ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN

ISTERI CEO YANG TERLUPAKAN
Tamu Malam Hari


__ADS_3

Alvan ingin menangis dipeluk Azzam. Di sinilah letak kebahagiaan seorang papi diakui oleh anak yang luar biasa. Azzam adalah tumpuan harapan Alvan. Tak pelak Alvan membalas pelukan Azzam dengan terharu. Tidak sia-sia perjuangan Alvan mencuri perhatian Azzam. Akhirnya Alvan menang melawan kebencian di hati Azzam.


Dari balik tembok dapur sepasang mata indah berkaca-kaca menyaksikan pemandangan indah ini. Hubungan darah tak dapat dicincang putus oleh belati paling tajam sedunia. Hubungan itu tetap terjalin walau dipatahkan berkali-kali.


"Terima kasih doamu nak! Mulai detik ini kita adalah partner dalam menjaga mami dan adik-adik kamu. Kita harus bersatu untuk usir mereka yang berniat jahat pada kita." Alvan menepuk punggung kecil Azzam. Alvan merasa jadi super Hero paling gagah detik ini. Harus punya kemampuan khusus melindungi barang paling berharga.


"Maaf Pi! Kalau boleh Koko ingin bertanya tentang dia?"


Darah Alvan membeku sejenak mendengar pertanyaan Azzam. Pertanyaan Azzam tentu saja mengenai Karin yang jadi rival maminya dalam hidup Alvan.


"Zam.. kamu mempunyai kakek buyut bernama kakek Wira. Kakek Wira sangat menyayangi mamimu dan menikahkan mami pada Papi. Waktu itu papi telah mempunyai seorang pacar yaitu Tante Karin. Papi bukan lelaki nakal yang suka mempermainkan perasaan wanita makanya Papi minta izin pada mamimu membawa Tante Karin dalam kehidupan Papi. Seiring waktu Papi telah jatuh cinta kepada mamimu tetapi tidak bisa meninggalkan Tante Karin. Kakek Wira tidak menyetujui Tante Karin memaksa Papi menceraikan mamimu. Dengan berhati Papi menuruti keinginan kakek Wira."


Azzam mendengar dengan seksama tanpa menyela. Azzam memberi kesempatan pada Alvan untuk menceritakan masa lalu yang sangat suram.


"Mamimu pergi dibawa kakek Wira entah ke mana. Papi sangat menyesal dan mencari kalian kemana-mana. Waktu itu papi tidak tahu kalau mamimu sedang hamil kalian. Bertahun-tahun tapi dirundung rasa bersalah pada mamimu. Akhirnya Papi bertemu dengan mamimu di rumah sakit maka cerita selanjutnya Azzam kan sudah tahu. Papi memang tidak ingin menceraikan karena sangat mencintai mamimu."


"Lalu kenapa papi masih bersama dia?"


"Tante Karin sakit nak! dia menderita penyakit yang mematikan dan tidak ada obatnya. Papi tidak mungkin meninggalkan dia dalam kondisi begini. Dia tinggal di rumah tempat Azzam piara kucing. Kondisinya memprihatinkan. Papi tidak tega mengusirnya. Papi mohon Azzam jangan salah paham?"


"Papi mencintainya juga?" hawa dingin dari nada bicara Azzam melintas sekilas. Azzam butuh kepastian perasaan Alvan agar bisa tenang serahkan maminya pada Alvan.


"Tidak...papi cuma kasihan! Bagaimanapun dia pernah dampingi papi waktu kehilangan kalian. Kita tak boleh tak tahu balas Budi."


Azzam merenggangkan pelukan meringsut jauhi Alvan. Azzam menangkap keraguan dari kata-kata Alvan. Semoga saja Alvan tidak sedang bersandiwara menipu perasaan tulus mami mereka.


"Kami ini anak papi. Tapi mami bilang kami tak boleh meminta hak kami di keluarga Lingga. Kami harus berhasil pakai kemampuan sendiri. Harta itu bagai gergaji tajam akan memotong mata rantai ikatan keluarga. Maka itu mami tak mau kami ikut bermain dengan benda berbahaya itu. Azzam akan berhasil di bawah bimbingan mami." Azzam berkata yakin mengulang pelajaran yang diberi Citra.


