ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Pagi Kelabu


__ADS_3

Andi menjelaskan dengan sabar. Lajang ini tahu tidak ada guna berdebat dengan emak-emak yang sedang kesurupan jin harta. Emak-emak itu berpikir bisa seenak perut menggunakan fasilitas kantor untuk keperluan diri sendiri. Mereka tak tahu bahwa Tokcer hanya menjalankan tugas dari Alvan. Pola pikir yang sederhana membuat mereka merasa sesuka hati memerintah orang tanpa perhitungan. di pagi cerah ini Andi malas berdebat maka memilih mengalah.


"Woi Ance.. pokoknya Ibu tidak tak mau tahu kamu harus masukkan Kasim di perusahaan bos kamu." kata Bu Maryam dengan pongah.


Lagi-lagi Andi dibuat melongo. Emang kantor Alvan itu punyaan bapak Andi? Bisa seenak perut memasukkan dan mengeluarkan pegawai. Tokcer sudah merasakan suasana tidak kondusif maka mencolek Andi agar mengundurkan diri dari hadapan emak-emak berantena pendek itu.


"An... lhu masih punya energi melawan emak-emak? Perut gua lapar nih yuk sarapan dulu ntar balik baru kita adu mulut lagi!" ajak Tokcer pada Andi dan Bonar.


Andi merasa kata-kata pacar mengandung kebenaran makanya Andi beri kode pada konco-konconya untuk memutar badan balik ke arah rumah mereka.


Emak-emak itu kaget melihat kelompok Andi meninggalkan mereka. Rasanya mereka belum selesai ngomong kok tiba-tiba Andi CS meninggalkan mereka.


"Hei ke mana kalian?Kita belum selesai nih! Nanti kami lapor sama Pak RT kalau kalian semena-mena pada orang tua. Tidak ada sopan santun." seru Bu Maryam dengan kesal melihat kelompok Andi berlari kecil meninggalkan mereka.


Andi dan kawan-kawannya tidak sempat memikirkan perasaan emak-emak yang sedang kalap itu. Lebih baik menyelamatkan diri dari cacian para tetangga. Orang yang tidak paham pasti mengira kelompok Andi menganiaya orang tua. Kadang orang menghakimi tanpa melihat fakta sesungguhnya.


"Sialan mimpi apa gue semalam... pagi-pagi bukannya sarapan nasi goreng. Malahan sarapan omelan emak!" kata Bonar setelah agak menjauh.


"Alah itu lhu pikirin! Kayak nggak tahu akal Bu Maryam saja! Ayam tetangga lebih gemuk saja dia bilang ayamnya korupsi makanan ayamnya. Nggak usah dipikirin deh! Nggak penting!" timpal Andi tanpa menoleh ke belakang lagi. Mereka berjalan terus menuju ke rumah. Mendingan pulang ke rumah isi perut biar ada energi untuk melaksanakan tugas selanjutnya.


"Kita ke rumah Koko ya! Mami sudah buatin sarapan buat kita!" ujar Azzam mengajak ketika konconya untuk ikut dia pulang ke rumah. Sebenarnya Azzam belum mengetahui apa pangkal masalah yang diributkan oleh kedua emak-emak itu. Maka itu Azzam tidak bisa berbuat apapun untuk menengahi pertikaian pagi hari ini. Walaupun Azzam pintar namun tetap saja Azzam seorang anak kecil.


Sesampai keempat anak lajang ini di rumah Citra. Ada pula pemandangan lain mengganggu retina mata ke empat lajang muda itu. Ada beberapa perempuan sedang marah-marah di depan pintu rumah Citra. Tanpa disuruh keempat lajang itu segera menerjang masuk ke dalam pagar. Baru saja mereka diserang oleh emak-emak kini rumah Citra juga diserang oleh perempuan-perempuan yang tak dikenal.


