
Alvan tersentak dengar teriakan Citra. Azzam memang tergeletak di sofa tak sadar diri. Alvan tinggalkan Citra hampiri Azzam yang sedang diurus Gibran. Gibran bisa apa kalau bukan coba bangunkan keponakan itu.
Alvan panik sampai tak tahu harus bagaimana. Untunglah Afifa berhasil bawa Heru dan seluruh keluarga dari Perkasa. Heru dan Bu Sobirin kaget tak sangka pagi ini diwarnai insiden mengerikan.
"Tunggu apa lagi! Bawa ke rumah sakit." seru Heru beri aba-aba bergerak membawa korban ke tempat tepat.
Otak Alvan yang sempat mandek segera mengalir berkat arahan Heru. Heru segera bopong Azzam dan Alvan bawa Citra. Kedua lelaki itu bertindak cepat sebelum terjadi korban jiwa.
"Kalian tetap di rumah. Dan kau Gibran panggil Bik Ani bersihkan lantai yang licin." ujar Heru sebelum pergi.
Citra tidak peduli pada dirinya melainkan pada Azzam yang pingsan akibat kena timpa tubuhnya. Azzam seperti pahlawan menyelamatkan nyawa mami dan adik-adiknya. Lajang itu tak peduli pada keselamatan diri lagi. Selamanya Azzam ingin jadi pelindung maminya.
Heru bawa mobil seperti kesetanan menerobos jalan raya yang masih sepi. Lampu sen kiri kanan dihidupkan agar pengemudi lain tahu tak halangi jalan orang yang sedang dalam kesusahan.
Alvan memeluk Citra erat-erat sementara Azzam disandarkan pada jok belakang samping Citra. Wajah itu pucat pasi tidak ada gerakan.
Untunglah mobil cepat tiba di rumah sakit karena jalanan sepi tanpa hambatan. Alvan dan Heru bawa pasien masing-masing menuju ke ruang tindakan. Seluruh dokter dan perawat kaget melihat siapa yang datang. Nyonya dan anak pemilik rumah sakit sedang sekarat. Tindakan pertama segera dilaksanakan untuk bantu Azzam dan Citra.
Azzam ditangani dokter umum sedang untuk tangani Citra mau tak mau Hans harus dihadirkan. Alvan tak peduli itu bukan waktu praktek dokter. Anak dan isterinya harus selamat.
Citra mengalami pendarahan akibat syok hebat sementara Azzam masih perlu diobservasi untuk cari penyebab anak itu pingsan.
Langkah pertama MRI dan scan kepala untuk lihat apa ada benturan menyebabkan si lajang pingsan.
Heru mengawal Azzam sedang Alvan mengawal Citra yang sedang ditangani Hans. Syukurlah kondisi janin tidak terganggu walau terjadi pendarahan. Cuma hal ini tak boleh terulang lagi karena tidak keajaiban dua kali.
Janin dalam kandungan Citra masih aktif tanpa ada gejala kelahiran prematur. Anak-anak baru berusia enam bulan lebih. Kalau terlahir saat ini kecil kemungkinan untuk bertahan hidup.
Hans sendiri tak kalah lega melihat kondisi Citra stabil walau sempat syok. Hans sarankan Citra dirawat beberapa hari untuk pulihkan kesehatan serta dari rasa syok.
Di ruang lain Azzam masih belum sadar walau tak ada yang perlu dikuatirkan. Keduanya di bawa ke ruang perawatan untuk mendapat perawatan lebih lanjut.
Sementara di rumah Bu Sobirin memarahi Bik Ani yang teledor tidak bersihkan lantai dari air. Kejadian ini hampir merengut nyawa keluarganya. Bik Ani tak ngerti mengapa tiba-tiba ada air di lantai rumah. Dia tak pernah teledor bersihkan rumah apalagi Citra sedang hamil anak Alvan. Bagi Bik Ani anak Alvan adalah cucunya.
