ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Jemput Oma


__ADS_3

Kisaran jam 03.00 Citra menelepon Alvan memberi kabar bahwa dia telah selesai bertugas. Begitu mendapat telepon dari Citra tanpa pikir panjang Alvan segera berbenah untuk menjemput istrinya di rumah sakit. Dari situ dia harus menjemput Azzam dan Afifa di sekolah untuk langsung menuju ke bandara.


Sebenarnya Alvan was-was atas kepulangan mamanya. Alvan takut mamanya tidak menerima kalau papanya kena stroke. Isteri mana tak sedih melihat suami yang sewaktu ditinggal dalam kondisi sehat, pulangnya telah terkapar tak berdaya.


Alvan hanya bisa berdoa semoga mamanya kuat menerima cobaan dari Allah.


Alvan tiba di rumah sakit sendirian. Untung masih di kantor polisi menangani kasus Selvia dkk. Alvan bukannya tidak pusing diterpa aneka cobaan. Entah kapan Alvan bisa bernafas lega setelah diberi aneka malapetaka.


Untung saja Alvan telah mendapat tongkat penyanggah yang kokoh. Membantu Alvan menapaki satu persatu cobaan.


Citra telah menanti Alvan di depan pintu gerbang rumah sakit. Citra sengaja pasang wajah cerah agar Alvan ikut rasakan kecerahan. Citra tak ingin memperburuk suasana hati lelaki itu maka beri senyumnya termanis. Saking manisnya Alvan bisa terserang diabetes.


"Hai...capek nunggu?" Alvan keluar dari mobil langsung hampiri Citra.


"Baru juga keluar. Tidak baik ke atas jenguk papa?"


"Nanti saja! Sekalian sama mama nanti. Kita harus mengejar waktu. Kita harus menjemput anak-anak dulu baru langsung ke bandara."


"Tapi berjanji harus menjenguk bapak ya! Beliau sangat terbebani karena kamu bersikap cuek. Seburuk apapun beliau dia tetap orang tua kita. Orang yang telah menghadirkan kita di dunia ini."


Alvan mangut sambil mengucek rambut Citra perlahan. Ntah kenapa Alvan semakin gregetan melihat kecantikan Citra. Kalau bukan di tempat orang ramai Alvan ingin sekali menggigit hidung Citra yang mungil.


"Huusss...malu dilihat orang!" Citra menepis tangan Alvan dari kepalanya. Mata Citra lirik kiri kanan memantau apa ada yang melihat interaksi kecil antara mereka. Orang yang tidak kenal Alvan pasti beri pandangan negatif pada Citra.


Gosip akan cepat tersebar kalau dokter Citra genitan di depan rumah sakit. Siapa mau hormati dokter yang tak punya rasa malu.


"Ayok berangkat!" Alvan tidak peduli penolakan Citra. Lelaki ini malah bikin ulah sengaja menggandeng Citra naik ke mobil. Gerakan Alvan menunjukkan kemesraan pada orang tercinta.


Citra meringis malu cepat-cepat masuk ke mobil sebelum jadi santapan gosip. Citra tak ingin nama baiknya tercoreng hanya karena seorang lelaki. Kariernya sebagai dokter masih panjang.


Alvan tertawa kecil melihat Citra manyun disentuh di tempat umum. Cepat atau lambat status mereka akan terkuak ke khalayak ramai. Alvan tidak keberatan nama Citra disangkutkan ke namanya. Mereka memang saling berkaitan.


"Kok ngambek?" tanya Alvan menjalankan mobil berbaur dengan mobil lain.


"Mau bikin skandal baru ya! Satu rumah sakit tahu bininya pak Alvan sedang sakit. Aku ini kok jadi duri di daging Karin." merenggut Citra.


Alvan melirik Citra sekilas lalu pusatkan mata ke jalan. Jadi supir pribadi nyonya bos harus ekstra hati-hati.


"Apa bukan terbalik? Karin yang jadi duri di dagingmu!"