Pagi yang seharusnya menenangkan menjadi pagi paling buruk dalam sejarah hidup lajang-lajang ini. Azzam paling duluan masuk melindungi Citra yang berdiri terbengong oleh kehadiran orang yang tidak dikenal.


Azzam merasa paling bertanggung jawab dalam keluarga karena dia adalah anak laki satu-satunya di rumah. Wajah Azzam berubah hitam menahan emosi karena kehadiran orang yang tidak kenal sopan santun. yang bertamu bukannya baik-baik tapi mengumbar amarah.


Salah satu perempuan itu menunjuk-nunjuk wajah Citra sambil mengeluarkan kata-kata tidak pantas. Citra diam saja karena tidak tahu harus menjawab apa. Pangkal masalah saja Citra tidak tahu jadi Citra harus jawab apa. Orang-orang itu datang memaki tanpa menjelaskan pokok masalah.


"Ada apa ini?" tanya Tokcer menghadang perempuan-perempuan yang dipenuhi emosi. Tugas tokcer adalah melindungi Citra dan anak-anaknya. Inilah saatnya melakukan tugasnya. Menjamin keselamatan Citra sekeluarga.


Tokcer tertawa melihat salah satu perempuan di situ adalah Viona yang mereka jumpai di mal. Kelihatannya Viona belum puas mempermalukan Citra sampai datang ke rumah untuk menyerang Citra.


"Wow...nyatanya begundal ini juga tinggal di sini! Berapa kau jual dirimu pada anak muda sini? Heran mengapa Heru bisa suka pada perempuan murahan ini." teriak Viona mengundang perhatian para tetangga. Satu persatu tetangga keluar menyaksikan serangan fajar Viona ke rumah Citra. Yang kenal baik Citra tentu merasa kehadiran kelompok Viona tidak pantas, namun bagi mereka yang syirik justru bersyukur Citra diserang perempuan yang merasa pasangannya direbut Citra.


"Ibu-ibu jangan sebar fitnah ya! Kami ini adalah pegawai pak Alvan. Kami bertugas melindungi Kak Citra sekeluarga termasuk dari manusia sampah macam anda. Pagi-pagi datang ke rumah orang bawa masalah. Kami bisa melaporkan kalian ke pihak berwajib. Andi.. panggil Pak RT ke sini biar semua jadi jelas!" Tokcer berubah jadi garang perlihatkan sifat aslinya yang memang garang.

__ADS_1


Andi mendapat angin melaksanakan permintaan Tokcer agar orang yang datang menyerang Citra segera enyah dari kampung mereka.


"Kau siapa sok-sokan melindungi wanita murahan ini! Dia telah merebut pacar aku! Pura-pura jadi dokter untuk menjerat orang kaya. Dokter model kamu ini tidak laku jual tampang di depanku!" Viona masih berkoar merendahkan nilai Citra di hadapan semua orang.


Citra terbengong sampai tak tahu harus jawab apa. Kehadiran Viona secara mendadak cukup membuat Citra sport jantung. Mimpi 1000 kali Citra tidak menduga kalau Viona berani datang ke rumahnya. Masalahnya sekarang apa kesalahan Citra pada Viona.


"Maaf bude! Mengapa anda belum puas mengganggu mami aku? Kalaupun pacar bude suka mami aku itu urusannya. Seharusnya bude malu tak bisa jaga pacar hingga mencari wanita lain. Wajar pacar Bude mencari perempuan lain kalau akal bude seperti orang gila." Azzam tampil ke depan membela maminya. Azzam tidak akan membiarkan siapapun menyakiti maminya. Azzam lebih mengenal maminya dari siapapun. Citra tidak akan melakukan sesuatu yang mempermalukan anak-anak dan nama baik keluarga.


Viona membesarkan mata melototi Azzam. Viona sangat marah digurui oleh seorang anak kecil.


"Hei anak haram... siapa mengajari kamu jadi sombong gitu? Apa kamu tidak tahu mamimu itu tak lebih dari seorang perempuan malam?"


