
Siang hari sepulang dari kampus seperti yang sudah dia janjikan Gladys pergi ke kantor Ken dan Ken menyambutnya hangat. Gladys bergelayut manja lada lengan kekar Ken.
"Ada apa? Sampai Oncle harus merahasiakan kedatangan kamu ke sini?" Ken.
"Glad mau cerita." Gladys.
"Astaga! Keponakanku ini bukankah akan menikah masa cerita saja harus pake rahasia segala." Ucap Ken tergelak.
"Iiih,,, makanya Oncle denger dulu." Gladys.
"Oke baiklah. Ayo duduk dan berceritalah." Ajak Ken.
Gladys dan Ken pun duduk di sofa yang berada di ruangan Ken. Gladys duduk berdampingan bersama Ken. Ken pun sudah memerintahkan sekretarisnya untuk tidak menggangu mereka sejenak karena sepertinya Gladys ingin menyampaikan hal penting.
"Oncle, bisakan Oncle menyelidiki sesuatu?" Gladys.
"Menyelidiki? Apa? Bukankah kau tau jika Oncle seorang pengusaha bukan penyidik." Ucap Ken masih dengan candaannya.
"Oncle, Glad tidak bercanda." Gladys.
"Baiklah. Oncle akan usahakan. Apa dan siapa yang ingin kau ketahui Hm?" Ken.
"Ayah Tiri Kak Laras." Gladys.
Deg.
"Ada apa dengannya?" Tanya Ken masih berusaha tenang.
"Oncle memang tidak tau cerita Kak Laras?" Gladys.
Ken pun berpura-pura menggelengkan kepalanya. Gladys menghembuskan nafas kasar kemudian menceritakan semua yang dia dengar dari Ibu Laras tanpa menguranginya. Ken memasang wajah datar mendengarkan cerita keponakannya.
"Bagaimana Oncle? Glad rasa ada yang salah dengan kejadian itu." Gladys.
"Hm... Harus di selidiki dulu Glad tidak boleh mengambil keputusan sembarang." Ken.
"Nah, itu makanya Glad datang ke sini Oncle. Glad ingin meminta bantuan Oncle. Bagaimana jika besok acara Kakak ku berantakan karena ulahnya." Gladys.
"Jika itu Oncle pastikan acara akan berlangsung dengan sukses." Ken.
"Glad tau itu dan Glad bangga pada Oncle." Gladys.
Setelah menceritakan semuanya Gladys pun pulang ke rumah utama. Gladys merasa senang dan lega sudah bisa membicarakan hal tersebut pada Ken. Dan Ken pun segera memerintahkan untuk menyelidiki Ayah tiri Laras setelah kepulangan Gladys.
Gladys menemui Onty, Opa, sepupu kecilnya dan juga Ibu dari Laras. Gladys di sambut antusias oleh Keina yang sejak tadi bermain hanya dengan Ibunya dan Ibu Laras.
"Tata..." Teriak Keina senang.
"My lovely sister." Ucap Gladys merentangkan kedua tangannya kemudian berdiri di atas lututnya untuk mensejajarkan tinggi dengan Keina.
Keina pun berlari menghambur ke dalam pelukkan Gladys. Bersamaan dengan itu Gagah dan Laras turun dari kamar mereka untuk bergabung bersama dengan yang lain. Sejak tadi Laras menemani Gagah mengerjakan tugasnya.
"Kok telat pulang Dek?" Gagah.
__ADS_1
"Hm.. Tadi ada kumpul sama teman dulu Kak. Biasa ada yang ulang tahun." Gladys.
"Tumben acara siang?" Gagah.
"Ya, tadi cuma makan di kantin." Gladys.
"Irit banget." Gagah.
"Yang penting sih kumpulnya Kak." Gladys.
"Bener banget." Laras.
"Ceh, ada yang bela nih." Gagah.
"Hi, Onty, Oma, Bu." Sapa Gladys.
"Opa mana Oma?" Tanya Gladys lagi.
"Opa sedang ke luar. Tadi ada yang menelfon temannya." Nyonya Laura.
"Sendiri?" Gagah.
"Di antar supir." Nyonya Laura.
"Kakak Keina, ayo kita bobo siang Nak." Ajak Tita.
"No My. Eina au ain ma tata." Keina.
"No My." Jawab Keina lagi.
"Biarkan saja nanti dia akan tertidur sendiri." Nyonya Laura.
"Bunda belum datang?" Laras.
"Paling sebentar lagi nongol." Gladys.