"Jangan melempar kesalahan pada orang lain! Introspeksi pak!"


"Ssssttt...kok pak lagi? Mas Alvan sayang gitu lho!"


"Sori lupa...terbiasa sih manggil bapak! Uban bapak tidak akan bertambah. Ingat umur...."


"Emang kenapa dengan umurku? Belum tua amat! Kata orang tua masa gemilang seorang laki dimulai usia empat puluh."


"Iya masa paling tepat berselingkuh. Kata pak Lurah masa puber kedua!" ejek Citra sambil mengulum senyum.


Alvan ingin pamer dia masih sehat cepat dipatahkan Citra. Lelaki model Alvan dan Heru tak boleh dikasih hati. Mereka merasa jadi superhero di antara para wanita. Sayang Citra tidak ke makan rayuan recehan para cowok.

__ADS_1


"Apa hubungan dengan pak Lurah? Kamu sering jumpa lurah kalian?" tanya Alvan bernada cemburu.


"Kadang jumpa bila ada diskusi kesehatan warga. Orangnya menarik dan baik...enak diajak ngobrol!"


"Wah...pantesan selalu menolak suami sendiri ternyata punya simpanan! Akan kutuntut lurah kalian main mata dengan warga sendiri. Siapa namanya biar dimutilasi dia?"


Citra tertawa renyah dengar nada sewot Alvan. Baru begini sudah cemburu setengah mati. Bagaimana perasaan Citra dulu lihat Alvan dan Karin berpelukan di rumah tiap hari. Mungkin Alvan sudah lupakan hal itu.


"Namanya Bu Denok..." sahut Citra kalem.


Alvan tertawa pahit kejebak emosi. Citra berhasil permainkan perasaan Alvan hingga kacau balau. Gitulah ego lelaki. Dia boleh jadi pahlawan kesiangan para cewek sedang isteri dipingit tak boleh jumpa cowok.


Alvan mengulurkan tangan menangkap leher Citra dari belakang pakai tangan kanan. Sentuhan lembut Alvan menghadirkan desiran halus di dada Citra. Mengapa perasaan asing ini harus muncul di antara mereka. Mulut Citra menolak Alvan tapi jauh di kisi hati menyukai sentuhan lembut Alvan. Sentuhan tangan kasar yang mengantar Citra ke satu dunia baru. Dunia penuh warna.


"Dasar nakal kamu... kualat lho kerjain suami!"


"Di mana salah aku? Emang aku ada bilang lurahnya cowok? Mas sendiri yang berpikiran negatif!"


"Iya...aku salah!" kata Alvan senang Citra mulai adaptasi dengan panggilan lebih mesra.


"Gitu dong! Jangan malu akui kesalahan kalau memang bersalah! Itu baru cowok sejati."


"Iya nyonyaku!" Alvan melempar senyum damai. Betapa damai hati Alvan bersama Citra. Citra apa adanya tidak sok glamor.


Mobil melaju sampai ke sekolah anak-anak. Sekolah belum bubar sewaktu Citra dan Alvan tiba di sana. Beberapa orang tua sama seperti mereka menanti anak-anak lepas jam pelajaran. Kebanyakan ibu-ibu sosialita jemput anak mereka karena sekolah itu memang sekolah kalangan the have. Yang sekolah di sana rata-rata anak orang kaya. Mungkin hanya Azzam dan Afifa dijemput Citra pakai motor. Yang lain pakai tunggangan bermerek top.


Citra melarang Alvan keluar dari mobil untuk hindari gunjingan para ibu-ibu penentang tas mahal produk bermerek. Ntah itu Hermes, Gucci, Fendi ataupun Judith Leiber yang paling top. Citra tak pernah ambil pusing dengan tentengan bermerek yang hanya menguras kantong.


Citra cuek bebek lihat para ibu-ibu berbisik-bisik. Ntah lagi omongin dia ataupun sedang bergosip hal lain. Citra memilih tak mau suudzon.


