar."


"Kenapa tidak? Ayok ibu, Nadine dan Andi! Catat selera kalian!"


"Aku ikut Koko..." seru Andi tak malu-malu. Kepiting harganya sangat mahal. Kalau bukan sekarang kapan lagi cicipi hidangan orang Borjuis.


"Kami apa saja! Yang penting halal." timpal Bu Menik malu-malu kucing. Kalau mau jujur Bu Menik tidak ngerti semua menu di daftar. Tulisannya kebaratan. Dari pada malu mending ikuti selera tukang pilih.


"Tak ada yang mau daging?" tanya Alvan menawarkan steak sapi andalan restoran ini.


"Pesan banyak ntar tak habis. Cukup pesan seafood saja." tukas Citra tak tahu itu restoran keluarga Alvan.


"Ok...ikut kata bini! Kepiting asam manis tiga porsi, udang bakar madu tiga porsi, lobster saus tiram tiga porsi, bawal lada hitam sama tiga porsi. Salad keju dan pencuci mulut jangan terlalu manis." pesan Alvan menu kelas atas semua.


Andi menelan air ludah terpancing tak sabar ingin cepat-cepat rasakan nikmat dunia. Pesanan Alvan tak mungkin terjangkau oleh orang sekelas Andi cs. Makan udang segede jari kelingking belum tentu sebulan sekali.


Untung mengelus perut kasih semangat pada cacing di perut sebentar lagi mereka akan di umpan makanan mewah. Makan enak.


Azzam dan Afifa tidak peduli makanan apa bakal jadi santapan makan malam. Kedua anak itu asyik memandangi keajaiban malam hari. Tidak disangka malam hari kita lebih indah dari siang hari. Aneka warna pijaran lampu hiasi setiap sudut kota. Cahaya lampu sorot mobil menyinari jalanan menjadi pemandangan lain. Tak ubah seperti lampu ajaib sedang bergerak mengejar sesuatu. Maju ke depan.


Alvan bahagia bisa berkumpul dengan anak bini di malam ini. Ini merupakan malam bersejarah bagi Alvan. Ini pertama kali dia menjadi kepala rumah tangga dalam arti sesungguhnya. Bukan hanya dalam lisan jadi bapak anak-anak.


"Besok kau akan berangkat. Kuharap moments ini akan tersimpan di hatimu. Kami pasti merindukanmu!" ucap Alvan disaksikan keluarga Bu Menik. Andi suka cara Alvan merayu Citra. Tidak gombal tapi kena di hati.


"Paling seminggu juga sudah pulang. Kalian semua tolong jaga Azzam dan Afifa! Kabari aku kalau ada apa-apa!"


"Beres mbak! Andi akan kawal Koko cepat tidur." ikrar Andi sok hebat.


"Emang cuma tidur dijaga! Ingatkan mereka belajar, tak boleh keluar rumah. Makan tepat waktu, tak boleh main hp lebih dari satu jam. Andi ingat semua pesan mbak?"


"Ingat...!" sahut Andi mengerling mata ke Azzam dan Afifa. Keduanya beruntung punya mami super perhatian.


"Citra...apa boleh kuboyong keduanya ke rumahku? Di sana ada Bik Ani dan Iyem. Andi juga akan ikut ke sana." Alvan kemukakan niat awalnya. Membawa tanpa ijin hanya buat konflik timbul lagi antara mereka. Berterus terang isi hati akan kurangi gesekan antara Citra dan Alvan.

__ADS_1


"Tidak...gimana reaksi kak Karin? Aku tak mau bahayakan kedua anak kita." tolak Citra kontan.


"Karin di rumah sakit. Percayalah! Kedua akan lebih aman di rumah aku. Bu Menik boleh ikut ke sana kawani keduanya. Di sana lebih luas, ada kolam renang kalau bosan belajar." Alvan pantang menyerah walau Citra menolak.


"Kau saja di rumah jaga mereka. Aku kuatir mereka tidak betah di rumah gede. Bapak boleh nginap di rumah selama aku pergi. Siang hari ada ibu jagain mereka."


"Citra...Nadine pergi kerja, Andi juga kerja. Bukankah merepotkan ibu jaga dua bocahmu? Di rumah aku lebih ramai. Merekapun bisa bergerak lebih leluasa. Please percaya padaku sekali ini saja! Aku takkan jumpakan mereka sama Karin."


Citra menatap Ibu Menik dan Nadine minta pendapat. Sebenarnya ide Alvan tidak buruk. Di tempat Alvan memang lebih aman karena ada satpam dan pagar tebal kelilingi rumah mewah itu. Azzam dan Afifa tentu tak bisa sembarangan keluar rumah.