Azzam dan yang lain terhenyak mendengar Viona menyebut Azzam anak haram. Citra yang dari tadi berdiam diri tersulut amarah karena mulut kotor Viona. Perkataan Viona akan pengaruhi mental anak-anak. Siapa sudi dianggap anak haram, jelas-jelas Azzam dan kedua adiknya terlahir dari pernikahan sah hukum dan agama.


Citra maju ke depan melayangkan lima ketupat tangan ke wajah Viona. Citra tak dapat menahan emosi anaknya dipermalukan tanpa fakta jelas. Kalau dirinya dikatain apapun Citra masih bisa bersabar anggap Viona salah paham hubungannya dengan Heru. Cuma bawa anak-anak yang tak bersalah membuat Citra gelap mata.


Viona menjerit keras seperti suara kambing siap disembelih. Kedua orang yang dampingi Viona tak kalah kaget tak menyangka wanita yang tampak tak berdaya sanggup layangkan tamparan ke wajah Viona.


Viona ingin membalas namun Tokcer bergerak cepat menangkap tangan Viona. Sesaat Viona terpana lantas wanita ini menghempas pegangan Tokcer secara kasar merasa jijik disentuh pria tak punya nama beken.


"Aku akan menuntutmu!" seru Viona meraba pipinya yang panas. Seumur hidup Viona baru kali ini dapat perlawanan ganas dari lawan.


"Berani kurang ajar ya! Kau tahu dengan siapa kau berhadapan? Kami ini dari keluarga Perkasa yang terkenal kaya raya. Semut kecil macam kamu gampang saja kami enyahkan!" salah satu perempuan lebih tua maju menantang Citra. Citra tidak mundur selangkahpun demi pertahankan harga diri anak-anak Alvan.


Suasana makin tegang karena kedua belah pihak tersulut emosi. Citra tidak rela anaknya dibilang anak haram sedang Viona tidak puas ditampar Citra. Kelihatannya konflik akan makin panjang. Semua hanya untuk seorang lelaki yang dianggap dewa wanita penghamba dolar. Citra sedikitpun tidak tertarik pada Heru sebagai pasangan. Dunia Heru terlalu ribet untuk dipahami. Citra ingin jauhi kehidupan seribet itu. Alvan yang tak kalah kaya masih dalam pertimbangan apa lagi Heru yang orang asing bagi Citra.


"Assalamualaikum..." Pak RT kampung Citra datang dengan tergesa-gesa hanya kenakan kain sarung dan kaos oblong. Secara kasat mata dilihat pak RT baru bangun tidur. Rambut awutan bak sarang lebah baru siap panen. Berantakan.


"Waalaikumsalam..." sahut beberapa suara tak jelas keluar dari mulut siapa.


"Ada apa ini? Pagi buta kok ribut?" Pak RT merapikan kain sarung yang terpasang secara acak.


"Bukan pagi buta RT tapi pagi melek. Wong sudah siang gini masih dibilang buta! Pak RT buta cuaca ya!" timpal Andi dengan gaya khasnya. Andi gemes pada pak RT yang tidak rapi, seorang RT bukan memberi contoh yang baik pada warganya malahan dia sendiri amburadul.


"Huusss... yang sopan! Aku ini RT kamu. Bukan konco kamu!" semprot Pak RT mendelikkan mata kepada Andi. Andi menanggapinya dengan santai.


"RT tidak bonafit!" sungut Andi tetap pertahankan argumentasinya. RT mereka norak tak bisa baca keadaan.

__ADS_1


Pak RT tidak meladeni sahutan Andi. kalau diperpanjang sampai sorean tidak akan selesai.


"Maaf...warga aku yang satu ini mulutnya memang bocor! Harap maklum! Ini ada apa? Kok ribut-ribut? Apa tidak malu dilihat tetangga?" Pak RT sok Arif menengahi konflik di rumah Citra.