Bunyi bel berasal dari sekolah melegakan Citra. Anak-anak akan segera keluar dari kelas masing-masing hampiri orang tua mereka. Azzam dan Afifa juga akan lakukan hal sama.


Citra melihat kedua anaknya bergandengan penuh kasih sayang berjalan ke arahnya. Keduanya tampak lelah namun senang telah dijemput mami mereka. Sudah cukup lama Citra tidak menjemput mereka secara langsung. Tugas Citra telah diambil alih oleh Alvan dan Untung.


"Mami..." Afifa berlari kecil lempar tubuh mungilnya ke pelukan Citra. Citra mengecup pipi Afifa dengan gemas karena pipi anaknya berona merah kena udara panas.


Azzam menyalami Citra tanpa bertingkah manja kayak Afifa. Azzam perlihatkan wibawa seorang cowok jelang remaja. Gayanya kalem bikin orang gregetan.


"Yok! Sudah ditunggu papi! Kita langsung ke bandara jemput Oma! Anak mami lapar nggak?"


"Emang kita boleh ngemil jam gini?" tanya Azzam berharap Citra tidak hanya sekedar bertanya. Perut Azzam siap menampung cemilan apapun untuk menyenangkan cacing di dalam.


"Emang Koko pingin ngemil apa? Yang sehat lho!"


"Burger ayam boleh?" tawar Azzam ngeri-ngeri sedap takut ditolak Citra. Citra selalu bilang itu junk food tidak sehat.


"Boleh...tapi tak boleh sering! Nanti kita ke Burger King! Amei mau juga?"


"Mau dong! Tidak pakai saos cabe ya mi!"


"Oke...yok!" Citra menggandeng kedua anaknya menuju ke parkiran mobil Alvan. Apa yang dikerjakan lelaki itu dalam mobil. Dengar musik atau rebahan relaxkan mata.

__ADS_1


Citra mengetok pintu kaca mobil sebelum masuk ke dalam. Reaksi cepat dari Alvan. Lelaki ini segera buka pintu menyambut kehadiran buah hatinya. Alvan sangat rindu pada anak-anak penawar rasa kesal di hati.


"Anak-anak papi..." seru Alvan riang sambil memeluk Afifa.


Afifa meraih tangan Alvan satukan dengan jidatnya. Azzam lakukan hal sama untuk hormati Alvan. Kelihatannya Azzam mulai jinak. Tatapan Azzam pada Alvan tidak mengandung ancaman perang lagi. Semoga bukan gencatan senjata sementara. Tapi damai selamanya.


"Ok..anak papi...kita berangkat jemput Oma! Sekitar satu jam lagi Oma landing." Alvan menggendong Afifa memasukkan gadis cilik itu ke jok belakang. Azzam menyusul masuk duduk di samping Afifa.


Alvan membuka pintu untuk isterinya barulah masuk ke mobil jadi supir untuk anak-anaknya dan Citra. Kegerahan dalam hati oleh penipuan Selvia pudar tertutup oleh kehangatan keluarga. Kini ketiga orang ini akan jadi kelemahan Alvan.


"Mami... don't forget your promise! (Mami jangan lupa janjimu!)" Azzam ingatkan Citra soal cemilan yang jarang mereka santap. Azzam ingin sekali makan burger seperti di iklan-iklan. Pasti yummy bila telah masuk mulut.


"Iya mami tidak lupa! Mas...tolong singgah di burger king! Anak-anak lapar!"


"Siap...papi juga mau! Yang jumbo biar kenyang!" Alvan melirik Afifa dan Azzam lewat kaca pion mobil.


Alvan senang bukan main melihat senyum tipis terhias di bibir Azzam. Anaknya makin ganteng dengan senyum misterius gitu. Kalau Azzam dewasa kelak bisa hipnotis para cewek dengan sikap cool.


"Huhu..papi ikutan kayak anak kecil! Kali ini mami ijinkan makan burger bukan berarti boleh sering."