Citra tetap kuatir tiba-tiba Karin muncul berbuat jahat pada kedua buah hatinya. Karin bukan manusia berhati mulia. Wanita itu bisa saja melukai kedua anaknya karena dengki. Citra tak sanggup bayangkan akibat dari rasa dengki Karin.


"Aku takut kak Karin?"


"Kau pikir aku tolol bahayakan anak sendiri? Aku akan jaga mereka melebihi nyawaku. Kalau kau keberatan aku tak maksa. Apapun keputusanmu tetap Kuterima."


"Terima kasih...biarlah mereka di rumah pak!"


"Baiklah! Nadine ambil cuti selama Citra tak ada. Siang hari jaga mereka. Malam baru aku yang jaga. Gitu saja keputusan." Alvan tak ingin merusak acara makan malam dengan debatan. Ini akan merusak mood Citra berangkat besok. Biarlah semua berjalan sesuai keinginan Citra. Citra hanya ingin melindungi anaknya dari ancaman bahaya. Alvan tak salahkan Citra. Induk di manapun akan pertaruhkan nyawa demi lindungi anak-anak.


Pelayan mengantar pesanan Alvan satu persatu. Hidangan lezat tersusun di meja bulat mencolek hidung orang sekitar meja. Di raja gembul Untung paling tak sabar memenuhi tuntutan cacing di perut. Untung anggap dia hanya sarana transportasi kirim makanan ke cacing. Pinjam mulutnya transfer gizi ke cacing.


Citra memanggil kedua anaknya untuk makan begitu makanan terhidang. Kedua anak itu lupa lapar saking senang lihat pemandangan kota di malam hari. Sedikit norak tapi itu hiburan sederhana bagi keduanya.


Alvan membantu Afifa dan Azzam kupas kulit udang dan kepiting. Alvan ingin cari muka biar Azzam luluh mau menerima kehadirannya. Andi dan Untung tidak peduli bagaimana cara Alvan mencuri hati Azzam. Kedua orang itu mementingkan lagu keroncong bergema dalam perut. Tunggu apa lagi kalau bukan sekarang.


Nadine dan Bu Menik lebih kalem nikmati santapan mewah itu. Kedua wanita beda usia itu masih kenal kata malu. Mereka makan cuma tidak seheboh Untung dan Andi. Andi dan Untung mirip tahanan baru lepas dari lapas. Lapar banget!


Citra tersenyum senang lihat orang-orang sekelilingnya bisa rasakan kehidupan kalangan atas walau cuma sekali. Kenangan ini takkan terlupakan karena ini pertama kali Citra rasakan punya keluarga utuh. Walau semua itu hanya keluarga semu takkan pernah ada kedua kali.


Secara diam-diam Andi ambil foto keluarga kecil Alvan sedang makan. Andi ingin jadikan moments ini kenangan untuk hari depan. Siapa bisa tebak apa yang akan terjadi di kemudian hari. Sesialnya Azzam kedua orang tua tak bisa bersatu dalam wadah rumah tangga tapi ada tersisa kenangan. Itulah tujuan Andi rekam kenangan indah ini.


Tak banyak interaksi mulut karena semua asyik santap makanan lezat tapi merepotkan. Kulit kepiting nan keras harus dikupas sedikit demi sedikit untuk cari isi dalam yang secuil. Udang masih mending walau ada sedikit kegiatan kupas menguras.


Untung sok gentle kupas udang untuk Nadine. Si gempal cari perhatian Nadine lewat acara makan ini. Beberapa kali jumpa bawa sesuatu perasaan aneh pada Untung. Ada rasa adem membalut di jantung ketika tatap wajah Nadine yang chubby. Andai dipasangkan boleh dibilang cocok. Satu gempal dan satunya montok. Jodoh datang tak dapat diprediksi, dia datang di saat ada dua hati saling klik.


Citra bukannya tak tahu ada dua magnet cinta sedang tarik menarik cari waktu tepat melekat. Citra merestui Nadine menjadi pasangan Untung bila memang ada jodoh. Untung orang kepercayaan Alvan. Kerja lumayan lama. Kalau Untung tidak kompeten mungkin jauh hari kena tendangan bebas Alvan.


"Wah...udangnya memerah walau dibakar! Kena api amor kayaknya!" olok Citra melirik Nadine yang tersipu malu ketahuan dikirim udang cinta.


"Udang apa mi? Kok kena amor segala. Emang makan udang gede harus ijin amor ya?" tanya Afifa lugu tak tahu guyon ringan Citra.

__ADS_1


Citra tertawa geli disusul delikan genit Andi. Andi sudah lihat tanda-tanda bakal ada hujan tetesan air cinta bersemi di restoran mewah ini. Acara keluarga berubah jadi kencan buta Nadine dan Untung.