Dan benar saja. Tak lama Ayumi pun datang dengan membawa beberapa paper bag berisikan makanan kesukaan Laras, Tita dan Gladys. Karena sudah bisa di pastikan Tita dan Gladys akan meminta makanan.
Laras belum pernah memintanya dari Ayumi tapi Ayumi selalu memberikannya. Ayumi selalu datang dengan membawakan apa saja kesukaan keluarganya.
"Kau belikan pesanan Ibu Yu?" Nyonya Laura.
"Tentu Ibu ku sayang." Jawab Ayumi memberikan paper bag pada Nyonya Laura.
"Terima kasih sayang." Jawab Nyonya Laura menerima paper bagnya.
Ibu Laras tersenyum bahagia melihat kehangatan keluarga Ito yang terkenal garang di luar namun lembut ketika berkumpul bersama keluarganya.
Seperti Tita dan Ken akan sangat di segani ketika keduanya berada di kantor. Apalagi Tita yang memiliki otak cerdas dan kelebihan lain yang membuatnya bisa menguak kasus di kantor walaupun dirinya jarang dan bisa di bilang tak pernah masuk kantor.
"Laras kau sudah persiapkan untuk acara besok?" Ayumi.
"Sudah Bun. Kita berangkat besok pagi kan?" Laras.
__ADS_1
"Iya. Karena acaranya siang jadi kita pagi dari rumah saja. Tapi, jika kalian akan berangkat sore ini juga ga apa-apa." Ayumi.
"Kita berangkat bersama saja Bun." Gagah.
"Hm.. Oke." Ayumi.
"Mikha sudah mendarat Ta?" Tanya Ayumi pada Tita.
"Nanti malam Kak. Masih di perjalanan. Kak Nio yang akan menjemputnya." Tita.
Gladys melihat kebingungan di raut wajah Ibu Laras. Gladys pun menghampirinya dengan Keina di pangkuannya.
"Tenang Bu. Mereka semua baik kok." Gladys.
"Ada apa?" Laras.
"Ibu cemas Kak. Soalnya banyak yang tidak di kenalnya." Gladys.
"Hm... Maafin Laras ya Bu. Laras tak pernah mengajak Ibu menegenal dunia luar." Laras.
"Ngga sayang. Ga apa-apa. Ibu hanya sedikit bingung saja." Marni.
"Mba, tenang saja semua baik-baik kok." Ayumi.
"Iya Mba. Terima kasih." Marni.
"Oncle Mikha itu Kakak sepupu Onty Bu. Dan Om Nio itu Kakak dari Onty Tita." Gladys.
Dan Ibu Laras pun hanya tersenyum mendengar penjelasan Gladys. Ibu Laras hanya sebenarnya lebih menakutkan acara Laras dan Gagah akan kacau dengan kehadiran ayah tiri Laras dan anaknya. Ibu Laras juga takut jika Ayah tiri Laras akan membawa pihak berwajib untuk menangkapnya.
Mengerti raut kecemasan di wajah Ibu Laras Gladys pun mengusap punggung Ibu Laras kemudian berbisik padanya.
"Ibu tenang semuanya beres." Bisik Gladys.
Ibu Laras pun menatap manik mata Gladys dan tak ada kebohongan di sana. Ibu Laras pun menyunggingkan senyumannya dan menganggukkan kepalanya perlahan.
Laras memperhatikan interaksi antara Gladys dengan Ibunya. Ada perasaan cemburu di hatinya karena Gladys terlihat lebih akrab dengan sang Ibu. Tapi, di sisi lain ada perasaan senang karena Ibunya bisa dekat dengan keluarga suaminya.
Gagah melihat kecemburuan di mata Laras. Dengan sigap Gagah memeluknya dari samping.
"Tidak apa-apa. Agar Ibu juga nyaman." Bisik Gagah.
Laras menoleh dan tersenyum hangat padanya. Tak lama Bibi pun datang membawakan makanan yang tadi di bawa Ayumi untuk Adik, anak dan menantunya.
"Mba, Ayu lupa menanyakan apa yang ingin Mba makan. Jadi kita makan ini saja ya. Yang aman untuk kesehatan kita." Ucap Ayumi memberikan piring berisi makanan pada Marni.
"Tidak perlu repot Mba. Terima Kasih." Marni.
"Tidak perlu sungkan. Disini siapa saja harus mau di repotkan dan pasti merepotkan." Nyonya Laura.
🌻🌻🌻
Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏
__ADS_1