Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Keina Mau Sekolah


__ADS_3

Angga membantu Tita menggendong Keina ke atas karena Tita kesulitan menggendong Keina dengan perut buncitnya. Kemudian Tita pun menemani Keina tidur karena takut Keina akan kembali menangis.


Angga dan Gladys pun bergabung bersama Gagah, Laras, Tuan dan Nyonya Ito. Yang tengah bersantai di taman belakang. Angga dan Gagah mengobrol tentang kedokteran sedangkan Gladys dan Laras ikut menemani Nyonya Laura menata tanamannya.


"Ras, kamu mau lanjut sekolah?" Tuan Ito.


"Laras bagaimana Kakak saja Opa." Laras.


"Kenapa begitu?" Tuan Ito.


"Kalo Laras sekolah lagi nanti Gagah siapa yang urus?" Gagah.


"Hei, kau fikir sekolah seharian penuh." Tuan Ito.


"Hm... Nanti kami bicarakan lagi Opa." Laras.


"Jangan bilang kamu sudah lupa pelajaran mu di kedokteran?" Nyonya Laura.


"Tidak Oma. Hanya saja sekarang Laras tidak hanya memikirkan diri sendiri saja tapi juga harus memikirkan Kakak." Laras.


"Ceh, Gagah sudah besar untuk apa di fikirkan." Nyonya Laura.


"Oma.." Gagah.


"Lihat saja setelah dia masuk kerja lagi kamu akan di abaikan olehnya." Nyonya Laura.


"Coba saja jika berani cuekin Laras." Laras.


"Wow! Ternyata Kak Laras sudah dapet kuncinya." Gladys.


"Hei, anak kecil diamlah." Gagah.


"Kakak..." Rengek Gladys pada Angga.


"Jangan lupa jika anak kecil ini sudah bisa membuat anak kecil Kak." Angga.


"Hei,,, apa maksudmu?" Tuan Ito.


"Nanti Opa. Tenanglah." Angga membela diri.


"Hahahaaa..... Makanya jangan asal bicara adik ipar." Gagah.


"Kakak!" Laras.


"Iya sayang. Kakak tidak mengatakan apapun." Gagah.


"Hahahaa... Rasakan Dokter Gagah." Gladys.


Saat mereka semua bercengkrama Tita datang bersama dengan Keina.


"Tata...." Panggil Keina.


"Hai cantik sudah bangun?" Sapa Laras.


"Dah." Keina.


"Tata u ana?" Tanya Keina pada Gladys yang sudah terlihat rapih.


"Eh, cantik udah bangun ternyata." Ucap Gladys mengalihkan Keina.


"Sini sayang peluk Kakak dulu." Panggil Gagah pada Keina.


"Tata dys au ana?" Keina.


"Kakak mau sekolah sayang." Jawab Gladys pasrah.


Eina u lah uga." Ucap Keina santai.


Semua terdiam mendengarkan penuturan Keina. Karena sudah di pastikan akan terjadi drama lagi antara Keina dan Gladys. Keina akan mengintil kepada siapapun yang akan pergi karena terbiasa pergi ke manapun sejak dalam kandungan.


"Kakak Keina bener mau ikut Kak Gladys?" Tanya Angga.

__ADS_1


"Yah au." Jawab Keina.


"Boleh. Ayok sama Kakak." Ajak Angga.


Semua pun pasrah membiarkan Keina ikut karena akan ada drama antara Keina dan Tita. Tita pun pasrah anaknya di bawa oleh Angga dan Gladys.


"Apa tidak akan merepotkan mu Ga?" Tita.


"Tentu tidak Onty." Angga.


"Kakak yakin ga repot? Nanti Glad masuk kelas loh?" Gladys.


"Tidak. Sudah ayo. Nanti terlambat." Ajak Angga.


"Dada Ommy." Pamit Keina girang.


"Dadah sayang. Jangan nakal ya sama Kakak." Tita.


Gladys pun menuntun Keina pergi bersama dengan Angga. Setelah sampai di ambang pintu Gladys membalikkan badannya.


"Onty, jangan lupa transfer oke." Gladys.


"Hush! Jangan dengarkan Glad Onty. Keina pergi bersama Angga." Angga.


"Ceh, kau ini mau mengajak Keina ternyata ada maunya juga." Gagah.


"Hei, tentu saja Hahaha." Gladys.


"Pergilah. Jangan sampai Onty bekukan tabungan mu." Tita.


"Opa sangat setuju. Bekukan saja toh dia sudah punya calon suami." Tuan Ito.


"Opaa..." Rajuk Gladys.


Mereka bertiga pun pergi. Tita duduk bersender di kursi malas yang terdapat di taman belakang.


"Capek ya Onty?" Laras.


"Tidak. Hanya sedikit sesak saja." Tita.