Bik Ani dan Dara dipanggil untuk pertanggungjawaban atas kejadian ini. Afifa dan Gibran turut jadi jaksa menuntut terdakwa untuk kasus di luar dugaan.
"Bu...aku benar tak tahu kenapa ada air. Kami juga belum lakukan kegiatan nyapu maupun ngepel." Bik Ani bersuara jawab tuntutan Bu Sobirin.
"Itu bukan air nek tapi minyak campur air." sahut Afifa geram karena Bik Ani masih tidak ngaku.
"Astaghfirullah...kok jadi minyak? Dari mana minyak di ruangan?" Bik Ani makin keheranan.
"Kita cek Cctv akan tahu dari mana minyak. Tumpah secara tanpa sengaja atau ditumpahkan. Ini dua hal berbeda. Selama ini tak pernah ada kejadian aneh tapi mengapa pagi ini mendadak muncul kejadian mengerikan. Ada minyak di lantai rumah." kata Gibran melirik Dara yang tenang bagai telaga di tengah Padang gurun. Tenang tanpa riak karena tidak tertiup angin.
"Om betul...kita cek Cctv!"
__ADS_1
Dara yang belum ngerti arti Cctv tetap Santuy tak goyah. Citra mengalami kecelakaan merupakan berita baik. Ditambah pewaris Lingga telah kolaps makin menambah semarak kesialan Citra. Bayangan menjadi nyonya besar makin dekat di mata.
"Iya betul kita cek kamera pemantau untuk lihat siapa yang kurang ajar berani celakai cucu dan cicit aku." kata Bu Sobirin dengan geram. Gibran dan Afifa paling jengkel pada orang berhati jahat. Di dalam rumah berani berbuat tindakan kejahatan. Manusia model apa itu?
"Kita akan suruh polisi tangkap orang yang melakukan tindakan kejahatan. Jika perlu hukuman mati." kata Afifa berapi-api. Hampir saja nyawa enam orang melayang gara keteledoran oknum tak bertanggung jawab.
Dara sedikit meringis tatkala dengar kata polisi. Namun hanya sedikit setelah itu dia tetap perlihatkan wajah lugu tanpa dosa.
"Gi dan Afifa beres-beres berangkat sekolah. Urusan lain biar Oma yang urus. Kita tunggu papi kalian pulang." Bu Sobirin kasih aba-aba pada Gibran dan Afifa untuk pergi sekolah. Mereka di rumah juga tak bisa bantu apa.
"Iya Oma..." Gibran tidak membantah walau hati mengkal. Afifa juga terpaksa ikuti perintah Oma Uyut berberes berangkat ke sekolah. Padahal Afifa ingin sekali ikut ke rumah sakit jenguk mami dan kokonya.
"Bik... sekarang bersihkan sekali lagi tempat bekas Citra jatuh! Aku tak mau ada korban lain. Selebihnya kita tunggu Heru dan Alvan pulang. Ntah bagaimana kondisi Citra! Aku takut terjadi sesuatu pada anak-anak dalam kandungan." gumam Bu Sobirin melayangkan pikiran ke rumah sakit.
Sampai sejauh ini belum ada kabar dari rumah sakit. entah bagaimana kondisi Azzam dan Citra. Semoga saja keduanya dalam keadaan selamat dan juga janin-janin di dalam perut Citra.
"Allah akan melindungi mereka! Orang baik takkan ditinggalkan oleh Allah." kata Bik Ani merasa tidak enak hati telah teledor menyebabkan Citra tertimpa musibah. Bik Ani tak dapat bayangkan bagaimana reaksi Alvan bila terjadi sesuatu pada Citra dan anak-anak. Laki itu pasti tidak akan melepaskan orang yang telah menyakiti keluarganya.
Bik Ani mencolek Dara agar ikut ke belakang membersihkan tempat bekas Citra jatuh. Kepala Bik Ani masih bingung mengapa Afifa katakan yang ada di lantai bukan air tapi minyak. Pertanyaannya dari mana asal minyak? Dapur agak jauh dari lokasi tempat Citra jatuh. Masih harus lalui satu lorong.