"Te...orang-orangan ini datang bikin ribut ngatain mami perempuan murahan dan Koko anak haram! Jelas kami marah!" lapor Azzam dahului pendatang bikin kacau itu.


"Astaghfirullah...yang benar dong! Dasar apa mami Azzam dibilang murahan? Emang semurah apa? Aku jual rumah tak sanggup beli mami Azzam. Artinya mami itu mahal...nah ibu-ibu! Kita merundingkan dengan kepala dingin. Ayok masuk dulu! Tak baik teriak-teriak seperti Tarzan hutan. Kami sini sudah ada satu Tarzan jadi tak perlu ditambah lagi." Pak RT mencoba melucu agar ketegangan mencair. Sama-sama keras pasti tak ada penyelesaian.


"Kalau di kampung kita ada Tarzan kampung artinya ada lutung lupa mandi!" sindir Bonar sadar dirinya jadi bidikan pak RT. Pak RT membulatkan mata hujam tubuh Bonar yang kontan menunduk lihat ada duit receh jatuh tidak. Kali aja duit pak RT jatuh ke lantai.


"Sembarangan...yok ibu-ibu cantik! Kita bincangkan di dalam." Pak RT merentang tangan kanan persilahkan tamu tak diundang Citra masuk rumah.


Secara diam-diam Andi angkat hp meneleponi Alvan. Untuk mematahkan tuduhan Viona harus ada saksi kuat menyatakan status Citra bukanlah perempuan nakal ganggu pacar orang. Alvan adalah orang tepat membela Citra karena Alvan adalah bapak dari anak-anak Citra.


Lama Andi dial nomor Kontak Alvan baru tersambung. Andi mulai panik ponsel Alvan tidak mengangkat nomornya. Dalam hati Andi berdoa semoga Alvan tanggap mau terima panggilan darinya. Kondisi cukup genting karena bisa menjurus ke jalur hukum bila Viona menuntut Citra main kekerasan.


Andi tidak menyalahkan Citra berbuat anarkis pada Viona. Mulut Viona terlalu kotor ngatain Azzam anak haram. Padahal Azzam dan Afifa ada level halalnya.


Doa Andi terkabul karena Alvan angkat panggilan dari Andi. Kalau bukan Alvan berada di seberang sana ingin sekali Andi berseru girang tersambung ponsel Alvan.


"Assalamualaikum pak!" sapa Andi berusaha tenang pakai nada rendah biar terdengar macho.


"Waalaikumsalam...ada apa?"


"Ini lho pak! Ada ibu-ibu serang kak Citra bilang kak Citra rebut pacarnya dan bilang Koko anak haram. Kak Citra gampar wanita itu. Sudah kupanggil pak RT. Sekarang pak RT ajak mereka masuk rumah untuk berunding."


"Kurang ajar! Bilang sama kak Citramu jangan takut! Apa yang dia lakukan sudah betul. Kita tuntut dia pencemaran nama baik. Aku segera pulang! Ini sedang menuju ke bandara!"


"Iya pak! Cuma aku takut kak Citra akan memaafkan mereka! Tahulah sifat kak Citra! Lunak kayak tahu!"


"Aku akan datang satu jam lebih dikit. Usahakan mereka jangan pergi!"


"Siap pak!"


Andi bisa membayangkan wajah Alvan kalau lagi marah. Kaku kayak kena semen kelas Wahid. Di palu pakai palu Godam takkan melunak kecuali elusan lembut tangan mungil Afifa.


Pikir punya pikir Andi lari kecil pantau kondisi kekinian di dalam rumah. Para tamu tak diundang duduk dengan angkuh di sofa sederhana Citra. Pak RT duduk di sofa tunggal menjadi penengah konflik antara ibu-ibu bermasalah.

__ADS_1


Citra menatap penuh kebencian pada Viona yang telah lancang klaim Azzam anak terlahir di luar nikah. Ingin rasanya Citra robek mulut Viona biar tak keluar bahasa tak bermoral.


__ADS_2