"Kau akan merasakannya nanti Ras." Nyonya Laura.


"Apa berat?" Laras.


"Tidak hanya sulit bergerak saja. Karena kita terbiasa bergerak kemanapun kita mau dengan adanya dia ruang gerak kita terbatas karena kita juga harus memikirkan dia di dalam." Tita.


"Jangan menunda kehamilan mu Ras." Tuan Ito.


"Hah! Tidak Opa. Hanya saja tamu bulanan Laras datang." Laras.


"Benarkah? Pantas saja muka keponakan Kakak ini ngga enak di lihat." Ucap Tita menjawil dagu Gagah.


"'Ceh, terus aja ledek." Gagah.


"Kau sudah praktekan pelajaran Bunda mu?" Nyonya Laura.


Blush...


"Oma." Ucap Laras malu.


"Ceh, pantas muka suami mu kembali bersinar." Nyonya Laura.


"Kita perempuan harus bisa berkreasi Ras." Tita.


"Hah! Iya Onty." Laras.


"Sayang, cepat selesaikan kita beristirahat sejenak." Tuan Ito.


"Iya sayang. Biarlah Laras dan Tita yang lanjutkan ini. Ayo kita istirahat." Nyonya Laura.


"Opa memang pintar cari alasan." Gagah.

__ADS_1


"Kau akan tau rasanya nanti Gah." Tuan Ito.


"Huh! Rasanya ingin menyusul suami ke kantor deh." Tita.


"Ayo sayang." Ajak Gagah.


"Berani kamu bawa istri mu masuk Onty bekukan tabungan mu." Ancam Tita.


"Astaga! Kau temani Onty saja sayang." Gagah.


"Hahaha... Bagus begitu." Tita.


Tita dan Laras pun asik menyelesaikan tanaman milik Nyonya Laura. Karena memang Laras dan Tita juga sangat menyenangi tanaman. Mereka berdua berbincang ke sana kemari tanpa beban saling mencurahkan perasaan mereka. Lebih tepatnya hanya Laras yang mencurahkan kisahnya selama dua tahun hidup terpisah bersama keluarganya.


Laras menceritakan bagaimana dirinya harus bisa hidup. Laras mengumpulkan uang demi menebus kembali kalung pemberian Ayah kandungnya namun, sangat di sayangkan kalungnya telah terjual kepada orang lain.


Disitulah keterpurukan Laras paling dalam. Laras menyesal telah menjualnya. Tapi, jika dirinya tak menjual kalungnya dirinya pun tak dapat melangsungkan hidup. Hati Tita begitu teriris mendengar curahan hati Laras.


"Apa kamu tidak pernah bertemu Bunda, Gagah atau Gladys selama bekerja di toko buku?" Tita.


"Pernah Onty. Hanya saja Laras selalu bersembunyi jika melihat siapa pun di antara kalian." Laras.


"Kenapa begitu?" Tita.


"Karena sebenarnya Laras tidak ingin merepotkan siapapun." Laras.


"Sudah lupakan lah. Nikmatilah hidupmu sekarang sebagai istri dokter bukan sebagai dokter." Tita.


"Iya Onty. Tuhan memang begitu baik pada Laras.


"Jangan pernah sungkan kepada kami Ras. Kami adalah keluargamu." Tita.


"Terima kasih Onty." Laras.


Di saat keduanya tengah berpelukkan Ayumi datang dengan segala kehebohannya. Tita dan Laras pun segera masuk dan melihatnya. Laras membantu Tita berjalan karena Laras takut terjadi sesuatu pada Tita.


"Bunda."


"Kakak."


"Hai,,, mana yang lain?" Ayumi.


"Kakak, bawa apa?" Tanya Tita menghiraukan pertanyaan Tita.


"Kaliam lupa? Dua hari lagi kan ulang tahun rumah sakit." Ayumi.


"Terus." Tita.


"Ini seragam buat keluarga kita Tita." Geram Ayumi.


"Astaga, Bunda. Kenapa sebanyak itu?" Laras.


"Kamu juga lupa setelah acara rumah sakit kan resepsi kalian." Ayumi.


"Kakak bawa itu semua sendiri?" Tunjuk Tita pada baju-baju yang di bawa Ayumi.


"Tentu saja di bantu security tadi di depan." Jawab Ayumi.


"Ceh, aku fikir Kakak bawa dorong sendiri dari depan." Tita.


"Ish, ngga mungkinlah." Ucap Ayumi di akhiri tawanya.


Tita dan Laras pun menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ayumi.


"Itu biarkan di sotu dulu saja Kak. Kakak istirahat dulu Tita mau minta bibi siapin makan siang." Tita.


"Oke adik ku tersayang." Ayumi.


"Dimana suamimu?" Tanya Ayumi pada Laras.


"Di kamar Bun." Laras.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2