"Jangan omong gitu nak? Untuk apa papi usaha kalau bukan untuk kalian. Papi mau Azzam miliki semuanya." Alvan memegang bahu Azzam beri semangat bahwa Azzam adalah putra mahkota kerajaan Lingga.


"Kami ada karena mami maka biarlah mami yang arahkan kami. Koko tidak akan ingkari siapa papi kami tapi bukan berarti kami ijinkan papi lukai mami lagi."


"Papi maklum...papi mau minta tolong pada Azzam untuk bikin pengamanan di perusahaan papi agar tak mudah di bobol. Azzam sanggup bantu papi?"


Azzam mengangguk."Beri Koko waktu seminggu. Koko akan buat pertahan berlapis dan anti hacker."


"Papi tak sangka punya anak pintar. Sudah mandi?"


"Sudah...temuilah Amei! Dia pasti senang jumpa papi."


"Iya...sekali lagi terima kasih telah percaya pada papi."


"Semua perlu bukti papi! Ingat satu hal! Mami adalah segalanya buat Azzam."


Alvan bergidik mendengar kalimat sederhana Azzam bagai sembilu runcing berada di ujung ulu hati Alvan. Setiap saat bisa menusuk jantung Alvan hingga tembus.


Alvan cukup angguk agar Azzam puas tidak mengeluarkan kalimat tak sedap lagi. Anaknya sungguh luar biasa. Bagaimanakah kalau jumpa Bu Dewi lagi. Akankah Azzam kuliti Omanya yang rada egois itu?


Alvan cepat-cepat masuk ke kamar Afifa meninggalkan Azzam di ruang tamu. Dunia Azzam terlalu rumit, lebih baik gabung dengan Afifa yang dunianya memang dunia kanak-kanak. Tatapan Afifa yang lugu bisa menenangkan Alvan.

__ADS_1


Afifa sedang belajar pelajaran sekolah. Alvan perhatikan Afifa mengulang pelajaran sendirian. Harusnya ada orang dampingi gadis kecil itu biar ngerti mana yang salah dalam pelajaran.


"Sayang papi... lagi ngapain?" tegur Alvan lembut di belakang Afifa.


Afifa si kecil balik badan melihat kehadiran Alvan. Alvan mendapat sambutan senyum manis Afifa.


"Lagi belajar Pi! Katanya besok ulangan. Amei ingin beri hadiah nilai sepuluh untuk papi. Papi sudah banyak kasih Amei hadiah. Sekarang giliran Amei ngasih hadiah."


"Wow...papi senang dapat hadiah Amei! Papi tak sabar menanti kejutan dari sayang papi?" Alvan berikan kecupan cinta di atas ubun kepala anaknya.


Afifa terkekeh dikecup Alvan tepat di bagian otak. Kecupan itu akan jadi modal Afifa untuk makin rajin bersaing dengan Azzam menjadi yang terbaik.


"Papi mandi dulu ya sayang! Afifa sudah mandi..papi masih bau kecut."


"Kecut Amei tetap sayang papi kok!" Kalimat rayuan meluncur mulus dari bibir mungil Afifa. Rayuan bintang kecantikan dunia kalah sukses bergejolak di hati Alvan. Kalimat sederhana Afifa bagai embun sejuk menyirami Padang gersang. Kontan subur.


"Papi sayang kalian."


"Amei tahu..."


Alvan menepuk pipi Afifa lembut lalu pergi keluar tidak ganggu anaknya belajar lagi. Afifa butuh konsentrasi untuk hafal setiap huruf dan angka agar tercetak di kepala mungilnya.


Alvan segera keluar mengambil baju di kamar Citra. Kamar itu kosong tanda yang empunya pasti sedang menyiapkan makan malam. Ibu rumah tangga sempurna. Sukses di karier dan berhasil di rumah. Tidak pakai pembantu rumah tangga pula. Semua dia kerjakan sendiri. Citra benar-benar profil wanita komplit. Alvan harusnya bangga dapat wanita sebaik Citra. Kalau masih ingin cari wanita lain artinya hidup Alvan penuh nafsu liar. Tidak ada cinta sejati.