"Iya mi..." sahut Azzam dan Afifa serentak. Kedua anak ini mulai merasakan kemerdekaan di bagian isi perut. Biasa Citra sangat selektif pilih makanan cocok untuk kesehatan kedua kurcaci itu.


Tepat di gerai burger Alvan hentikan kenderaan. Cuma bukan burger seperti kata Citra. Burger king sudah lama tidak dibuka alias ditutup. Citra masih berpatok pada kenangan jadul di mana jaman adanya burger king.


Alvan lebih ngerti mencari burger di gerai lain. Makanannya sama walau lain merek.


"Kalian tunggu sini biar papi yang beli. Kita harus gercep karena pesawat Oma akan landing tak lama lagi." Alvan tak beri kesempatan pada Citra untuk menyahut. Sebenarnya Alvan menawarkan diri jadi pembeli bukan karena kejar pesawat Omanya. Tapi untuk bisa membeli lebih banyak cemilan untuk anaknya.


Kalau diharap Citra yang beli pasti cuma sepotong seorang. Citra terlalu kaku didik anak-anak dengan sejuta larangan. Untunglah kedua anaknya bukan pemberontak. Mereka sanggup ikuti aturan Citra yang super kuno.


Maklumlah seorang dokter. Baik buruk berpatok pada Rumus-rumus kedokteran.


Cukup lama Alvan baru keluar dari gerai bernama lumayan besar. Pengunjung cukup lumayan ramai walau belum waktunya makan malam. Alvan membawa berbungkus makanan dan kotak ntah berisi apa.


Citra mendelik kurang senang Alvan terlalu memanjakan kedua anak mereka. Itu bukan cara mendidik anak menuju ke raga sehat. Junk food hanya merusak kesehatan.


Alvan memberikan seluruh makan pada Azzam di jok belakang sambil tersenyum. Senyum sogokan agar Azzam makin berbuka diri pada papinya. Iman Azzam sedang diuji oleh serbuan sogokan Alvan. Andai Azzam minta dipetikkan bulan mungkin Alvan akan berusaha walau tak mungkin.


"Teruskan..." kata Citra pasang wajah seram.


"Sekali-kali mami...ayok dimakan guys..! Makan yang banyak biar sehat. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat." Kata Alvan sembari hidupkan mobil menuju ke tujuan menjemput sang Oma.


Kini tak ada halangan lagi meluncur ke bandara. Azzam dan Afifa berpesta di jok belakang melupakan larangan Citra makan cemilan kurang sehat. Padahal gizi di dalam sepotong burger cukup bagus. Semua lengkap di situ, dari karbohidrat sampai protein. Apanya kurang sehat. Citra terlalu parno melupakan kegemaran anak-anak.


Perjalanan jadi menyenangkan buat kedua bocah. Dapat makanan dan perut kenyang. Ini jadi hari indah bagi keduanya. Bersatu bersama kedua orang tua mereka. Ternyata punya papi sangat menyenangkan. Ada yang memanjakan mereka. Mengapa tidak dari dulu Alvan jumpa dengan mereka. Namun sekarang belum terlambat memulai hidup rukun dan damai.


Hiruk pikuk bandara tidak menciutkan nyali Azzam dan Afifa. Mereka sudah sering ke bandara lakukan perjalanan bersama Citra. Kedua santai saja digiring Citra dan Alvan menunggu Oma mereka turun dari pesawat.


Pesawat dari belahan timur telah mendarat beberapa menit lalu. Tinggal tunggu ambil bagasi untuk keluar dari tempat kedatangan penumpang pesawat.


Alvan beserta keluarga kecilnya berbaur dengan yang lain. Mereka juga datang menjemput sanak keluarga yang numpang di pesawat dari timur. Masing-masing berharap segera jumpa orang yang dijemput. Sama halnya dengan Alvan.

__ADS_1


Mata Alvan tertuju pada arrived gate khusus bagi penumpang yang baru turun pesawat. Ada terselip rasa kangen pada mamanya walau Alvan sudah bukan anak kecil. Rasa kangen itu muncul sendirinya.


__ADS_2