Jodohku Sahabat Kakakku

Jodohku Sahabat Kakakku
Dunia Riana


__ADS_3

Gagah datang bersama Keina dengan beberapa kantong belanja di tangannya. Angga yang melihat keponakannya kesulitan berinisiatif membantunya. Kemudian Angga meletakkan semua belanjaan Gagah dj atas meja.


"Sayang, bermain bersama Kakak-kakak, Om dan Tante ya. Buna, Opa-opa, sama Oma-oma mau ke depan sebentar oke." Pamit Ayumi.


"Mau temana Buna?" Tanya Keina penuh selidik.


"Mau ke warung mie di depan. Oma Hena belum merasakannya jadi kita mau ajak Oma Hena makan di sana. Boleh?" Ayumi.


"Hm... Ya." Jawab Keina setelah berfikir sejenak.


"Angga boleh susul ya. Riana juga mau cicipi mienya." Ucap Angga.


"Boleh. Boleh kan Kei?" Tanya Ayumi.


"Ya." Jawab Keina mulai teralihkan pada makanan dan beberapa mainan yang di beli Gagah.


Mereka pun segera pergi ke rumah Aiko. Tak lama Angga dan Riana pun segera berpamitan sebelum Keina berubah fikiran. Angga berakting kelaparan dan ingin memakan mie. Riana hanya diam mengikuti drama di antara mereka.


Riana begitu tak mengerti rasa trauma Keina begitu kuat. Riana pun semakin penasaran dengan suster yang di katakan oleh keluarga Angga. Mereka semua berjalan menuju rumah Aiko yang tak jauh dari rumah mereka.


"Rumahnya deket Mas?" Tanya Riana.


"Iya. Cuma belok kanan di depan terus beberapa rumah sampe deh." Angga.


"Loh, masih satu komplek rupanya." Riana.


"Iya. Om Ito melarang mereka pergi jauh. Kebetulan ada rumah itu jadi mereka membelinya." Angga.


"Kok, rumah Mas jauh?" Riana.


"Karena kantor Ayah di sana sayang. Kalo pergi dari sini tidak menghemat waktu." Angga.


"Iya juga ya." Riana.


"Kenapa? Nyesel ya terima Mas? Ternyata keluarga Mas tidak seperti yang di bayangkan." Angga.


"Eh, nggak kok. Ri seneng bisa deket sama keluarga Mas. Yang lebih ga di sangka lagi ternyata Mas bersaudara sama Keluarga Ito. Keluarga mereka kan banyak di bicarakan di luaran tentang kebaikannya dan Ri beruntung bisa masuk kedalamnya." Kagum Riana.


"Makasih sayang." Angga merangkul bahu Riana.


"Harusnya Ri yang berterima kasih pada Mas. Mas udah mau bawa Ri yang hanya orang biasa ini masuk kedalam keluarga Mas yang hebat." Riana.


"Semua sama dimata Tuhan sayang." Angga.


Percakapan mereka pun terhenti karena mereka sudah sampai di depan rumah Aiko. Riana kembali di buat kagum dengan rumah mewah di hadapannya. Tak sebesar rumah utama namun terlihat mewah dan elegan.


Angga terus menggenggam tangan Riana memberikan keyakinan jika tidak akan terjadi sesuatu di dalam. Karena jujur Riana sedikit takut setelah mendengar cerita tentang Keina. Mereka berdua di sambut oleh keluarga Aiko.

__ADS_1


Ada Jessie, Artur dan Aiko yang duduk di kursi roda. Angga memperkenalkan Riana pada mereka semua. Riana pun menperkenalkan dirunya. Angga dan Riana duduk di sofa kosong dekat Ayumi.


Riana memperhatikan keadaan rumah. Jessie melihat Riana.


"Ada apa Tante?" Tanya Jessie.


"Hah! Ngga ada apa-apa." Riana.


"Kenapa?" Bisik Angga.


"Kak. Ai sudah lama sakit?" Tanya Riana.


"Baru. Kenapa?" Tanya Artur.


"Hm... Maaf sebelumnya. Apa Kak Ai sebelum sakit pergi ke suatu tempat?" Riana.


"Tentu dong calon Tante. Masa Mami diam di rumah terus." Jawab Jessie sedikit tak suka dengan pertanyaan Riana.


"Maaf Jess, Riana memang istimewa." Hena.


"Maksud Oma?" Jessie.