Alvan berpapasan dengan Citra tatkala hendak ke kamar mandi. Wanitanya masih kumal belum tersentuh sabun mandi. Wajahnya berminyak sisaan asap dapur. Bagi orang lain Citra tampak kusam namun bagi Alvan justru itu menarik. Citra tampil apa adanya.


"Sudah siap masak sayang?" Sapa Alvan berusaha selembut mungkin agar citra merasa nyaman.


"Mas mandi dulu ya! Setelah shalat kita makan bersama."


"Iya mas..." Citra menyahut melangkah pergi. Citra bersiap mengambil pakaian menyusul Alvan mandi. Bukan mandi bareng lho tapi gantian mandinya. Citra belum gila mandi bareng selagi ada anak-anak di rumah.


Sholat bareng disusul makan malam terbalut suasana akrab antara anak dan papi. Alvan makin berkibar di hati anaknya. Kini tinggal taklukkan satu lagi yang lebih judes dari Azzam. Apa mungkin Afisa akan memaafkannya? Alvan juga takkan menyerah hadapi tantangan selanjutnya. Satu persatu misi tantangan berjalan sukses. Tinggal selangkah lagi keluar jadi the Champion.


Suasana damai menyeruak di dalam rumah Citra. Anak-anak kembali ke kamar masing-masing seusai makan malam. Alvan duduk santai seorang diri di ruang tamu sedang Citra bereskan dapur agar tak mengundang tikus dengan sisa makanan di dapur. Biasanya ada Andi bantu bereskan dapur. Kini Andi sibuk di kantor mana sempat bantu Citra berkutat di dapur lagi.


Ketenangan Alvan terusik oleh gedoran halus dari luar. Alvan meletakkan ponselnya berjalan ke arah pintu lihat siapa bertamu malam hari. Sungguh tidak peka bertamu malam hari. Apa tidak ngerti orang butuh istirahat setelah seharian aktifitas.


Alvan membuka pintu. Alvan ingin menghela nafas tapi sungkan melihat empat orang berdiri di depan pintu membawa berkantong-kantong barang.


"Assalamualaikum..." sapa Bu Sobirin ceria.


"Waalaikumsalam...silahkan masuk!" Alvan persilahkan keluarga Perkasa yang terkenal kaya masuk ke rumah Citra yang kecil. Untunglah kali ini hanya berempat tidak gerombolan kayak dulu.


Pak Sobirin, Bu Sobirin, Heru dan seorang remaja tanggung dipersilahkan duduk di sofa kelas teri milik Citra. Kalau suaminya Alvan tak seharusnya sofa di rumah Citra model kalangan menengah ke bawah.


Ini menunjukkan sifat asli Citra yang tidak ingin mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Sebenarnya Citra bisa saja meminta barang apa saja dari Alvan. Cuma sayang orang itu adalah Citra yang tidak kemaruk oleh harta.


Semua orang membutuhkan uang untuk mencukupi kehidupan. Uang yang datangnya serampangan akan berakhir dengan gampang. Uang hasil keringat sendiri akan terasa nikmat bila digunakan untuk menghidupi anak-anak. Citra memilih yang rasanya nikmat atas hasil kerja keras sendiri.

__ADS_1


"Maaf nak Alvan. Kami datang berkunjung malam hari. Apakah Citra dan anak-anaknya ada di rumah?" tanya Bu Sobirin ramah tak sabar ingin jumpa Citra dan anak-anak.


"Oh ada...biar kupanggilkan!" Alvan merasa tak salah ramah tamah dengan keluarga istrinya. Heru bukanlah ancaman bagi Alvan sekarang. Rival paling menakutkan KO tanpa bertanding.


Pak Sobirin jelajahi rumah Citra dengan perasaan bersalah. Cucu kandungnya hidup sederhana sedangkan mereka tidur di atas tumpukkan uang. Mata tua Pak Sobirin tertumpuk pada foto-foto yang terpajang di ruang tamu Citra.


Serasa ada magnet menarik langkah pak Sobirin menatap satu persatu foto anaknya serta keluarga kecilnya. Pak Sobirin tidak meragukan kalau itu memang anaknya si Hamka. Sayang umurnya tidak panjang. Hamka terpanggil duluan oleh Yang Maha Kuasa.