"Eh Dara...sewaktu kau bersihkan tadi minyak atau air?" tanya Bik Ani di sela menuju ke dapur.
"Air kok... dari mana minyak? Anak kecil suka ngarang cerita bohong. Aku yang bersihkan kok! Aku malah takut anak-anak main air tadi malam lalu salahkan kita! Tunggu aku jadi orang kaya baru kuhajar mulut anak nakal itu." kata Dara dengan mata memancarkan kebencian pada Afifa dan Gibran..
"Bibi tak mau jadi orang kaya? Tunggu nanti aku jadi nyonya besar maka bibi tak usah kerja lagi. Aku yang akan biayai hidup bibi."
"Mengkhayal terlalu tinggi. Jangan-jangan kamu ada hubungan dengan kecelakaan ini! Ayo ngaku!" bentak Bik Ani baru menyadari sejak kehadiran Data bawa petaka. Sewaktu ada Iyem semua berjalan aman. Ganti Dara langsung ada musibah.
"Isshhh bibi omong apa? Itu artinya Tuhan benci pada nyonya kita! Dia tak cocok jadi nyonya besar. Masih ada calon yang lebih cocok." kata Dara pongah sambil tertawa licik.
"Awas kamu kalau terjadi sesuatu pada Bu dokter. Kau akan tinggal di penjara selamanya. Bibi tak mungkin bela orang jahat." ancam Bik Ani mulai cium gelagat tak beres pada keponakan yang satu ini.
Baru dicerai suami karena ketahuan pacaran dengan berondong. Belum usai di situ, dilabrak sama ibu camat karena selingkuh dengan pak camat. Daripada bikin malu terus maka Dara dikirim ke kota ganti Iyem yang telah menikah.
Tak ada gerakan akan menangkap siapa pelaku membuat Dara bernafas lega. Tak ada bukti artinya tak ada tersangka. Rumah adem ayem seperti tak pernah terjadi apapun. Wanita ini tak tahu bom akan segera meledak bila Heru atau Alvan pulang dari rumah sakit.
Kedua singa bisnis itu masih pantau kondisi Azzam. Menurut dokter tak ada yang perlu dikuatirkan tapi lajang itu lama baru sadar. Azzam pingsan bukan karena terluka tapi syok berat akibat trauma melihat maminya mengalami kecelakaan.
Alvan bisa melihat betapa Azzam sangat mencintai maminya. Seluruh hidupnya dipersembahkan pada wanita yang telah melahirkan dia. Alvan harus makin hati-hati bersikap agar tak jadi musuh anak sendiri.
Citra ditempatkan di kamar super VVIP sedang Azzam sebelahan dengan Citra. Citra bersikeras ingin dampingi Azzam menunggu si lajang sadar. Hati Citra bagai tersayat sembilu lihat putra kesayangan pingsan gara-gara dirinya.
Heru dan Alvan diam seribu bahasa tak tahu harus bagaimana menghibur wanita hamil itu. Citra sudah biasa lihat orang sakit tanpa kuatir sedikitpun tapi giliran lihat anak sendiri terkapar, hati Citra sedih sekali.
"Mami...mami..." suara pertama yang keluar dari mulut Azzam.
__ADS_1
Citra dan kedua singa bisnis segera mengelilingi Azzam berhubung anak itu mulai sadar. Kata pertama dari mulut Azzam buat hati Citra semakin terharu. Betapa anak ini sayang padanya.
"Ko...ini mami nak!" Citra menggenggam tangan Azzam erat-erat. Perlahan mata tajam Azzam terbuka langsung tertuju pada Citra. Ada cairan bening mengalir di sudut mata lajang ini.
Selama bersama Azzam baru kali ini Alvan melihat anak lakinya menetes air mata. Air mata untuk sang mami.
Citra menundukkan kepala cium kening Azzam dengan lembut.
"Gimana adik Koko?" tanya Azzam dengan suara serak.
"Alhamdulillah mereka sehat. Di mana rasa tak enak?"