"Anak kecil tak boleh usil. Ini rahasia orang dewasa." timpal Andi lempar tatapan menggoda pada Nadine. Kini wajah Nadine bernasib sama dengan udang dan kepiting. Merah membara.


"Aku sudah dewasa kok! Boleh dong tahu rahasia di balik udang." nimbrung Azzam tak mau kalah dari Afifa.


"Sudah sunat belum? Kalau belum sunat artinya belum dewasa. Minta pesta sunat sama mami biar cepat gede." Andi melengos pakai gaya lama ke arah feminim.


"Gitu ya! Kapan Koko dikhitan? Bukankah mami bilang pulang ke tanah air Koko akan dikhitan?" Azzam menuntut janji Citra sebelum pulang tanah air.


"Setelah liburan ujian naik kelas. Koko sabar dulu ya!" Citra merasa tak enak ditagih janji di depan Alvan. Laki itu bisa berpikir Citra sengaja menunda sunatan Azzam gara-gara keuangan. Azzam tidak minta dipestakan seperti anak orang kaya lain. Cukup penuhi hukum Islam. Anak lelaki wajib dikhitan sesuai ajaran agama.


"Azzam mau dipestakan?" tanya Alvan berharap anaknya beri jawaban tidak menusuk hati.


"Terserah mami! Koko gimana saja boleh. Yang penting kita tidak melanggar hukum agama. Janji ya liburan naik kelas!" sahut Azzam diplomasi.


Alvan menarik nafas lega. Hawa beracun tak menyembur dari mulut anaknya itu. Kalau saja Azzam demikian seterusnya betapa bahagia Alvan telah berhasil merebut kasih Azzam.


"Papi janji pestakan Azzam. Mau di gedung atau di rumah papi? Terserah Azzam pilih mau pesta di mana?"


Azzam tidak segera ambil keputusan. Anak itu memilih percayakan seluruh hidupnya pada Citra. Citra yang melahirkannya maka seluruh jiwa Azzam milik Citra. Apapun keputusan Citra itulah jalan Azzam.


"Kita pikirkan nanti. Ujian saja belum. Belajar yang rajin agar bisa kejar Afisa di Beijing."


"Iya mi!!!" Azzam tahu ke mana arah omongan Citra. Citra berharap Azzam lebih rajin agar bisa kembali sekolah di tempat yang sama dengan Afisa. Citra tetap akan bawa anak-anak kembali ke Tiongkok lanjutkan S3 setelah selesai kontrak dengan rumah sakit Alvan.


Alvan meletakkannya garpu dan pisau makan agak kecewa. Alvan ngerti kalau Citra tetap akan bawa Azzam ke tempat di mana ada anaknya yang lain. Alvan bakal kehilangan anak laki satu-satunya bila Citra nekat bawa anak-anak ke luar negeri.


Alvan memilih diam agar suasana akrab yang baru terbangun tidak buyar oleh protesnya. Alvan masih punya waktu panjang negosiasi dengan Citra mengenai masa depan anak-anaknya. Di tambah besok Citra akan bertugas ke daerah rawan. Alvan tidak mau suasana jadi kaku. Tunggu Citra pulang dari daerah baru Alvan akan ajukan keberatan ditinggal anaknya.


"Ayok habiskan! Sayang kalau tersisa. Kita tak boleh mubazir buang makanan. Bu Menik kok makan dikit amat?" tegur Citra lihat Bu Menik tidak rakus kayak yang lain.


"Umur ibu tak cocok makan makanan kolesterol tinggi. Ibu tidak muda lho!" sahut Bu Menik kalem.


"Kalau gitu makan ikan saja! Ikan tak ada kolesterolnya. Sayang tak dihabiskan!" Citra menyendok ikan ke piring Bu Menik tanpa ijin ibu itu.


"Sudah cukup nak! Ibu sudah tua. Pencernaan tak sebagus kalian yang muda. Itu ada Andi dan nak Untung siap bersihkan piring warung ini."


Azzam dan Afifa tak dapat tahan tawa Bu Menik menyebut restoran Alvan sebagai warung. Dipikir sama dengan warung Tegal di pinggir jalan. Bu Menik tak tahu biaya makan mereka malam ini bisa dibuat makan dua bulan di warteg.


"Huusss...ketawa tak ada sopannya!" tegur Citra tak suka kedua anaknya berlaku tak sopan pada Bu Menik. Bu Menik hanya salah satu orang tidak bernasib baik. Hidup dalam garis limit tertentu. Hidup dalam kondisi pas-pasan berkat gaji Nadine. Sepasang tangan Nadine harus umpan tiga mulut.

__ADS_1


Syukurlah Andi sudah bisa diandalkan walau baru masuk kerja. Paling tidak Andi tak perlu ulur tangan meminta jajan pada Nadine.


__ADS_2