Mata tua Pak Sobirin berkaca-kaca menahan tangis. Yang muda duluan menghadap meninggalkan dia berjuang di dunia fana ini. Masih syukur menemukan penerus Hamka walau hanya seorang anak perempuan.


"Opa...Oma.." panggil Citra senang jumpa lagi dengan keluarganya dari pihak ayahnya.


Pak Sobirin alihkan mata dari kumpulan foto ke arah Citra. Citra tersenyum manis menyalami Pak Sobirin paling duluan lalu menyusul ke Omanya barulah ke Heru yang naik pangkat jadi om.


Heru mengelus puncak kepala Citra dengan galau. Hati Heru belum berdamai dengan perasaan sendiri. Rasa cinta pada Citra sebagai lelaki belum padam sepenuhnya. Heru masih menyimpan rasa mendalam pada Citra namun Heru harus melawan perasaan itu.


"Ayok ini kenalkan adikmu Gibran! Anak aku! Nah Gibran ini kakakmu Citra.." ujar Heru mendorong anaknya menyalami Citra.


"Wah...kakak aku cantik seperti aku! Bangga punya kakak bisa ditampilkan!" kata Gibran supel.


"Bukan itu saja Gi...kamu punya keponakan lucu-lucu. Kamu sudah jadi om.." lanjut Heru menambah euforia anaknya punya keluarga baru.


"Kakak sudah punya anak? GI pikir masih SMA..." ujar Gibran di barengi tawa derai.


Citra tersipu dipuji Gibran adik sepupunya. Gibran orangnya asyik tidak sombong kayak anak orang kaya lain. Gibran down to the earth selalu merendahkan diri.


"Mana keponakan aku! Nggak sabar nih dipanggil Om! Om Gi yang ganteng." Gibran menepuk dada sok sudah hebat.


"Biar kakak panggil! Mungkin sedang belajar.." Citra menjawab ketidaksabaran Gibran jumpa dua kurcaci lucunya.


Yang lain tersenyum senang rasakan suasana akrab. Alvan iri hati pada sambutan keluarga Perkasa pada Citra. Mereka menyodorkan keakraban sedang keluarganya menyodorkan pedang permusuhan. Dasar Bu Dewi tidak pandai bersikap sebagai orang tua. Seenak perut hakimi Citra tanpa lihat fakta.


Citra datang bersama Afifa dan Azzam. Gibran terbelalak lihat anak yang disebut keponakan. Remaja tanggung ini pikir akan jumpa balita mungil nggak tahunya anak cantik-cantik tak jauh beda dengannya.


"Ini keponakanku atau boneka? Kok cantik amat!" Gibran tak malu-malu dekati Afifa yang langsung memikat Gibran.


"Huusss...ini Azzam dan ini Afifa. Keponakan dibilang boneka! Mereka hidup lho!" tepis Citra biar Afifa tidak malu.


"Aku om terkeren sedunia. Punya keponakan cantik dan ganteng! Mulai saat ini kalian berdua punya om yang akan lindungi kalian. Panggil Om Gi ya! Om Gi duduk di kelas dua SMP...pintar main musik dan suka olahraga. Nah kalian kenalkan diri dong!" Gibran bergaul supel dengan keponakan baru kenal.


Afifa senang saja kenalan sedang Azzam masih beri reaksi pasif. Alvan tidak heran dengan sikap dingin Azzam. Tidak semua orang cepat diterima di dunia Azzam yang sedikit misterius. Butuh waktu untuk Selami sifat asli Azzam.


"Aku Afifa..dipanggil Amei. Duduk di kelas dua SD. Suka belajar saja."


"Wah...anak pintar...dan Azzam sekelas dengan Afifa?"


"Koko kelas tiga. Tidak ada kesukaan." sahut Azzam datar tanpa reaksi berlebihan.


"Oh..kamu keren! Nah...kalian harus pulang ke rumah kita! Di sana gede, ada kolam renang, ada taman burung, pokoknya kalian akan betah." Gibran promosikan tempat tinggalnya berharap kedua anak Citra tertarik mau pindah ke sana.

__ADS_1


"Kami betah di tempat yang ada mami kami! Fasilitas bukan tolak ukur kebahagiaan kami"


__ADS_2