Azzam menggeleng pelan tetap menatap sang mami. Dalam hati lajang ini bersyukur mami dan adik-adiknya selamat. Berita ini yang akan membuat Azzam terbebas dari kuatir.
"Kita pulang ya! Koko tak mau di sini. Koko mau pulang selidiki mengapa lantai berubah licin."
"Sayang...kamu baru sadar. Istirahat dulu di sini barang semalam! Papi akan selidiki siapa yang bertanggung jawab. Siapapun orangnya takkan lepas dari hukuman." janji Alvan tidak setuju Azzam ingin pulang begitu sadar.
Citra butuh perawatan karena baru saja ada sedikit pendarahan. Wanita ini masih butuh pantauan dokter.
"Koko mau cek sendiri siapa berani celakai mami. Itu unsur kesengajaan karena lantainya kelewat licin seperti disiram minyak masak. Koko saja terpeleset sewaktu hendak selamatkan mami. Sekali injak Koko tahu itu minyak." ujar Azzam menggeram marah.
"Ko...kau baru saja sadar! Nanti saja. Istirahat dulu!" bujuk Citra pelan.
"Papi panggil dokter ya!" Alvan keluar cari dokter untuk cek kondisi putranya. Alvan juga geram pada oknum berhati licik ingin celakai Citra.
Citra tak punya musuh dalam rumah jadi siapa demikian tega ingin turun tangan keji pada anaknya. Jelas ingin celakai anaknya karena bikin Citra jatuh sama saja bunuh janin dalam perut Citra.
Terpikir oleh Alvan kejahatan ini bisa saja datang dari Afung yang iri pada Citra. Apa Afung manusia berakhlak rendah? Dilihat dari sifat Afung yang peramah sangat jauh dari tersangka. Bik Ani tak mungkin. Perkiraan Alvan kerucut pada orang baru yang memang kurang mendapat tempat di hati Alvan. Dari awal feeling Alvan katakan Dara akan bawa masalah. Alvan takkan beri kata maaf pada orang yang celakai anak isterinya.
Dokter datang periksa Azzam tak temukan ada luka serius selain trauma. Azzam diijinkan pulang kalau memang anak itu minta pulang. Cuma Citra tak diijinkan pulang karena harus lihat perkembangan janin akibat pendarahan walau tak banyak.
Setelah berembuk akhirnya Heru bawa Azzam pulang dan Citra tinggal di rumah sakit sampai tak ada gejala pendarahan lanjutkan. Azzam ingin pulang untuk tangkap manusia berhati jahat berniat busuk ingin celakai mami dan adiknya.
Citra lega anaknya tidak terjadi sesuatu. Azzam adalah nahkoda kapal bagi Citra. Semua harapan Citra letakkan pada anak itu. Ditambah sikap tegas Azzam maka Citra percaya Azzam akan menjadi kapten handal pimpin saudaranya harungi badai kehidupan.
Alvan terpaksa tinggal di rumah sakit temani Citra. Andai Azzam tak terjadi sesuatu berarti anaknya selamat dari bencana. Kini tinggal menangkap penjahat dalam rumah. Alvan yakin Heru akan bijak tangani hal ini. Masalah kantor lebih pelik bisa diselesaikan apalagi cuma tangkap penjahat rumahan.
Heru dan Azzam pulang disambut oleh Bu Sobirin. Wanita paro baya ini mengucapkan syukur cicitnya selamat dari bencana. Bu Sobirin langsung peluk Azzam begitu turun dari mobil. Pak Sobirin dan Afung turut dalam penyambutan ini. Afung juga peluk Azzam sampai menciumi pipi Azzam berkali-kali.
Azzam risih dicium Afung tapi tak berani nolak. Sekarang pangkat Afung kan Oma dia. Mana ada cerita tolak ciuman sayang dari Oma.
"Kamu baik saja? Mami gimana?" tanya Afung dalam bahasa Mandarin.
"Baik...mami masih dirawat." sahut Azzam mulai gatal tangan ingin kuliti penjahat di rumah.
__ADS_1