"Kalian hanya perlu menjawab saja nanti terjawab pertanyaannya." Bagas.


Kemudian Riana mendekati Aiko. Riana berdiri diatas lututnya. Riana mengulurkan tangannya memegangi kaki Aiko yang di yakini tak bisa di gerakan. Riana menatap manik mata Aiko. Aiko menatapnya datar.


"Apa ini sangat sakit?" Tanya Riana dan Aiko hanya menggelengkan kepalanya.


"Gimana?" Bisik Angga.


"Kak Ai sudah bisa berjalan." Riana.


"Pertanyaan apa itu. Tentu tidak. Tante tidak melihat jika Mami masih duduk di kursi roda." Kesal Jessie.


"Berdirilah Kak." Titah Riana.


"Ri." Tuan Ito.


"Tidak apa-apa Kak. Semua baik-baik saja. Seperti yang sudah Bagas katakan dalam perjalanan menuju ke sini tadi. Riana istimewa. Riana bisa melihat jika ada yang lain di diri Aiko." Bagas.


Nyonya Laura mengangguk mengerti. Ayumi dan Artur hanya diam. Artur mengerti kenapa dokter Emanuel dan Gagah kebingungan dengan penyakit Aiko. Bahkan dokter Emanuel mengatakan jika semuanya baik-baik saja.


Riana tersenyum pada Aiko dan kali ini Aiko membalas senyuman Riana. Riana menepuk tangan Angga dan Angga pun bangkit mendekati Aiko untuk membantunya bangun.


"Ayo Kak. Angga bantu Kakak." Ucap Angga berdiri di hadapan Aiko.


Semula Aiko ragu kemudian dirinya menuruti adik sepupunya. Aiko berdiri di bantu Angga. Aiko mencengkram tangan Angga dengan erat karena dirinya takut terjatuh.

__ADS_1


"Buka matanya Kak. Semua baik-baik saja." Angga.


Perlahan Aiko membuka matanya dan menatap manik Angga. Angga memberi keyakinan jika semua baik-baik saja. Aiko mulai melonggarkan pegangannya. Angga melepas perlahan dan mundur satu langkah.


"Melangkahlah Kak." Titah Angga.


Aiko menatap Angga. Dirinya tak yakin jika kakinya mampu dia gerakkan. Saat Aiko terdiam mengumpulkan keyakinannya tiba-tiba Riana berdesis.


"Hush..." Riana.


Semua menoleh kearahnya. Tatapan Riana lurus kedepan. Ayumi sedikit bergidik. Tapi, dirinya harus mempertahankan kesadarannya karena takut semua beralih padanya.


"Ayo Kak. Yakin bisa." Angga.


Artur dan Jessie masih diam memperhatikan Aiko dan Angga. Artur tak percaya dengan apa yang di lihatnya begitupun dengan Jessie. Sedikit demi sedikit Aiko menggerakkan kakinya untuk melangkah.


Riana hanya diam tanpa ekspresi. Saat Aiko berusaha menggerakkan kakinya terlihat suster mendekat ke arah Angga dan Aiko. Entah apa yang di bawanya. Riana melihat gelagat aneh dari suster tersebut.


"Stop!" Ucap Riana.


Semua terdiam. Angga mendekati Aiko dan memegangnya.


"Ada apa sayang?" Tanya Angga.


"Kamu. Masuklah." Tunjuk Riana pada suster.


Semua menoleh pada suster dan suster begitu terkejut mendengar perintah Riana. Riana dalam mode lain. Kemudian suster pun berjalan kedepan.


"Keluarkan apa yang ada di saku bajumu." Riana.


Deg


"Astaga! Kenapa dia tau sih." Batin Suster.


"Ada apa sus?" Tanya Jessie.


"Eh, ng ngak ada Bu." Suster.


"Mas. Bawa Kak Ai duduk. Kasihan terlalu lama berdiri." Riana sudah dalam mode tenang.


Tanpa di sadari Angga memapah Aiko duduk di sofa dekat mereka. Semua tercengang melihat Aiko melangkahkan kakinya dengan santai. Bahkan Aiko sendiri tak menyadari jika dirinya berjalan sendiri menuju sofa.


"Sayang, kaki kamu." Ucap Artur terjeda.


"Hah!" Ucap Ayumi.


"Gawat! Kalo Nyonya sembuh bisa hilang kerjaan gw." Batin suster.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Jangan lupa like dan komennya ya sahabat 🙏🙏🙏


__ADS_2